Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Ini bentuk hukuman baru yang sedikit lebih berat daripada hukuman sebelumnya yang kudapat gara-gara menghilang selama tiga hari tanpa penjelasan dan satu kejadian ketika aku terjun bebas dari puncak tebing.

Tentu saja aku masih bisa bertemu Edward di sekolah, karena tak ada yang bisa dilakukan Charlie untuk mencegahnya. Dan Edward juga melewatkan hampir setiap malam di kamarku, tapi tentu saja tanpa sepengetahuan Charlie. Kemampuan Edward memanjat dengan mudah dan tanpa suara ke jendela kamarku. di lantai dua sama bergunanya dengan kemampuannya membaca pikiran Charlie.

Walaupun aku hanya tidak bertemu Edward pada sore hari, itu sudah cukup membuatku gelisah, dan waktu rasanya selalu berjalan sangat lambat. Meski begitu aku menjalani hukumanku tanpa mengeluh karena – pertama – aku tahu aku memang pantas mendapatkannya, dan – kedua – karena aku tak tega menyakiti hati ayahku dengan pindah sekarang, di saat perpisahan yang jauh lebih permanen sudah menanti, tak bisa dilihat Charlie, tapi begitu dekat di pelupuk mataku.

Ayahku duduk di meja sambil menggeram dan membuka lipatan koran yang lembab; beberapa detik kemudian ia. sudah mendecak-decakkan lidah dengan sikap tidak suka.

“Entah kenapa kau masih membaca koran, Dad, kalau itu hanya .. membuatmu kesal.”

Charlie mengabaikanku, lalu mengomeli koran di tangannya. “Inilah sebabnya orang senang tinggal di kota kecil! Konyol.”

“Memang apa salahnya kalau di kota besar?”

“Seattle terancam menjadi kota yang angka pembunuhannya paling tinggi di negara ini. Lima kasus pembunuhan dalam dua minggu terakhir. Terbayang tidak, hidup seperti itu?”

“Kurasa kasus pembunuhan di Phoenix malah lebih tinggi lagi, Dad. Aku pernah hidup seperti itu.” Dan aku baru terancam menjadi korban pembunuhan setelah pindah ke kota kecilnya yang aman ini. Faktanya, sekarang pun aku masih jadi target pembunuhan beberapa pihak …. Sendok bergoyang di tanganku, membuat airnya bergetar.

“Well, dibayar berapa pun aku tidak akan mau.” tukas Charlie.

Aku menyerah, tak mampu lagi menyelamatkan makan malam, dan memutuskan menghidangkannya saja; aku terpaksa menggunakan pisau steak untuk memotong seporsi spageti untuk Charlie dan untukku sendiri, sementara Charlie memerhatikan dengan ekspresi malu. Charlie melapisi spageti bagiannya dengan saus dan langsung menyendoknya. Aku menutupi gumpalan pasta bagianku sebaik mungkin dengan saus dan ikut makan tanpa sedikit pun merasa antusias. Sejenak kami makan sambil berdiam diri, Charlie masih menyimak berita di koran, jadi kuambil lagi Wuthering Heights-ku yang tadi kubaca saat sarapan, berusaha menenggelamkan diri dalam kisah peralihan abad di Inggris sambil menunggu Charlie bicara.

Aku baru sampai ke bagian ketika Heathcliff kembali waktu Charlie berdeham-deham dan melempar korannya ke lantai.

“Kau benar.” kara Charlie. “Aku memang punya alasan melakukan ini.” Ia melambaikan garpu ke hidangan lengket di hadapannya. “Aku ingin bicara denganmu.”

Kusingkirkan bukuku; jilidnya sudah lepas hingga buku itu langsung terkulai lemas di meja. “Dad kan bisa langsung mengajakku bicara saja.”

Charlie mengangguk, alisnya bertaut, “Yeah. Iain kali akan kuingat. Kupikir dengan memasakkan makan malam bisa meluluhkan hatimu.”

Aku tertawa. “Memang berhasil – kemampuan Dad memasak membuatku lembek seperti marshmallow. Dad mau membicarakan apa?”

“Well, ini soal Jacob.”

Aku merasa wajahku mengeras. “Memangnya kenapa ?” tanyaku dengan bibir kaku.

“Tenang, Bells. Aku tahu kau masih kesal padanya karena mengadukan ulahmu padaku, tapi tindakannya itu benar. Itu namanya bertanggung jawab.”

“Tanggung jawab apa.” sergahku sengit, memutar bola mata. “Yang benar saja. Memangnya ada apa dengan Jacob?”

