Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Oke, oke. well, yeah. Kau sudah tahu aturan-aturannya, kalau begitu.”

“Jangan khawatir, Bella, ini pasti akan sempurna. Mau melihat gaunmu tidak!”

Aku sampai harus menarik napas dalam-dalam beberapa kali. Apa saja asal dia bahagia, batinku.

“Tentu.”

Alice tersenyum menang.

“Ehm, Alice.” ujarku, berusaha tetap memperdengarkan nada tenang dan biasa-biasa saja. “Kapan kau membelikan aku gaun?”

Mungkin gaunnya tidak terlalu heboh. Edward meremas tanganku.

Alice berjalan mendahului menuju tangga. “Hal-hal seperti ini akan butuh waktu, Bella.” Alice menjelaskan. Nadanya seperti… mengelak. “Maksudku, aku kan tidak yakin keadaan akan jadi seperti ini, tapi ada kemungkinan nyata…”

“Kapan?” tanyaku lagi.

“Di Perrine Bruyere kan ada daftar tunggunya, kau tahu,” sergahnya, sikapnya sekarang defensif. “Gaun Masterpiece tidak bisa diciptakan hanya semalam. Kalau aku tidak berpikir jauh sebelumnya, bisa-bisa kau memakai gaun pengantin siap pakai!”

Kelihatannya aku tidak akan mendapat jawaban langsung “Per..siapa?”

“Dia bukan perancang besar Bella, jadi kau tidak perlu senewen. Tapi dia sudah berjanji bisa memenuhi kebutuhanku.”

“Aku tidak senewen.”

“Tidak, memang tidak.” Ia mengawasi wajahku yang tenang dengan sikap curiga. Kemudian saat kami memasuki kamarnya, ia berpaling kepada Edward.

“Kau… keluar.”

“Kenapa?”sergahku

“Bella,” Alice mengerang. “Kau kan tahu aturannya. Dia tidak boleh melihat gaun pengantinmu sampai hari H.”

Lagi-lagi aku menghela napas dalam-dalam. “Itu tidak masalah bagiku. Lagi pula dia sudah melihatnya di kepalamu. Tapi kalau memang itu yang kau inginkan…”

Alice mendorong Edward keluar. Edward bahkan tidak memandang Alice sedikit pun.. matanya tertuju padaku, cemas, takut meninggalkan aku sendirian.

Aku mengangguk, berharap ekspresiku cukup tenang untuk meyakinkannya.

Alice menutup pintu tepat di depan wajah Edward. “Baiklah!” seru Alice. “Ayo.” Disambarnya tanganku dan ditariknya aku ke ruang

penyimpanan pakaiannya yang ukurannya lebih besar daripada kamar tidurku lalu diseretnya aku ke pojok bagian belakang. Di sana sebuah kantong putih panjang digantungkan sendiri di rak.

Alice membuka ristleting kantong itu dengan sekali tarikan dan dengan hati-hati mengeluarkannya dari gantungan. Ia mundur selangkah, mengacungkan gaun itu seperti pembawa acara kuis.

“Bagaimana?” tanyanya menahan napas. Aku mengamati gaun itu lama sekali. sedikit mempermainkan Alice. Ekspresinya berubah waswas. “Ah,” ujarku, dan aku tersenyum, membiarkannya

rileks. “Begitu.” “Bagaimana menurut pendapatmu?” desaknya. Benar-benar mirip bayanganku tentang gaun dalam kisah

Anne of Green Gables. “Sempurna, tentu saja. Sungguh tepat. Kau memang

genius.” Alice nyengir. “Aku tahu.'” “Seribu sembilan ratus delapan belas?” tebakku. “Kurang-lebih.” jawab Alice, mengangguk. “Sebagian

rancanganku sendiri, cadarnya.” Disentuhnya satin putih itu sambil berbicara. “Rendanya vintage lho. Kau suka?” “Cantik sekali. Sangat tepat untuk Edward.” “Tapi tepat tidak untukmu?” desak Alice.

“Ya, kurasa ya, Alice. Menurutku, ini tepat sesuai kebutuhanku. Aku tahu kau pasti bisa melakukannya dengan sangat baik… asal kau bisa menahan diri.”

Alice berseri-seri.

“Bolehkah aku melihat gaunmu? tanyaku.

Alice mengerjapkan mata, wajahnya kosong.

“Masa kau tidak memesan gaun untukmu juga? aku kan tidak mau pendampingku mengenakan gaun siap pakai,” aku pura-pura meringis ngeri.

Alice memeluk pinggangku. “Terima kasih, Bella!”

“Bagaimana mungkin kau tidak bisa memprediksikan hal itu?” godaku, mengecup rambutnya yang jabrik. “Paranormal apa!”

