Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Boleh aku tidur sekarang. Please.”

“Sebentar lagi,” kata Charlie.

“Aduh, please, Dad? Kumohon.”

“Bagian yang memalukan sudah lewat, aku janji,” Charlie meyakinkanku.

Aku menatap Charlie, dan bersyukur melihatnya tampak lebih rileks, wajahnya sudah kembali ke warna aslinya. Ayahku menghenyakkan tubuh ke sofa, mengembuskan napas lega karena tak perlu lagi membicarakan soal seks.

“Apa lagi sekarang?”

“Aku hanya ingin tahu perkembangan soal keseimbangan itu.”

“Oh. Bagus, kurasa. Tadi aku janjian dengan Angela. Aku akan membantunya menulis surat pemberitahuan kelulusan. Hanya kami cewek-cewek.”

“Bagus sekali. Iantas bagaimana dengan Jake?”

Aku mendesah. “Soal yang satu itu, aku belum menemukan pemecahannya, Dad.”

“Teruslah berusaha, Bella. Aku tahu kau akan melakukan hal yang benar. Kau anak baik.”

Baik. Jadi kalau aku tidak menemukan solusi untuk membereskan masalahku dengan Jacob, berarti aku bukan anak yang baik? Sungguh tidak bisa diterima.

“Tentu, tentu.” aku menyetujui. Respons otomatis itu nyaris membuatku tersenyum – itu kebiasaan yang ditularkan Jacob padaku. Aku bahkan mengucapkannya dengan nada meremehkan seperti yang digunakan Jacob pada ayahnya sendiri.

Charlie nyengir dan menghidupkan lagi suara TV. Ia duduk merosot di bantal-bantal kursi, puas dengan hasil kerjanya malam ini. Kentara sekali ia akan asyik menonton pertandingan selama beberapa waktu.

“‘Malam, Bells.”

“Sampai besok pagi!” Aku cepat-cepat kabur menaiki tangga.

Edward sudah lama pergi dan tidak akan kembali sebelum Charlie tertidur – mungkin sekarang ini ia sedang berburu atau semacamnya untuk menghabiskan waktu – jadi aku tidak tergesa-gesa berganti baju untuk tidur. Aku sedang tidak ingin sendirian, tapi aku juga malas turun untuk mengobrol dengan ayahku, karena jangan-jangan ada topik tentang pendidikan seks yang belum sempat diungkitnya tadi; aku bergidik.

Jadi, gara-gara Charlie, aku gelisah seperti cacing kepanasan. PR-ku sudah selesai dan aku sedang tidak ingin membaca atau sekadar mendengarkan musik. Aku menimbang-nimbang untuk menelepon Renee untuk mengabarkan kedatanganku, tapi kemudian aku sadar di Florida tiga jam lebih cepat daripada di sini, jadi ia pasti sudah tidur.

Mungkin aku bisa menelepon Angela.

Tapi tiba-tiba aku tahu, sebenarnya bukan Angela yang ingin kuajak ngobrol. Bukan dia yang perlu kuajak ngobrol.

Aku memandangi jendela kamar yang hitam kosong sambil menggigit bibir. Entah berapa lama aku berdiri di sana, menimbang-nimbang pro dan kontra pergi ke sana – melakukan hal yang benar menurut Jacob, bertemu teman terdekatku lagi, menjadi orang baik, versus membuat Edward marah padaku. Sepuluh menit mungkin. Pokoknya cukup lama untuk memutuskan bahwa hal-hal yang pro memiliki dasar yang kuat, sementara hal yang kontra tidak. Edward hanya memikirkan keselamatanku, dan aku tahu sebenarnya tak ada masalah dalam hal itu.

Telepon sama sekali tidak membantu; Jacob menolak menerima telepon dariku sejak Edward kembali. lagi pula, aku perlu bertemu dengannya – melihatnya tersenyum lagi seperti dulu. Aku perlu menggantikan kenangan buruk terakhir berupa wajahnya yang berkerut sedih, kalau aku ingin pikiranku tenang kembali.

Mungkin aku punya waktu satu jam. Aku bisa bergegas pergi ke La Push dan kembali sebelum Edward menyadari aku pergi ke sana. Sebenarnya sekarang sudah lewat jam malamku, tapi mungkin Charlie tidak keberatan, karena toh ini tidak melibatkan Edward? Hanya ada saru cara untuk mengetahuinya.

Kusambar jaketku dan kujejalkan kedua tanganku ke lengannya sambil berlari menuruni tangga.

