Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Trim’s.”

Kertas itu lenyap dari bawah tanganku. Aku mendongak, mengerjap-ngerjap kaget, dan tepat saat itu Mr. Berry berjalan di lorong kelas.

“Ada yang ingin kaubagi dengan kami, Mr. Cullen?”

Edward mendongak dengan sikap tak berdosa dan mengulurkan kertas yang tergeletak di atas mapnya. “Catatan saya?” tanyanya, terdengar bingung.

Mr. Berry mengamati catatan itu – tak diragukan lagi isinya catatan pelajaran barusan – kemudian berjalan pergi dengan kening berkerut,

Belakangan, di kelas Kalkulus – satu-satunya kelas yang kuikuti tanpa Edward – aku mendengar gosip itu.

“Aku bertaruh untuk kemenangan si Indian bongsor,” seseorang berkata.

Aku mengintip dan melihat Tyler, Mike, Austin, dan Ben duduk berempat sambil mendekatkan kepala masingmasing, asyik mengobrol.

“Yeah,” bisik Mike. “Kau lihat nggak tadi, badan bocah bernama Jacob itu besar sekali? Menurutku, dia pasti sanggup menghabisi Cullen.” Kedengarannya Mike senang membayangkan hal itu.

“Sepertinya tidak,” Ben tidak sependapat. “Ada sesuatu dalam diri Edward. Dia selalu sangat… percaya diri. Aku punya firasat dia mampu membela dirinya sendiri.”

“Aku setuju dengan Ben,” Tyler sependapat, “Lagi pula. kalau anak itu berani membuat masalah dengan Edward, kau kan tahu kakak-kakak Edward yang badannya besarbesar itu pasti akan ikut campur.”

“Kau belum pernah ke La Push lagi ya, belakangan ini?” sergah Mike. “Lauren dan aku pergi ke pantai beberapa minggu lalu, dan percaya deh, teman-teman Jacob sama besarnya dengan dia.”

“Hah,” tukas Tyler. “Sayang tadi tidak sampai terjadi perkelahian, Kurasa kita takkan pernah tahu bagaimana hasilnya kalau itu benar-benar terjadi.”

“Kelihatannya sih urusannya belum selesai,” kata Austin.

“Mungkin kita bakal melihatnya.”

Mike nyengir. “Ada yang mau taruhan?’

“Sepuluh dolar buat Jacob,” Austin langsung menyambar.

“Sepuluh dolar buat Cullen,” Tyler ikut-ikutan.

“Sepuluh dolar buat Edward,” Ben sependapat.

“Jacob,” kata Mike.

“Hei, kalian tahu nggak apa masalahnya?” Austin bertanya-tanya. “Mungkin itu bisa memengaruhi taruhannya.”

“Aku bisa menebak,” kata Mike, kemudian melayangkan pandangan ke arahku, diikuti Ben dan Tyler pada saat bersamaan.

Dari ekspresi mereka, kentara sekali tak seorang pun menyadari aku bisa mendengar percakapan mereka. Keempatnya cepat-cepat membuang muka, berlagak membolak-balik kertas di meja masing-masing,

“Aku tetap menjagokan Jacob,” bisik Mike dengan suara pelan.

 

4. ALAM

MINGGU ini benar-benar kacau,

Aku tahu pada intinya tak ada yang berubah. Oke, jadi Victoria belum menyerah, bukankah aku memang tak pernah bermimpi ia sudah menyerah? Kemunculannya kembali mengonfirmasikan apa yang telah kuketahui, Tak ada alasan untuk panik lagi.

Teorinya. Lebih mudah mengatakan tidak usah panik daripada melakukannya.

Kelulusan tinggal beberapa minggu lagi, tapi aku jadi penasaran, apakah hanya duduk berpangku tangan, lemah dan menggiurkan, menunggu bencana datang, bukan tindakan yang tolol? Rasanya terlalu berbahaya menjadi manusia seperti mencari gara-gara saja. Seseorang seperti aku tak seharusnya menjadi manusia. Seseorang yang sial seperti aku seharusnya tidak benar-benar tak berdaya.

Tapi tak ada yang mau mendengarkan aku.

Kata Carlisle waktu itu, “Kami bertujuh, Bella. Dan dengan Alice di pihak kami, kurasa Victoria tidak mungkin datang tanpa kami bisa menduganya. Penting, menurutku, bahwa demi Charlie, kita tetap berpegang pada rencana semula”

Esme berkata, “Kami takkan pernah membiarkan apa pun menimpamu, Sayang. Kau tahu itu. Kumohon, tidak usah cemas.” Kemudian ia mengecup keningku.

Emmett berkata, “Aku benar-benar senang Edward tidak membunuhmu waktu itu. Semua jadi lebih menyenangkan dengan adanya kau.”

