Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Sekarang kau sudah tahu cerita lengkapnya.” aku menyudahi ceritaku. “Jadi sekarang giliranmu bercerita. Apa yang terjadi saat aku pergi mengunjungi ibuku akhir minggu kemarin?” Aku tahu Jacob akan menceritakan secara lebih mendetail dibandingkan Edward. Ia tidak takut membuatku takut.

Jacob mencondongkan tubuh ke depan, sikapnya langsung bersemangat. “Embry dan Quil sedang berpatroli pada hari Sabtu malam, hanya patroli rutin, waktu tiba-tiba

– duaaar!” Jacob melontarkan kedua lengannya, menirukan ledakan. “Itu dia – ada jejak baru, umurnya belum sampai lima belas menit, Sam ingin kami menunggu, tapi waktu itu aku tidak tahu kau pergi, dan aku tidak tahu apakah para pengisap darah itu menjagamu atau tidak. Maka kami langsung mengejarnya dengan kecepatan penuh.. tapi vampir itu menyeberangi perbatasan sebelum kami sempat menangkapnya. Kami menyebar di sepanjang perbatasan, berharap dia akan menyeberang kembali. Benar-benar membuat frustrasi, sungguh.” Jacob menggerak-gerakkan kepala dan rambutnya – yang sekarang sudah tumbuh, tidak cepak lagi seperti waktu ia pertama kali bergabung dengan kawanan itu – hingga jatuh menutupi matanya. “Kami berjalan terlalu jauh ke selatan. Keluarga Cullen mengejarnya kembali ke wilayah kami, hanya beberapa mil di sebelah utara wilayah kami. Seharusnya kami bisa menangkapnya, seandainya kami tahu di mana harus menunggu.”

Jacob menggeleng, mengernyitkan wajah. “Saat itulah situasi berubah panas. Sam dan yang lain-lain menemukan vampir wanita itu sebelum kami, tapi dia menari-nari tepat di sepanjang garis perbatasan, dan seluruh anggota keluarga vampir berada di sisi satunya. Vampir yang besar, tak tahu siapa namanya-”

“Emmett.”

“Yeah, dia. Dia menerjang si vampir wanita, tapi si rambut merah itu gesit sekali! Dia terbang tepat di belakang si vampir berambut merah dan nyaris bertabrakan dengan Paul. Jadi, Paul… well, kau tahu sendiri bagaimana Paul.”

”Yeah.”

“Kehilangan fokus. Aku juga tak bisa menyalahkan Paul

– si pengisap darah besar itu jatuh tepat di atasnya. Iangsung saja Paul menerkamnya – hei, jangan pandangi aku seperti itu. Si vampir itu kan berada di tanah kami.”

Aku berusaha memasang ekspresi setenang mungkin supaya Jacob mau melanjutkan ceritanya. Kuku-kukuku terbenam dalam-dalam di telapak tanganku karena tegang mendengar cerita itu, walaupun aku tahu peristiwa ini berakhir baik.

“Pokoknya, terkaman Paul meleset, dan si vampir besar kembali ke wilayahnya. Tapi saat itu, eh, si, well, eh, si pirang…” ekspresi Jacob tampak lucu sekali, jijik bercampur kagum yang tidak mau diakuinya, berusaha menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan saudara perempuan Edward.

“Rosalie.”

“Terserahlah. Cewek itu marah sekali, jadi Sam dan aku langsung mengapit Paul untuk membelanya. Kemudian pemimpin mereka dan vampir cowok pirang lain…”

“Carlisle dan Jasper.”

Jacob melayangkan pandangan jengkel ke arahku. “Kau tahu aku tak peduli nama-nama mereka. Tapi okelah, si Carlisle ini bicara dengan Sam, berusaha menenangkan keadaan. Kemudian aneh sekali, karena semua berubah tenang dengan sangat cepat. Gara-gara vampir satu itu, yang kauceritakan pada kami, memengaruhi pikiran kami. Tapi walaupun kami tahu apa yang dia lakukan, kami tidak bisa tidak tenang.”

“Yeah, aku tahu bagaimana rasanya.”

“Sangat menjengkelkan, begitulah rasanya. Hanya saja kau tidak bisa jengkel sampai sesudahnya.” Jacob menggeleng-geleng marah. “Sam dan si pemimpin vampir sepakat Victoria adalah prioritas, maka kami mulai mengejarnya lagi. Carlisle mengizinkan kami masuk ke wilayahnya, supaya bisa mengikuti jejak dengan tepat, tapi kemudian Victoria pergi ke tebing-tebing di sebelah utara Makah, tepat di garis pantai sejauh beberapa kilometer.

