Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Aku ingin mengetahui sebagian detailnya. Aku kan tidak tahu kapan bisa mengobrol denganmu lagi.”

Aku harus menunggu dulu satu menit sebelum bisa bicara. Setelah yakin suaraku tidak akan tersendat, aku menjawab pertanyaannya.

“Sebenarnya itu bukan ideku… tapi, ya benar itu sangat berarti bagi dia. Jadi aku lantas berpikir, kenapa tidak?”

Jake mengangguk. “Memang benar… itu sih bukan hal yang terlalu besar… kalau dibandingkan….”

Suara jacob sangat tenang, sangat apa adanya. Kupandangi dia, ingin tahu bagaimana dia bisa tahan menghadapi semua ini, tapi itu sangat sulit baginya. Ia menatap wajahku sedetik, kemudian berpaling menjauhiku. Aku menunda berbicara sampai tarikan napas Jake kembali terkendali.

“Ya. Kalau dibandingkan,” aku sependapat.

“Berapa lama lagi?”

“Tergantung berapa lama Alice bisa menyiapkan pernikahan,” Aku menahan erangan. membayangkan apa saja yang bakal dilakukan Alice.

“Sebelum atau sesudah?” tanyanya pelan.

Aku mengerti maksudnya. “Sesudah.”

“Kau takut?” bisiknya.

“Ya,” aku balas berbisik.

“Apa yang kautakutkan?” Aku hampir-hampir tak bisa mendengar suaranya sekarang. Ia menunduk memandangi tanganku.

“Banyak hal,” Aku berusaha membuat suaraku terdengar lebih ringan, tapi tetap jujur. “Aku bukan orang yang suka menyiksa diri sendiri, jadi aku tidak suka membayangkan sakitnya. Dan aku ingin ada cara untuk menjauhkan dia dariku, aku tidak ingin dia ikut menderita bersamaku. tapi kurasa tak ada cara lain. Lalu hal-hal yang berkaitan dengan Charlie juga, dan Renee… Kemudian sesudahnya, aku berharap mudah-mudahan aku bisa mengendalikan diri dalam waktu singkat. Mungkin aku akan menjadi ancaman besar sehingga kawanan harus menghabisi aku.”

Jacob mendongak dengan ekspresi tidak setuju. “Akan kulumpuhkan sendiri saudaraku yang berani coba-coba melakukannya.”

“Trims.”

Jacob tersenyum setengah hati. Kemudian ia mengerutkan kening. “Tapi bukankah itu lebih berbahaya? Konon, katanya terlalu sulit… mereka bisa kehilangan kendali… orang-orang meninggal,” Jacob menelan ludah.

“Tidak, bukan itu yang kutakutkan. Konyol, Jacob masa kau percaya cerita-cerita vampir?”

Tapi Jacob tidak menanggapi leluconku.

“Well, bagaimanapun, banyak yang harus dikhawatirkan. Tapi sepadan dengan apa yang akan dicapai pada akhirnya.”

Jacob mengangguk meskipun tak ingin, dan aku tahu ia sama sekali tidak sependapat denganku.

Aku menjulurkan leher panjang-panjang untuk berbisik di telinganya,menempelkan pipiku di kulitnya yang panas. “Kau tahu aku mencintaimu.”

“Aku tahu,” Jacob mendesah, lengannya semakin erat memeluk pinggangku. “Kau tahu betapa aku sangat berharap itu cukup.”

“Ya.”

“Aku akan selalu menunggu Bella,” janjinya, nadanya terdengar lebih ringan. Ia mengendurkan pelukannya. Kutarik lenganku dengan perasaan kehilangan yang tumpul, merasakan perpisahan yang menyakitkan waktu aku meninggalkan sebagian diriku di tempat tidur di sebelahnya. “Kau akan selalu memiliki pilihan cadangan itu kalau kau menginginkannya.”

Aku mencoba tersenyum. “Sampai jantungku berhenti berdetak.”

Jacob balas menyeringai. “Kau tahu, kurasa mungkin aku akan tetap menerimamu… mungkin. Kurasa itu tergantung seberapa menyengat baumu nanti.”

“Apakah sebaiknya aku kembali untuk menengokmu. Atau kau lebih suka aku tidak melakukannya?”

“Aku harus memikirkannya dulu masak-masak,” jawab Jacob, “mungkin aku akan membutuhkan teman untuk mencegahku melakukan hal-hal sinting. Dokter bedah vampir yang sangat pintar itu bilang aku tidak bisa berubah bentuk sampai dia mengizinkannya, itu bisa membuat sambungan tulang-tulangku jadi kacau,” Jacob mengernyit.

“Bersikaplah baik dan turuti apa kata Carlise. Kau akan pulih lebih cepat.”

