Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Belum sempat mematikan mesin, Jacob sudah berdiri di pintu, wajahnya kosong karena syok.

Dalam keheningan yang mendadak saat raungan mesin truk mati, aku mendengarnya terkesiap.

“Bella?”

“Hai, Jake!”

“Bella!” Jacob balas berteriak, dan senyum yang kutunggu-tunggu itu merekah, membelah wajahnya bagaikan matahari yang menyembul di balik awan. Giginya berkilau cemerlang di kulitnya yang merah kecokelatan. “Aku tak percaya!”

Jacob berlari dan separuh menyentakku dari pintu yang terbuka, lalu kami melompar-lompar seperti anak kecil.

“Bagaimana kau bisa sampai di sini?”

“Aku menyelinap!”

“Hueebat!”

“Hai, Bella!” Billy menggelindingkan kursi rodanya ke ambang pintu begitu mendengar ribut-ribut.

“Hai, Bill!”

Saat itulah aku tersedak – Jacob memelukku erat-erat sampai aku tak bisa bernapas dan mengayunkan tubuhku berputar-putar.

“Wow, senang melihatmu datang ke sini!”

“Tidak bisa … napas,” aku terkesiap.

Jacob tertawa dan menurunkanku.

“Selamat datang kembali, Bella,” katanya, nyengir. Dan dari caranya mengucapkan kalimat itu, kedengarannya seperti selamat datang kembali ke rumah.

Kami mulai berjalan, terlalu gembira untuk duduk diam di rumah. Jacob praktis menandak-nandak, dan aku harus beberapa kali mengingatkannya bahwa kakiku panjangnya bukan tiga meter.

Sambil berjalan, aku merasakan diriku berubah menjadi versi lain diriku, diriku dulu saat bersama Jacob. Lebih muda, agak kurang bertanggung jawab. Seseorang yang, sesekali, melakukan hal-hal sangat tolol tanpa alasan jelas.

Kegembiraan kami bertahan sampai beberapa topik obrolan pertama: bagaimana kabar kami, apa yang sedang kami kerjakan, berapa lama waktu yang kupunya, dan apa yang membawaku ke sini. Waktu dengan ragu-ragu kuceritakan padanya tentang brosur serigala, tawa Jacob membahana, bergema di antara pepohonan.

Tapi kemudian, saat kami melenggang melewati toko dan menerobos semak lebat yang mengelilingi First Beach, kami sampai di bagian yang sulit. Sebentar saja kami sudah membicarakan alasan di balik perpisahan panjang kami, dan kupandangi wajah temanku mengeras menjadi topeng getir yang sudah sering kulihat.

“Jadi, bagaimana cerita sebenarnya?” tanya Jacob, menendang sepotong driftwood yang menghalangi jalannya kuat-kuat. Kayu itu melayang di pasir kemudian jatuh berdebam menimpa bebatuan. “Maksudku, sejak terakhir kali kira… well, sebelum itu, kau tahu sendirilah…” Jacob berusaha mencari kata-kata yang tepat. Ia menarik napas dalam-dalam dan mencoba lagi. “Yang kumaksud adalah… apakah semua langsung kembali seperti sebelum dia pergi? Kau memaafkannya untuk semua itu?”

Aku menghela napas panjang. “Tidak ada yang perlu dimaafkan.”

Aku ingin melewati bagian ini, pengkhianatan, tuduhan, tapi aku tahu kami harus membicarakan semua sampai tuntas sebelum bisa beralih ke hal-hal lain.

Wajah Jacob mengernyit, seperti baru menjilat lemon. “Kalau saja Sam memotretmu waktu dia menemukanmu malam itu, September tahun lalu. Itu bisa jadi bukti kuat.”

“Tidak ada yang sedang dihakimi.”

“Mungkin seharusnya ada.”

“Bahkan kau pun tak mungkin menyalahkan dia karena pergi meninggalkanku, seandainya kau tahu alasannya”

Jacob menatapku garang beberapa detik. “Oke,” tantangnya masam. “Buat aku kagum.”

Kegarangannya membuatku letih – mengiris-iris lukaku yang masih berdarah; hatiku sakit karena Jacob marah padaku. Itu membuatku teringat pada sore kelabu, lama berselang, ketika – atas perintah Sam – ia mengatakan kami tak boleh berteman. Aku sampai harus menenangkan diri dulu sebentar.

“Edward meninggalkan aku musim gugur lalu karena menurutnya, aku tidak seharusnya bergaul dengan vampir. Menurut dia, akan lebih baik bagiku kalau dia pergi.”

