Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Mungkin tidak dari, tapi aku tidak punya pilihan lain, ini sudah sampai pada titik aku harus memilih… terkadang tidak ada jalan untuk berkompromi.”

Charlie menggelengkan kepala lambat-lambat. “Bagaimana dia menanggapinya?”

Aku tidak menjawab.

Charlie menatap wajahku sejenak, kemudian mengangguk. Itu sudah pasti menjawab pertanyaannya.

“Mudah-mudahan kau tidak menyebabkan proses pemulihannya terganggu.”

“Dia cepat pulih kok,” gumamku.

Charlie mendesah.

Aku merasa pengendalian diriku mulai rapuh.

“Aku akan ke kamarku,” kataku, mengangkat bahu agar pegangan Charlie terlepas.

“Baiklah,” Charlie setuju. Mungkin ia bisa melihat air mataku sudah nyaris tumpah. Tak ada yang lebih menyakitkan Charlie ketimbang air mata.

Aku pergi ke kamar, buta dan tersandung-sandung.

Sesampainya di dalam, aku berusaha keras membuka kaitan gelangku, mencoba membukanya dengan jari-Jari gemetar.

“Tidak Bella,” bisik Edward, memegang tanganku. “Itu bagian dirimu.”

Ia menarikku lagi ke dalam pelukannya sementara sedu sedanku kembali pecah.

Hari yang sangat melelahkan ini sepertinya akan terus berjalan terus dan terus dan terus. Entah kapan bakal berakhir.

Tapi meskipun malam berlalu dengan lambat, ini bukanlah malam terburuk dalam hidupku. Kuhibur diriku

dengan kenyataan itu. Dan aku tidak sendirian. Itu sangat menghibur.

Ketakutan Charlie pada ledakan emosional membuatnya enggan mengecek keadaanku, padahal suara tangisku lumayan berisik – mungkin ia juga tidak bisa tidur, sama seperti aku.

Malam ini, ingatan masa laluku jelas sekali. Aku bisa melihat setiap kesalahan yang pernah kubuat, setiap kerusakan yang kuakibatkan, hal-hal kecil maupun besar. Setiap kepedihan yang kutimbulkan di hati Jacob, setiap luka yang kuberikan kepada Edward, bertumpuk dalam tumpukan tapi yang tak mungkin kuabaikan atau kusangkal.

Dan aku sadar selama ini aku keliru mengenai masalah magnet itu. Ternyata bukan Edward dan Jacob yang kupaksakan untuk hidup berdampingan, tapi dua bagian diriku, Bellanya Edward dan Bellanya Jacob. Mereka tidak bisa hidup berdampingan, dan seharusnya aku tak pernah mencoba melakukannya.

Aku telah mengakibatkan banyak sekali kerusakan.

Di satu titik pada malam itu, aku teringat janji yang kubuat sendiri pagi-pagi sekali tadi – bahwa aku takkan pernah membuat Edward melihatku meneteskan air mata lagi untuk Jacob Black. Pikiran itu menimbulkan histeria baru yang membuat Edward ketakutan, lebih daripada tangisanku. Tapi akhirnya histeria itu berlalu juga.

Edward tidak banyak bicara, ia hanya memelukku di tempat tidur dan membiarkan aku menghancurkan kemejanya, menodainya dengan air mata.

Butuh waktu lebih lama daripada yang kukira bagi sebagian kecil hatiku menangisi dirinya. Tapi setelah selesai, akhirnya aku cukup kelelahan untuk tidur. Keadaan tidak sadar tak lantas membuatku terbebas dari kesedihan, hanya kelegaan tumpul sesaat, seperti obat. Membuatnya lebih tertahankan. Tapi rasa sakit itu masih ada, aku bisa merasakannya, bahkan dalam keadaan tidur, dan itu membantuku membuat beberapa penyesuaian yang perlu kulakukan.

Pagi hari membawa, walaupun bukan suasana hati yang lebih ceria, setidaknya sedikit perasaan terkendali, perasaan bisa menerima. Secara naluriah aku tahu luka baru di hatiku akan selalu terasa sakit. Itu akan menjadi bagian diriku sekarang. Waktu akan membuat keadaan jadi lebih mudah, begitulah yang selalu dikatakan orang. Tapi aku tak peduli apakah waktu akan menyembuhkan aku atau tidak,asal Jacob bisa pulih kembali. Bisa bahagia lagi.

Waktu bangun aku tidak mengalami Disorientasi. Kubuka mata, akhirnya kering juga dan mataku tertumbuk pada tatapan Edward yang waswas.

“Hai,” sapaku. Suaraku serak. Aku berdehem-dehem, membersihkan tenggorokanku.

