Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Kau melihatnya di mana-mana,” kata Jacob, suaranya tiba-tiba terdengar jauh. ‘Alam berjalan apa adanya – pemburu dan mangsa, putaran hidup dan mati yang tak pernah berakhir.”

Aku tidak mengerti maksud Jacob menguliahiku tentang alam; kupikir ia hanya ingin mengganti topik. Tapi kemudian ia menunduk dan menatapku dengan sorot geli di matanya.

“Meskipun begitu, kau tidak pernah melihat si ikan berusaha mencium si elang. Itu tidak pernah terjadi,” Jacob nyengir mengejek.

Aku balas nyengir dengan kaku, meskipun kesinisan itu masih melekat di mulutku. “Mungkin ikannya sudah berusaha.” kataku. “Sulit menerka apa yang dipikirkan si ikan. Elang itu burung yang tampan sekali, kau tahu.”

“Jadi, itukah intinya?” Suara Jacob mendadak terdengar lebih tajam. “Ketampanan?”

“Jangan tolol, Jacob.”

“Masalah uang, kalau begitu,” desaknya.

“Bagus sekali.” gerutuku, berdiri. “Aku tersanjung karena serendah itu anggapanmu tentangku,” Aku berbalik dan berjalan menjauh.

“Aduh, jangan marah,” Jacob berada tepat di belakangku; disambarnya pergelangan tanganku dan dibalikkannya rubuhku. “Aku serius! Aku sedang berusaha memahami motivasimu, tapi tidak bisa.”

Alisnya bertaut marah, dan matanya hitam dalam naungan bayangan.

“Aku mencintainya. Bukan karena dia tampan atau kaya!”

Kusemburkan kata itu pada Jacob. “Aku lebih suka kalau dia tidak tampan dan tidak kaya. Itu akan sedikit menghilangkan jurang perbedaan di antara kami-karena dia tetaplah orang paling penuh cinta, paling tidak egois, paling brilian, dan paling baik yang pernah kukenal. Tentu saja aku cinta padanya. Apa sulitnya memahami itu?”

“Itu mustahil dipahami.”

“Tolong kauberitahu aku, kalau begitu, Jacob.” Aku sengaja membuat suaraku terdengar sinis. “Apa alasan terpenting bagi seseorang untuk mencintai orang lain? Karena sepertinya aku salah melakukannya.”

“Menurutku, yang paling tepat adalah mulai mencarinya di antara spesiesmu sendiri. Biasanya itu berhasil.”

“Well, gawat kalau begitu!” bentakku. “Kalau begitu berarti aku harus puas dengan Mike Newton.”

Jacob tersentak dan menggigit bibir. Kentara sekali katakataku tadi melukai hatinya, tapi aku terlalu marah untuk merasa tidak enak. Ia melepaskan pergelangan tanganku dan bersedekap, membalikkan badan dan memandang garang ke arah laut.

“Aku manusia.” gumamnya, suaranya nyaris tak terdengar.

“Kau bukan manusia seratus persen seperti Mike,” sambungku sengit. “Kau masih menganggap itu pertimbangan terpenting?”

“Ini lain.” Jacob terap memandangi ombak yang kelabu, “Aku tidak memilih menjadi seperti ini.”

Aku tertawa dengan sikap tak percaya. “Jadi kaukira Edward memilih menjadi seperti sekarang? Dia tidak tahu .apa yang terjadi pada dirinya, sama seperti kau. Dia tidak pernah minta menjadi seperti ini.”

Jacob menggerak-gerakkan kepala maju-mundur dengan gerakan cepat.

“Kau tahu, Jacob, kau selalu menganggap dirimu benar padahal kau sendiri werewolf.”

“Itu lain,” ulang Jacob, memelototiku.

“Aku tidak melihat perbedaannya. Kau bisa sedikit lebih pengertian terhadap keluarga Cullen. Kau tidak tahu saja betapa baiknya mereka-sebenarnya, Jacob.”

Kening Jacob berkerut semakin dalam. “Mereka tidak seharusnya ada. Keberadaan mereka bertentangan dengan alam.”

Kupandangi Jacob lama sekali. Sebelah alisku terangkat dengan sikap tak percaya. Baru sejurus kemudian ia menyadarinya.

“Apa?”

“Omong-omong tentang hal yang tidak alami…” aku menyindir.

“Bella,” sergah Jacob, suaranya lambat dan berbeda. Letih.

Kuperhatikan suaranya mendadak terdengar lebih tua dari, pada aku – seperti orang tua atau guru. “Aku memang terlahir seperti ini. Ini bagian diriku, bagian dari keluargaku, bagian dari kami semua sebagai sebuah suku – itu alasan mengapa kami masih ada.