“Tentu, tentu.”

“Aku ingin tahu kapan itu terjadi.” kataku. “Saat gadis yang tepat datang menarik perhatianmu.”

“Jangan berharap yang muluk-muluk Bella.” Suara Jacob mendadak terdengar masam. “Walaupun aku yakin itu pasti akan membuatmu lega.”

“Mungkin ya, mungkin tidak. Mungkin aku akan menganggap dia tidak pantas untukmu. Entah akan secemburu apa aku nanti.”

“Asyik juga ya membayangkan bagian yang itu,” Jacob mengakui.

“Beritahu aku kapan kau ingin aku datang lagi, dan aku akan datang,” aku berjanji.

Sambil menghembuskan napas, Jacob menyodorkan pipinya dengan lembut.

“Aku mencintaimu, Jacob.”

Jacob tertawa renyah. “Aku mencintaimu lebih lagi.”

Ia mengawasiku meninggalkan kamarnya dengan ekspresi tak tertebak terpancar dari bola matanya yang hitam.

 

27. KEBUTUHAN

BELUM terlalu jauh berjalan, aku sudah tak sanggup lagi mengemudi .

Setelah aku tak bisa lagi melihat, kubiarkan ban trukku menemukan bahu jalan yang kasar dan menggelinding pelan hingga akhirnya berhenti. Aku merosot lemas di kursi dan membiarkan kelemahan yang kutahan di kamar Jacob tadi menindihku. Ternyata lebih parah daripada perkiraanku, semburannya membuatku terkejut. Ya, tindakanku tepat menyembunyikan ini dari Jacob. Tak seharusnya orang melihat ini.

Tapi aku tidak terlalu lama sendirian – hanya sampai Alice melihatku di sini, dan beberapa menit kemudian, Edward pun datang. Pintu terbuka, dan ia menarikku ke dalam pelukannya.

Mulanya lebih parah. Karena sebagian kecil diriku lebih kecil, tapi semakin lama semakin keras dan semakin marah, meneriaki sebagian diriku yang tersisa, yang mendambakan sepasang lengan lain. Jadi ada perasaan bersalah yang membumbui kesedihanku.

Edward tidak mengatakan apa-apa, hanya membiarkan aku menangis sampai aku menyebut-nyebut nama Charlie.

“Kau benar-benar siap untuk pulang?” tanya Edward ragu.

Aku berhasil menyampaikan, setelah mencoba beberapa kali, bahwa keadaan tidak akan membaik dalam waktu singkat. Aku harus segera pulang menemui Charlie sebelum malam kelewat larut dan ia menelepon Billy.

Maka Edward pun mengantarku pulang, sekali ini ia bahkan tidak mengemudikan trukku mendekati batas kecepatan internal, dengan sebelah tangannya memelukku erat-erat. Sepanjang jalan aku berusaha keras mengendalikan emosiku. Awalnya rasanya mustahil, tapi aku pantang menyerah. Hanya beberapa detik, kataku dalam hati. Katakan saja beberapa alasan, atau berbohonglah sedikit, dan setelah itu aku bisa menangis lagi. Aku pasti bisa melakukannya. Aku memeras otak,mencari-cari sesuatu yang bisa dijadikan kekuatan.

Untunglah aku bisa menahan sedu sedanku, menahannya tapi tidak mengakhirinya. Air mataku terus membanjir. Sepertinya percuma saja mencoba menghentikannya.

“Tunggu aku di atas,” gumamku sesampainya kami di depan rumah.

Edward memelukku lebih erat selama satu menit dan sejurus kemudian lenyap.

Begitu masuk ke rumah, aku langsung menuju tangga.

“Bella,” Charlie berseru memanggilku dari tempatnya biasa berselonjor di sofa waktu aku melewatinya.

Aku menoleh padanya tanpa berbicara. Mata Charlie membelalak dan ia buru-buru berdiri.

“Ada apa? apakah Jacob..?” tuntutnya.

Aku menggeleng kuat-kuat, berusaha menemukan suaraku.

“Dia baik-baik saja, dia baik-baik saja,” aku menenangkan Charlie, suaraku rendah dan parau. Jacob memang baik-baik saja secara fisik dan memang itulah yang dikhawatirkan Charlie saat ini.

“Apa yang terjadi?” Charlie menyambar bahuku, matanya masih membelalak cemas. “Kau kenapa?”

Penampilanku pasti lebih parah daripada yang kubayangkan.

“Tidak apa-apa Dad. Aku… hanya harus berbicara kepada Jacob tentang…. beberapa hal berat. Aku baik-baik saja.”

Kecemasan itu mereda, berganti dengan sikap tidak setuju. “Benarkah ini saat yang tepat?”tanya Charlie.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.