Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Syukurlah, ada yang menyelubungi tubuh Jacob dengan selimut. Lega rasanya tak perlu melihat seberapa parah cedera yang dialaminya.

Aku melangkah masuk dan menutup pintu pelan di belakangku.

“Hai, Jake.” bisikku.

Mulanya Jake tidak menyahut. Ia menatap wajahku lama sekali. Kemudian, dengan sedikit usaha, ia mengubah ekspresinya menjadi senyum mengejek.

“Yeah. aku sedikit sudah bisa menduga bakal seperti ini.” Jacob mendesah. “Hari ini keadaan benar-benar berubah jadi lebih buruk. Mula-mula aku memilih tempat yang salah, melewatkan pertarungan dan Setlah yang akhirnya diagung-agungkan. Sudah begitu Leah harus pula jadi idiot dengan berusaha membuktikan dirinya sama kuatnya dengan kami semua, dan aku harus menjadi idiot yang menyelamatkannya. Dan sekarang ini.” Jacob melambaikan tangan kirinya ke arahku, ke tempat aku berdiri ragu-ragu di dekat pintu.

“Bagaimana perasaanmu?” gumamku. Pertanyaanku benar-benar bodoh.

“Agak teler. Dr. Taring kurang yakin seberapa besar obat penghilang sakit yang kubutuhkan, jadi dia coba-coba saja. Kurasa dia memberi terlalu banyak.”

“Tapi kau tidak merasa sakit.”

“Tidak. Setidaknya, aku tidak bisa merasakan cederaku,” jawab Jacob, lagi-lagi tersenyum mengejek.

Aku menggigit bibir. Entah bagaimana aku bisa menuntaskan masalah ini. Kenapa tidak ada yang mencoba membunuhku di saat aku kepingin mati?

Humor kecut itu lenyap dari wajah Jacob, dan sorot matanya menghangat, keningnya berkerut seperti khawatir.

“Bagaimana denganmu?” tanyanya, kedengarannya benar-benar prihatin. “kau baik-baik saja?”

“Aku?”kupandangi dia. Mungkin memang benar Jacob kebanyakan menelan obat. “kenapa?”

“Well, maksudku, aku sangat yakin dia tidak akan benarbenar menyakitimu, tapi aku tidak yakin bakal seberapa parah reaksinya. Aku sampai agak gila karena mengkhawatirkanmu sejak terbangun tadi. Aku tidak tahu apakah kau akan diizinkan datang atau tidak. Tegang sekali rasanya. Bagaimana reaksinya? Apakah dia mengamuk? Maafkan aku kalau keadaannya buruk. Aku tidak bermaksud membiarkanmu menghadapinya sendirian. Kupikir aku akan berada di sana..”

Baru beberapa saat kemudian aku mengerti. Jacob mengoceh terus, semakin lama tampak semakin canggung, sampai Aku memahami apa yang dikatakannya. Lalu aku buru-buru meyakinkannya.

“Tidak, tidak, Jake! Aku baik-baik saja. Terlalu baik, malah. Tentu saja dia tidak mengamuk. Kalau saja begitu!”

Mata Jacob membelalak seperti ketakutan. “Apa?”

“Dia bahkan tidak marah padaku – dia bahkan tidak marah padamu! Dia sangat tidak egois hingga membuatku semakin merasa tidak enak. Kalau saja dia memarahiku atau bagaimana. Bukan berarti aku tidak pantas… well, jauh lebih buruk daripada dimarahi. Tapi dia tidak peduli. Dia hanya ingin aku bahagia.”

“Jadi dia tidak marah?” tanya Jacob, tak percaya.

“Tidak. Dia… terlalu baik.”

Jacob menatapku beberapa saat, kemudian tiba-tiba mengerutkan keningnya. “Well, brengsek!” geramnya.

“Kenapa, Jake? Ada yang sakit?” Kedua tanganku menggapai-gapai mencari-cari obatnya.

“Tidak.” gerutu Jacob dengan nada jijik. “Sulit dipercaya! Dia sama sekali tidak memberimu ultimatum atau apa pun?”

“Mendekati itu pun tidak… kau kenapa?”

Jacob merengut dan menggeleng. “Padahal aku menantikan reaksinya. Benar-benar brengsek. Dia lebih baik daripada yang kuduga.”

Dari cara Jacob mengatakannya, meski dengan nada lebih marah, mengingatkanku pada komentar Edward di tenda tadi pagi tentang Jacob yang kurang memiliki etika dalam bersaing. Dan itu berarti Jake masih berharap, masih berjuang. Aku meringis saat kenyataan itu menohok hatiku dalam-dalam.

“Dia tidak main-main, Jake,” ucapku pelan.

