Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Pergilah ke sekolah, Jake,” bisikku, langsung cemas begitu mengenali suara Kepala Sekolah. Jacob bersekolah di sekolah Quileute, tapi ia tetap bisa kena masalah karena masuk tanpa izin atau hal lain semacamnya.

Edward melepaskanku, menggandeng tanganku dan menarik tubuhku ke belakang tubuhnya lagi.

Mr. Greene bergerak menembus kerumunan penonton, alisnya berkerut seperti awan badai mengerikan di atas matanya yang kecil.

“Aku tidak main-main,” ancamnya. “Semua yang masih ada di sini waktu aku berbalik lagi akan dihukum.”

Kerumunan langsung bubar sebelum Kepala Sekolah menyelesaikan kalimatnya.

“Ah, Mr. Cullen. Ada apa ini?”

“Tidak ada apa-apa, Mr. Greene. Kami baru mau masuk kelas.”

“Bagus sekali. Sepertinya aku tidak mengenali temanmu,” Mr. Greene melayangkan pandangan galaknya kepada Jacob. “Kau murid baru di sini?”

Mata Mr. Greene meneliti Jacob dengan saksama, dan kentara sekali ia menyimpulkan hal yang sama seperti orang-orang lain; berbahaya. Berandalan.

“Bukan,” jawab Jacob, senyum mengejek tersungging di bibirnya yang lebar.

“Kalau begitu, kusarankan kau segera angkat kaki dari lingkungan sekolah, anak muda, sebelum aku memanggil polisi”

Cengiran kecil Jacob berubah menjadi seringaian lebar, dan aku tahu ia membayangkan Charlie datang untuk menangkapnya. Seringaian itu terlalu pahit, kelewat penuh ejekan untuk memuaskanku. Itu bukan senyuman yang kutunggu-tunggu untuk kulihat selama ini.

Jacob menjawab, “Baik, Sir,” lalu memberi hormat dengan sikap militer sebelum naik ke sepeda motor dan menyalakannya langsung di aras trotoar, Mesinnya menyala dengan suara meraung, kemudian ban-bannya menjerit saat ia berputar arah dengan kasar. Hanya dalam beberapa detik Jacob sudah lenyap dari pandangan.

Mr. Greene menggertakkan gigi melihat aksi itu.

“Mr. Cullen, kuminta kau mengatakan kepada temanmu untuk tidak masuk lagi ke sini tanpa izin.”

“Dia bukan teman saya, Mr. Greene, tapi peringatan Anda akan saya sampaikan.”

Mr. Greene mengerucutkan bibir. Nilai-nilai Edward yang sempurna serta catatan kelakuannya yang tak bercela jelas jadi faktor penentu dalam penilaian Mr. Greene mengenai insiden tadi. “Baiklah. Kalau kau khawatir akan terjadi masalah, aku dengan senang hati akan…”

“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Mr. Greene. Tidak akan ada masalah apa-apa.”

“Mudah-mudahan saja benar begitu. Well, baiklah kalau begitu. Masuklah ke kelas. Kau juga, Miss Swan.”

Edward mengangguk, lalu cepat-cepat menyeretku menuju kelas Bahasa Inggris.

“Kau merasa cukup sehat untuk masuk kelas?” bisiknya waktu kami berjalan melewati Kepala Sekolah.

“Ya,” aku balas berbisik, tidak yakin apakah ini bohong atau bukan.

Apakah aku merasa sehat atau tidak, bukanlah hal penting sekarang. Aku harus segera bicara dengan Edward, dan kelas Bahasa Inggris bukanlah tempat yang ideal untuk melakukan pembicaraan seperti itu.

Tapi dengan Mr. Greene membuntuti di belakang kami, aku tak punya pilihan lain.

Kami agak terlambat sampai di kelas dan langsung cepatcepat duduk. Mr. Berty sedang mendeklamasikan puisi karya Frost. Ia mengabaikan kami, tak ingin kehadiran kami mengusiknya.

Aku merobek selembar kertas dari buku catatanku dan mulai menulis, tulisan tanganku nyaris tak bisa dibaca karena tanganku gemetaran.

