Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Tak ingin datang kepagian di tempat kerja, kulahap sarapanku pelan-pelan, sebutir sereal Cheerio sekali suap. Ialu selesai mencuci piring aku menyusun magnet-magnet di kulkas menjadi satu garis lurus. Mungkin aku mengidap kelainan jiwa obsesif-kompulsif

Dua magnet terakhir – magnet-magnet hitam bundar yang merupakan magnet favoritku karena mampu menahan sepuluh lembar kertas ke kulkas dengan mudah – menolak bekerja sama. Medan magnetnya bertolak belakang; setiap kali aku mencoba menyejajarkan magnet terakhir, yang lain melejit keluar barisan.

Entah untuk alasan apa – keranjingan, mungkin – hal ini benar-benar membuatku kesal. Kenapa magnet-magnet ini tidak mau menurut? Sudah tahu tidak bisa, tapi aku tetap keras kepala, aku bolak-balik menyatukan mereka seolaholah berharap keduanya tiba-tiba menyerah. Aku bisa saja menyingkirkan salah satunya, tapi rasanya itu sama saja dengan kalah. Akhirnya, kesal pada diriku sendiri ketimbang pada magnet-magnet itu, kulepas keduanya dari kulkas dan kudekatkan satu sama lain dengan dua tangan. Agak susah melakukannya – magnet-magnet itu cukup kuat untuk melawan – tapi kupaksa keduanya berdampingan.

“Betul, kan,” seruku dengan suara keras – berbicara dengan benda mati bukan pertanda baik-“Tidak terlalu buruk, kan?”

Sejenak aku berdiri seperti idiot, enggan mengakui bahwa aku takkan bisa mengubah prinsip-prinsip ilmiah. Kemudian, sambil mendesah kukembalikan magnet-magnet itu lagi ke kulkas, saling berjauhan.

“Tak perlu ngotot begitu,” gerutuku.

Hari masih terlalu pagi, tapi kuputuskan untuk segera angkat kaki dari rumah sebelum benda-benda mati itu mulai berbicara juga.

Sesampainya di Newton’s, Mike sedang sibuk mengepel kering lorong di antara rak-rak sementara ibunya menyusun konter display baru. Aku mendapati mereka sedang bersitegang, tak menyadari kehadiranku.

“Tapi Tyler hanya bisa pergi hari itu,” protes Mike. “Kata Mom, setelah kelulusan…”

“Pokoknya kau harus menunggu,” bentak Mrs. Newton. “Kau dan Tyler bisa mencari kegiatan lain untuk dilakukan. Kau tidak boleh pergi ke Seattle sampai polisi berhasil menghentikan entah apa yang sedang terjadi di sana. Aku tahu Beth Crowley juga sudah mengatakan hal yang sama kepada Tyler, jadi jangan berlagak seolah-olah aku ini jahat – oh, selamat pagi, Bella,” ucapnya begitu melihatku, nadanya langsung berubah ramah. “Pagi sekali kau datang.”

Karen Newton adalah orang terakhir yang bakal kumintai tolong di toko perlengkapan olah raga outdoor. Rambut pirangnya yang di-highlight sempurna selalu disisir rapi ke belakang dan disanggul dengan elegan di tengkuk, kuku-kuku tangannya mengilap oleh sentuhan profesional, begitu juga kuku kakinya – yang tampak jelas di balik sepatu tali berhak tinggi yang sama sekali tidak mirip deretan panjang sepatu bot hiking yang dijual di Newton’s.

“Jalanan tidak macet,” gurauku sambil menyambar rompi jingga neon jelek dari bawah konter, Aku kaget karena ternyata Mrs. Newton juga mencemaskan soal Seattle, sama seperti Charlie. Kupikir Charlie saja yang terlalu panik.

“Well, eh…” Mrs. Newton ragu-ragu sejenak, memainkan tumpukan brosur yang sedang ditatanya dekat mesin hitung dengan sikap rikuh.

Aku berhenti dengan satu lengan masuk ke rompi. Aku mengenali ekspresi itu.

