Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Edward mengguncang tubuhku. “Bella? tanyanya, benarbenar cemas sekarang.

“Kurasa… kurasa dia bermaksud mengecek,” gumamku. “Mengecek untuk memastikan. Bahwa aku masih jadi manusia, maksudku.”

Edward mengejang, dan desisan rendah menggema di telingaku.

“Kita harus pergi,” bisikku. “Sebelumnya. Supaya tidak melanggar kesepakatan. Kita tidak akan pernah bisa kembali ke sini.”

Lengan Edward merangkulku erat. “Aku tahu.”

“Ehem.” Charlie berdeham-deham dengan suara keras di belakang kami.

Aku melompat, kemudian melepaskan diri dari pelukan Edward, wajahku memanas. Edward menyandarkan tubuhnya lagi di konter, Sorot matanya kaku. Aku juga bisa melihat kekhawatiran, dan amarah, di sana.

“Kalau kau tidak mau memasak makan malam, aku bisa memesan pizza,” sindir Charlie.

“Tidak, tidak apa,apa. Aku sudah mulai kok.”

“Oke,” sahut Charlie. Ia menumpukan tubuhnya di ambang pintu, melipat kedua lengannya.

Aku mendesah dan mulai bekerja, berusaha mengabaikan penontonku.

“Kalau aku memintamu melakukan sesuatu, apakah kau akan memercayaiku?” tanya Edward, ada kegelisahan dalam suaranya yang halus.

Kami sudah hampir sampai di sekolah. Sedetik yang lalu Edward masih bersikap rileks dan bercanda denganku, tapi sekarang mendadak kedua tangannya mencengkeram kemudi erat-erat, buku-buku jarinya berusaha keras menahan agar tangannya tidak menghancurkan kemudi itu hingga berkeping-keping.

Kuratap ekspresinya yang gelisah – matanya menerawang jauh, seperti mendengarkan suara-suara di kejauhan.

Detak jantungku langsung berpacu, merespons tekanan yang ia rasakan, tapi kujawab pertanyaannya dengan hatihati. “Tergantung.”

Kami memasuki lapangan parkir sekolah.

“Aku takut kau akan berkata begitu.”

“Kau ingin aku melakukan apa, Edward?”

“Aku ingin kau tetap di mobil.” Edward memarkir mobilnya di tempat biasa dan mematikan mesin sambil berbicara. “Aku ingin kau menunggu di sini sampai aku datang menjemputmu.”

“Tapi… kenapa?”

Saat itu barulah aku melihatnya. Walaupun ia tidak bersandar di sepeda motor hitamnya, yang diparkir sembarangan di trotoar, tidak mungkin tidak melihatnya, karena pemuda itu menjulang tinggi di antara murid-murid lain.

“Oh.”

Wajah Jacob berupa topeng tenang yang kukenal dengan baik. Ekspresi itu biasa ia tunjukkan bila ia bertekad menahan emosi, mengendalikan diri. Ia jadi mirip Sam, yang paling tua di antara para serigala, pemimpin kawanan Quileure. Tapi Jacob tak pernah bisa memancarkan ketenangan diri seperti yang selalu terpancar dari diri Sam.

Aku sudah lupa betapa mengusiknya wajah ini. Walaupun aku sudah mengenal Sam dengan baik sebelum keluarga Cullen kembali – menyukainya juga, bahkan – tapi aku tak pernah benar-benar bisa mengenyahkan perasaan sebalku bila Jacob meniru ekspresi Sam. Itu wajah orang asing. Ia bukan Jacob-ku bila memasang ekspresi seperti itu.

“Kesimpulanmu tadi malam keliru,” gumam Edward. “Dia bertanya tentang sekolah karena tahu di mana ada kau, di situ ada aku. Dia mencari tempat yang aman untuk bicara denganku. Tempat yang banyak saksi matanya.”

Jadi aku salah menginterpretasikan motif Jacob semalam.

Kurang informasi, itulah masalahnya. Informasi seperti misalnya kenapa Jacob merasa perlu berbicara dengan Edward.

“Aku tidak mau menunggu di mobil,” tolakku.

Edward mengerang pelan. “Jelas tidak. Well, ayo segera kita selesaikan.”

Wajah Jacob mengeras saat kami menghampirinya sambil bergandengan tangan.