Victoria kabur lewat air lagi. Si vampir besar dan si vampir penenang ingin agar mereka diizinkan melintasi perbatasan untuk mengejarnya, tapi tentu saja kami menolak.”

“Bagus. Maksudku, sikapmu itu memang bodoh, tapi aku senang. Emmett takkan cukup berhati-hati. Bisa-bisa dia cedera.”

Jacob mendengus. “Jadi apakah vampirmu mengatakan kami menyerang tanpa alasan jelas dan keluarganya benarbenar tidak bersalah…”

“Tidak.” selaku. “Ceritanya persis sama, hanya saja tidak terlalu mendetail.”

“Hah,” sergah Jacob kesal, lalu membungkuk untuk memungut sebutir batu dari jutaan kerikil di kaki kami. Dengan mudah ia melempar batu itu hingga seratus meter ke arah teluk. “Well, dia akan kembali, kurasa. Kami pasti bisa menangkapnya lain kali.”

Aku bergidik; tentu saja Victoria akan kembali. Apakah saat itu Edward akan benar-benar memberitahuku? Entahlah. Aku harus terus mengawasi Alice, mencari tandatanda berulangnya pola itu ….

Jacob sepertinya tidak memerhatikan reaksiku. Matanya menerawang ke ombak dengan ekspresi berpikir di wajahnya, bibirnya yang lebar mengerucut.

“Apa yang kaupikirkan?” tanyaku setelah berdiam diri cukup lama.

”Aku memikirkan apa yang kaukatakan padaku. Tentang si peramal yang melihatmu terjun dari tebing dan mengira kau bunuh diri, lalu bagaimana semua jadi tidak terkendali…. Sadarkah kau seandainya kau menungguku seperti seharusnya, si pengi – Alice tidak akan bisa melihatmu terjun? Takkan ada yang berubah. Saat ini mungkin kita akan berada di garasiku, seperti hari-hari Sabtu biasanya. Tidak akan ada vampir di Forks, dan kau serta aku…” suara Jacob menghilang, tenggelam dalam pikirannya.

Sungguh membingungkan mendengar Jacob berkata begitu, seolah-olah bagus kalau tidak ada vampir di Forks. Jantungku berdebar tak beraturan membayangkan kehampaan yang digambarkannya.

“Bagaimanapun juga, Edward akan tetap kembali.”

“Kau yakin?” tanya Jacob, nadanya kembali garang begitu mendengarku mengucapkan nama Edward.

“Berpisah… ternyata tidak baik akibatnya bagi kami berdua.”

Jacob membuka mulut hendak mengatakan sesuatu, sesuatu bernada marah kalau dilihat dari ekspresinya, tapi mengurungkannya, menghela napas dalam-dalam, lalu mulai lagi.

“Kau tahu Sam marah padamu?”

“Padaku?” Aku terperangah selama sedetik. “Oh. Begitu. Dia mengira mereka tidak akan datang lagi kalau aku tidak ada di sini.”

“Tidak. Bukan karena itu.”

“Lalu apa alasannya?”

Jacob membungkuk untuk mengambil sebutir batu lagi. Ia membolak-balik benda itu di sela jari-jarinya; matanya terpaku memandangi baru hitam itu sambil bicara dengan suara rendah.

“Waktu Sam melihat… keadaanmu pada awalnya, ketika Billy memberitahu mereka betapa khawatirnya Charlie saat

kau tidak kunjung membaik, dan kemudian waktu kau terjun dari tebing…”

Aku mengernyitkan wajah. Tidak ada yang membiarkanku melupakan kejadian itu.

Mata Jacob berkelebat ke arahku. “Dia mengira kaulah satu-satunya orang di dunia ini yang memiliki alasan sebesar dirinya untuk membenci keluarga Cullen. Jadi Sam merasa agak… dikhianati karena kau membiarkan mereka kembali ke kehidupanmu seakan-akan mereka tak pernah melukai hatimu.”

Sedikit pun aku tak percaya hanya Sam yang merasa seperti itu. Dan nada suaraku yang masam ditujukan pada mereka berdua.

“Bilang pada Sam, dia boleh ..

“Lihat itu,” potong Jacob, menuding seekor elang yang menukik tajam menuju laut dari ketinggian luar biasa, Elang itu naik lagi pada menit terakhir, hanya cakarnya yang memecah permukaan ombak, hanya sederik. Ialu elang itu membubung tinggi lagi ke udara, sayapnya mengepak-ngepak, berjuang naik dengan ikan besar dalam cengkeraman cakarnya.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.