Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Jacob mengangkat alis, tapi tetap bergeming. “Kenapa kau tidak cerita padanya?”

Beberapa saat mereka berhadapan tanpa bicara. Semakin banyak murid berkerumun di belakang Tyler dan Austin. Kulihat Mike berdiri di sebelah Ben – Mike memegang bahu Ben, seperti menahannya agar terap berdiri di tempat.

Dalam keheningan tiba-tiba saja semuanya jadi jelas bagiku.

Sesuatu yang Edward tidak ingin aku tahu.

Sesuatu yang tidak mungkin disembunyikan Jacob dariku.

Sesuatu yang membuat kedua pihak, baik keluarga Cullen maupun para serigala, berada di hutan, bergerak dalam jarak cukup dekat hingga saling membahayakan.

Sesuatu yang menyebabkan Edward ngotot agar aku terbang melintasi negeri ke tempat yang jauh.

Sesuatu yang dilihat Alice dalam penglihatannya minggu lalu – dan Edward bohong padaku mengenainya.

Sesuatu yang sebenarnya sudah kutunggu-tunggu. Sesuatu yang aku tahu bakal terjadi lagi, meski aku berharap takkan pernah terjadi. Itu tidak akan pernah berakhir, bukan?

Aku mendengar suara napasku terkesiap beberapa kali, tapi tak sanggup menghentikannya. Sekolah tampak seperti bergetar, seolah-olah ada gempa bumi, tapi aku tahu tubuhku yang bergetarlah yang menyebabkan ilusi itu.

“Dia kembali mencariku,” kataku tercekat.

Victoria takkan pernah menyerah sampai aku mati. Ia akan terus mengulangi pola yang sama – menggertak lalu kabur, menggertak lalu kabur – sampai menemukan celah di antara para pembelaku.

Mungkin keberuntungan akan menyertaiku. Mungkin keluarga Volturi akan datang lebih dulu – setidaknya mereka akan membunuhku lebih cepat.

Edward memegangiku erat-erat di sampingnya, memiringkan rubuhnya sedemikian rupa sehingga ia berdiri diam di antara aku dan Jacob, dan membelai-belai wajahku dengan gerakan cemas, “Tidak apa-apa.” bisiknya, “Tidak apa-apa. Aku tidak akan pernah membiarkannya mendekatimu, tidak apa-apa.”

Lalu ia memandang Jacob garang. “Apakah itu sudah menjawab pertanyaanmu, anjing?”

“Menurutmu Bella tidak berhak tahu?” tantang Jacob. “Ini hidupnya.”

Edward menjaga suaranya tetap pelan; bahkan Tyler, yang beringsut-ingsut semakin dekat, takkan bisa mendengar. “Kenapa dia harus takut kalau dia tidak pernah berada dalam bahaya?”

“Lebih baik takut daripada dibohongi.”

Aku berusaha menguasai diri, tapi air mataku menggenang.

Aku bisa melihatnya di balik kelopak mataku – aku bisa melihat wajah Victoria, bibirnya yang menyeringai memamerkan gigi-giginya, mata merahnya yang berkilatkilat akibat obsesinya untuk membalas dendam; ia menganggap Edward bertanggung jawab atas kematian kekasihnya, James. Ia tidak akan berhenti sampai berhasil merenggut kekasih Edward juga.

Edward menghapus air mata yang mengalir di pipiku dengan ujung-ujung jarinya.

“Menurutmu lebih baik menyakiti hatinya daripada melindunginya?” bisik Edward.

“Dia lebih kuat daripada perkiraanmu,” tukas Jacob. “Dan dia sudah pernah mengalami hal yang lebih buruk.”

Mendadak ekspresi Jacob berubah, dan ia menatap Edward dengan ekspresi spekulatif yang ganjil. Matanya menyipit seperti berusaha memecahkan soal matematika yang rumit di luar kepala.

Aku merasa Edward meringis. Aku mendongak, dan wajahnya berkerut-kerut seperti menahan sakit. Dalam sedetik yang terasa mengerikan, aku teringat pengalaman kami di Italia, di ruangan dalam menara mengerikan yang menjadi rumah keluarga Volturi, ketika Jane menyiksa Edward dengan bakatnya yang kejam, membakar Edward hanya dengan pikirannya saja….

Ingatan itu menyentakkanku dari kondisi nyaris histeris dan mengembalikan semuanya dalam perspektif yang benar. Karena aku lebih suka Victoria membunuhku ratusan kali daripada melihat Edward menderita seperti itu lagi.

“Lucu juga,” komentar Jacob, tertawa waktu melihat wajah Edward.

