Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Kau tidak menangis kan?” tuntutnya, suaranya tiba-tiba kembali ke nadanya yang normal. Ia bergerak-gerak tidak sabar di tempat tidur.

“Yeah,” gerutuku, tertawa lemah, menertawakan diriku sendiri di sela-sela air mata yang mendadak berubah menjadi sedu sedan.

Jacob mengubah posisi, mengayunkan kakinya yang sehat turun dari tempat tidur, seolah-olah berusaha sendiri.

“Apa-apaan kau?” bentakku di sela-sela air mata.”berbaringlah idiot, nanti cederamu makin parah!” Aku melompat berdiri dan mendorong bahunya yang sehat dengan dua tangan.

Jacob menyerah, berbaring lagi sambil menahan napas kesakitan, tapi ia menyambar pinggangku dan menarikku ke tempat tidur, ke sisi tubuhnya yang tidak cedera. Aku bergelung di sana, berusaha meredam sedu sedan konyol itu di kulitnya yang panas.

“Aku tidak percaya kau menangis,” gumamnya. “Kau tahu berkata begitu hanya karena kau ingin aku mengatakannya. Aku tidak sungguh-sungguh.” Tangannya mengusap-usap bahuku.

“Aku tahu,” Aku menghela napas dalam-dalam dan goyah, berusaha menguasai diri. Bagaimana bisa justru akulah yang menangis sementara ia menghiburku? “Tapi semua itu toh benar. Terima kasih karena mengatakannya.”

“Apakah aku mendapat nilai karena membuatmu menangis?”

“Tentu, Jake,” Aku berusaha tersenyum. “Sebanyak yang kauinginkan.”

“Jangan khawatir, Bella, Sayang. Semua pasti beres.”

“Aku tidak melihat bagaimana caranya semua bisa beres,”gerutuku.

Jacob menepuk-nepuk puncak kepalaku. “Aku akan mengalah dan bersikap baik.”

“Permainan lagi,” aku penasaran, menelengkan daguku supaya bisa melihat wajahnya.

“Mungkin,” Jacob tertawa walaupun sedikit memaksa diri, kemudian meringis. “Tapi aku akan berusaha.”

Aku mengerutkan kening.

“Jangan pesimis begitu,” keluhnya. “Beri aku penghargaan sedikit.”

“Apa yang kaumaksud dengan bersikap baik?”

“Aku akan menjadi temanmu, Bella,” kata Jacob pelan. “Aku takkan meminta lebih dari itu.”

“Kurasa itu sudah terlambat, Jake. Bagaimana mungkin bisa berteman, kalau kita saling mencintai seperti ini?”

Jacob mendongak memandangi langit-langit, sorot matanya tajam, seakan-akan membaca sesuatu yang tertulis di sana. “Mungkin… ini bisa menjadi pertemanan jarak jauh.”

Aku mengatupkan rahang, senang ia tidak bisa melihat wajahku, sebab aku sedang melawan sedu sedan yang mengancam melandaku lagi. Aku harus kuat, tapi aku tidak tahu bagaimana..

“Kau tahu kan kisah di alkitab?” tanya Jacob tiba-tiba, matanya masih menatap kosong langit-langit. “Kisah tentang seorang raja dan dua wanita yang memperebutkan seorang bayi?”

“Tentu, Raja Solomon.”

“Ya, benar. Raja Solomon,” ulang Jacob. “Raja itu berkata, belah anak itu menjadi dua… padahal itu hanya ujian. Hanya untuk melihat siapa yang bakal mengalah dan menyerahkan bagiannya dengan maksud melindungi bayi itu.”

“Ya, aku ingat.”

Jacob menatap wajahku lagi. “Aku tidak akan membelahmu menjadi dua lagi Bella.”

Aku mengerti maksudnya. Ia mengatakan dialah yang paling mencintaiku, dan dengan rela melepaskan aku, dan ia membuktikannya. Aku ingin membela Edward, mengatakan kepada Jacob Bahwa Edward juga akan melakukan hal yang sama jika aku menginginkannya,jika aku mengizinkannya melakukan itu. Akulah yang tak ingin Edward melakukannya. Tapi tak ada gunanya memulai argumen yang hanya akan semakin melukai hati Jacob.

Aku memejamkan mata, memaksa diriku menguasai pembicaraan. Aku tak boleh membuatnya merasa terbebani.

Kami berdiam diri beberapa saat. Sepertinya Jacob menungguku mengatakan sesuatu,aku berusaha memikirkan apa yang bisa dikatakan.

“Bolehkah aku memberitahumu bagian terburuk?” tanya Jacob ragu-ragu ketika aku tidak mengatakan apa-apa. “Kau keberatan? aku akan bersikap baik kok.”

