Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Aku bergidik.

“Victoria mendendam kepada Bella.” Edward menjawab pertanyaan Jane, suaranya dingin.

Jane tertawa, suaranya renyah, tawa ceria anak kecil yang bahagia. “Gadis satu ini selalu memicu timbulnya berbagai reaksi kuat tapi aneh bagi jenis kita.” Komentarnya, tersenyum langsung padaku, wajahnya bak malaikat.

Edward menegang. Aku menoleh dan tepat pada saat itu ia berpaling, memandang Jane lagi.

“Kumohon, bisakah kau tidak melakukan hal itu?” tanyanya dengan suara kaku.

Lagi-lagi Jane tertawa renyah. “Hanya mengecek. Tidak menimbulkan reaksi apa pun, ternyata.”

Aku bergidik, dalam hati sangat bersyukur kelainan dalam tubuhku yang melindungiku dari pengaruh Jane saat terakhir kali kami bertemu, ternyata masih berfungsi. Lengan Edward memegangku lebih erat.

“Well, kelihatannya tak banyak lagi yang bisa kami lakukan. Aneh,” sergah Jane, nada apatis kembali merayap memasuki suaranya. “Tidak biasanya kedatangan kami siasia seperti ini. Sayang kami terlambat mengikuti pertempuran. Kedengarannya cukup menghibur untuk disaksikan.”

“Benar,” Edward menyahut cepat, suaranya tajam. “Padahal kalian sudah sangat dekat. Sayang kalian tidak datang setengah jam lebih awal. Mungkin kalau begitu kalian bisa melaksanakan tugas kalian di sini.”

Jane membalas tatapan garang Edward dengan bergeming.

“Benar. Sayang sekali pertempuran itu berakhir seperti ini bukan?”

Edward mengangguk, kecurigaannya terbukti.

Jane berpaling dan kembali memandangi Bree, wajahnya benar-benar bosan. “Felix?” panggilnya dengan suara mengalun.

“Tunggu,” sela Edward.

Jane mengangkat sebelah alis, tapi Edward menatap Carlisle sambil berbicara dengan nada mendesak. “Kita bisa menjelaskan aturan-aturan yang ada pada gadis muda ini. Sepertinya dia mau belajar. Dia tidak tahu kalau yang dilakukannya itu salah.”

“Tentu saja,” jawab Carlisle. “Kami jelas siap bertanggung jawab atas diri Bree.”

Ekspresi Jane terbelah antara takjub dan tidak percaya.

“Bagi kami tidak ada pengecualian,” tukasnya. “Dan kami tidak pernah memberi kesempatan kedua. Itu tidak baik bagi reputasi kami. Dan itu membuatku teringat..” Tiba-tiba, matanya kembali tertuju padaku, dan wajah malaikatnya terkuak menunjukkan lesung pipinya. “Caius pasti akan sangat tertarik mendengar bahwa ternyata kau masih manusia, Bella. Mungkin dia akan memutuskan untuk datang.”

“Tanggalnya sudah ditentukan,” Alice memberitahu Jane, berbicara untuk pertama kalinya. “Mungkin kami akan datang mengunjungi kalian beberapa bulan lagi.”

Senyum Jane lenyap, dan ia mengangkat bahu dengan lagak tak peduli, tak melirik Alice sedikit pun. Ia berpaling kepada Carlisle. “Senang bertemu denganmu, Carlisle… kupikir Aro hanya melebih-lebihkan. Well, sampai ketemu lagi nanti…”

Carlisle mengangguk, ekspresinya terluka.

“Urus itu, Felix.” kata Jane, mengangguk ke arah Bree, suaranya sarat nada bosan. “Aku mau pulang.”

“Jangan lihat.” bisik Edward di telingaku.

Tanpa diminta pun aku tidak akan mau melihat. Sudah cukup banyak yang kulihat hari ini, lebih dari cukup untuk seumur hidup. Aku memejamkan mata rapat-rapat dan menyembunyikan wajahku ke dada Edward.

Tapi aku masih bisa mendengar.

Terdengar suara geraman berat dan dalam, disusul suara jeritan tinggi melengking yang sangat familiar. Suara itu tiba-tiba terputus, kemudian satu-satunya suara yang terdengar hanyalah bunyi mengerikan benda patah dan remuk.

Tangan Edward mengusap-usap bahuku dengan cemas.

“Ayo,” seru Jane, dan aku mengangkat wajah, masih sempat melihat jubah-jubah kelabu itu menghilang, menuju asap yang meliuk-liuk. Bau dupa kembali tercium, kuat.

