Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Kemudian, lebih anehnya lagi, kau ingat tidak, di bulan Februari dan Maret dulu, waktu ada gangguan serigala liar di sekitar sini?”

Aku membungkuk untuk mengambil wajan dari rak, dan bersembunyi di sana satu dua detik lebih lama.

“Yeah.” gumamku.

“Mudah-mudahan saja tidak muncul lagi gangguan yang sama. Pagi tadi, saat kami sedang di perahu, dan Billy tidak begitu memperhatikanku maupun perahu yang kami naiki, tiba-tiba terdengar lolongan serigala-serigala di hutan. Lebih dari satu dan astaga nyaringnya bukan main. Kedengarannya seperti berasal dari tengah perkampungan. Yang paling aneh lagi, Billy memutar perahu dan langsung kembali ke dermaga, seolah-olah serigala-serigala itu memang memanggilnya. Dia bahkan tidak menggubris pertanyaanku yang heran melihat kelakuannya.

“Suara itu berhenti begitu kami menambatkan perahu. Tapi tiba-tiba Billy seperti terburu-buru tidak ingin ketinggalan nonton pertandingan, padahal waktunya masih beberapa jam lagi. Dia menggumamkan omong kosong tentang pertunjukan dimulai lebih awal, masa pertandingan live disiarkan lebih awal? Sungguh, Bella, aneh sekali.”

“Well, lalu dia menemukan pertandingan yang katanya ingin dia tonton, tapi kemudian dia mengabaikannya. Dia malahan menelepon terus, menelepon Sue, Emily, dan kakek temanmu Quil. Entah apa yang dicarinya… dia mengobrol biasa saja dengan mereka.

“Kemudian lolongan itu terdengar lagi, tepat di luar rumah. Belum pernah aku mendengar suara seperti itu, bulu lenganku sampai berdiri semua. Kutanya Billy – aku sampai harus berteriak untuk mengalahkan lolongan itu – apakah dia memasang perangkap di halamannya. Kedengarannya hewan itu benar-benar kesakitan.”

Aku meringis, tapi Charlie begitu terhanyut ceritanya sendiri sehingga tidak memperhatikan.

“Tentu saja aku lupa sama sekali tentang hal itu dan baru ingat lagi sekarang, karena saat itulah Jake pulang, satu menit yang lalu aku mendengar serigala melolong. Tapi kemudian tiba-tiba suara itu hilang… makian Jake mengalahkan semua suara. Kuat sekali paru-paru anak itu.”

Charlie menghentikan ceritanya sejenak,wajahnya seperti berpikir. “lucu juga bahwa ada hikmah dibalik segala kekacauan ini. Kupikir mereka takkan pernah bisa mengenyahkan prasangka konyol mereka terhadap keluarga Cullen di sana. Tapi seseorang menghubungi Carlisle, dan Billy sangat bersyukur dia datang. Kukira kami harus membawa Jake ke rumah sakit, tapi Billy ingin dia tetap di rumah, dan Carlisle setuju. Kurasa Carlisle tahu yang terbaik. Baik sekali dia, mau repot-repot datang memeriksa pasien yang tinggal sejauh itu.”

“Dan…”Charlie terdiam sejenak, seperti tak rela mengatakan sesuatu. Ia menghela napas, lalu melanjutkan kata-katanya. “dan Edward benar-benar… baik. Kelihatannya dia sama khawatirnya memikirkan Jacob seperti kau, seolah-olah yang terbaring itu saudaranya sendiri. Sorot matanya…” Charlie menggeleng-geleng. “Dia pemuda yang baik Bella. Aku akan berusaha mengingatnya. Tidak janji, tapi.” ia nyengir padaku.

“Aku takkan menagihnya,”gumamku.

Charlie meluruskan kakinya dan mengerang. “Senang rasanya berada di rumah kembali. Kau pasti tak percaya betapa sesaknya di rumah Billy yang kecil itu. Tujuh teman Jacob berdesak-desakan di ruang depan kecil itu, aku sampai nyaris tak bisa bernapas. Kau sadar tidak betapa besarnya anak-anak Quileute itu sekarang Bella?’

“Yeah, memang.”

Charlie menatapku, matanya tiba-tiba terfokus. “sungguh Bella,” kata Carlisle, “sebentar lagi Jake akan pulih dan sehat kembali. Katanya luka-lukanya terlihat lebih parah daripada sebenarnya. Dia akan baik-baik saja.”

Aku hanya mengangguk.

