Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Mungkin kau tidak perlu membacanya. Isinya mungkin tidak terlalu penting.”

Psikologi terbalik yang konyol. Dengan kasar kurenggut amplop itu dari meja.

Kertasnya tebal dan kaku. Mahal. Terlalu mewah untuk ukuran Forks. Undangan di dalamnya juga sama, kelewat mewah dan formal. Pasti bukan pilihan Bella. Tidak ada tanda selera pribadinya di lembaran-lembaran kertas menerawang dengan cetakan berwarna pastel ini. Taruhan, ia pasti tidak menyukainya sama sekali. Aku tidak membaca kata-katanya, bahkan tidak melihat tanggalnya. Aku tidak peduli. Ada selembar kertas tebal berwarna putih gading yang di lipat dua, namaku ditulis tangan dengan tinta hitam di belakangnya. Aku tidak mengenali tulisannya, tapi tampak sama mewahnya dengan semua yang lain. Selama setengah detik aku bertanya-tanya apakah si penghisap darah berniat sesumbar?

Kubuka lipatan kertas itu.

Jacob

aku melanggar aturan dengan mengirimkan ini kepadamu. Dia takut ini akan melukai hatimu dan dia tidak ingin membuatmu merasa wajib untuk datang. Tapi aku tahu seandainya aku berada dalam posisimu saat ini, aku pasti juga ingin diberi pilihan.

Aku berjanji akan menjaganya dengan baik Jacob.

terima kasih untuk dia untuk segalanya.

Edward

“Jake, kita hanya punya satu meja,” Billy mengingatkan. Ia memandang tangan kiriku.

Jari-jariku begitu kuat mencengkeram kayu meja hingga benda itu terancam pecah berkeping-keping. Kulonggarkan jariku satu persatu, berkonsentrasi melakukannya, kemudian menggenggam telapak tanganku supaya tidak memecahkan apa pun.

“Yeah, tidak apa-apalah,” gumam Billy

Aku bangkit dari kursi, menggerakkan tubuh untuk membuka baju. mudah-mudahan Leah sudah pulang sekarang.

“Belum terlambat,” gumam Billy waktu menuju pintu depan yang menghalangi jalanku.

Aku sudah berlari sebelum mencapai pepohonan, bajuku mencabik-cabik di belakangku seperti sederet remah-remah roti, padahal aku tak ingin menemukan jalan pulang. sekarang mudah sekali berubah wujud. Aku tak perlu berpikir lagi, tubuhku sudah tau apa yang kuinginkan dan sebelum aku memintanya, sudah memberikan apa yang kuinginkan.

Sekarang aku punya empat kaki, dan aku berlari bagaikan terbang.

Pohon yang tampak kabur bagaikan lautan luas mengambang sekelilingku. Otot-ototku mengeras dan meregang dalam ritme yang nyaman. aku sanggup berlari seperti ini selama berhari-hari dan tidak merasa lelah. Mungkin kali ini, aku tidak akan berhenti.

Tapi aku tidak sendirian.

Aku ikut prihatin, Embry berbisik di kepalaku.

Aku bisa melihat lewat matanya. Ia berada sangat jauh di utara, tapi ia berbalik dan berlari menyongsongku.

Aku mengeram dan berlari lebih cepat.

Tunggu kami, Protes Quil. Ia lebih dekat, baru mulai meninggalkan perkampungan.

Jangan ikuti aku, geramku..

Aku bisa merasakan kekhawatiran mereka di kepalaku walaupun sekuat tenaga aku berusaha menenggelamkannya dalam suara angin dan hutan. Inilah yang paling ku benci, melihat diriku dari mata mereka, sekarang lebih parah karena mata mereka dipenuhi perasaan iba. Mereka melihat kebencian itu, tapi tetap berlari mengejarku.

Sebuah suara baru bergema di kepalaku.

Biarkan dia pergi. Pikiran Sam lembut, namun tetap bernada perintah. Embry dan Quil memperlambat laju mereka dan mulai berjalan.

Seandainya aku bisa berhenti mendengar, berhenti melihat apa yang mereka lihat. kepalaku begitu sesak dan satu-satunya cara untuk sendirian lagi adalah menjadi manusia, tapi aku tidak tahan merasakan kepedihannya.

Ubah wujud kalian lagi. Sam memerintahkan mereka, aku akan menjemputnya Embry.

Mula-mula satu, kemudian kesadaran kedua memudar menjadi kebeningan. Hanya Sam yang tertinggal.

Terima kasih, aku bisa juga berpikir.

Pulanglah saat kau bisa. Kata-kata itu samar, semakin lama semakin lenyap ditelan kekosongan saat Sam pun pergi. Dan aku sendirian.

Begini jauh lebih baik. Sekarang aku bisa mendengar gemeresik pelan daun-daun kering di bawah kuku kakiku, kepak sayap burung hantu di atasku, samudra – jauh, nun jauh di barat sana – mengerang di tepi pantai. Mendengar ini, dan tidak ada lagi yang lain. Tidak merasakan apa pun selain kecepatan, selain tarikan orot, urat, dan tulang, bekerja sama dalam keharmonisan sementara kilometer demi kilometer lenyap di belakangku.

Bila keheningan di kepalaku ini terus bertahan, aku takkan pernah kembali. Aku bukan orang pertama yang memilih wujud ini daripada wujud yang lain. Mungkin, kalau aku berlari cukup jauh, aku tidak akan pernah harus mendengar lagi… Kupaksa kakiku berlari lebih cepat, meninggalkan Jacob Black jauh di belakang.

Selesai

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.