Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Berhenti mendengus dan perhatikan,” bentaknya.

“Kalau aku pura-pura mendengarkan, kau mau pergi tidak?” tanyaku, melirik ekspresi cemberut yang selamanya menghiasi wajahnya. Tidak tahu apakah ia masih memiliki ekspresi lain.

Ingatanku melayang ke masa lalu, saat aku dulu menganggap Leah manis, bahkan mungkin cantik. Itu sudah lama sekali. Tak ada lagi yang menganggapnya begitu sekarang. Kecuali Sam. Sam tak akan pernah memaafkan dirinya sendiri. Seakan-akan, Leah jadi wanita pahit ini karena kesalahan Sam.

Wajah cemberut Leah semakin menjadi-jadi, seolah-olah ia tahu apa yang kupikirkan. Dan mungkin kecurigaanku itu benar.

“Ini membuatku muak, Jacob. Bisakah kaubayangkan bagaimana rasanya bagiku? Aku bahkan tidak menyukai Bella Swan. Tapi kau membuatku menangisi si pencinta lintah ini, seolah-olah aku juga mencintainya. Bisa kau lihat kan, kalau itu sedikit membingungkan? Masa aku bermimpi menciumnya semalam! Bagaimana aku harus menghadapi hal itu, coba?”

“Memangnya aku peduli?”

“Aku tidak tahan lagi berada dalam pikiranmu! Lupakan dia sekarang juga! Dia akan menikah dengan makhluk itu. Makhluk itu akan berusaha mengubahnya menjadi seperti mereka! Sekarang saatnya melanjutkan hidup, nak.”

“Tutup mulut” geramku.

Salah kalau aku balas menyerang. Aku tahu itu. Kugigit lidahku, tapi Leah bakal menyesal kalau tidak menyingkir dari sini. Sekarang juga.

“Jangan-jangan dia malah akan membunuhnya,” sergah Leah, tersenyum mengejek. “Konon menurut cerita-cerita, lebih seringnya begitu. Mungkin pemakaman akan jadi akhir yang lebih baik daripada pernikahannya.”

Kali ini aku harus berusaha keras. Kupejamkan mataku dan berjuang melawan rasa masam dalam mulutku. Kulawan sekuat tenaga api yang menjalari punggungku, berjuang mempertahankan wujudku sementara tubuhku bergetar, hendak pecah.

Setelah bisa mengendalikan diri lagi, kupelototi Leah. Ia memandangi kedua tanganku saat getarannya mulai melambat.

Tersenyum.

“Apanya yang lucu?”

“Kalau kau kesal karena bingung masalah gender, Leah..,” ujarku. lambat, menekankan setiap kata. “Bagaimana menurutmu perasaan kami-kami ini, menatap Sam melalui matamu? Emily sudah cukup kewalahan karena harus menghadapi ngototanmu. Dia tentu tidak suka kalau kami cowok-cowok juga megap-megap merindukan pacarnya.”

Meskipun kesal terap saja aku merasa bersalah waktu kulihat Leah tersentak sedih.

Ia buru-buru berdiri berhenti sebentar untuk meludahiku lalu menghambur ke arah pepohonan, bergetar seperti garputala.

Aku tertawa sengit. “Tidak kena.”

Sam pasti akan memarahiku habis-habisan gara-gara itu, tapi itu sebanding dengan kepuasan yang kuperoleh. Leah tidak akan menggangguku lagi. Dan aku akan melakukannya lagi kalau ada kesempatan. Karena katakatanya masih mengendap di sana, menggaruk-garuk di benakku, sangat menyakitkan sampai aku nyaris tidak bisa bernapas.

Aku masih bisa menerima kenyataan bahwa Bella memilih orang lain dan bukan aku. Kepedihan itu bukan apa-apa. Aku sanggup menanggung kepedihan itu selama sisa hidupku yang tolol, terlalu panjang dan lama ini.

Tapi yang tidak bisa kuterima adalah, Bella rela melepaskan segalanya, bahwa ia akan membiarkan jantungnya berhenti berdetak dan kulitnya membeku seperti es dan pikirannya terpuntir dan mengkristal menjadi otak predator. Menjadi monster. Menjadi orang asing.

Menurutku, tak ada yang lebih buruk daripada itu, tak ada yang lebih menyakitkan daripada itu di seluruh penjuru dunia.

