Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Awas kalau kau mengadu padanya,” Charlie memperingatkan, “Aku tidak menyukai rencana ini, Bella.”

“Tak ada alasan bagi Dad untuk marah.”

Charlie memutar bola matanya, tapi kentara sekali badai sudah berlalu.

Aku berbalik untuk mencabut sumbat bak cuci piring.

“Jadi, PR-ku sudah selesai, makan malam Dad sudah selesai, piring-piring juga sudah selesai dicuci, dan aku sudah tidak dihukum lagi. Aku mau keluar. Aku akan pulang sebelum setengah sebelas.”

“Mau ke mana kau?” Wajah Charlie, yang hampir kembali normal, berubah merah lagi.

“Tidak tahu,” aku mengakui. “Tapi tidak jauh-jauh dari sekitar sini. Oke?”

Charlie menggerutu, kedengarannya tidak setuju, lalu menghambur keluar ruangan. Seperti biasa, begitu memenangkan perdebatan, aku langsung merasa bersalah.

“Kita mau pergi?” tanya Edward, suaranya pelan tapi antusias.

Aku berpaling dan memelototinya. “Ya. Rasanya aku ingin bicara denganmu sendirian.”

Edward tidak terlihat khawatir seperti yang kukira akan ia rasakan.

Kutunggu sampai kami aman berada dalam mobilnya.

“Apa-apaan itu tadi?” tunturku,

“Aku tahu kau ingin bertemu ibumu, Bella – selama ini kau mengigau terus menyebut-nyebut namanya. Mengkhawatirkannya, sebenarnya.”

“Ah, masa?”

Edward mengangguk. “Tapi jelas kau terlalu pengecut untuk menghadapi Charlie, jadi aku terpaksa menengahi demi kau.”

“Menengahi? Kau mengumpankan aku ke hiu!”

Edward memutar bola matanya. “Menurutku, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”

“Aku kan sudah bilang tidak mau bertengkar dengan Charlie.”

“Tidak ada yang bilang kau harus.”

Aku melotot memandanginya. “Aku tak bisa mengendalikan emosi kalau Charlie mulai mengatur-atur seperti itu – naluri remajaku secara alami langsung menguasaiku.”

Edward terkekeh. “Well, itu bukan salahku.”

Aku menatapnya, berspekulasi. Edward kelihatannya tidak menyadarinya. Wajahnya tampak tenang saat memandang ke luar jendela. Ada yang aneh, tapi aku tak bisa menerka apa gerangan. Atau mungkin itu hanya khayalanku yang kelewat liar seperti sore tadi.

“Apakah keinginan pergi ke Florida yang mendadak ini ada hubungannya dengan pesta yang akan diselenggarakan di rumah Billy?”

Dagu Edward mengeras. “Sama sekali tidak. Tidak masalah apakah kau ada di sini atau di bagian dunia lain, kau tetap tidak akan pergi.”

Sama seperti Charlie memperlakukanku tadi – diperlakukan seperti anak nakal. Kugertakkan rahangku kuat-kuat supaya tidak berteriak. Aku tak mau bertengkar dengan Edward juga.

Edward mendesah, dan ketika berbicara, suaranya kembali hangat dan sehalus beledu. “Jadi apa yang ingin kaulakukan malam ini?” tanyanya.

“Bisakah kita ke rumahmu? Aku sudah lama sekali tidak bertemu Esme.”

Edward tersenyum. “Dia pasti senang. Apalagi kalau mendengar apa yang akan kira lakukan akhir minggu ini.”

Aku mengerang kalah.

Kami tidak pulang terlalu malam, seperti kataku tadi. Aku tak heran melihat lampu-lampu masih menyala waktu kami berhenti di depan rumah – aku sudah mengira Charlie bakal menungguku pulang untuk memarahiku lagi.

“Sebaiknya kau tidak usah masuk.” karaku. “Itu hanya akan membuat keadaan bertambah parah.”

“Pikirannya relatif tenang,” goda Edward. Ekspresinya membuatku bertanya-tanya apakah ada lelucon di baliknya yang terlewat olehku. Sudut-sudut mulutnya bergetar, menahan senyum.

“Sampai ketemu nanti,” gumamku muram.

Edward tertawa dan mengecup ubun-ubunku. “Aku kembali lagi nanti setelah Charlie mendengkur.”

Televisi dinyalakan dengan suara keras waktu aku masuk ke rumah. Aku sempat menimbang-nimbang untuk menyelinap melewati Charlie.

