Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“aku bukan mau mundur, Bella. Aku akan tetap menepati kesepakatan yang menjadi bagianku, tapi kau bebas, apa pun yang kau inginkan, tanpa ikatan.”

“Kenapa?”

“Bella, aku melihat apa yang kaulakukan. Kau berusaha membuat semua orang lain bahagia, padahal aku tidak peduli perasan orang lain. Aku hanya ingin kau bahagia. Jangan bingung memikirkan bagaimana menyampaikan kabar ini kepada Alice. Biar aku yang melakukannya. Aku berjanji dia tidak akan membuatmu merasa bersalah.”

“Tapi aku…”

“Tidak. kita akan melakukannya dengan caramu. Karena caraku ternyata tidak berhasil. Aku menyebutmu keras kepala, tapi lihat apa yang telah kulakukan. Aku begitu ngotot mempertahankan apa yang kuanggap terbaik untukmu, meskipun itu hanya menyakiti hatimu. Sangat menyakitimu, berulang kali. Aku tidak percaya lagi pada diriku sendiri. Kau boleh memiliki kebahagiaan sesuai caramu. Caraku selalu saja salah.

“Jadi…” Edward bergerak ke bawah tubuhku, menegakkan bahunya. “kita akan melakukannya sesuai caramu, Bella. Malam ini. Hari ini. Semakin cepat semakin baik. Aku akan bicara dengan Carlise. Kupikir mungkin kalau kami memberimu morfin cukup banyak kau tidak akan merasa terlalu kesakitan. Patut dicoba,” Edward menggertakkan giginya.

“Edward, tidak. ”

Edward menempelkan jarinya di bibirku. “Jangan khawatir, Bella sayang. Aku tidak melupakan tuntutanmu yang lain.”

Tangan Edward menyusup ke dalam rambutku, bibirnya bergerak lembut, tapi sangat serius – di bibirku, sebelum aku menyadari apa yang dikatakannya. Apa yang dilakukannya.

Tak banyak waktu untuk bertindak. Kalau terlalu lama menunggu aku tidak akan mampu mengingat kenapa aku harus menghentikan Edward. Sekarang saja aku sudah tidak bisa bernapas dengan benar. Tanganku mencengkeram lengannya, menempelkan tubuhku lebih erat lagi ke tubuhnya, bibirku menempel di bibirnya dan menyahuti setiap pertanyaan yang tak terucapkan olehnya.

Aku berusaha menjernihkan isi kepalaku, mencari cara untuk berbicara.

Edward berguling pelan, menindihku di rerumputan yang sejuk.

“Oh masa bodohlah!” sorak sisi lain diriku kegirangan. Kepalaku dipenuhi wangi napasnya.

Tidak, tidak. tidak. aku berdebat dengan diriku sendiri. Aku menggeleng, dan bibir Edward beralih ke leherku, memberiku kesempatan untuk bernapas.

“Hentikan. Edward. Tunggu.” Suaraku sama lemahnya dengan tekadku.

“Kenapa?” bisik Edward di cekungan leherku.

Aku berusaha keras memperdengarkan nada penuh tekad dalam suaraku. “aku tidak mau melakukan ini sekarang.”

“ah, masa?” tanyanya. suaranya mengandung senyum. Bibirnya kembali beralih ke bibirku sehingga membuatku tak bisa bernapas. Gairah menderas di pembuluh darahku, membakar kulitku yang bersentuhan dengan kulitnya.

Aku memaksa diriku untuk berkonsentrasi. Dibutuhkan usaha yang lumayan keras hanya untuk memaksa tanganku meninggalkan rambutnya. memindahkannya ke dada Edward. Tapi aku berhasil melakukannya. Kemudian aku mendorongnya berusaha menjauhkannya dariku. Aku tidak mungkin bisa melakukannya sendirian, tapi seperti kuduga, Edward meresponsku.

Ia mundur beberapa sentimeter untuk memandangiku, dan sorot matanya tidak membantu sama sekali. mata itu hitam berapi-api. Menyala-nyala.

“Kenapa?” tanyanya lagi. suaranya rendah dan parau. “aku mencintaimu. Aku menginginkanmu. Sekarang juga.”

Kupu-kupu di perutku membanjiri kerongkongan. Edward memanfaatkan kebisuanku.

“Tunggu, tunggu,” aku berusaha berbicara di sela-sela ciumannya.

“Tidak untukku,” bisik Edward tidak setuju.

“Please?” aku terkesiap.

Edward mengerang, dan menjauhkan dirinya dariku, berguling dan kembali telentang.

Kami berbaring di sana beberapa saat, berusaha menenangkan napas yang memburu.

“Katakan padaku kenapa tidak sekarang, Bella,” tuntut Edward. “Sebaiknya alasannya bukan karena aku.”