Pertanyaan itu kuulang lagi dalam benakku, sama sekali bukan pertanyaan sepele. Memangnya ada apa dengan Jacob? Aku harus bagaimana lagi menghadapi dia? Mantan sahabatku yang sekarang .. apa Musuhku? Aku meringis.

Wajah Charlie mendadak kecut. “Jangan marah padanya, oke?”

“Marah?”

“Well, ini tentang Edward juga.”

Mataku menyipit.

Suara Charlie semakin serak. ”Aku mengizinkannya datang ke sini, kan ?”

“Ya, memang.” aku mengakui. “Tapi hanya sebentar. Tentu saja, sesekali Dad mungkin bisa mengizinkan aku keluar rumah sebentar.” Aku melanjutkan – hanya bercanda; soalnya aku tahu aku tidak boleh keluar rumah sampai akhir tahun ajaran. “Belakangan ini kan aku sudah bersikap baik.”

“Well, sebenarnya itu juga tujuanku mengajakmu bicara.”

Kemudian wajah Charlie mendadak merekah membentuk senyuman lebar; sesaat ia tampak seolah-olah dua puluh tahun lebih muda.

Aku melihat secercah kemungkinan dalam seringaian lebar itu, tapi aku tidak mau keburu senang. “Aku bingung, Dad. Kita sedang membicarakan Jacob, Edward, atau aku yang dihukum tidak boleh keluar rumah?”

Seringaian lebar itu muncul lagi. “Bisa dibilang tigatiganya.”

“Lantas, bagaimana ketiganya bisa saling berhubungan?” tanyaku, hati-hati,

“Oke.” Charlie mendesah, mengangkat tangan seperti menyerah. “Kupikir, mungkin kau pantas mendapat pembebasan bersyarat karena telah berkelakuan baik. Sebagai remaja, kau luar biasa karena menjalani hukuman tanpa mengeluh.”

Suara dan alisku serta-merta terangkat. “Sungguh? Aku bebas?”

Bagaimana bisa Padahal aku yakin akan dikurung di rumah sampai benar-benar pindah dari sini. Apalagi Edward tidak menangkap sinyal-sinyal keraguan dalam pikiran Charlie …

Charlie mengacungkan telunjuknya. “Dengan satu syarat.” Antusiasmeku langsung lenyap.

“Fantastis.” erangku.

“Bella, lebih tepat bila ini dibilang permintaan, bukan tuntutan, oke? Kau bebas. Tapi harapanku, kau akan menggunakan kebebasan itu .. secara bijaksana.”

“Maksudnya?”

Lagi-lagi Charlie mendesah. “Aku tahu kau sudah cukup puas menghabiskan seluruh waktumu dengan Edward ..”

“Aku juga berteman dengan Alice.” selaku. Saudara perempuan Edward itu bebas datang ke rumahku kapan saja, tanpa batasan; dia bisa datang dan pergi semaunya, Charlie tidak bisa berbuat apa-apa kalau berhadapan dengan Alice.

“Memang benar.” kata Charlie. “Tapi kau punya temanteman lain selain anggota keluarga Cullen, Bella. Atau dulu kau begitu.”

Kami berpandang-pandangan lama sekali.

“Kapan terakhir kau ngobrol dengan Angela Weber?” tantang Charlie.

“Hari Jumat waktu makan siang.” jawabku langsung.

Sebelum kepulangan Edward, teman-teman sekolahku sudah terbagi dalam dua kelompok. Aku menyebutnya kelompok baik vs kelompok jahat. Atau kelompok kami dan mereka. Yang masuk kelompok baik adalah Angela dan pacarnya, Ben Cheney, serta Mike Newton; mereka dengan murah hati memaafkan kelakuanku yang berubah sinting waktu Edward pergi. Iauren Mallory adalah sumber kejahatan di kelompok mereka, dan hampir semua temanku yang lain, termasuk teman pertamaku di Forks, Jessica Stanley, yang sepertinya tetap menjalankan agenda anti Bella.

Dengan kembalinya Edward, garis pemisah di antara kedua kubu semakin terlihat jelas.

Kembalinya Edward membuat Mike agak menjauhiku, tapi Angela tetap setia padaku, sementara Ben ikut saja dengannya. Meski ada sikap segan alami yang dirasakan sebagian besar manusia terhadap keluarga Cullen, namun dengan tenangnya Angela duduk di sebelah Alice setiap hari saat jam makan siang. Tapi setelah beberapa minggu, Angela bahkan terlihat nyaman di sana. Sulit untuk tidak terpesona pada keluarga Cullen – asalkan mereka diberi kesempatan untuk bersikap memesona.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.