“Bisa ke sini sebentar, Bella” panggil Charlie, membuyarkan rencanaku.

Aku menyeret kakiku saat berjalan lima langkah menuju ke sana.

“Ada apa, Dad?”

“Malammu menyenangkan?” tanyanya. Kelihatannya suasana hati Charlie sedang bagus. Aku mencari makna di balik kata-katanya sebelum menjawab.

“Ya,” jawabku ragu-ragu. “Apa yang kaulakukan tadi?”

Aku mengangkat bahu. “Nongkrong dengan Alice dan Jasper. Edward mengalahkan Alice main catur, kemudian aku main dengan Jasper. Dia membantaiku habis-habisan.”

Aku tersenyum. Edward dan Alice main catur adalah salah satu hal terlucu yang pernah kulihat. Mereka duduk diam, nyaris tak bergerak, menekuni papan catur, sementara Alice melihat langkah-langkah yang akan diambil Edward, lalu Edward membalas dengan memilih langkah-langkah yang akan dimainkan Alice langsung dari pikirannya. Mereka memainkan permainan itu lebih banyak dengan pikiran; kalau tidak salah, mereka masing-masing baru menjalankan dua pion waktu mendadak Alice menyentil rajanya sampai jatuh dan menyerah. Permainan itu hanya berlangsung tiga menit.

Charlie menekan tombol mute – itu bukan hal yang lazim ia lakukan.

“Begini, ada yang perlu kusampaikan.” Charlie mengerutkan kening, tampak sangat jengah.

Aku duduk diam, menunggu. Charlie menatap mataku sejenak sebelum mengalihkan matanya ke lantai. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi.

“Apa itu, Dad?”

Charlie mendesah. “Aku kurang pandai dalam urusan seperti ini. Aku tidak tahu bagaimana memulainya…”

Aku menunggu lagi.

“Oke, Bella. Masalahnya begini,” Charlie bangkit dari sofa dan mulai mondar-mandir sepanjang ruangan, kepalanya terus tertunduk. “Kau dan Edward sepertinya sangat serius, dan ada beberapa hal yang perlu kauwaspadai. Aku tahu kau sudah dewasa sekarang, tapi kau masih muda, Bella, dan ada banyak hal penting yang harus kauketahui bila kau… well, bila kau terlibat secara fisik dengan…”

“Oh, please, please jangan!” pintaku, melompat berdiri. “Please, jangan bilang Dad mau mengajakku bicara tentang seks.”

Charlie memelototi lantai. “Aku ayahmu. Aku punya tanggung jawab. Ingat, aku sama malunya denganmu.”

“Kurasa secara manusia itu tidak mungkin. lagi pula, Mom sudah mendahului Dad bicara soal ini sepuluh tahun lalu. jadi Dad sudah tidak punya kewajiban lagi.”

“Sepuluh tahun lalu kau tidak punya pacar,” gerutu Charlie.

Kentara sekali ia berjuang melawan keinginannya untuk menyudahi topik ini. Kami sama-sama berdiri, menunduk memandangi lantai, dan saling memunggungi.

“Kurasa esensinya belum banyak berubah,” gumamku, wajahku pasti semerah wajahnya. Benar-benar di luar perkiraan; bahkan lebih parahnya lagi, Edward tahu ini bakal terjadi. Pantas ia terlihat begitu geli di mobil tadi.

“Katakan saja padaku kalian akan bersikap penuh tanggung jawab,” pinta Charlie, jelas-jelas berharap sebuah lubang bakal menganga di lantai supaya ia bisa melompat ke dalamnya.

“Jangan khawatir soal itu, Dad, hubungan kami tidak seperti itu.”

“Bukan berarti aku tidak memercayaimu, Bella. Aku tahu kau tidak ingin bercerita apa-apa padaku soal ini, dan kau tahu aku tidak benar-benar ingin mendengarnya. Tapi akan kucoba untuk berpikiran terbuka. Aku tahu zaman telah berubah.”

Aku tertawa canggung. “Mungkin zaman memang sudah berubah, tapi Edward orangnya sangat kuno. Jadi Dad tidak perlu khawatir.”

Charlie mendesah. “Hah, yang benar saja.” gerutunya.

“Ugh!” erangku. “Kalau saja Dad tidak memaksaku mengakuinya terang-terangan. Sungguh. Tapi… aku masih perawan, dan tidak punya keinginan mengubah status itu dalam waktu dekat.”

Kami sama-sama meringis, tapi kemudian wajah Charlie kembali tenang. Kelihatannya ia percaya padaku.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.