“apa yang terjadi? ceritakan semuanya padaku tidak perlu melindungi segala macam, please…”

Kusodorkan kertas itu kepada Edward. Edward mendesah, lalu mulai menulis. Waktu yang dibutuhkannya jauh lebih singkat, padahal ia menulis seluruh paragraf dengan tulisannya yang bagaikan kaligrafi, lalu mengembalikan kertas itu padaku,

“Alice melihat Victoria kembali. Aku membawamu ke luar kota sekedar berjaga-jaga – ia tidak mungkin bisa memperoleh kesempatan mendekatimu. Emmet dan Jasper nyaris berhasil membekuknya, tapi kelihatannya Victoria memiliki insting untuk menghindar. Ia berhasil lolos tepat di perbatasan wilayah Quiloute seolah-olah ia memiliki peta. Apalagi kemampuan Alice dinihilkan oleh campur tangan para Quiloute itu. Supaya adil, para Quiloute sebenarnya juga bisa membekuk Victoria, kalau saja kami tidak menghalangi. Si serigala abu-abu besar mengira Emmet melanggar batas dan sikapnya langsung defensif. Tentu saja Rosalie segera bereaksi, dan semua langsung berhenti mengejar untuk melindungi teman-teman mereka. Carlisle dan Jasper berhasil menenangkan keadaan sebelum situasi menjadi tidak terkendali. Tapi saat itu Victoria sudah berhasil meloloskan diri. Itu cerita lengkapnya.”

Aku mengerutkan kening memandangi huruf-huruf yang terpampang di kertas. Mereka semua terlibat – Emmett, Jasper, Alice, Rosalie, dan Carlisle. Mungkin bahkan Esme, walaupun Edward tidak menyebut-nyebut namanya. Juga Paul serta seluruh kawanan werewolf Quileute. Kejadian itu bisa dengan mudah berubah menjadi perkelahian, calon keluargaku versus teman-teman lamaku. Siapa pun bisa terluka. Aku membayangkan serigala-serigala itu yang paling berisiko mendapat celaka, tapi membayangkan Alice yang kecil mungil di samping salah satu werewolf itu, bertarung …

Aku bergidik.

Hati-hati, kuhapus seluruh paragraf itu dengan penghapusku, kemudian menulis di atasnya:

“Charlie bagaimana? bisa saja victoria mengincarnya juga.”

Belum lagi aku selesai menulis, Edward sudah menggeleng-gelengkan kepala, jelas meremehkan kekhawatiranku terhadap keselamatan Charlie. Ia mengulurkan tangan, tapi tak kugubris dan mulai menulis lagi.

“Kau kan tidak tahu dia tidak berpikir begitu, karena kau tidak ada di sini. Pergi ke Florida bukan pilihan bijaksana.”

Edward merebut kertas itu dari bawah tanganku.

“Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian. Dengan kesialanmu, bahkan kotak hitam pesawatpun tidak akan selamat.”

Bukan itu maksudku; malah tak terpikir sama sekali olehku untuk pergi tanpa Edward. Maksudku, seharusnya kami terap di sini, bersama-sama, Tapi aku terpancing jawabannya, dan agak tersinggung. Masa aku tidak bisa terbang melintasi negeri tanpa menyebabkan pesawatnya jatuh? Lucu sekali.

“Misalnya kesialanku benar-benar menyebabkan pesawat yang kita tumpangi jatuh. Apa persisnya yang akan kau lakukan dalam situasi itu?”

“Mengapa pesawatnya jatuh?”

Edward berusaha menyembunyikan senyumnya sekarang.

“Pilot-pilotnya teler berat karena mabuk.”

“Gampang. Aku tinggal menerbangkan pesawatnya.”

Tentu saja. Kukerucutkan bibirku dan mencoba lagi.

“Kedua mesinnya meledak dan pesawat yang kita tumpangi berputar-putar di udara menukik ke bumi.”

“Akan ku tunggu sampai kita sudah cukup dekat dengan tanah, memegangimu erat-erat, menendang pintu pesawat hingga terbuka, lalu melompat keluar. Ialu aku akan lari membawamu kembali ke lokasi jatuhnya pesawat, dan kita berjalan tersaruksaruk di sekitarnya, seperti dua korban selamat beruntung dalam sejarah.”

Kutatap dia, tak mampu berkata apa-apa.

“Apa?” bisiknya.

Aku menggeleng takjub. “Tidak apa-apa.” jawabku, mulurku bergerak-gerak tanpa suara,

Kuhapus percakapan yang meresahkan itu dan menulis sebaris kalimat lagi.

“kau harus memberitahu aku lain kali.”

Aku tahu pasti akan ada lain kali. Polanya akan terus berlanjut sampai salah satu pihak kalah.

Edward menatap mataku beberapa saat. Aku penasaran, terlihat seperti apakah wajahku – rasanya dingin, berarti darah belum beredar lagi ke pipiku. Bulu mataku masih basah.

Edward mendesah,. kemudian mengangguk satu kali.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.