Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Tenanglah, Bella.”

“Tutup mulut, Jacob. Pokoknya tutup mulut! Ini sangat tidak adil!”

“Kau benar-benar mengentak-entakkan kaki, ya? Kusangka hanya cewek-cewek di TV yang melakukannya.”

Aku menggeram marah.

“Ini tidak separah yang kaukira. Duduk dan akan kujelaskan.”

“Biar aku berdiri saja.”

Jacob memutar bola matanya. “Oke. Terserah. Tapi dengar, aku akan bertambah tua… suatu saat nanti.”

“Jelaskan.”

Jacob menepuk-nepuk batang pohon. Aku memandang garang sedetik, tapi kemudian duduk; amarahku langsung mereda secepat timbulnya tadi, dan aku cukup tenang untuk menyadari tingkahku tadi memalukan.

“Kalau kami cukup bisa mengendalikan diri sehingga bisa berhenti… ,” kata Jacob. “Bila kami berhenti berubah wujud cukup lama, kami akan menua lagi. Tidak mudah memang.” Jacob menggeleng-gelengkan kepala, merasa ragu. “Butuh sangat lama untuk belajar menahan diri seperti itu, kurasa. Bahkan Sam pun belum sampai ke tahap itu. Apalagi sekarang ada sekelompok besar vampir di dekatdekat sini. Bahkan tidak terpikir oleh kami untuk berhenti jadi werewolf saat suku kami membutuhkan pelindung. Tapi tak seharusnya kau panik dan marah-marah seperti tadi, aku toh sudah lebih tua darimu, setidaknya secara fisik.”

“Apa maksudmu?”

“Lihat saja aku, Bells. Memangnya aku kelihatan seperti anak enam belas tahun?”

Aku memandangi sosok raksasa Jacob dari ujung kepala sampai ujung kaki, berusaha untuk bersikap objektif “Tidak juga, kurasa.”

“Sama sekali tidak. Karena tubuh kami berkembang penuh di bagian dalam selama beberapa bulan saat gen werewolf terpicu. Pertumbuhannya sangar fantastis.” Jacob mengernyitkan wajah. “Secara fisik usiaku kira-kira 25 tahun, Jadi kau tidak perlu marah-marah karena lebih tua dariku selama setidaknya tujuh tahun lagi.”

Kira-kira dua puluh lima tahun. Pikiran itu membuat kepalaku pusing. Tapi aku ingat pertumbuhan fisik Jacob yang fantastis – aku menyaksikan sendiri bagaimana ia bertambah tinggi dengan sangat cepat dan tubuhnya padat berisi. Aku ingat bagaimana hari ini ia terlihat berbeda dari kemarin… aku menggeleng-gelengkan kepala, merasa pusing.

“Jadi, mau dengar cerita tentang Sam tidak, atau kau mau berteriak-teriak memarahiku lagi untuk hal-hal yang tidak bisa kukendalikan?”

Aku menghela napas dalam-dalam. “Maaf Masalah umur adalah topik sensitif bagiku. Membuatku tersinggung.”

Mata Jacob mengeras, dan ia seperti berusaha memutuskan bagaimana mengungkapkan sesuatu.

Karena tidak mau membicarakan hal-hal sensitif – rencanaku untuk masa depan, atau kesepakatan yang bakal dilanggar rencana tersebut, maka aku pun mendorongnya meneruskan cerita. “Jadi, sejak Sam memahami apa yang sebenarnya terjadi, setelah Billy, Harry, dan Mr. Ateara memberitahu dia, katamu itu tidak begitu berat lagi baginya. Dan, seperti katamu tadi, ada juga hal-hal menyenangkan menjadi serigala ..

Sejenak aku ragu-ragu. “Kenapa Sam sangat membenci mereka? Kenapa dia berharap aku juga membenci mereka?”

Jacob mendesah. “Ini bagian yang benar-benar aneh.”

“Aku suka yang aneh-aneh kok.”

“Yeah, aku tahu.” Jacob nyengir sebelum melanjutkan ceritanya. “Kau benar, Sam tahu apa yang terjadi, dan semuanya hampir baik-baik saja. Dalam banyak hal hidupnya sudah kembali, well, bukan normal. Tapi lebih baik.” Lalu ekspresi Jacob mengeras, seakan-akan ada sesuatu yang menyakitkan. “Sam tidak boleh memberitahu Leah. Kami tidak boleh memberi tahu siapa pun yang tidak perlu tahu. lagi pula, tidak aman bagi Sam berada dekatdekat dengan Leah – tapi Sam berbuat curang, sama seperti yang kulakukan denganmu. Leah marah karena Sam tidak mau memberitahu apa yang terjadi – ke mana saja Sam selama ini, ke mana dia pergi pada malam hari, kenapa dia selalu kelelahan – tapi mereka mulai berusaha mengatasinya. Mereka benar-benar berusaha. Mereka sangat saling mencintai.”