Charlie mendongak dari keasyikannya nonton pertandingan, serta-merta langsung curiga.

“Dad tidak keberatan kan, kalau aku pergi menemui Jake malam ini?” tanyaku, napasku terengah-engah. “Tidak lama kok.”

Begitu aku menyebut nama Jake, ekspresi Charlie langsung berubah rileks, senyum kemenangan tersungging di wajahnya. Kelihatannya ia sama sekali tidak terkejut khotbahnya memberi hasil begitu cepat. “Tentu boleh, Nak. Bukan masalah. Pulanglah jam berapa pun kau suka.”

“Trims, Dad,” seruku sambil menghambur keluar pintu.

Seperti buronan, aku bolak-balik menoleh ke belakang saat berlari-lari kecil menuju truk, tapi malam sangat gelap, jadi percuma saja berbuat begitu. Aku bahkan harus meraba-raba di sepanjang sisi truk untuk menemukan handel pintu.

Mataku baru mulai menyesuaikan diri dengan kegelapan saat aku menjejalkan kunciku ke lubang kunci. Kuputar keras-keras ke kiri, tapi bukannya mendengar bunyi mesin meraung memekakkan telinga, mesin mobil hanya berbunyi klik. Kucoba sekali lagi, hasilnya sama saja.

Kemudian, gerakan kecil di sudut mata membuatku melompat kaget.

“Astaga!” aku terkesiap sewaktu menyadari ternyata aku tidak sendirian di dalam truk.

Edward duduk diam tak bergerak, sosoknya berupa titik terang samar di tengah kegelapan. Hanya tangannya yang bergerak saat ia memutar-mutar sebuah benda hitam misterius. Dipandanginya benda itu sambil bicara.

“Alice menelepon,” gumamnya.

Alice! Sial. Aku lupa memperhitungkannya dalam rencanaku. Edward pasti menyuruhnya mengawasiku.

“Dia cemas saat masa depanmu tiba-tiba lenyap lima menit yang lalu.”

Mataku, yang sudah membeliak lebar karena kaget, membelalak semakin lebar.

“Karena dia tidak bisa melihat serigala-serigala itu, kau tahu,” Edward menjelaskan dengan gumaman pelan yang sama. “Apa kau sudah lupa itu? Saat kau memutuskan meleburkan takdirmu dengan mereka, kau juga lenyap. Kau tidak mungkin tahu itu aku tersadar. Tapi bisakah kau memahami, mengapa itu membuatku agak… cemas? Alice melihatmu menghilang, dan dia bahkan tidak bisa melihat apakah kau sudah pulang atau belum. Masa depanmu lenyap, sama seperti mereka.

“Kami tidak tahu persis kenapa seperti itu keadaannya. Apakah itu sistem pertahanan diri alamiah yang mereka bawa sejak lahir?” Edward seolah bicara kepada dirinya sendiri sekarang, sambil terus memandangi bagian mesin mobilku yang diputar-putarnya di tangan. “Sepertinya tak sepenuhnya begitu, karena aku tetap bisa membaca pikiran mereka. Setidaknya pikiran keluarga Black. Carlisle berteori itu karena kehidupan mereka sangat diatur transformasi mereka. Lebih merupakan reaksi tidak sengaja daripada sebuah keputusan. Sangat tidak bisa ditebak, dan itu mengubah segalanya mengenai mereka. Detik itu juga, saat mereka berubah dari satu bentuk ke bentuk lain, mereka bahkan tidak benar-benar ada. Masa depan tidak bisa memegang mereka…”

Aku mendengarkan pemikiran Edward itu sambil diam membisu.

“Aku akan membetulkan lagi mobilmu sebelum berangkat sekolah, untuk berjaga-jaga siapa tahu kau mau menyetir sendiri.” Edward meyakinkanku sejurus kemudian.

Dengan bibir terkatup rapat kucabut kembali kunciku dan dengan kaku turun dari mobil.

“Tutup jendelamu kalau kau tidak ingin aku datang malam ini. Aku bisa mengerti,” bisik Edward, tepat sebelum aku membanting pintu.

Aku menghambur masuk sambil mengentak-entakkan kaki, lalu membanting pintu rumah sekalian.

“Ada apa?” tanya Charlie dari sofa.

“Trukku ngadat,” geramku.

“Mau kucek?”

“Tidak. Akan kucoba lagi besok pagi.”

“Mau pakai mobilku?”

Padahal aku tidak boleh menyetir mobil polisi. Charlie pastilah sangat bernafsu ingin agar aku ke La Push. Hampir sama bernafsunya seperti aku.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.