Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Ceritanya panjang.”

“Aku sudah menceritakan kisah yang panjang untukmu. lagi pula, aku tidak buru-buru pulang kok,” kataku, kemudian meringis ketika terbayang masalah yang bakal kuhadapi nanti.

Begitu mendengar nada waswas dalam suaraku, Jacob dengan cepat mendongak dan menatapku. “Apakah dia akan memarahimu?”

“Ya.” aku mengakui. “Dia sangat tidak suka aku melakukan hal-hal yang dianggapnya … riskan.”

“Seperti bergaul dengan werewolf.”

“Yeah.”

Jacob mengangkat bahu. “Kalau begitu tidak usah pulang saja. Aku bisa tidur di sofa.”

“Ide bagus,” gerutuku. “Karena itu hanya akan membuatnya datang mencariku.”

Jacob mengejang, kemudian tersenyum masam. “Begitu, ya?”

“Kalau dia takut aku terluka atau sebangsanya – bisa jadi.”

“Ideku jadi semakin bagus saja kedengarannya.”

“Please, Jake. Aku tidak suka mendengarnya.”

“Apa yang membuatmu merasa terganggu?”

“Bahwa kalian berdua sangat siap saling membunuh!” keluhku. “Membuatku gila saja. Apa kalian tidak bisa bersikap beradab?”

“Jadi dia siap membunuhku?” tanya Jacob sambil tersenyum muram, tak peduli aku marah.

“Tidak sesiap kau yang sepertinya sudah sangat siap!” Aku tersadar telah berteriak. “Setidaknya dia bisa bersikap dewasa dalam hal ini. Dia tahu menyakitimu akan menyakiti hatiku – jadi dia takkan pernah melakukannya. Tapi kau sepertinya tidak peduli sama sekali!”

“Yeah, benar.” gerutu Jacob. “Aku yakin dia memang pencinta damai.”

“Ugh!” Kusentakkan tanganku dari genggamannya dan kudorong kepalanya jauh-jauh. Ialu kulipat lututku ke dada dan kudekap kedua lenganku melingkari lutut.

Mataku menerawang jauh ke cakrawala, merengut.

Jacob terdiam beberapa menit. Akhirnya, ia bangkit dari tanah dan duduk di sebelahku, lengannya memelukku. Aku menepisnya dengan mengedikkan bahu.

“Maaf,” ucapnya pelan. “Akan kucoba untuk bersikap lebih baik.”

Aku tidak menyahut.

“Seperti kataku tadi, ceritanya panjang. Dan sangat.. aneh. Banyak sekali hal aneh dalam kehidupan baru ini. Aku belum sempat menceritakan setengahnya padamu. Dan masalah dengan Sam ini – well, entah apakah aku bahkan bisa menjelaskannya dengan tepat.”

Kata-katanya memicu keingintahuanku, walaupun aku masih kesal.

“Aku mendengarkan.” karaku kaku.

Dati sudut mata kulihat sebelah wajahnya terangkat, membentuk senyuman.

“Pengalaman Sam jauh lebih sulit daripada kami semua. Karena dia yang pertama, sendirian, dan tidak punya siapasiapa yang bisa memberi tahu apa sebenarnya yang terjadi. Kakek Sam sudah meninggal sebelum dia lahir, dan ayahnya tak pernah ada. Tak seorang pun mengenali tandatandanya. Pertama kali itu terjadi – pertama kalinya dia berubah – Sam mengira dia sudah gila. Butuh dua minggu baru dia bisa cukup tenang untuk mengubah diri kembali.

“Itu terjadi sebelum kau datang ke Forks, jadi kau pasti tidak ingat. Ibu Sam dan Leah Clearwater meminta para jagawana hutan untuk mencarinya, juga polisi. Orang-orang mengira dia mengalami kecelakaan atau sebangsanya…”

“Leah?” tanyaku, terkejut, Leah putri Harry. Mendengar namanya langsung membuatku merasa kasihan. Harry Clearwater, sahabat Charlie, meninggal karena serangan jantung musim semi lalu.

Suara Jacob berubah, jadi lebih berat. “Yeah. Leah dan Sam dulu berpacaran semasa SMA. Mereka mulai pacaran waktu Leah kelas satu. Dia sangat panik waktu Sam menghilang.”

“Tapi Sam dan Emily…”

“Nanti aku akan sampai ke sana – itu bagian ceritanya.” kata Jacob. Ia menghirup napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya dengan cepat.

