Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Apa yang dilakukan Edward malam ini?” tanya Angela beberapa menit kemudian.

Bolpoinku menekan kuat-kuat amplop yang sedang kukerjakan. “Emmett pulang akhir pekan ini. Sepertinya mereka hiking.”

“Kedengarannya kau tidak yakin.”

Aku mengangkat bahu.

“Kau beruntung Edward punya saudara-saudara lelaki, jadi dia bisa pergi hiking dan kemping bersama mereka. Entah apa yang bakal kulakukan seandainya tidak ada Austin yang mengajak Ben melakukan kegiatan-kegiatan khas cowok.”

“Yeah, aku tidak suka melakukan aktivitas luar ruang. Dan tidak akan bisa mengimbangi.”

Angela tertawa. “Aku juga lebih menyukai kegiatan di dalam ruangan.”

Angela berkonsentrasi lagi ke tumpukan amplopnya. Aku menyelesaikan empat amplop lagi. Aku tak pernah merasa harus mengisi kesunyian dengan obrolan basa-basi jika bersama Angela. Seperti Charlie, ia memang lebih suka berdiam diri.

Tapi seperti juga Charlie, Angela terkadang juga sangat tajam dalam menilai.

“Ada masalah?” tanyanya, suaranya rendah sekarang. “Sepertinya kau… gelisah.”

Aku tersenyum malu-malu. “Sejelas itukah?”

“Tidak juga.”

Mungkin Angela berbohong untuk menenangkan perasaanku.

“Kau tak perlu membicarakannya kalau memang tidak mau.” Angela meyakinkanku. “Aku akan mendengarkan kalau kaupikir itu bisa membantu.”

Aku hampir saja mengatakan Trims, tapi tidak usah sajalah. Soalnya terlalu banyak rahasia yang harus kusimpan. Aku benar-benar tidak bisa mendiskusikan masalahku dengan seorang manusia. Itu melanggar aturan.

Meski begitu, keinginan itu mendadak muncul, kuat sekali. Aku ingin berbagi pada teman perempuan yang normal. Aku ingin mengeluh sedikit, seperti remaja-remaja umumnya. Aku ingin masalahku sesederhana itu. Akan menyenangkan bila ada orang di luar urusan pelik yang melibatkan vampir dan werewolf ini, yang bisa memandang masalah dalam perspektif yang benar. Seseorang yang bisa objektif.

“Aku tidak akan ikut campur,” janji Angela, tersenyum memandangi alamat yang sedang ditulisnya.

“Tidak.” ujarku. “Kau benar. Aku memang gelisah. Soal … soal Edward.”

“Memangnya ada apa?”

Mudah sekali mengobrol dengan Angela. Kalau ia bertanya seperti itu, aku tahu ia bukan sekadar ingin tahu atau ingin mendengar gosip, seperti Jessica. Ia peduli pada kegelisahanku.

“Oh, dia marah padaku.”

“Sulit membayangkannya.” kata Angela. “Kenapa dia marah?”

Aku menarik napas. “Ingat Jacob Black?” ”Ah,” ucapnya. “Yeah.” “Dia cemburu.” “Tidak, bukan cemburu…” Seharusnya aku tadi tidak

usah cerita. Toh aku takkan bisa menjelaskan dengan benar. Tapi aku masih ingin bicara. Baru sekarang aku menyadari berapa hausnya aku pada obrolan manusia. “Edward menganggap Jacob memberiku pengaruh buruk, kurasa. Sedikit… berbahaya. Kau kan tahu bagaimana aku terlibat masalah beberapa bulan lalu… Tapi semua itu konyol.”

Aku kaget juga melihat Angela menggeleng-gelengkan kepala.

”Apa?” tanyaku.

“Bella, aku lihat sendiri cara Jacob Black menatapmu. Berani taruhan, masalah sebenarnya adalah cemburu.”

“Padahal tidak ada apa-apa di antara aku dan Jacob.”

“Bagimu, mungkin. Tapi bagi Jacob…”

Keningku berkerut. “Jacob tahu bagaimana perasaanku. Aku sudah menceritakan semua padanya.”

“Edward juga manusia, Bella. Dia akan bereaksi seperti cowok-cowok lain juga.”

Aku meringis. Tidak bisa menanggapi.

Angela menepuk-nepuk tanganku. “Dia pasti bisa mengatasinya.”

“Mudah-mudahan saja. Jacob sedang susah sekarang. Dia membutuhkanku.”

“Kau dan Jacob sangat dekat, ya?”

“Sudah seperti keluarga.” aku membenarkan.

“Dan Edward tidak suka padanya… Itu pasti sulit. Kirakira kalau Ben akan menanganinya bagaimana, ya?” renung Angela.

