Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Kupukul bahu Jacob. Tanganku kesakitan, “Jacob Black, jangan pernah lakukan hal seperti itu lagi! Janji kau tidak akan berbuat begitu.”

“Enak saja. Sudah berbulan-bulan aku tidak merasakan keasyikan seperti itu.”

“Tolonglah, Jake…”

“Oh, tenanglah, Bella. Memangnya kapan aku akan bertemu dia lagi? Jangan mengkhawatirkan soal itu.”

Aku berdiri, dan Jacob langsung menyambar tanganku begitu aku beranjak menjauh, Aku berusaha menarik tanganku dari pegangannya.

“Aku mau pulang, Jacob.”

“Tidak, jangan pergi dulu.” protesnya, tangannya semakin erat mencengkeram tanganku. “Maafkan aku. Dan… oke, aku tidak akan melakukannya lagi. janji.”

Aku mendesah, “Trims, Jake.”

“Ayolah, kita kembali ke rumahku,” ajak Jacob penuh semangat.

“Sebenarnya, aku benar-benar harus pergi. Aku ditunggu Angela Weber, dan aku tahu Alice khawatir. Aku tidak mau membuatnya terlalu kalut.”

“Tapi kau kan baru sampai di sini!”

“Rasanya memang seperti itu.” aku sependapat. Kupandangi matahari, yang entah bagaimana sudah berada tepat di atas kepala. Bagaimana waktu bisa berlalu secepat itu?

Alis Jacob bertaut di atas matanya. “Entah kapan aku bisa bertemu lagi denganmu,” katanya sedih,

“Aku akan kembali kalau dia pergi lagi nanti,” janjiku impulsif.

“Pergi?” Jacob memutar bola matanya. “Cara yang manis untuk menggambarkan apa yang dia lakukan. Dasar parasit menjijikkan.”

“Kalau kau tidak bisa bersikap manis, aku tidak akan kembali sama sekali!” ancamku, berusaha menarik tanganku dari genggamannya. Jacob menolak melepaskan aku.

“Waduh, jangan marah,” katanya, nyengir. “Reaksi spontan.”

“Kalau aku mau berusaha kembali lagi ke sini, aku perlu meluruskan sesuatu denganmu, oke?”

Jacob menunggu.

“Begini.” Aku menjelaskan. “Aku tidak peduli siapa vampir dan siapa werewolf. Itu tidak relevan. Kau Jacob, dan dia Edward, dan aku Bella. Hal lain di luar itu, tidaklah penting.”

Mara Jacob menyipit sedikit, “Tapi aku memang werewolf,” katanya dengan sikap tidak rela, “Dan dia memang vampir,” imbuhnya dengan sikap yang kentara sekali jijik.

“Dan aku Virgo!” teriakku, sebal.

Jacob mengangkat alis, menilai ekspresiku dengan sorot ingin tahu, Akhirnya ia mengangkat bahu.

“Kalau kau benar-benar bisa melihatnya seperti itu…”

“Aku bisa. Sungguh”

“Oke. Hanya Bella dan Jacob. Tidak ada makhluk mengerikan bernama Virgo di sini.” Jacob tersenyum padaku, senyum hangat familier yang sangat kurindukan. Aku merasakan senyumku sendiri merekah, menanggapi senyumnya.

“Aku benar-benar kehilangan kau, Jake,” aku mengakui dengan sikap impulsif.

“Aku juga,” senyum Jacob melebar. Sorot matanya bahagia dan jernih, sekali itu bebas dari sorot kegetiran penuh amarah. “Lebih dari yang kauketahui. Kau akan datang lagi nanti?”

“Secepat aku bisa,” aku berjanji.

 

6. SWISS

SAAT mengendarai truk pulang, aku tidak terlalu memerhatikan jalan yang berkilau basah tertimpa cahaya matahari. Aku sibuk memikirkan berbagai informasi yang diceritakan Jacob padaku tadi, berusaha memilah-milahnya, menjejalkan semua ke kepalaku agar terdengar masuk akal. Meski bebanku menumpuk, aku merasa lebih ringan. Melihat Jacob tersenyum, semua rahasia dibeberkan… memang tidak membuat situasi sempurna, tapi toh jadi lebih baik. Keputusanku untuk pergi memang benar. Jacob membutuhkanku. Dan jelas, pikirku sambil menyipitkan mata menahan terik matahari, sama sekali tidak berbahaya.

Mendadak itu muncul. Sedetik sebelumnya tidak ada apa-apa kecuali jalan raya cemerlang di kaca spionku. Detik berikutnya, cahaya matahari berkilau menerpa bodi perak mengilat sebuah Volvo yang mengekor tepat di belakangku.