Rosalie memelototinya.

Alice memutar bola mata dan berkata, “Aku tersinggung. Masa hanya gara-gara itu kau lantas khawatir?”

“Kalau itu memang bukan masalah besar, kenapa Edward sampai merasa perlu menyeretku ke Florida?” tuntutku,

“Kau belum sadar juga ya, Bella, Edward memang cenderung bereaksi berlebihan.”

Tanpa banyak bicara Jasper menghapus semua kepanikan dan ketegangan pada diriku dengan bakatnya mengendalikan atmosfer emosional. Akibatnya aku merasa yakin, dan membiarkan mereka membujukku melupakan permohonan putus asaku.

Tentu saja ketenangan itu langsung lenyap begitu Edward dan aku pergi dari sana.

Jadi konsensusnya adalah, aku harus melupakan fakta ada vampir sinting membuntutiku, menginginkan aku mati. Pendek kata, tetap melakukan kegiatan rutinku seperti biasa.

Aku benar-benar berusaha. Dan anehnya, ada hal-hal lain yang nyaris sama stresnya untuk dipikirkan selain statusku dalam daftar spesies yang nyaris punah …

Karena respons Edward-lah yang paling membuat frustrasi,

“Itu antara kau dan Carlisle,” katanya. “Tentu saja, kau tahu aku ingin menjadikannya antara kau dan aku, kapan pun kau mau, Tapi kau tahu syaratnya.” Dan ia tersenyum manis bak malaikat.

Ugh. Aku sangat tahu syaratnya. Edward berjanji akan mengubahku sendiri kapan pun aku mau asalkan… aku menikah dengannya lebih dulu.

Terkadang aku bertanya-tanya apakah Edward hanya berpura-pura tidak bisa membaca pikiranku. Soalnya, bagaimana mungkin ia malah menyodorkan satu-satunya syarat yang berat bagiku? Satu-satunya syarat yang bakal menghambatku.

Pendek kata, ini minggu yang sangat buruk. Dan hari ini adalah yang terburuk,

Hariku memang selalu buruk kalau Edward tak ada. Karena Alice tidak memprediksikan ada hal-hal aneh akhir minggu ini, jadi aku mendesak Edward untuk memanfaatkan kesempatan dengan pergi berburu bersama saudara-saudaranya. Aku tahu ia sudah bosan dengan mangsa yang mudah diburu di dekat-dekat sini.

“Pergilah bersenang-senang,” kataku padanya waktu itu.

“Bungkuskan beberapa singa gunung untukku.”

Aku takkan pernah mengaku padanya betapa sulitnya bagiku kalau ia tidak ada – bagaimana itu selalu memunculkan kembali mimpi-mimpi buruk saat aku ditinggalkannya dulu. Seandainya Edward tahu, itu akan membuatnya merasa tidak enak dan takut meninggalkanku, bahkan untuk alasan-alasan terpenting sekalipun. Begitulah awalnya dulu, waktu ia baru kembali dari Italia. Mata emasnya berubah warna menjadi hitam dan ia sangar tersiksa oleh dahaga, lebih dari biasanya. Maka aku berlagak tabah dan memaksanya ikut setiap kali Emmert dan Jasper ingin pergi.

Bagaimanapun, agaknya Edward tahu perasaanku yang sebenarnya. Sedikit, Pagi ini aku menemukan kertas berisi pesan ditinggalkan di bantalku:

“aku akan segera kembali, bahkan sebelum kau sempat merindukanku. Jaga hatiku baik-baik – Aku menitipkannya padamu.”

Jadi sekarang hari Sabtu yang kosong-melompong membentang di depanku, tanpa kegiatan lain selain shift pagi di Newton’s Olympic Outflirters untuk mengalihkan perhatian. Dan, tentu saja, janji yang sangat menghibur dari Alice.

“Aku akan berburu tak jauh dari sini. Hanya lima belas menit jauhnya kalau kau membutuhkanku. Aku akan terap berjaga-jaga kalau ada masalah.”

Terjemahan: jangan coba-coba melakukan yang anehaneh hanya karena Edward tidak ada.

Alice jelas mampu membuat trukku mogok, sama seperti Edward.

Aku berusaha mengambil hikmahnya. Sehabis kerja nanti, aku sudah janjian dengan Angela untuk membantunya menulis surat-surat pemberitahuan, jadi itu bisa mengalihkan perhatianku. Dan suasana hati Charlie sedang sangat bagus karena Edward tidak ada, jadi sebaiknya benar-benar kumanfaatkan saja, selagi bisa. Alice bisa menginap di rumahku kalau keadaanku cukup menyedihkan hingga merasa perlu memintanya. Besok Edward sudah pulang. Aku pasti bisa melewati hari ini.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.