“Jadi Leah akhirnya tahu? Itukah yang terjadi?”

Jacob menggeleng. “Bukan, masalahnya bukan itu. Sepupunya, Emily Young, datang dari reservasi Makah untuk mengunjunginya pada akhir pekan.”

Aku terkesiap. “Jadi Emily sepupu Leah?”

“Sepupu jauh. Tapi mereka cukup dekat. Waktu masih kecil, mereka bahkan seperti kakak-beradik.”

“Itu… menyedihkan. Tega-teganya Sam…? Suaraku menghilang, menggeleng-gelengkan kepala.

“Jangan hakimi dia dulu. Adakah yang pernah menceritakan padamu tentang… pernahkah kau mendengar tentang imprint?”

“Imprint?” Aku mengulangi kata itu. “Tidak. Apa artinya itu?”

“Itu satu dari sekian banyak hal aneh yang harus kami hadapi. Itu tidak terjadi pada setiap orang. Faktanya, itu pengecualian yang langka, bukan ketentuan utama. Saat itu Sam sudah pernah ,mendengar cerita-cerita mengenainya, cerita-cerita yang dulunya kami kira hanya legenda. Dia pernah mendengar tentang imprint, tapi tak pernah terbayang olehnya bahwa…”

“Apa itu sebenarnya?” desakku.

Mata Jaeob menerawang jauh ke laut. “Sam memang mencintai Leah. Tapi begitu dia bertemu Emily, itu tidak berarti lagi. Terkadang… kita tidak tahu persis kenapa .. kita menemukan jodoh kita dengan cara seperti itu.” Matanya melirikku lagi, wajahnya memerah. “Maksudku… belahan jiwa kita.”

“Dengan cara seperti apa? Cinta pada pandangan pertama?” tanyaku dengan nada mengejek.

Jacob tidak tersenyum. Mata gelapnya memerhatikan reaksiku dengan kritis. “Agak lebih kuat daripada itu. Lebih pasti.”

“Maaf” sergahku. “Kau serius, ya?”

“Ya, aku serius.”

“Cinta pada pandangan pertama? Tapi lebih kuat?” Suaraku masih terdengar ragu, dan itu tak luput dari pendengaran Jacob.

“Tidak mudah menjelaskannya. Toh itu tidak penting.” Jacob mengangkat bahu dengan sikap tak peduli. “Kau kan ingin tahu apa yang membuat Sam membenci para vampir yang telah mengubahnya, membuatnya membenci dirinya sendiri. Dan itulah yang terjadi. Dia membuat Leah patah hati. Melupakan semua janji yang pernah dia ucapkan kepada Leah. Setiap hari dia harus melihat tuduhan itu terpancar dari mata Leah, dan tahu tuduhan itu benar.”

Mendadak Jacob berhenti bicara, seolah-olah mengatakan sesuatu yang tak seharusnya ia katakan.

“Bagaimana tanggapan Emily dalam hal ini? Padahal dia kan dekat sekali dengan Leah…?” Sam dan Emily memang benar-benar cocok satu sama lain, bagaikan dua keping puzzle, dibentuk untuk saling melengkapi. Meski begitu… bagaimana Emily bisa melupakan fakta bahwa Sam dulu pernah menjadi milik wanita lain? Saudara perempuannya sendiri, hampir bisa dibilang begitu.

“Emily sangat marah, pada awalnya. Tapi sulit menolak komitmen dan pemujaan dalam taraf seperti itu.” Jacob mendesah, “Apalagi Sam bisa menceritakan semua kepadanya. Tidak ada aturan yang dapat menghalangimu kalau kau sudah menemukan belahan jiwamu. Kau tahu bagaimana Emily cedera?”

“Yeah.” Cerita yang beredar di Forks adalah Emily diserang beruang, tapi aku tahu rahasia sebenarnya.

Werewolf itu tidak stabil, Edward pernah berkata. Orang-orang yang dekat dengan mereka cedera.

“Well, anehnya, peristiwa itu malah mendekatkan mereka. Sam sangat ngeri dan muak pada dirinya sendiri, tidak bisa menerima apa yang telah dia lakukan… Dia bahkan rela menabrakkan diri ke bus kalau itu bisa membuat Emily merasa lebih baik. Mungkin saja Sam akan berbuat begitu, hanya supaya bisa melepaskan diri dari perasaan bersalah akibat perbuatannya. Perasaannya hancur… Tapi, entah bagaimana, justru Emily-lah yang menghibur Sam, dan setelah itu…”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.