Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Apakah aku akan menjadi seperti itu?” tanyaku, suaraku muram. “Seperti si Bree yang di padang rumput?”

Meski banyak hal lain yang perlu kupikirkan, tapi sepertinya aku tak mampu mengenyahkan gadis itu dari ingatanku, si vampir baru yang kehidupannya barunya begitu cepat berakhir. Wajahnya, berkerut-kerut mendambakan darahku terus terbayang di balik kelopak mataku.

Alice mengelus-elus lenganku. “Setiap orang berbeda, tapi kurang lebih memang seperti itu.”

Aku diam bergeming, mencoba membayangkan.

“Masa-masa seperti itu akan berlalu.” janjinya.

“Berapa lama?”

Alice mengangkat bahu. “Beberapa tahun, mungkin kurang. Bisa jadi berbeda bagimu. Aku belum pernah melihat bagaimana orang yang memilih jalan hidup seperti ini menjalani kehidupan barunya. Bakal menarik melihat bagaimana itu mempengaruhimu.”

“Menarik.” Aku menirukan.

“Kami akan menjagamu agar kau tidak terkena masalah.”

“Aku tahu itu, aku percaya padamu.” Suaraku monoton, mati.

Kening Alice berkerut. “Kalau kau mengkhawatirkan Carlisle dan Edward aku yakin mereka baik-baik saja. Aku yakin Sam sudah mulai mempercayai kami.. well, setidaknya mempercayai Carlisle. Baguslah kalau begitu. Dugaanku suasana pasti sedikit tegang waktu Carlisle harus mematahkan kembali beberapa tulang Jacob..”

“Please, Alice.”

“Maaf.”

Aku menghela napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Tubuh Jacob sudah mulai pulih dengan cepat, tapi beberapa tulangnya tidak tersambung dengan benar. Untuk memperbaikinya, ia sengaja dibuat pingsan, namun masih sulit rasanya membayangkan hal itu.

“Alice, bolehkah aku bertanya? Tentang masa depan?”

Alice mendadak waswas. ”Kau kan tahu aku tidak bisa melihat semuanya.”

“Bukan itu, tepatnya. Tapi kadang-kadang kau bisa melihat masa depanku. Menurutmu. kenapa hal-hal lain tidak berpengaruh padaku? Baik yang dilakukan Jane, atau Edward atau Aro..” Suaraku menghilang seiring dengan tingkat ketertarikanku. Keingintahuanku saat ini hanya sekilas. Jauh dikalahkan oleh emosi-emosi lain yang lebih mendesak.

Namun Alice Justru menganggap pertanyaanku sangat menarik. “Jasper juga Bella, bakatnya bisa mempengaruhi tubuhmu sama seperti dia mempengaruhi orang lain. Di situlah perbedaannya, kau mengerti? Kemampuan Jasper mempengaruhi tubuh secara fisik. Dia benar-benar bisa menenangkan sistemmu, atau membuatnya bergairah. Itu bukan ilusi. Dan aku melihat visi dari sesuatu yang dihasilkan, bukan alasan dan pikiran di balik keputusan yang menyebabkannya. Semua itu bekerja di luar pikiran, bukan ilusi juga; tapi realita, atau setidaknya salah satu versi realita. Sementara Jane, Edward, Aro, dan Demetri, mereka bekerja di dalam pikiran. Jane hanya menciptakan ilusi kesakitan. Dia tidak benar-benar menyakiti tubuhmu, kau hanya mengira merasakannya. Kau mengerti, Bella? Kau aman dalam pikiranmu. Tidak ada yang bisa mencapaimu di sana. Tak heran Aro sangat penasaran tentang kemampuanmu di masa depan.”

Alice mengamati wajahku untuk mengetahui apakah bisa mengikuti logikanya. Sebenarnya, kata-katanya mulai terdengar sambung-menyambung, silabel dan suaranya kehilangan arti. Aku tidak bisa berkonsentrasi. Meski begitu aku mengangguk. Berlagak mengerti .

Alice tidak terkecoh. Ia mengelus-elus pipiku dan bergumam.” Dia akan baik-baik saja, Bella. Aku tidak perlu itu untuk mengetahuinya. Kau sudah siap pergi.”

“Satu lagi. Bolehkah aku mengajukan pertanyaan lagi tentang masa depanku? Bukan yang spesifik, hanya pandangan umum saja.”

“Akan kuusahakan semampuku,” jawab Alice, kembali ragu.

“Apakah kau masih bisa melihatku menjadi vampir?”

“Oh, itu sih gampang. Tentu, bisa.”

Aku mengangguk lambat-lambat.

Alice mengamati wajahku, matanya tak bisa diterka. “Tidakkah kau mengetahui pikiranmu sendiri Bella?”