“Apakah itu akan membantu?” bisikku.

“Bisa jadi. Tak ada ruginya.”

“Apa bagian terburuk, kalau begitu?”

“Bagian terburuk adalah mengetahui apa yang seharusnya akan terjadi.”

“Apa yang seharusnya mungkin terjadi.” Aku mendesah.

“Tidak.” Jacob menggeleng. “aku sangat tepat untukmu Bella. Kita tidak perlu melakukan apa-apa…nyaman, semudah menarik napas. Aku jalan alami yang seharusnya kau ambil dalam hidupmu…” Mata Jacob menerawang jauh beberapa saat, dan aku menunggu. “seandainya dunia seperti seharusnya, bila tidak ada monster dan tidak ada hal-hal magis…”

Aku bisa melihat apa yang dilihatnya, dan aku tahu ia benar. Seandainya dunia adalah tempat yang waras seperti seharusnya, Jacob dan aku pasti akan bersatu. Dan kami akan hidup bahagia. Ia akan menjadi belahan jiwaku di dunia itu, akan menjadi belahan jiwaku kalau saja hal itu tidak dibayang-bayangi sesuatu yang lebih kuat, sesuatu yang sangat kuat hingga tak mungkin ada di dunia yang rasional.

Apakah Jacob akan memiliki kesempatan yang sama juga. Sesuatu yang bisa digolongkan sebagai belahan jiwa? aku harus percaya bahwa itu ada.

Dua masa depan. Dua belahan jiwa… itu terlalu berat untuk ditanggung siapa pun. Dan sangat tidak adil karena bukan satu-satunya yang harus membayar harganya. Kepedihan hati Jacob sepertinya harga yang kelewat mahal. Meringis membayangkan harga itu, aku bertanya-tanya dalam hati apakah aku bakal ragu seandainya aku tak pernah kehilangan Edward dulu. Seandainya aku tak tahu bagaimana rasanya hidup tanpa dia. Entahlah. Pengetahuan itu menjadi bagian yang sangat dalam dari diriku, aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaanku tanpa itu.

“Dia itu seperti candu bagimu, Bella,” Suara Jacob masih lembut, sama sekali tanpa nada mengkritik. “Bisa kulihat kau tidak bisa hidup tanpa dia sekarang. Padahal aku lebih bagimu. Bukan candu, tapi aku seharusnya bisa menjadi udara, matahari.”

Sudut mulutku terangkat, membentuk senyum separuh.

“Dulu aku memang menganggapmu seperti itu, tahu. Seperti matahari. Matahari pribadiku. Kau menyeimbangkan awan-awan dalam hidupku.”

Jacob mendesah. “Kalau awan-awan, aku masih sanggup menghadapinya. Tapi aku tak bisa melawan gerhana.”

Aku menyentuh wajahnya, menempelkan tanganku di pipinya. Jacob mengembuskan napas, merasakan sentuhanku, dan memejamkan matanya. Suasana begitu hening. Sejenak aku bisa mendengar degup jantungnya, lambat dan teratur.

“Ceritakan padaku bagian terburuk menurutmu,” bisiknya.

“Mungkin sebaiknya tidak usah.”

“Please.”

“Menurutku itu hanya akan melukai hatimu.”

“Please,”

Bagaimana mungkin aku tega menolak permintaannya?

“Bagian terburuk adalah…” aku ragu-ragu, kemudian membiarkan kata-kata berhamburan dari mulutku, mengungkapkan hal sebenarnya. “Bagian terburuk adalah melihat semuanya, seluruh hidup kita. Dan aku sangat menginginkannya Jake, aku menginginkan semuanya. Aku ingin tetap tinggal di sini dan tidak pernah pindah. Aku ingin mencintaimu dan membuatmu bahagia. Tapi aku tidak bisa, dan itu membuatku sangat sedih… sama seperti Sam dan Emily, Jake, aku tak pernah punya pilihan. Sejak dulu aku tahu tidak ada yang bakal berubah. Mungkin itulah sebabnya aku sangat keras melawanmu.”

Jacob seperti memusatkan segenap konsentrasinya untuk bernapas secara teratur.

“Tuh kan sudah kukira seharusnya aku tidak menceritakannya padamu.”

Jacob menggeleng pelan. “Tidak, aku justru senang kau menceritakannya. Terima kasih,” ia mengecup pucuk kepalaku, kemudian menarik napas. “Aku lega sekarang.”

Aku mendongak, dan ia tersenyum.

“Jadi kau akan menikah heh?”

“Kita tidak perlu membicarakan hal itu.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.