Setelah aku memberi tahu keluarga Newton bahwa aku tidak bisa bekerja lagi di sini musim panas nanti – dengan kata lain meninggalkan mereka saat musim tersibuk – mereka mulai melatih Katie Marshall untuk menggantikanku. Sebenarnya mereka tidak mampu menggaji kami berdua sekaligus, jadi kalau kelihatannya hari ini toko sepi…

“Aku baru mau menelepon,” sambung Mrs. Newton. “Sepertinya pengunjung hari ini tidak akan banyak. Mike dan aku mungkin bisa menanganinya sendiri. Maaf kalau kau sudah capek-capek datang ke sini…”

Normalnya, aku pasti girang sekali dengan perubahan mendadak seperti ini. Tapi hari ini… tidak terlalu.

“Oke,” desahku. Bahuku terkulai. Apa yang akan kulakukan sekarang?

“Itu tidak adil, Mom,” sergah Mike. “Kalau Bella memang mau kerja…”

“Tidak, tidak apa-apa, Mrs. Newton. Sungguh, Mike. Aku memang harus belajar untuk ujian akhir dan sebagainya…” Aku tidak mau menjadi sumber pertengkaran keluarga, padahal mereka sendiri sudah bersitegang.

“Trims, Bella. Mike, lorong empat belum kau pel. Ehm, Bella, kau keberatan membuang brosur-brosur ini ke tempat sampah sekalian keluar? Kubilang pada gadis yang menitipkannya di sini aku akan menaruhnya di konter, tapi ternyata tidak ada tempat.”

“Tentu, bukan masalah.” Kusimpan rompiku, lalu kukepit brosur-brosur itu dan berjalan menerobos hujan berkabut.

Tempat sampah terletak di samping rumah keluarga Newton, tepat di sebelah tempat para karyawan memarkir mobil. Aku berjalan tersaruk-saruk, menendangi kerikil dengan marah. Aku baru mau melemparkan tumpukan kertas kuning terang itu ke tong sampah waktu mendadak mataku tertumbuk tulisan tebal yang tercetak di atasnya. Tepatnya, ada satu kata yang menarik perhatianku.

Kucengkeram kertas-kertas itu dengan kedua tangan sambil memelototi gambar yang tercetak di bawah sebaris tulisan, Kerongkonganku tercekat.

SELAMATKAN SERIGALA OLIMPIADE

Di bawah kata-kata itu tampak gambar serigala yang sangat mendetail di depan pohon cemara, kepalanya menengadah, seperti sedang melolong ke arah bulan. Gambar itu sangat memilukan; postur si serigala yang sendu membuatnya tampak mengibakan. Sepertinya dia melolong penuh duka.

Kemudian aku berlari ke trukku, brosur-brosur itu masih dalam genggaman.

Lima belas menit – hanya itu waktu yang kumiliki. Tapi seharusnya itu cukup. Hanya butuh lima belas menit untuk sampai ke La Push, dan aku pasti bisa menyeberangi perbatasan dalam tempo beberapa menit saja sebelum sampai ke kota.

Mesin trukku meraung hidup tanpa kesulitan,

Alice tak mungkin bisa melihatku melakukan ini, karena aku tidak merencanakannya. Keputusan spontan, itu kuncinya! Dan kalau bisa bergerak cukup cepat, aku pasti bisa melakukannya.

Saking buru-burunya, kulempar begitu saja brosur-brosur lembab itu hingga berceceran di jok truk – ratusan tulisan dicetak tebal, ratusan gambar serigala hitam melolong di atas kertas berwarna kuning.

Kupacu trukku menyusuri jalan raya yang basah, menyalakan kipas hujan dalam kecepatan tinggi dan mengabaikan erangan mesin yang sudah tua. Aku hanya bisa memacu trukku hingga kecepatan 88 kilometer per jam, dan berdoa semoga itu cukup.

Aku sama sekali tak tahu di mana letak perbatasan, tapi aku mulai merasa lebih aman setelah melewati rumahrumah pertama di luar La Push. Ini pasti sudah di luar batas Alice diizinkan untuk mengikuti.

Akan kutelepon Alice sesampainya di rumah Angela sore nanti, aku beralasan, supaya ia tahu aku baik-baik saja. Tak ada alasan baginya untuk panik. Ia tidak perlu marah padaku – biar Edward saja yang melampiaskan kejengkelan mereka berdua padaku kalau ia kembali nanti.

Trukku sudah megap-megap kehabisan tenaga ketika aku menghentikannya di depan rumah bercat merah kusam yang sudah sangat kukenal. Kerongkonganku kembali tercekat saat memandangi rumah kecil yang dulu pernah menjadi tempat perlindunganku. Sudah lama sekali aku tak pernah lagi datang ke sini.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.