Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Tidak aku capek,”gerutuku. ”malam”

Aku menaiki tangga dengan langkah-langkah kesal, langsung menghampiri jendela kamarku. Kudorong daun jendela yang bingkainya dari logam – jendela itu menutup dengan suara keras hingga kaca-kacanya bergetar.

Lama sekali aku hanya diam memandangi kaca hitam yang bergetar itu, hingga hatiku tenang lagi. Ialu aku mendesah, dan membuka kembali jendela itu selebarlebarnya.

 

3. MOTIF

MATAHARI tenggelam begitu dalam di balik awanawan, jadi rak bisa diketahui apakah matahari sudah terbenam atau belum. Setelah penerbangan yang panjang – mengejar matahari ke arah barat hingga seolah matahari tak bergerak di langit itu membuat orang seperti kehilangan orientasi waktu, waktu terasa begitu tak beraturan. Sungguh mengagetkan saat hutan berganti jadi bangunan-bangunan pertama, menandakan kami sudah hampir sampai di rumah.

“Sejak tadi kau diam saja.” komentar Edward. “Apakah terbang membuatmu mual?”

“Tidak, aku baik-baik saja.”

“Kau sedih karena harus pulang?”

“Lebih lega daripada sedih, kurasa.”

Edward mengangkat sebelah alisnya. Aku tahu tak ada gunanya dan – walaupun aku benci mengakuinya – tidak perlu memintanya tetap memerhatikan jalan di depan.

“Renee jauh lebih… perhatian daripada Charlie dalam beberapa hal. Itu membuatku gelisah.”

Edward tertawa. “Ibumu memiliki pikiran yang sangat menarik. Hampir seperti kanak-kanak, tapi sangat berwawasan. Dia memandang berbagai hal secara berbeda dibandingkan orang-orang lain.”

Berwawasan. Itu deskripsi yang bagus untuk menggambarkan ibuku – kalau ia sedang memerhatikan. Sering kali Renee bingung menghadapi hidupnya sendiri hingga tidak memerhatikan hal lain. Tapi akhir minggu ini ia banyak memerhatikan aku.

Phil sibuk – tim bisbol SMA yang dilatihnya lolos ke babak playoff – dan sendirian bersama Edward dan aku malah semakin mempertajam fokus Renee. Begitu selesai berpelukan dan menjerit-jerit gembira, Renee mulai memerhatikan. Dan ketika memerhatikan, mata birunya yang lebar itu mula-mula memancarkan sorot bingung, kemudian waswas.

Paginya kami berjalan-jalan menyusuri tepi pantai. Renee ingin memamerkan semua keindahan rumah barunya, masih berharap, kurasa, bahwa matahari akan menarikku keluar dari Forks. Ia juga ingin bicara berdua saja denganku, dan itu bisa diatur dengan mudah. Edward berlagak harus menyelesaikan tugas sekolah sebagai alasan untuk tidak keluar rumah seharian.

Di kepalaku, kuputar kembali percakapan itu …

Renee dan aku berjalan santai menyusuri trotoar, berusaha tetap berada di bawah naungan bayang-bayang pohon palem. Walaupun masih pagi, panas sudah menyengat. Udara sangat berat dan lembab sehingga untuk menarik napas dan mengembuskannya lagi, paru-paruku harus berjuang keras.

“Bella?” panggil ibuku, memandang melewati pasir pantai, ke ombak yang mengempas pelan.

“Ada apa, Mom?”

Renee mendesah, tak berani menatap mataku. “Aku khawatir…”

“Ada apa?” tanyaku, langsung cemas. “Ada yang bisa kubantu?”

“Ini bukan mengenai aku,” Renee menggeleng. “Aku khawatir memikirkanmu … dan Edward.”

Renee akhirnya menatapku saat mengucapkan nama Edward, wajahnya seperti meminta maaf.

“Oh,” gumamku, menatap sepasang pelari yang melewati kami, tubuh mereka basah kuyup akibat keringat.

“Ternyata hubungan kalian lebih serius daripada yang selama ini kukira,” sambungnya.

Aku mengerutkan kening, buru-buru memutar kembali kegiatan kami dua hari belakangan. Edward dan aku hampir-hampir tidak saling menyentuh-di depannya, paling tidak. Dalam hati aku bertanya-tanya apakah Renee juga akan menguliahiku tentang tanggung jawab. Aku tidak keberatan seperti waktu aku dikuliahi Charlie. Dengan ibuku, rasanya tidak memalukan. Bagaimanapun, aku juga menguliahinya tentang hal yang sama berulang kali selama sepuluh tahun terakhir.