Jacob terperangah. Mulutnya membuka dan menutup, tak tahu harus mengatakan apa. Apa pun yang ingin ia katakan, jelas tidak tepat lagi untuk diucapkan. Aku senang ia tidak tahu katalisator di balik keputusan Edward. Entah apa pendapat Jacob seandainya ia tahu Jasper mencoba membunuhku.

“Tapi dia kembali juga, kan?” gerutu Jacob. “Sayang dia tidak bisa teguh memegang keputusan.”

“Kau tentunya masih ingat, akulah yang pergi dan menemuinya.”

Jacob memandangiku sesaat, kemudian menyerah. Wajahnya berubah rileks, dan suaranya lebih tenang saat berbicara.

“Benar sekali. Dan aku tidak pernah tahu bagaimana kelanjutannya. Apa yang terjadi?”

Aku ragu-ragu, menggigit bibir.

“Apakah itu rahasia?” Suara Jacob bernada mengejek. “Kau tidak boleh menceritakannya padaku?”

“Tidak,” bentakku. “Tapi ceritanya panjang sekali.”

Jacob tersenyum, arogan, lalu berpaling untuk berjalan menyusuri pantai, berharap aku mengikutinya.

Tidak enak bermain dengan Jacob kalau ia bertingkah seperti ini. Otomatis aku mengikutinya, tak yakin apakah sebaiknya aku berbalik saja dan pulang. Tapi aku harus menghadapi Alice nanti, kalau aku pulang… kurasa aku tidak terburu-buru.

Jacob berjalan ke pohon driftwood besar yang familier – pohon lengkap dengan akar-akarnya, batangnya putih terkikis cuaca dan tertanam dalam-dalam di pasir pantai; itu pohon kami, bisa dibilang begitu.

Jacob duduk di bangku alam itu, dan menepuk-nepuk sebelahnya.

“Aku tidak keberatan mendengar cerita yang panjang. Ada action-nya tidak?”

Aku memutar bola mataku sambil menghenyakkan diri di sampingnya. “Ya, ada,” jawabku.

“Tidak seram kalau tidak ada action-nya.”

“Seram!” dengusku. “Bisa mendengarkan tidak, atau kau akan selalu menyelaku dengan komentar-komentar kurang ajar tentang teman-temanku?”

Jacob pura-pura mengunci mulur dan melempar kunci yang tak kasatmata ke balik bahunya. Aku mencoba tidak tersenyum, tapi gagal.

“Aku harus mulai dengan hal yang sudah kauketahui,” aku memutuskan, berusaha menyusun kisah-kisah dalam benakku sebelum memulai.

Jacob mengangkat tangan. “Silakan.”

“Bagus,” ujarnya. “Aku tidak begitu memahami apa yang sebenarnya terjadi waktu itu.”

“Yeah, well, ceritanya semakin rumit, jadi dengarkan baik-baik. Kau tahu kan, Alice bisa melihat dengan pikirannya?”

Aku menganggap kesinisan yang ditunjukkan Jacob adalah pertanda ia tahu – para serigala tidak senang legenda tentang vampir yang memiliki bakat-bakat supranatural itu ternyata benar – lalu memulai dengan cerita pengejaranku menuju Italia untuk menyelamatkan Edward.

Aku berusaha membuat ceritaku seringkas mungkin – tidak memasukkan hal-hal yang tidak esensial. Aku berusaha membaca reaksi Jacob, tapi wajahnya tampak membingungkan saat aku menjelaskan bagaimana Alice melihat Edward berniat bunuh diri begitu mendengar kabar aku sudah mati. Kadang-kadang Jacob seperti berpikir keras, aku jadi tidak yakin apakah ia mendengarkan. Ia hanya menyela satu kali.

“Jadi si pengisap darah tukang ramal itu tidak bisa melihat kami?” Jacob menirukan, wajahnya tampak garang sekaligus senang. “Sungguh? Itu luar biasa!”

Aku mengatupkan gigiku rapat-rapat, dan kami duduk sambil berdiam diri, wajahnya penuh harap saat menungguku melanjurkan cerita. Kutatap Jacob garang sampai ia menyadari kesalahannya.

“Uuups!” serunya. “Maaf.”

Ia mengunci bibirnya lagi. Respons Jacob lebih mudah dibaca waktu aku sampai ke bagian tentang Volturi. Rahangnya terkatup rapat, bulu kuduk di kedua lengannya meremang, dan cuping hidungnya kembang-kempis. Aku tidak menceritakannya secara spesifik, hanya bercerita bahwa Edward berhasil melakukan negosiasi untuk menyelamatkan kami, tanpa mengungkapkan janji yang harus kami buat, atau kemungkinan mereka akan datang ke sini. Jacob tak perlu ikut merasakan mimpi burukku.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.