Aku juga memerhatikan wajah-wajah lain – wajah teman-teman sekelasku. Kulihat mata mereka membelalak saat melihat sosok Jacob yang tinggi menjulang, hampir dua meter, dan berotot, tidak seperti lazimnya pemuda berumur enam belas setengah tahun. Kulihat mata mereka meneliti T~shirt hitam ketat yang dikenakannya – berlengan pendek, padahal udara hari ini sangat dingin – jins bututnya yang bernoda oli, serta sepeda motor hitam mengilat yang disandarinya. Mata mereka tak berani lamalama menatap wajahnya – ada sesuatu dalam ekspresinya yang membuat mereka cepat-cepat membuang muka. Dan aku juga memerhatikan bagaimana orang-orang sengaja berjalan memutar untuk menghindarinya, tidak berani mendekat.

Dengan perasaan takjub, sadarlah aku bahwa Jacob terlihat berbahaya bagi mereka. Sungguh aneh.

Edward berhenti beberapa meter dari Jacob, dan aku tahu itu karena ia tidak suka aku berdiri terlalu dekat dengan werewolf. Ia menarik tangannya agak ke belakang, separuh menghalangiku dengan tubuhnya.

“Sebenarnya kau bisa menelepon kami saja,” kata Edward dengan suara sekeras baja.

“Maaf,” sahut Jacob, wajahnya terpilin membentuk seringaian sinis. “Di speed dial teleponku tidak tersimpan nomor telepon lintah.”

“Kau bisa menghubungiku di rumah Bella.”

Dagu Jacob mengeras, alisnya bertaut. Ia tidak menyahut. “Ini bukan tempat yang tepat, Jacob. Bisakah kira mendiskusikannya nanti?”

“Tentu, tentu, Aku akan mampir ke ruang bawah tanahmu sepulang sekolah,” Jacob mendengus. “Kalau sekarang memangnya kenapa?”

Edward memandang berkeliling dengan sikap terangterangan, matanya tertuju kepada para saksi mata yang nyaris bisa mendengar pembicaraan kami. Beberapa orang rampak ragu-ragu di trotoar, mata mereka bersinar-sinar penuh harap. Seperti berharap akan ada perkelahian yang dapat memecahkan kelesuan yang selalu dirasakan setiap Senin pagi. Kulihat Tyler Crowley menyenggol Austin Marks, dan mereka menyempatkan diri berhenti sebentar.

“Aku sudah tahu maksud kedatanganmu ke sini,” Edward mengingatkan Jacob dengan suara sangat pelan hingga bahkan aku pun nyaris tidak mendengarnya. “Pesan sudah diterima. Anggap saja kami sudah diperingarkan.”

Edward melirikku sekilas dengan sorot waswas.

“Diperingarkan?” tanyaku bingung. “Kau ini bicara apa?”

“Jadi kau tidak memberi tahu dia?” tanya Jacob, matanya membelalak tak percaya. “Kenapa, kau takut dia akan memihak kami?”

“Kumohon, hentikan, Jacob,” pinta Edward dengan suara datar.

“Kenapa?” tantang Jacob.

Aku mengerutkan kening bingung. “Apa yang tidak kuketahui? Edward?”

Edward hanya menatap Jacob garang, seolah-olah tidak mendengar pertanyaanku.

“Jake?”

Jacob mengangkat alisnya padaku. “Jadi dia tidak cerita padamu bahwa kakak… lelakinya melanggar batas hari Sabtu malam?” tanya Jacob, nadanya sangat sinis. Ialu matanya berkelebat kembali kepada Edward. “Jadi bisa dibenarkan kalau Paul…”

“Itu wilayah tak bertuan!” desis Edward.

“Bukan!”

Kentara sekali Jacob sangat marah. Kedua tangannya gemetar. Ia menggeleng dan menghirup napas dalam-dalam dua kali, mengisi paru-parunya dengan udara.

“Emmett dan Paul?” bisikku. Paul saudara sekawanan Jacob yang paling buas. Dialah yang kehilangan kendali di hutan dulu – kenangan tentang serigala berbulu abu-abu yang menggeram-geram mendadak terbayang sangat jelas di kepalaku.

“Apa yang terjadi? Mereka berkelahi?” Suaraku melengking tinggi saking paniknya. “Kenapa? Apakah Paul terluka?”

“Tidak ada yang berkelahi,” Edward menjelaskan dengan suara pelan, hanya kepadaku. “Tidak ada yang terluka. Tidak perlu khawatir.”

Jacob memandangi kami dengan sorot tak percaya. “Jadi kau sama sekali tidak cerita padanya? Itukah sebabnya kau mengajaknya pergi? Supaya dia tidak tahu bahwa…”

“Pergilah sekarang,” Edward memotong perkataan Jacob, dan wajahnya seketika berubah menakutkan – sangat menakutkan. Sedetik itu ia terlihat seperti… seperti vampir. Dipelototinya Jacob dengan kebencian meluap-luap yang sangat kentara.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.