Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Jacob tidak menyelesaikan ucapannya, dan aku merasa cerita itu jadi terlalu pribadi untuk dibagikan.

“Kasihan Emily,” bisikku. “Kasihan Sam. Kasihan Leah …”

“Yeah, Leah yang paling dirugikan dalam hal ini.” Jacob sependapat. “Dia berusaha menunjukkan sikap tabah. Dia akan menjadi pendamping pengantin Emily nanti.”

Aku memandang jauh ke arah batu-batu karang yang mencuat, dari dalam laut, bagai jari-jari gemuk yang patah di pinggir sebelah selatan pelabuhan, berusaha memahami semua itu. Aku bisa merasakan Jacob menatapku, menungguku mengatakan sesuatu.

“Apakah itu pernah terjadi padamu?” tanyaku akhirnya, masih menerawang jauh. “Cinta pada pandangan pertama seperti itu?”

“Tidak.” jawab Jacob langsung. “Hanya Sam dan Jared yang pernah mengalaminya.”

“Hmm.” ucapku, berusaha memperdengarkan nada tertarik. Aku lega, dan aku berusaha menjelaskan reaksi itu pada diriku sendiri, Kuputuskan aku senang Jacob tidak menganggap ada hubungan mistik dan berbau serigala di antara kami. Begini saja hubungan kami sudah cukup membingungkan. Aku tidak butuh hal-hal supranatural lain selain yang memang harus kuhadapi sekarang.

Jacob juga diam saja, dan keheningan kali ini terasa agak canggung. Intuisiku mengatakan aku tidak ingin mendengar apa yang ia pikirkan.

“Bagaimana itu terjadi pada Jared?” tanyaku untuk memecah kesunyian.

“Tidak ada yang menghebohkan dalam prosesnya. Pokoknya, pacarnya adalah gadis yang duduk di sebelahnya di kelas selama setahun, tapi Jared tidak pernah meliriknya. Kemudian, setelah Jared berubah, dia bertemu gadis itu lagi dan sejak itu tidak pernah lagi melirik yang lain, Kim girang sekali. Sudah lama dia naksir Jared. Dia bahkan menuliskan nama keluarga Jared di belakang namanya dalam buku harian.” Jacob tertawa mengejek.

Keningku berkerut. “Jared menceritakan itu padamu? Seharusnya jangan.”

Jacob menggigit bibir, “Kurasa tidak seharusnya aku tertawa. Tapi itu lucu.”

“Belahan jiwa apa itu!”

Jacob mendesah. “Jared bukannya sengaja menceritakan semua itu pada kami. Aku pernah menceritakan soal ini padamu kan, ingat?”

“Oh, yeah. Kalian bisa saling mengetahui pikiran masing-masing, tapi hanya saat kalian menjadi serigala, begitu, kan?”

“Benar. Sama seperti pengisap darahmu itu.” Jacob memandang garang.

“Edward,” aku membetulkan.

“Tentu, tentu. Karena itulah aku jadi tahu banyak tentang perasaan Sam. Bukan berarti dia mau menceritakan semuanya pada kami seandainya bisa memilih. Sebenarnya, itu sesuatu yang tidak disukai kami semua.” Kepahitan terdengar jelas dalam suara Jacob. “Sungguh tidak enak. Tidak ada privasi, tidak ada rahasia. Semua yang memalukan terpampang sangar jelas.” Jacob bergidik.

“Kedengarannya mengerikan,” bisikku.

“Terkadang itu berguna saat kami perlu berkoordinasi.” jelas Jacob enggan. “Sekali dalam beberapa bulan, kalau ada pengisap darah menerobos masuk ke wilayah kami. Seperti Laurent waktu itu, sungguh mengasyikkan. Dan seandainya keluarga Cullen tidak menghalang-halangi kami Sabtu kemarin … ugh!” erang Jacob. “Kami pasti bisa menangkapnya!” Tangannya mengepal marah.

Aku tersentak. Walaupun aku khawatir Jasper atau Emmett bakal terluka, tapi itu tidak ada apa-apanya dibandingkan kepanikan membayangkan Jacob berhadapan dengan Victoria. Emmett dan Jasper, dalam bayanganku tidak mungkin bisa dikalahkan. Jacob masih hijau, masih lebih “manusia” dibandingkan mereka. Bisa mati. Terbayang olehku Jacob menghadapi Victoria, rambut merahnya berkibar-kibar di sekeliling wajahnya yang kejam dan buas… aku bergidik ngeri.

Jacob memandangiku dengan ekspresi ingin tahu. “Tapi bukankah kau juga mengalami hal itu setiap saat? Dia bisa mendengar pikiranmu?”

“Oh, tidak. Edward tidak pernah tahu pikiranku. Dia hanya bisa berharap.”

Ekspresi Jacob berubah bingung.