Edward tidak menyahut, ia menatapku. Menunggu tangisku meledak.

“Tidak, aku tidak apa-apa.” janjiku. “Itu tidak akan terjadi lagi.”

Matanya mengejang mendengar kata-kataku.

“Maafkan aku karena kau harus melihatnya,” ujarku. “itu tidak adil bagimu.”

Edward merengkuh kedua pipiku.

“Bella… apakah kau yakin? Apakah pilihanmu benar? Aku tidak pernah melihatmu sesedih itu…” Suaranya pecah saat mengucapkan kata terakhir.

Tapi aku sudah pernah mengalami yang lebih sedih dari pada ini.

Kusentuh bibirnya. “Ya.”

“Entahlah…” Kening Edward berkerut. “Kalau itu sangat menyakitkan bagimu, bagaimana mungkin itu pilihan yang benar?”

“Edward, aku tahu tanpa siapa aku tidak bisa hidup.”

”Tapi…”

Aku menggeleng. “Kau tidak mengerti. Kau mungkin cukup tabah atau cukup kuat untuk hidup tanpa aku, kalau memang itu yang terbaik. Tapi aku takkan pernah sanggup mengorbankan diriku seperti itu. Aku harus bersamamu. Hanya dengan begitu aku bisa hidup.”

Edward masih tampak ragu. Seharusnya aku tidak membiarkan ia menemaniku semalam. Tapi semalam aku sangat membutuhkan dia…

“Bisa tolong ambilkan buku itu?” pintaku, menuding ke balik bahunya.

Alis Edward bertaut bingung, tapi dengan cepat diberikannya buku itu padaku.

“Ini lagi?” tanyanya.

“Aku hanya ingin menemukan satu bagian yang kuingat… untuk melihat bagaimana dia mengatakannya…” Kubolak-balik halaman buku itu, dengan mudah menemukan halaman yang kuinginkan. Sudut halamannya sudah kumal, saking seringnya aku berhenti di sana. “Cathy memang monster, tapi dalam beberapa hal ia benar,” ujarku. Ku bacakan kalimat-kalimat itu dengan suara pelan, kebanyakan untuk diriku sendiri. “Jikalau yang lain-lain lenyap. tapi dia tetap ada. aku akan tetap ada. Namun jikalau yang lain-lain bertahan, tapi dia lenyap, jagat raya akan berubah menjadi tempat yang sangat asing.” Aku mengangguk, lagi-lagi ditujukan kepada diriku sendiri. “Aku tahu persis maksudnya. Dan aku tahu tanpa siapa aku tidak bisa hidup.”

Edward mengambil buku itu dari tanganku dan melemparnya ke ujung ruangan… benda itu mendarat di meja dengan suara berdebam pelan. Dipeluknya pinggangku.

Senyum kecil menghiasi wajahnya yang sempurna, walaupun kekhawatiran masih menggurat di keningnya. “Heathcliff juga memiliki momen-momen terbaiknya,” kata Edward. Ia tidak membutuhkan buku itu untuk menirukan kalimatnya dengan sempurna. Ia mempererat pelukannya dan berbisik di telingaku, “Aku tak sanggup hidup tanpa hidupku! Aku tak sanggup hidup tanpa jiwaku.”

“Benar,” ucapku pelan. “Begitulah maksudku.”

“Bella, aku tidak tahan melihatmu merana. Mungkin…”

“Tidak, Edward. Aku sudah banyak membuat kekacauan, dan aku harus menanggung semua risikonya. Tapi aku tahu apa yang kuinginkan dan apa yang kubutuhkan… dan apa yang kulakukan sekarang.”

“Apa yang akan kita lakukan sekarang?”

Aku tersenyum mendengar Edward mengoreksi perkataanku tadi, kemudian mendesah, “kita akan pergi menemui Alice.”

Alice duduk di undakan teras paling bawah, terlalu bersemangat untuk menunggu kami di dalam. Ia seperti hendak melakukan tarian penyambutan, begitu girangnya karena kabar yang ia tahu bakal kusampaikan.

“Terima kasih, Bella!”‘ Alice berseru begitu Edward dan aku keluar dari truk.

“Tunggu dulu, Alice,” aku mengingatkan, mengangkat tangan untuk menghentikan tawa riangnya. “Aku punya beberapa batasan.”

“Aku tahu, aku tahu, aku tahu. Aku hanya punya waktu sampai tanggal 13 Agustus, kau mendapat hak veto untuk menentukan daftar tamu, dan kalau aku berlebihan melakukan apa saja, kau takkan sudi bicara lagi denganku.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.