Kurasa aku memang bodoh waktu mengira Sam tidak pernah mencintai orang lain sebelum Emily. Kebanyakan orang jatuh cinta berulang kali dalam hidupnya. Hanya saja setelah melihat Sam bersama Emily, aku tidak bisa membayangkan ia bersama wanita lain. Cara Sam menatap Emily… well, mengingatkanku pada tatapan yang kadangkadang kulihat di mata Edward – saat ia menatapku.

“Sam kembali,” lanjut Jacob, “tapi dia tidak mau mengatakan kepada siapa-siapa ke mana saja dia selama itu. Kabar burung pun beredar – bahwa dia melakukan hal yang tidak baik, kebanyakan menduga begitu. Kemudian suatu siang Sam kebetulan bertemu kakek Quil, ketika Quil Ateara Tua datang mengunjungi Mrs. Uley. Sam menyalaminya. Si tua, Quil nyaris stroke,” Jacob berhenti sebentar untuk tertawa.

“Kenapa?”

Jacob meletakkan tangannya di pipiku dan menarik wajahku agar berpaling menatapnya – ia mencondongkan tubuh ke arahku, wajahnya hanya beberapa sentimeter dari wajahku. Telapak tangannya membakar kulitku, seolaholah ia demam.

“Oh, benar,” ujarku. Rasanya risi, wajahku begitu dekat dengannya. Sementara tangannya terasa panas di kulitku. “Tubuh Sam panas.”

Jacob tertawa lagi. “Tangan Sam seperti habis dipanggang di atas kompor.”

Jacob begitu dekat, sampai-sampai aku bisa merasakan embusan napasnya yang hangat. Dengan lagak biasa-biasa saja, aku mengangkat tangan untuk menarik tangannya, membebaskan wajahku, tapi kemudian menyusupkan jarijariku ke sela-sela jemarinya, agar tidak melukai hatinya. Jacob tersenyum dan menyandarkan tubuh kembali, tidak tertipu usahaku untuk bersikap biasa-biasa saja.

“Lalu Mr. Ateara langsung mendatangi para sesepuh.” Jacob melanjutkan cerita. “Mereka satu-satunya sesepuh yang masih hidup, yang masih tahu dan ingat hal itu, Mr. Ateara, Billy, dan Harry bahkan pernah melihat kakek mereka berubah. Waktu si tua Quil bercerita pada mereka, mereka diam-diam menemui Sam dan menjelaskan.

“Keadaan jadi lebih mudah setelah Sam mengerti – setelah dia tidak lagi sendirian, Mereka tahu bukan hanya dia satu-satunya yang akan terpengaruh oleh kembalinya keluarga Cullen” – Jacob melafalkan nama itu dengan kegetiran yang tidak disadarinya-” tapi yang lain-lain masih belum cukup tua. Jadi Sam menunggu kami-kami yang lain untuk bergabung dengannya…”

“Keluarga Cullen sama sekali tidak tahu.” kataku dengan suara berbisik. “Mereka tidak tahu werewolf masih ada di sini. Mereka tidak tahu kedatangan mereka ke sini akan mengubah kalian.”

“Tapi itu tidak mengubah fakta bahwa kami memang jadi berubah.”

“Ingatkan aku untuk tidak membuatmu marah.”

“Kaukira aku juga harus segampang kau memaafkan orang? Tidak semua orang bisa menjadi santo dan martir.”

“Dewasalah, Jacob.”

“Kalau saja aku bisa,” gumamnya pelan.

Kupandangi dia, berusaha memahami ucapannya tadi. “‘Apa?”

Jacob terkekeh. “Itu satu dari banyak hal aneh seperti yang pernah kuceritakan.”

“Jadi kau… tidak bisa… jadi dewasa?” tanyaku terperangah. “Kau apa? Tidak bisa… bertambah tua? Kau bercanda, ya?”

“Tidak,” Jacob memberi penekanan pada jawabannya.

Aku merasa darah surut dari wajahku. Air mata – air mata marah – merebak. Aku menggertakkan gigi dengan suara keras.

“Bella? Aku salah omong, ya?”

Aku berdiri lagi, kedua tanganku mengepal, sekujur tubuh gemetar.

“Kau. Tidak. Bisa. Bertambah. Tua.” geramku dari selasela gigi.

Jacob menarik-narik lenganku lembut, berusaha mendudukkanku. “Kami semua tidak bakal menua. Kau ini kenapa sih?”

“Jadi aku satu-satunya yang bakal menua? Semakin hari aku semakin tua!” aku nyaris menjerit, melontarkan kedua tanganku ke udara. Sebagian kecil diriku sadar gayaku marah-marah persis Charlie, tapi bagian rasional itu tertutup oleh bagian yang tidak rasional. “Brengsek! Dunia macam apa ini? Di mana keadilan?”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.