“Dia tidak bisa mendengar pikiranku.” aku menjelaskan, suaraku terdengar sedikit puas, biasa, itu kebiasaan lama. “Aku satu-satunya yang seperti itu, bagi dia. Kami tidak tahu kenapa dia tidak bisa mendengar pikiranku.”

“Aneh.” komentar Jacob.

“Yeah.” Nada puas itu lenyap. “Mungkin itu berarti ada yang tidak beres dengan otakku.” aku mengakui.

“Sudah kukira ada yang tidak beres dengan otakmu.” gerutu Jacob.

“Trims.”

Matahari tiba-tiba menyembul di balik awan, kejutan yang tidak kusangka-sangka, dan aku harus menyipitkan mata untuk melindungi mataku dari terik sinarnya yang memantul di permukaan air. Segala sesuatu berubah warnaombak berubah warna dari kelabu jadi biru, pepohonan dari hijau zaitun kusam ke hijau zamrud cemerlang, dan kerikilkerikil bernuansa warna pelangi berkilauan bak permata.

Kami menyipitkan mata sebentar, membiarkan mata kami menyesuaikan diri. Tak terdengar suara apa pun selain debur ombak yang bergema dari setiap sisi pelabuhan yang terlindung itu, suara lembut bebatuan saling membentur di bawah gerakan air, serta pekik burung-burung camar di atas kepala. Damai sekali rasanya.

Jacob beringsut lebih dekat denganku, sehingga tubuhnya menempel di lenganku. Tubuhnya hangat sekali. Setelah semenit dalam posisi itu, kulepas jaketku. Jacob mengeluarkan suara bernada senang, dan, menempelkan pipinya ke puncak kepalaku. Aku bisa merasakan matahari menyengat kulitku meski tidak sepanas kulit Jacob-dan dalam hati aku bertanya-tanya berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuatku hangus.

Tanpa berpikir aku memutar tangan kananku ke satu sisi dan memandangi cahaya matahari berpendar samar di bekas luka yang ditinggalkan James di sana.

“Apa yang kaupikirkan?” gumam Jacob.

“Matahari.”

“Mmm. Bagus.”

“Kau sendiri, apa yang kaupikirkan?” tanyaku.

Jacob terkekeh sendiri. “Aku teringat film konyol yang kutonton bersamamu. Dengan Mike Newton yang muntahmuntah habis-habisan.”

Aku tertawa, kaget saat menyadari berapa waktu telah mengubah kenangan itu. Betapa dulu itu membuatku tertekan, bingung. Begitu banyak yang berubah sejak malam itu.. Dan sekarang aku bisa tertawa. Itu malam terakhir yang dilewati Jacob dan aku sebelum ia mengetahui asalusulnya yang sebenarnya. Kenangan terakhirnya sebagai manusia. Kenangan yang anehnya sekarang terasa menyenangkan.

“Aku rindu saat-saat seperti itu.” kata Jacob. “Bagaimana hidup dulu terasa begitu mudah… tidak rumit. Untung aku bisa mengingat semuanya dengan baik.” Jacob mendesah.

Jacob merasakan tubuhku tiba-tiba mengejang karena kata-katanya mendadak membuatku teringat hal lain.

“Ada apa?” tanyanya.

“Omong-omong soal ingatanmu yang baik..” Aku melepaskan diri dari pelukannya agar bisa membaca wajahnya. Saat itu, rasanya membingungkan. “Kau tidak keberatan kan, memberitahuku apa yang kaulakukan Senin pagi waktu itu? Kau memikirkan sesuatu yang mengganggu perasaan Edward. Mengganggu sebenarnya bukan istilah yang tepat, tapi aku menginginkan jawaban, jadi kupikir lebih baik tidak usah cari gara-gara.

Wajah Jacob berubah cerah mendengarnya, dan ia tertawa.

“Aku memikirkanmu. Dia tidak suka, ya?”

“Aku? Memikirkanku bagaimana?”

Jacob tertawa, kali ini bernada mengejek. “Aku mengingat keadaanmu waktu kau ditemukan Sam malam itu – aku melihat itu dalam pikirannya, jadi rasanya seolaholah aku juga ada di sana; kenangan itu selalu menghantui Sam, kau tahu. Kemudian aku mengingat bagaimana keadaanmu waktu kau pertama kali datang ke rumahku. Berani taruhan, kau pasti bahkan tidak sadar berapa kusutnya penampilanmu waktu itu, Bella. Bermingguminggu kemudian baru kau terlihat seperti manusia lagi. Dan aku ingat bagaimana kau dulu selalu mendekap tubuhmu sendiri, seperti berusaha memegangi tubuhmu agar tidak hancur…” Jacob meringis, kemudian menggeleng. “Mengingat betapa sedihnya kau waktu itu saja aku tidak tega, padahal itu bukan salahku. Jadi kupikir pasti lebih berat lagi bagi dia. Dan menurutku, dia harus melihat akibat yang ditimbulkan olehnya.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.