Tapi, kalau Edward membunuhnya…

Lagi-lagi aku harus berusaha keras melawan amarah. Mungkin, kalau bukan karena Leah, akan lebih baik jika aku membiarkan amarah ini mengubahku menjadi makhluk yang bisa menanganinya dengan lebih baik. Makhluk yang instingnya jauh lebih kuat daripada emosi manusia. Hewan yang tidak bisa merasakan kepedihan dengan cara yang sama. Kepedihan yang berbeda, setidaknya ada variasi. Tapi Leah sedang berlari-lari sekarang dan aku tidak ingin mendengarkan pikirannya. Kumaki dia dalam hati karena merenggut jalan keluar itu dariku.

Bertentangan dengan keinginanku, kedua tanganku bergetar. Apa yang membuatnya gemetar? Amarah? kepedihan? Entah apa yang sedang kulawan saat ini.

Aku harus yakin Bella akan selamat. Tapi itu membutuhkan kepercayaan-kepercayaan yang tidak ingin kurasakan, kepercayaan bahwa penghisap darah itu memiliki kemampuan membuat Bella tetap hidup.

Bella menjadi sosok berbeda, dan aku penasaran bagaimana itu akan mempengaruhiku. Apakah akan sama dengan bila ia meninggal dunia, melihat Bella berdiri di sana seperti batu? seperti es? Jika bau badannya membakar lubang hidungku dan memicu timbulnya naluri untuk mengoyak, merobek, bagaimana jadinya nanti? Mungkinkah aku ingin membunuhnya? Mungkinkah aku mampu tidak membunuh salah seorang di antara mereka?

Kupandangi ombak yang bergulung-gulung menuju pantai, lenyap dari pandangan di bawah air tebing, tapi aku mendengarnya mengempas pasir. Kupandangi terus sampai jauh malam, lama setelah hari gelap.

Pulang mungkin bukan ide yang baik, tapi aku lapar, dan aku tak punya rencana lain.

Sambil mengernyit aku memasukan lenganku ke penyangga konyol ini dan menyambar krukku. kalau saja Charlie tidak melihatku hari itu dan menyebarkan kabar tentang ‘kecelakaan motor’ yang menimpaku, properti konyol, benci betul aku pada benda-benda ini.

Merasa lapar sepertinya lebih baik daripada pulang begitu aku berjalan memasuki rumah dan melihat wajah ayahku. Pasti ada sesuatu. Mudah saja menebaknya – ayahku selalu bersikap berlebihan kalau sedang ada masalah. Sok biasa-biasa saja.

Ia juga terlalu banyak bicara. Belum lagi aku sampai ke meja makan, Billy sudah mengoceh tidak karuan tentang kegiatannya hari itu. Ia tidak pernah mengoceh seperti ini kecuali ada sesuatu yang tidak ingin ia katakan. Sebisa mungkin kuabaikan dia, berkonsentrasi pada makanan. Semakin cepat aku menelannya…

“…dan Sue datang ke sini hari ini.”

Suara ayahku keras. Sulit diabaikan. Seperti biasa. “Wanita luar biasa. Lebih perkasa daripada beruang grizzly, wanita satu itu. Tapi entah bagaimana dia menghadapi putrinya. Sebenarnya Sue bisa menjadi serigala yang hebat. Kalau Leah, dia lebih cocok jadi anjing hutan.” Billy terkekeh mendengar leluconnya sendiri.

Ayahku menunggu responsku sebentar, tapi sepertinya tidak melihat ekspresiku yang kosong dan bosan setengah mati.

Biasanya itu membuatnya kesal. Aku berharap ayahku tutup mulut dan tidak lagi membicarakan Leah. Aku sedang berusaha untuk tidak memikirkan dia.

“Kalau Seth jauh lebih mudah. Tentu saja, kau juga lebih mudah daripada kakak-kakak perempuanmu, sampai… well, kau harus menghadapi lebih banyak masalah daripada mereka.”

Aku mengembuskan napas, panjang dan dalam, lalu memandang ke luar jendela.

Billy terdiam sekali. “kita mendapat surat hari ini.” Aku bisa menebak inilah topik yang sejak tadi dihindari ayahku.

“Surat?”

“Eh… undangan pernikahan.”

Setiap otot tubuhku mengunci di tempat. Secercah perasaan panas seolah menyapu punggungku. Kupegangi meja dengan kedua tangan untuk menenangkan diri.

Billy terus saja bicara seolah tidak memperhatikan. “di dalamnya ada surat yang ditujukan padamu. Aku tidak membacanya.”

Billy menarik sehelai amplop tebal berwarna putih gading dari tempatnya yang terjepit di antara kaki Billy dan bagian samping kursi rodanya. Diletakkannya amplop itu di meja di antara kami.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.