Anehnya, Jacob tadi terlihat sangat.. rapuh waktu aku bergegas pergi ke rumahnya segera setelah Charlie pulang. Di sekujur tubuhnya terpasang penyangga, menurut Carlisle tak ada gunanya digips, karena begitu cepatnya dia pulih. Wajahnya pucat dan letih, walaupun saat itu ia sedang tidak sadar. Rapuh. Meskipun bertubuh besar, ia tampak sangat rapuh. Mungkin hanya imajinasiku, ditambah lagi aku tahu aku harus menyakiti hatinya.

Kalau saja ada kilat yang bisa menyambarku dan membelahku menjadi dua. Lebih disukai lagi jika prosesnya menyakitkan. Untuk pertama kalinya, berhenti menjadi manusia terasa bagaikan pengobatan sejati. Seolah-olah ada terlalu banyak hal yang tak ingin kulepaskan.

Kuletakkan piring berisi makanan untuk Chaarlie ke meja di samping sikunya, lalu berjalan ke pintu.

“Eh Bella? bisa tunggu sebentar?”

“Apakah aku melupakan sesuatu?” tanyaku, mengarahkan mataku ke piringnya.

“Tidak, tidak. Aku hanya… ingin minta tolong,” Charlie mengerutkan kening dan menunduk memandangi lantai. “Duduklah… tidak lama kok.”

Aku duduk berhadap-hadapan dengan ayahku, agak bingung. Aku mencoba berkonsentrasi. “Ada apa Dad?”

“Masalahnya begini Bella,” wajah Charlie memerah. “Mungkin aku hanya merasa… terpengaruh takhayul setelah nongkrong bersama Billy yang bersikap sangat aneh seharian. Tapi aku punya… firasat. Aku merasa sepertinya… aku akan kehilanganmu sebentar lagi.”

“Jangan konyol Dad,” gumamku dengan perasaan bersalah.

“Dad ingin aku kuliah kan?”

“Pokoknya berjanjilah padaku.”

Aku ragu-ragu, siap mengelak.”Oke..”

“Maukah kau memberitahuku sebelum melakukan sesuatu yang besar? Sebelum kau kawin lari dengannya atau semacamnya?”

“Dad….” erangku.

“Aku serius. Aku tidak bakal ribut-ribut hanya saja beri tahu aku sebelumnya. Beri aku kesempatan untuk memeluk dan mengucapkan selamat berpisah denganmu.”

Meringis dalam hati, aku mengangkat tanganku. “Konyol benar. Tapi kalau itu membuat Dad senang… aku janji.”

“Trims Bella.” kata Charlie.”Aku sayang padamu, nak.”

“Aku juga sayang padamu Dad.” Kusentuh pundaknya, lalu kudorong kursi menjauhi meja. “kalau Dad butuh apaapa, aku ada di rumah Billy.”

Tanpa menoleh lagi, aku berlari keluar. Sempurna, ini benar-benar yang kubutuhkan. Aku menggerutu sendiri sepanjang perjalanan menuju La Push.

Mercedes hitam Carlise tidak ada di depan rumah Billy. Itu berarti baik dan buruk. Jelas aku perlu bicara berdua saja dengan Jacob. Meski begitu, aku berharap kalau saja aku bisa menggenggam tangan Edward, tapi sebelumnya, ketika Jacob tidak sadar. Mustahil. Tapi aku merindukan Edward, siangku bersama Alice tadi terasa sangat lama. Kurasa, dari situ saja sudah jelas jawabanku bakal seperti apa. Aku sudah tahu aku tak sanggup hidup tanpa Edward. Namun tetap saja fakta itu takkan membuat ini menjadi lebih mudah.

Pelan-pelan kuketuk pintu depan.

“Masuklah Bella,” seru Billy. “raungan mesin trukmu gampang dikenali.”

Aku pun masuk, “hai Billy, dia sudah bangun?”tanyaku.

“Dia bangun kira-kira setengah jam yang lalu, tepat sebelum dokter pulang. Masuklah. Kurasa dia menunggu kedatanganmu.”

Aku tersentak, kemudian menghela napas dalam-dalam.

“Trims. ”

Aku ragu-ragu di depan pintu kamar Jacob, tidak yakin apakah harus mengetuk. Kuputuskan untuk mengintip dulu, berharap – dasar pengecut – siapa tahu dia tidur lagi. Rasanya aku butuh waktu beberapa menit lagi.

Kubuka pintu secelah dan ragu-ragu kulongokkan kepalaku ke dalam.

Jacob menungguku, wajahnya kalem dan tenang. Ekspresi kuyu dan letih telah hilang, digantikan ekspresi kosong dan hati-hati. Tidak ada kilauan di matanya yang gelap.

Sulit rasanya menatap wajahnya, tahu bahwa aku mencintainya. Ternyata itu membawa lebih banyak perbedaan daripada yang kukira pada awalnya. Aku bertanya-tanya sendiri dalam hati, apakah selama ini Jacob selalu merasa sesulit ini.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.