“Selain itu” – ia menunduk menatapku, mata hitamnya tidak terbaca -“aku masih tetap manusia.”

Ia mengangkat tanganku dan menekankannya di dadanya yang panas membara. Dari balik T-shirtnya aku bisa merasakan detak jantungnya yang teratur di bawah telapak tanganku.

“Manusia normal tak bisa mengotak-atik sepeda motor seperti kau.”

Jacob menyunggingkan senyum miring yang samar. “Manusia normal menjauhi monster, Bella. Dan aku tak pernah mengklaim diriku normal. Hanya manusia.”

Sulit sekali untuk tetap marah kepada Jacob. Aku mulai tersenyum sambil menarik tanganku dari dadanya.

“Kau memang kelihatan seperti manusia di mataku.” aku mengalah. “Saat ini.”

“Aku merasa seperti manusia.” Pandangan Jacob menerawang jauh, ekspresinya melamun. Bibir bawahnya bergetar, dan ia menggigitnya keras-keras.

“Oh, Jake,” bisikku, meraih tangannya.

Inilah sebabnya aku ada di sini. Inilah sebabnya aku rela menghadapi perlakuan apa pun sekembalinya aku nanti. Karena, di balik semua amarah dan kesinisan itu, Jacob sebenarnya sedang sedih. Sekarang, itu terlihat sangat jelas di matanya. Aku tak tahu bagaimana menolongnya, tapi aku tahu aku harus berusaha. Lebih dari itu, aku berutang budi padanya. Karena kesedihan harinya juga membuatku sedih. Jacob sudah menjadi bagian diriku, dan tidak ada yang bisa mengubahnya sekarang.

 

5. IMPRINT

“KAU baik-baik saja, Jake.? Kata Charlie, kau mengalami masa-masa sulit … Keadaanmu belum membaik?”

Tangan hangat Jacob menggandeng tanganku. “Lumayanlah,” jawabnya, tapi menolak menatap mataku.

Pelan-pelan ia berjalan kembali ke batang pohon, matanya menerawang memandangi kerikil-kerikil yang berwarna pelangi, dan menarikku ke sisinya. Aku duduk lagi di batang pohon, tapi Jacob duduk di tanah yang basah dan berbatu-batu, bukan di sebelahku. Aku penasaran apakah itu ia lakukan supaya bisa lebih mudah menyembunyikan wajahnya. Dipegangnya terus tanganku.

Aku mulai mengoceh apa saja untuk mengisi kekosongan.

“Sudah lama sekali aku tidak pernah datang lagi ke sini, Mungkin aku sudah melewatkan banyak hal. Bagaimana kabar Sam dan Emily? Apakah Quil…?”

Aku tidak menyelesaikan kalimatku, teringat bahwa Quil topik yang sensitif bagi Jacob.

“Ah, Quil,” desah Jacob.

Kalau begitu, itu pasti sudah terjadi – Quil pasti sudah bergabung dengan kawanan.

“Aku ikut prihatin,” gumamku.

Yang mengagetkan, Jacob malah mendengus. “Jangan bilang begitu padanya.”

“Apa maksudmu?”

“Quil tidak mau dikasihani. Justru sebaliknya – dia girang bukan main. Gembira luar biasa.”

Itu tak masuk akal. Semua serigala lain justru sangat tertekan membayangkan teman mereka mengalami nasib yang sama. “Hah?”

Jacob menelengkan kepala menatapku. Ia tersenyum dan memutar bola matanya.

“Quil menganggap ini hal terhebat yang pernah terjadi padanya. Sebagian karena dia akhirnya tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan dia senang karena mendapatkan teman-temannya lagi – menjadi bagian ‘kelompok dalam’” Lagi-lagi Jacob mendengus. “Tidak mengherankan, sebenarnya. Quil memang seperti itu.”

“Dia menyukainya?”

“Sejujurnya … sebagian besar dari mereka senang menjadi serigala.” Jacob mengakui lambat-lambat, “Memang ada hal-hal yang menyenangkan – kecepatan, kebebasan, kekuatan… merasa seperti-seperti keluarga… Hanya Sam dan aku yang benar-benar pernah merasa tidak suka. Dan Sam sudah lama sekali berhasil mengatasi perasaan tidak sukanya. Jadi tinggal aku sendiri yang cengeng sekarang,” Jacob menertawakan diri sendiri.

Banyak sekali yang ingin kuketahui, “Kenapa kau dan Sam berbeda? Apa yang sebenarnya terjadi pada Sam? Apa masalahnya? Pertanyaan-pertanyaan itu meluncur dari mulutku tanpa memberi kesempatan Jacob menjawabnya, dan ia pun tertawa lagi.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.