“Berani bertaruh, kau keliru. Ia memainkan permainan ini sama kerasnya denganku, tapi dia tahu apa yang dia lakukan, sedangkan aku tidak. Jangan salahkan aku karena dia lebih pintar memanipulasi orang ketimbang aku… aku belum hidup terlalu lama untuk mempelajari semua triknya.”

“Edward tidak memanipulasi aku!”

“Siapa bilang! Kapan kau akan bangun dan menyadari dia tidak sesempurna yang kau kira!”

“Paling tidak dia mengancam akan bunuh diri untuk membuatku menciumnya.” bentakku. Begitu kata-kata itu terlontar, wajahku merah padam karena menyesal.

“Tunggu. Anggap saja kata-kata itu tidak pernah terlontar. Aku sudah bersumpah pada diriku sendiri untuk tidak pernah mengungkit hal itu.”

Jacob menghela napas dalam-dalam. Ketika berbicara, ia sudah lebih tenang. “Kenapa tidak?”

“Karena kedatanganku ke sini bukan untuk menyalahkanmu atas apa pun juga.”

“Tapi itu benar,” tukas Jacob datar. “Memang itu yang kulakukan.”

“Aku tak peduli Jake. Aku tidak marah.”

Jacob tersenyum. “Aku juga tidak peduli. Aku tahu kau pasti akan memaafkanku, dan aku senang telah melakukannya. Aku mau melakukannya lagi. Setidaknya aku memiliki hal itu. Setidaknya aku membuatmu menyadari bahwa kau memang mencintaiku. Itu memiliki arti tersendiri.”

“Benarkah? Apakah itu benar-benar lebih baik daripada kalau aku tidak tahu?”

“Tidakkah menurutmu sebaiknya kau tahu bagaimana perasaanmu… supaya kau tidak terkejut lagi kelak, ketika semuanya sudah terlambat dan kau sudah menikah dengan vampir?”

Aku menggeleng, “Tidak… maksudku bukan lebih baik untukku. Maksudku lebih baik untukmu. Apakah keadaan baik atau lebih buruk, membuatku tahu bahwa aku mencintaimu? Padahal itu tidak membuat perbedaan apa pun. Bukankah akan lebih baik, lebih mudah bagimu, kalau aku tak pernah tahu?”

Jacob memikirkan pertanyaanku dengan serius, seperti yang kumaksudkan, berpikir dengan hati-hati sebelum menjawab.

“Ya, lebih baik kalau kau tahu,” Jacob akhirnya memutuskan.

“Kalau kau tak pernah tahu… aku akan selalu bertanyatanya apakah keputusanmu akan berbeda seandainya kau tahu. Sekarang aku tahu. Aku sudah melakukan semua yang bisa kulakukan.” Jacob menarik napas panjang dan goyah, lalu memejamkan mata.

Kali ini aku tidak – tidak bisa – menolak dorongan untuk menghiburnya. Aku melintasi kamar yang kecil itu, lalu berlutut di dekat kepalanya, tidak berani duduk di tempat tidur karena takut akan mengguncangnya dan membuat Jacob kesakitan, dan mencondongkan tubuh untuk menempelkan keningku di pipinya.

Jacob mendesah, dan meletakkan tangannya di rambutku, memelukku di sana.

“Maafkan aku, Jake.”

“Sudah kukira kemungkinannya kecil. Ini bukan salahmu, Bella.”

“Jangan kau juga,” erangku. “Please.”

Jacob meregangkan pelukannya untuk menatapku. “Apa?”

“Ini memang salahku. Dan aku sudah muak mendengar orang mengatakan sebaliknya.”

Jacob nyengir. Cengiran itu tidak menyentuh matanya. “jadi kau mau aku menyeretmu ke atas arang panas?”

“sebenarnya… kurasa begitu.”

Jacob mengerucutkan bibir sementara ia menilai apakah aku sungguh-sungguh dengan ucapanku. Senyum berkelebat sekilas di wajahnya, kemudian ia mengerutkan wajah, memberengut garang.

“Membalas ciumanku seperti itu tak bisa dimaafkan!” sembur Jacob. “Kalau kau sudah tahu akan menariknya kembali, mungkin seharusnya kau tidak perlu bersikap kelewat meyakinkan.”

Aku meringis dan mengangguk. “Maafkan aku.”

“Maaf tidak akan memperbaiki keadaan Bella. Apa yang kau pikirkan saat itu?”

“Aku tidak berpikir,” bisikku.

“Seharusnya kau suruh aku mati sekalian. Memang itulah yang kau inginkan.”

“Tidak Jacob.” rintihku, melawan air mata yang mulai menggenang. “Tidak! Tidak pernah.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.