Edward meringis, tapi kemudian, dengan sedikit susah payah, berhasil membuat ekspresinya datar kembali. Ia tidak benar-benar mampu menyembunyikan sorot menderita di matanya.

Aku melirik, mataku membelalak lebar, dari wajah Edward yang meringis ke wajah Jacob yang menyeringai mengejek.

“Kauapakan dia?” tuntutku.

“Tidak apa-apa, Bella,” kata Edward pelan. “Ingatan Jacob sangat kuat, itu saja.”

Jacob menyeringai, dan Edward meringis lagi. “Hentikan! Apa pun yang sedang kaulakukan.”

“Tentu, kalau memang itu maumu,” Jacob mengangkat bahu. “Bukan salahku jika dia tidak menyukai hal-hal yang kuingat.”

Kupelototi dia, dan Jacob balas tersenyum dengan sikap malu – seperti anak yang tertangkap basah melakukan

sesuatu yang ia tahu seharusnya tidak ia lakukan, oleh seseorang yang ia tahu tidak bakal menghukumnya.

“Kepala Sekolah sedang ke sini untuk membubarkan kerumunan.” Edward berbisik padaku. “Cepat masuk ke kelas Bahasa Inggris, Bella, agar kau tidak terlibat.”

“Overprotektif ya, dia?” sergah Jacob, menujukannya padaku. “Padahal sedikit masalah akan membuat hidup jadi lebih menyenangkan. Biar kutebak, kau tidak diizinkan bersenang-senang, kan?”

Edward memelototi Jacob, bibirnya menyeringai, memamerkan sedikit gigi-giginya.

“Tutup mulutmu, Jake,” sergahku.

Jacob terbahak. “Sepertinya jawabannya tidak. Hei, kalau kau kepingin bersenang-senang lagi, kau bisa datang ke tempatku. Sepeda motormu masih tersimpan di garasiku.”

Kabar itu segera saja mengalihkan perhatianku. “Seharusnya kau menjualnya. Kau sudah berjanji kepada Charlie akan melakukannya.” Kalau bukan karena aku yang memohon-mohon kepada Charlie demi Jake – bagaimanapun juga, Jake sudah menghabiskan waktu dan tenaga berminggu-minggu untuk memperbaiki kedua motor itu, jadi ia pantas mendapat imbalan untuk segala jerih payahnya itu – Charlie pasti sudah membuang motorku ke tempat penimbunan barang bekas. Dan mungkin membakar habis tempat itu sekalian.

“Yeah, yang benar saja. Aku tak mungkin mau melakukannya saja. Motor itu milikmu, bukan milikku. Pokoknya, aku akan mempertahankannya sampai kau ingin mengambilnya kembali.”

Secercah senyum seperti yang kuingat mendadak bermain di sudut-sudut bibirnya.

“Jake…”

Jacob mencondongkan tubuh ke depan, wajahnya bersungguh-sungguh sekarang, kesinisannya lenyap. “Kurasa mungkin sebelum ini aku keliru, kau tahu, mengira kita tidak bisa berteman. Mungkin kita bisa melakukannya, di wilayahku. Datanglah menemuiku.”

Aku sangat bisa merasakan keberadaan Edward, kedua lengannya merangkulku dengan sikap protektif bergeming seperti batu. Kulirik wajahnya sekilas – ekspresinya tenang, sabar.

“Aku, eh, entahlah, Jake.”

Jacob benar-benar mengenyahkan ekspresi antagonis dari wajahnya. Seakan-akan ia lupa ada Edward di sana, atau setidaknya, ia bertekad bersikap begitu. “Aku merindukanmu setiap hari, Bella. Aneh rasanya tidak ada kau.”

“Aku tahu dan aku minta maaf Jake, tapi…”

Jacob menggeleng, dan mendesah. “Aku tahu. Sudahlah, lupakan saja, ya? Kurasa aku pasti bisa melaluinya. Siapa sih yang butuh teman?” Ia meringis, berusaha menutupi kepedihan hatinya dengan lagak tak peduli.

Penderitaan Jacob selalu berhasil membangkitkan sisi protektifku. Itu sangat tidak rasional – Jacob nyaris tidak memburuhkan perlindungan. fisik dalam bentuk apa pun dariku. Tapi kedua lenganku, yang dipegangi kuat-kuat oleh Edward, begitu ingin meraihnya. Merengkuh tubuhnya yang besar dan hangat itu dengan janji tak terucap bahwa aku menerima dan mau menenangkannya.

Lengan Edward yang melindungiku telah berubah menjadi kekang.

“Oke, masuk kelas,” suara bernada tegas terdengar di belakang kami. “Masuk, Mr. Crowley.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.