“Ada yang… aneh mengenai kebersamaan kalian,” gumamnya, keningnya berkerut di atas matanya yang memancarkan sorot khawatir. “Caranya mengawasimu – sangat protektif. Seolah-olah dia rela menghadang peluru untuk menyelamatkanmu atau semacamnya.”

Aku tertawa, walaupun tetap belum mampu membalas tatapannya. “Memangnya itu jelek?”

“Tidak,” Renee mengerutkan kening sambil susah payah mencari kata-kata yang tepat. “Hanya berbeda. Dia sangat intens terhadapmu… dan sangat hati-hati. Aku merasa tidak benar-benar memahami hubungan kalian. Seolah-olah ada rahasia yang tidak kuketahui…”

“Ah, Mom hanya membayangkan yang bukan-bukan,” sergahku cepat-cepat, berusaha keras agar suaraku tetap ringan. Perutku langsung mulas. Aku sudah lupa betapa banyak yang bisa dilihat ibuku. Ada sesuatu dalam pandangannya yang sederhana terhadap dunia yang menohok tepat di sasaran. Ini tidak pernah menjadi persoalan sebelumnya. Hingga kini tak pernah ada rahasia yang tidak bisa kuceritakan padanya.

“Bukan hanya dia,” Renee mengatupkan bibir dengan sikap defensif. “Kalau saja kau bisa melihat tindaktandukmu saat ada dia.”

“Apa maksud Mom?”

“Caramu bergerak – kau mengitarinya bahkan tanpa perlu berpikir lagi. Bila dia bergerak, meski sedikit saja, kau langsung menyesuaikan posisi pada saat bersamaan. Seperti magnet… atau gravitasi. Kau seperti … satelit, atau sebangsanya. Aku belum pernah melihat sesuatu seperti itu.”

Renee mengerucutkan bibir dan memandang ke bawah.

“Aku tahu.” godaku, memaksakan senyuman. “Mom pasti habis membaca cerita-cerita misteri lagi, kan? Atau kali ini fiksi ilmiah?”

Wajah Renee semburat merah jambu. “Itu tidak ada hubungannya dengan ini.”

“Menemukan cerita yang bagus?”

“Well, ada satu – tapi itu tidak penting. Kita sedang membicarakan kau sekarang.”

“Seharusnya Mom tetap membaca kisah-kisah cinta saja. Yang lain-lain hanya membuat Mom ketakutan.”

Sudut-sudut bibir Renee terangkat. “Aku konyol, ya?”

Selama setengah detik aku tak mampu menjawab. Pendapat Renee sangat gampang digoyahkan. Terkadang itu ada bagusnya, karena tidak semua idenya praktis. Tapi hatiku jadi sedih melihat betapa cepatnya ia menyerah pada tanggapanku yang mengecilkan kekhawatirannya, terutama karena kali ini ibuku seratus persen benar.

Renee mendongak, dan aku menjaga ekspresiku.

“Bukan konyol – hanya bersikap layaknya ibu.”

Renee tertawa, kemudian melambaikan tangan ke pasir pantai yang putih serta laut biru yang menghampar.

“Dan semua ini tidak cukup untuk membuatmu pindah lagi ke rumah ibumu yang konyol?”

Aku mengusap keningku dengan lagak dramatis, kemudian berpura-pura menjambak rambutku sendiri.

“Kau akan terbiasa dengan udara lembab ini,” janjinya.

“Kau juga akan terbiasa dengan hujan,” balasku.

Renee pura-pura menyikutku, kemudian meraih tanganku sementara kami berjalan kembali ke mobilnya.

Selain kekhawatirannya terhadapku, Renee kelihatannya cukup bahagia. Damai. Ia masih menatap Phil dengan pandangan sendu, dan itu menenangkan. Jelas hidupnya lengkap dan memuaskan. Jelas ia tidak terlalu kehilangan aku, bahkan sekarang…

Jari-jari Edward yang sedingin es mengusap pipiku. Aku mendongak, mengerjap-ngerjapkan mata, kembali ke masa kini. Edward membungkuk dan mengecup keningku.

“Kita sudah sampai, Sleeping Beauty. Waktunya bangun.” Kami berhenti di depan rumah Charlie. Iampu teras menyala dan mobil patrolinya diparkir di jalan masuk. Saat aku mengamati rumah itu, kulihat tirai tersibak di jendela ruang tamu, memancarkan cahaya lampu berwarna kuning ke halaman yang gelap.

Aku mendesah. Tentu saja Charlie menunggu, siap menerkam.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.