“Tahu. Aku hanya ingin memastikan.”

“Aku hanya yakin kalau kau sendiri yakin, Bella. Kau tahu itu. Kalau kau berubah pikiran, apa yang kulihat akan berubah… atau lenyap, dalam kasusmu.”

Aku mendesah. “Tapi itu takkan terjadi.”

Alice memeluk bahuku. “Maafkan aku. Aku tidak benarbenar bisa berempati. Ingatan pertamaku adalah melihat wajah Jasper di masa depan; sejak dulu aku sudah tahu dia ada di tempat hidupku menuju. Tapi aku bisa bersimpati. Aku kasihan padamu karena kau harus memilih satu di antara dua hal yang sama baiknya.”

Aku menggerakkan bahuku, melepaskan pelukannya. “Jangan merasa kasihan padaku.” Ada orang-orang yang pantas mendapatkan simpati. Aku bukan salah satunya. Dan aku tidak punya pilihan lain, harus ada hati yang disakiti dalam hal ini. “Aku akan menemui Charlie sekarang.”

Aku mengendarai trukku pulang. Charlie sudah menunggu dengan sikap curiga, tepat seperti dugaan Alice.

“Hai Bella. Bagaimana acara shopping-nya?” sapa Charlie begitu aku melangkah memasuki dapur. ia melipat lengannya di dada, matanya menatap wajahku.

“Lama,” jawabku muram. “Kami baru sampai.”

Charlie menilai suasana hatiku. “Kurasa kau sudah mendengar kabar tentang Jake, kalau begitu?”

“Sudah, anggota keluarga Cullen yang lain sudah lebih dulu sampai di rumah. Esme memberi tahu kami di mana Carlisle dan Edward berada.”

“Kau baik-baik saja?”

“Mengkhawatirkan Jake. Setelah selesai memasak makan malam, aku akan langsung berangkat ke La Push.”

“Sudah kubilang, sepeda motor itu berbahaya. Kuharap kau tahu aku tidak main-main.”

Aku mengangguk sambil mulai mengeluarkan bahanbahan dari kulkas. Charlie duduk di meja. Tidak seperti biasa,hari ini sepertinya ia sedang ingin mengobrol.

“Kurasa kau tidak perlu terlalu mengkhawatirkan Jake. Siapa pun yang bisa memaki dengan energi sedahsyat itu pasti akan pulih.”

“Jadi Jake sadar waktu Dad melihatnya?” tanyaku, berbalik untuk memandangi Charlie.

“Oh, yeah, dia sadar. Coba kau dengar makiannya, tidak lebih baik kau tidak mendengarnya. Kurasa tak seorang pun di La Push yang tidak bisa mendengarnya. Entah dari mana dia mempelajari kosakata sekasar itu,tapi kuharap dia tidak menggunakan bahasa sekasar itu jika sedang bersamamu.”

“Wajar saja dia bersikap begitu hari ini. Bagaimana keadaannya?”

“Berantakan. Dia dibawa teamn-temannya.Untung tubuh mereka besar-besar, karena anak itu kan bongsor sekali. Menurut Carlisle, kaki kanannya patah, begitu pula lengan kanannya. Bisa dibilang hampir seluruh sisi kanan tubuhnya patah waktu motornya jatuh.” Charlie menggeleng-gelengkan kepala. “Kalau aku sampai mendengar kau naik motor lagi Bella?”

“Tidak bakal Dad. Dad tidak akan mendengarnya. Sungguh Jake tidak apa-apa?”

“Tentu Bella, jangan khawatir. Dia masih seperti biasa, bahkan sempat menggodaku.”

“Menggoda Dad?” ulangku,syok.

“Yeah… di sela-sela memaki ibu seseorang dan menyebut nama Tuhan dengan tidak hormat, dia berkata, ‘taruhan, kau pasti senang dia mencintai Cullen dan bukan aku hari ini kan Charlie?’”

Aku berbalik ke kulkas supaya Charlie tidak melihat ekspresiku.

“Dan itu benar, Edward lebih dewasa dibandingkan Jacob soal keselamatanmu, itu harus kuakui.”

“Jake lumayan dewasa kok.” gumamku dengan sikap defensif. “Aku yakin ini bukan salahnya.”

“Hari ini aneh sekali,” Charlie merenung beberapa saat kemudian. “kau tahu aku sebenarnya tidak begitu percaya pada tahayul, tapi sungguh ganjil… Sepertinya Billy tahu sesuatu yang buruk akan menimpa Jake. Sepagian dia gelisah seperti kalkun akan disembelih untuk perayaan thanksgiving. Menurutku dia bahkan tidak mendengarkan omonganku sama sekali.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.