Aku separuh tersenyum. “Mungkin seperti cowok-cowok lain juga.”

Angela nyengir. “Mungkin.”

Lalu ia mengubah topik. Angela bukan tipe orang yang suka mengorek-ngorek, dan sepertinya ia bisa merasakan aku tidak mau-tidak bisa-bercerita lebih banyak lagi.

“Kemarin aku mendapat kepastian soal kamar asrama. Gedung yang terjauh dari kampus, jelas.”

“Ben sudah tahu akan dapat kamar di mana?”

“Di asrama yang terdekat dengan kampus. Beruntung benar dia. Kau sendiri bagaimana? Sudah memutuskan mau kuliah di mana?”

Aku menunduk, berkonsentrasi pada tulisan tanganku yang jelek. Sejenak pikiranku beralih pada Angela dan Ben yang akan kuliah di University of Washington. Beberapa bulan lagi mereka sudah akan tinggal di Seattle. Sudah amankah kota itu nanti? Apakah serangan vampir muda liar itu sudah akan pindah ke tempat lain? Ataukah ada tempat lain, kota lain yang bakal muncul dan menjadi headline pemberitaan peristiwa-peristiwa menyeramkan seperti di film horor?

Apakah headline-headline baru itu terjadi akibat salahku?

Aku mencoba menepisnya dan menjawab pertanyaannya sedetik terlambat. “Alaska, mungkin. Di universitas di Juneau.”

Aku bisa mendengar kekagetan dalam suara Angela. “Alaska? Oh. Sungguh? Maksudku, hebat. Aku hanya mengira kau akan pergi ke tempat lain yang … lebih hangat.”

Aku tertawa kecil, mataku masih tertuju ke amplop. “Yeah. Forks benar-benar telah mengubah perspektifku tentang kehidupan.”

“Dan Edward?” .

Walaupun nama itu membuat perutku langsung bergolak, aku mendongak dan nyengir kepada Angela. “Alaska juga tidak terlalu dingin bagi Edward.”

Angela balas nyengir. “Tentu saja tidak.” Lalu ia mendesah, “Itu jauh sekali. Kau tidak akan bisa seringsering pulang. Kau mau mengirimiku e-mail, kan?”

Mendadak hatiku dilanda kesedihan; mungkin salah kalau aku justru semakin akrab dengan Angela sekarang. Tapi apakah justru tidak lebih menyedihkan bila kehilangan kesempatan terakhir ini? Kutepiskan pikiran-pikiran yang tidak menyenangkan itu, agar bisa menjawab pertanyaannya tadi dengan nada menggoda.

“Kalau aku bisa mengetik lagi sesudah ini.” Aku mengangguk ke tumpukan amplop yang sudah selesai kukerjakan.

Kami tertawa, dan selanjutnya mudah saja bagi kami mengobrol riang tentang kelas dan jurusan sambil menyelesaikan sisa tumpukan-yang perlu kulakukan hanya tidak memikirkannya. Bagaimanapun ada banyak hal lain yang lebih mendesak untuk dikhawatirkan hari ini.

Aku juga membantu Angela menempelkan prangkoprangkonya. Aku takut membayangkan harus pulang.

“Bagaimana tanganmu?” tanyanya.

Aku meregangkan jari-jariku. “Kurasa akan pulih lagi… suatu hari nanti.”

Terdengar suara pintu dibanting di bawah, dan kami

sama- sama mengangkat wajah.

“Ang?”seru Ben

Aku mencoba tersenyum, tapi bibirku bergetar. “Kurasa

itu isyarat aku harus pulang.” “Kau tidak perlu pergi. Walaupun Ben mungkin akan

menceritakan film itu padaku…secara mendetail.”

“Charlie pasti bingung kalau aku tidak pulang.”

“Terima kasih sudah membantuku.”

“Aku menikmatinya kok. Seharusnya kita melakukan sesuatu seperti ini lagi. Asyik rasanya bisa punya waktu khusus ewek-cewek.”

“Jelas.”

Terdengar suara ketukan pelan “Masuklah, Ben,” sahut Angela. Aku berdiri dan meregangkan otot-oto di pintu kamar.

“Hai, Bella! Bertahan juga kau rupanya.” Ben menyapaku cepat sebelum menggantikan tempatku di sisi Angela. Diamatinya hasil kerja kami. “Wah, hebat. Sayang tidak ada lagi yang perlu dilakukan, kalau tidak aku kan bisa…” Ben tidak menyelesaikan kalimatnya, kemudian mulai berbicara lagi dengan penuh semangat. “Ang, rugi sekali kau tidak ikut nonton film ini! Filmnya bagus sekali. Di adegan perkelahian terakhir-koreografinya keren sekali! Cowok ini-well, kau harus menontonnya sendiri baru bisa memahami maksudku…”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.