Segala sesuatu di duniaku adalah karena dia. Sungguh konyol bila berharap lain.

“Edward, ini sangat penting bagiku. Aku akan melakukannya dengan benar.”

“Benar menurut definisi siapa?”

“Definisiku.”

Edward berguling dan bertumpu pada sikunya, memandangiku, ekspresinya tidak setuju.

“Bagaimana kau akan melakukannya dengan benar?”

Aku menarik napas dalam-dalam. “Dengan bertanggung jawab. Semuanya dalam urutan yang benar. Aku tidak akan meninggalkan Charlie dan Renee tanpa resolusi terbaik yang bisa kuberikan pada mereka. Aku juga tidak akan merenggut kebahagiaan Alice, bahwa aku tetap akan menikah. Dan aku akan mengikatkan diriku padamu dalam setiap cara manusia yang mungkin dilakukan, sebelum aku memintamu membuatku menjadi abadi. Aku akan mengikuti aturan yang ada, Edward. Jiwamu jauh terlalu penting bagiku untuk dipertaruhkan. Kau tidak akan bisa menggoyahkan keputusanku ini.”

“Berani bertaruh, aku pasti bisa,” bisik Edward, matanya kembali menyala-nyala.

“Tapi kau tidak akan melakukannya,” kataku, berusaha agar suaraku tetap tenang. “Tidak karena kau tahu inilah yang benar-benar kuinginkan.

“Kau tidak bertarung secara adil,” tuduh Edward.

Aku nyengir, “Aku memang tidak pernah bilang begitu.”

Edward membalas senyumku, sendu, “kalau kau berubah pikiran ..”

“Kau akan jadi orang pertama yang tahu,” janjiku.

Hujan mulai menetes menerobos awan,beberapa butir airnya menimbulkan bunyi tes-tes pelan begitu menyentuh rumput.

Aku memandang sebal ke langit.

“Kuantar kau pulang. Edward menyapu beberapa butir air dari pipiku.

“Hujan bukan masalah,” gerutuku. “itu hanya berarti sekarang saatnya pergi untuk melakukan sesuatu yang sangat tidak menyenangkan dan bahkan mungkin sangat berbahaya.”

Mata Edward membelalak panik.

“Untung saja kau antipeluru,” aku mendesah. “aku membutuhkan cincin itu. sekarang saatnya memberitahu Charlie.”

Edward tertawa melihat ekspresiku. “sangat berbahaya,” ia sependapat/lagi-lagi ia tertawa, lalu merogoh saku jinsnya.

“Tapi paling tidak sekarang tidak perlu lagi melakukan perjalanan sampingan.”

Sekali lagi Edward menyelipkan cincin itu ke jari manis tangan kiriku. Cincin itu akan selalu berada di sana selama-lamanya.

 

EPILOG – PILIHAN

JACOB BLACK

“Jacob, menurutmu ini akan berlangsung lebih lama lagi?” tuntut Leah. Tidak sabar. Mengeluh.

Aku mengertakkan gigi gemas.

Seperti halnya semua orang lain dalam kawanan, Leah tahu segala-galanya. Ia tahu kenapa aku datang ke sini – ke ujung bumi, langit, dan laut. Untuk menyendiri. Ia tahu hanya inilah yang kuinginkan. Sendirian.

Namun Leah tetap saja memaksa menemaniku.

Selain merasa sangat terganggu, aku sempat merasa puas. Karena aku bahkan tak perlu berpikir bagaimana mengendalikan amarahku. Mudah saja sekarang, aku tinggal melakukannya, begitu saja. Kabut merah itu tidak menggelapkan mataku. Panas tidak menggetarkan tulang belakangku. Suaraku tenang ketika aku menjawab.

“Lompat saja dari tebing, Leah,” aku menuding tebing di bawah kakiku.

“Yang benar saja, Nak,” Leah mengabaikanku, membaringkan tubuhnya ke tanah di sebelahku. “asal tahu saja, ini sulit sekali bagiku.”

“Bagimu?” Butuh semenit untuk percaya bahwa ia serius. “Pastilah kau orang paling egois yang pernah hidup, Leah.”

“Sebenarnya aku tak ingin menghancurkan dunia mimpi yang kautinggali – dunia di mana matahari mengorbit tempatmu berpijak – jadi aku tidak mau repot-repot mengatakan betapa tidak pedulinya aku pada masalahmu. Pergi. Sana.”

“Cobalah melihatnya dari sudut pandangku sebentar, oke?” sambung Leah, seolah-olah aku tak pernah mengatakan apa-apa.

Kalau ia berusaha merusak suasana hariku, ia berhasil. Tawaku pecah. Anehnya, suara itu menyakitkan.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.