Jubah-jubah kelabu itu lenyap di balik kabut tebal.

 

26. ETIKA

KONTER di kamar mandi Alice dipenuhi ribuan jenis produk berbeda, semuanya mengklaim bisa mempercantik tampilan luar seseorang. Berhubung semua orang di rumah ini sempurna dan tak mungkin berubah, aku hanya bisa berasumsi ia membeli sebagian besar produk kecantikan ini untukku.

Dengan perasaan kelu kubaca labelnya satu per satu, terkejut saat menyadari membeli produk-produk semacam itu hanya membuang-buang uang.

Aku berhati-hati untuk tidak pernah memandang ke cermin yang panjang.

Alice menyisir rambutku dengan gerak lambat dan berirama.

“Cukup, Alice,” sergahku datar. “Aku ingin kembali ke La Push.”

Sudah berapa jam lamanya aku menunggu sampai akhirnya Charlie meninggalkan rumah Billy supaya aku bisa menengok Jacob? Setiap menit, tidak mengetahui apakah Jacob masih bernapas atau tidak, rasanya bagaikan seumur hidup. Kemudian, waktu akhirnya aku diizinkan pergi, untuk melihat sendiri Jacob masih hidup, waktu justru berlalu begitu cepat. Rasanya baru saja menarik napas Alice sudah menelepon Edward lagi, memaksa supaya aku tetap melanjutkan sandiwara menginap yang konyol ini. Seperti itu sama sekali tidak penting..

“Jacob masih belum sadar,” Alice menjawab. “Carlisle atau Edward akan menelepon kalau dia siuman. Bagaimanapun kau perlu menemui Charlie. Dia tadi di rumah Billy, jadi ia tahu Carlisle dan Edward sudah kembali dari berburu dan dia bakal curiga kalau kau pulang nanti.”

Aku sudah menghafal dan menyamakan ceritaku. “Aku tidak peduli. Pokoknya aku ingin berada di sana kalau Jacob siuman nanti.”

“Kau perlu memikirkan Charlie sekarang. Ini hari yang sangat melelahkan, maaf aku tahu itu penggambaran yang sangat tidak tepat, tapi itu bukan berarti kau bisa meremehkan tanggung jawabmu,” Nadanya serius, nyaris mengecam. “Yang terpenting sekarang menjaga supaya Charlie tetap aman dengan ketidaktahuannya. Mainkan peranmu dulu Bella, baru kau bisa melakukan apa yang kauinginkan. Bagian dari menjadi anggota keluarga Cullen adalah bersikap penuh tanggung jawab.”

Tentu saja Alice benar. Dan kalau bukan karena alasan yang sama, alasan yang jauh lebih kuat daripada semua ketakutan, kepedihan, dan rasa bersalahku, Carlisle tidak akan pernah bisa membujukku meninggalkan Jacob, pingsan maupun tidak.

“Pulanglah,” Alice memerintahkan. “Bicaralah dengan Charlie. Sampaikan alibimu. Amankan dia.”

Aku berdiri, dan darah mengalir menuruni kakiku, menusuk-nusuk bagaikan ribuan jarum suntik. Aku sudah terlalu lama duduk diam tak bergerak.

“Gaun itu cocok sekali di tubuhmu,” rayu Alice.

“Hah? Oh. Eh terima kasih sekali lagi untuk baju-baju ini,” gumamku, lebih demi kesopanan ketimbang karena benar-benar ingin berterima kasih.

“Kau butuh bukti,” kata Alice, matanya lugu dan membelalak.” Apa gunanya shopping kalau tidak membeli

baju baru? Sangat mengesankan, kalau boleh kukatakan sendiri.”

Aku mengerjap, tidak ingat baju apa yang dipakaikannya padaku. Aku tak mampu mencegah pikiranku melantur ke mana-mana, seperti serangga yang merubungi lampu…

“Jacob baik-baik saja Bella,” kata Alice, dengan mudah menerjemahkan pikiranku. “Tak perlu buru-buru. Kalau kau menyadari betapa banyaknya morfin ekstra yang diberikan Carlisle padanya, karena suhu tubuhnya yang tinggi membakar habis morfin dengan cepat, kau pasti tahu dia akan tidak sadarkan diri beberapa saat.”

Setidaknya ia tidak kesakitan. Belum.

“Apakah ada yang ingin kaubicarakan sebelum pergi?” tanya Alice dengan sikap bersimpati. ”Kau pasti lebih dari sekedar agak traumatis.”

Aku tahu apa yang ingin diketahui Alice. Tapi aku punya pertanyaan-pertanyaan lain.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.