Alice, mundur sambil menari-nari, wajahnya berseri-seri oleh antusiasme baru. “Banyak sekali yang harus ku kerjakan! Sana, mainlah dengan Edward. Aku harus bekerja.”

Ia menghambur ke luar ruangan, berteriak. “Esme!” lalu langsung lenyap.

Aku mengikutinya keluar tanpa terburu-buru. Edward sudah menunggu di lorong, bersandar di dinding berlapis panel kayu.

“Kau amat sangat baik,” katanya.

“Sepertinya dia bahagia,” aku sependapat.

Edward menyentuh wajahku, matanya terlalu gelap, sudah lama sekali sejak ia meninggalkan aku, mengamati ekspresiku dengan seksama.

“Ayo kita pergi dari sini,” usulnya tiba-tiba. “Kita pergi ke padang rumput kita.”

Kedengarannya sangat menarik. “Kurasa aku tidak perlu bersembunyi lagi, ya?”

“Tidak, bahaya sudah lewat.”

Edward terdiam, merenung, saat ia berlari. Angin berhembus kencang di wajahku, cuaca sekarang lebih hangat karena badai sudah benar-benar berlalu. Awan-awan menutupi langit seperti biasa.

Hari ini padang rumput menjadi tempat yang tenang dan membahagiakan. Perak-perak bunga aster musim panas menyelingi rerumputan dengan semburat warna putih dan kuning. Aku berbaring telentang, tak memedulikan tanah yang agak basah, dan memandangi bentuk-bentuk di awan, namun awan terlalu datar, kelewat mulus. Tidak ada gambar, yang ada hanya selimut kelabu lembur.

Edward berbaring di sebelahku dan menggenggam tanganku.

“Tiga belas Agustus!” tanya Edward dengan nada sambil lalu setelah beberapa menit berdiam diri, menikmati kedamaian.

“Itu tepat satu bulan sebelum ulang tahunku. Aku tidak mau umur kita terpaut terlalu jauh.”

Edward mendesah. “Esme tiga tahun lebih tua daripada Carlisle secara teknis. Kau tahu itu”

Aku menggeleng.

“Tak ada bedanya bagi mereka.”

Suaraku tenang, berlawanan dengan kegelisahannya. “Berapa umurku tidaklah terlalu penting. Edward, aku sudah siap. Aku sudah memilih hidupku – sekarang aku ingin mulai menjalaninya.”

Edward mengelus-elus rambutku. “Hak veto menentukan daftar tamu?”

‘Sebenarnya aku tidak terlalu peduli, tapi aku..” Aku ragu-ragu, tidak ingin menjelaskan masalah yang satu ini. Tapi lebih baik menuntaskannya saja sekalian. “Aku tak yakin apakah Alice akan merasa perlu mengundang… beberapa werewolf. Aku tidak tahu apakah Jake akan merasa apakah… apakah sebaiknya dia datang. Apakah itu hal yang benar yang harus dilakukan, atau apakah aku akan merasa terluka jika dia tidak datang. Seharusnya Jacob tidak perlu mengalami hal itu.”

Sesaat Edward terdiam. Aku memandangi pucuk-pucuk pohon, nyaris hitam dengan latar belakan langit yang abuabu muda.

Tiba-tiba Edward meraih pinggangku dan menarikku ke dadanya. “Katakan padaku, kenapa kau melakukan hal ini Bella. Kenapa justru sekarang kau memutuskan memberi keleluasaan kepada Alice?”

Aku mengulangi pembicaraanku dengan Charlie semalam, sebelum pergi menemui Jacob.

“Tidak adil kalau aku tidak melibatkan Charlie dalam hal ini,” aku menyimpulkan. “Dan itu juga berarti Renee dan Phil. Jadi sekalian saja membuat Alice senang. Mungkin akan lebih mudah bagi Charlie jika dia bisa mengucapkan selamat berpisah secara benar. Walaupun dia menganggap ini terlalu dini, aku tidak mau merenggut kesempatannya berjalan mendampingiku menuju altar.” Aku meringis saat mengucapkan kata-kata itu, lalu kembali menghela napas dalam-dalam. “Paling tidak ayah, ibu, dan teman-temanku akan mengetahui bagian terbaik pilihanku, bagian terbesar yang bisa kukatakan kepada mereka. Mereka akan tahu aku memilihmu, dan mereka akan tahu bahwa kita bersamasama. Mereka akan tahu aku bahagia, di mana pun aku berada. Menurutku, itu hal terbaik yang bisa kulakukan untuk mereka.”

Edward memegangi wajahku, mengamatinya sebentar.

“Kesepakatan batal,” tukasnya tiba-tiba.

“Apa?” aku terkesiap. “kau mau mundur sekarang? Tidak!”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.