“Sial,” keluhku.

Aku sempat menimbang-nimbang untuk menepi. Tapi aku terlalu pengecut untuk langsung menghadapi Edward. Padahal aku berharap bakal punya waktu untuk menyiapkan diri… dan ada Charlie di dekatku sebagai peredam. Paling tidak itu bakal memaksa Edward memelankan suaranya.

Volvo itu membuntuti hanya beberapa meter di belakangku. Pandangan mataku tetap lurus ke depan,

Benar-benar pengecut pokoknya, aku mengendarai trukku langsung ke rumah Angela tanpa sekali pun membalas tatapan yang bisa kurasakan membakar, melubangi spionku.

Edward mengikutiku terus sampai aku menepikan trukku di depan rumah keluarga Weber. Ia tidak berhenti, dan aku tidak mendongak waktu ia lewat, Aku tak ingin melihat ekspresinya. Aku berlari-lari kecil menyusuri jalanan beton pendek yang menuju pintu rumah Angela begitu Edward tidak tampak lagi.

Ben membuka pintu sebelum aku sempat berhenti mengetuk, seolah-olah sejak tadi ia sudah berdiri di belakang pintu ..

“Hai, Bella,” sapanya, kaget.

“Hai, Ben. Eh, Angela ada?” Dalam hati aku bertanyatanya apakah Angela lupa rencana kami, dan mengernyit ngeri membayangkan harus pulang lebih cepat.

“Ada,” jawab Ben, dan saat itu juga Angela berseru, “Bella!” lalu muncul di puncak tangga.

Ben melongok ke balik bahuku waktu kami mendengar suara mobil di jalanan; suaranya tidak membuatku takut – mesin mobil ini terbatuk-batuk dulu sebelum berhenti, disusul suara letupan mesin. Sama sekali tidak seperti dengkur halus mesin Volvo. Itu pasti tamu yang ditunggutunggu Ben.

“Austin datang.” seru Ben waktu Angela tiba di sampingnya.

Terdengar suara klakson dari arah jalan.

“Sampai ketemu lagi nanti.” janji Ben. “Belum pergi saja aku sudah kangen padamu.”

Ben merangkul leher Angela dan menarik kepalanya agar bisa menciumnya dengan antusias. Sejurus kemudian Austin kembali mengklakson.

“Daah, Ang! Aku mencintaimu!” teriak Ben sambil berlari melewatiku.

Angela limbung, wajahnya merona, lalu ia tersadar dan melambai sampai Ben dan Austin lenyap dari pandangan. Kemudian ia berpaling padaku dan nyengir masam.

“Terima kasih karena mau membantuku, Bella,” katanya. “Ini tulus dari dasar hatiku yang terdalam. Kau bukan hanya menyelamatkan tanganku dari cedera permanen, tapi kau juga menyelamatkanku dari keharusan duduk selama dua jam penuh, menonton film silat yang tidak ada plotnya dan yang dubbing-nya buruk sekali.” Angela mengembuskan napas lega.

“Senang bisa membantu.” Kepanikanku sedikit berkurang, dan aku bisa bernapas lebih teratur, Rasanya biasa sekali di sini. Drama kehidupan Angela yang ringan dan khas manusia itu anehnya justru membuatku tenang. Senang mengetahui ternyata ada juga kehidupan yang normal.

Kuikuti Angela menaiki tangga menuju kamarnya. Sambil berjalan ia menendangi mainan-mainan yang berserakan menghalangi jalan. Tidak biasanya rumah Angela sepi sekali.

“Mana keluargamu?”

“Orangtuaku membawa si kembar ke pesta ulang tahun di Port Angeles. Aku tak percaya kau benar-benar mau membantuku melakukan ini. Ben saja pura-pura tangannya terkilir.” Angela mengernyit.

“Aku sama sekali tidak keberatan,” kataku, berjalan memasuki kamar Angela dan melihat tumpukan amplop yang sudah menunggu.

“Oh!” aku terkesiap. Angela menoleh dan menatapku, sorot matanya meminta maaf. Pantas ia menundanundanya terus. Dan pantas juga Ben memilih menghindar.

“Kukira kau melebih-lebihkan.” aku mengakui.

“Kalau saja begitu. Yakin kau mau melakukannya?”

“Pekerjakan aku. Aku punya waktu seharian.”

Angela membagi dua tumpukan dan meletakkan buku alamat ibunya di meja, persis di tengah-tengah. Selama beberapa saat kami berkonsentrasi, dan yang terdengar hanya suara bolpoin kami menggores pelan kertas.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.