Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Mata Jane bergerak lambat mengamati wajah-wajah anggota keluarga Cullen yang berkilauan, kemudian tertumbuk pada si gadis vampire baru di sebelah api unggun, si vampire baru memegang kepalanya dengan dua tangan.

“Aku tidak mengerti,” suara Jane datar, tapi tak lagi terdengar tidak tertarik sebelumnya.

“Dia sudah menyerah,” Edward menjelaskan, menjawab pertanyaan di benak Jane.

Bola mata Jane yang gelap berkelebat ke wajah Edward.

“Menyerah?”

Felix dan bayangan yang lain bertukar pandang sekilas.

Edward mengangkat bahu. “Carlisle memberinya pilihan.”

“Tidak ada pilihan bagi mereka yang melanggar aturan,” sergah Jane datar.

Carlisle angkat bicara, nadanya lunak. “Itu terserah padamu. Selama dia bersedia menghentikan serangannya terhadap kami, aku tidak merasa perlu menghabisinya. Dia tidak pernah diajari.”

“Itu tidak relevan.” Jane bersikeras.

“Terserah padamu.”

Jane menatap Carlise dalam kengerian yang melumpuhkan. Ia menggelengkan kepala sedikit, kemudian mengubah air mukanya.

“Aro berharap kami mampir ke kawasan barat ini untuk menemuimu, Carlisle. Dia kirim salam.”

Carlisle mengangguk. “Aku akan sangat berterima kasih kalau kau menyampaikan salamku juga kepadanya.”

“Tentu saja,” Jane tersenyum. Wajahnya nyaris manis bila tersenyum seperti itu. Ia menoleh kembali ke kepulan asap. “Kelihatannya kalian sudah melakukan tugas kami hari ini… sebagian besar di antaranya.” Matanya melirik si sandera. “Demi keingintahuan profesional saja, berapa banyak jumlah mereka tadi? Mereka cukup membuat gempar Seattle.”

“Delapan belas, termasuk yang ini,” Carlisle menjawab.

Mata Jane melebar, dan ia berpaling kepada kobaran api, seperti menilai ukurannya. Felix dan bayangan yang lain lagi-lagi bertukar pandang, kali ini lebih lama.

“Delapan belas,” ulang Jane, untuk pertama kali suaranya terdengar tidak yakin.

“Semuanya baru,” ungkap Carlisle dengan nada sambil lalu. “Mereka tidak terlatih.”

“Semua?” suara Jane berubah tajam. “kalau begitu siapa yang menciptakan mereka?”

“Namanya Victoria,” jawab Edward, tak ada emosi dalam suaranya.

“Tadinya?” tanya Jane.

Edward menelengkan kepalanya ke arah hutan di sebelah timur. Mata Jane terangkat dan terfokus pada sesuatu nun jauh disana. Kepulan asap lain? Aku tidak menoleh untuk mengecek.

Jane memandang ke arah timur beberapa saat, kemudian kembali mengamati api unggun yang lebih dekat dengan lebih saksama.

“Si Victoria ini, dia tidak termasuk dalam jumlah delapan belas ini?”

“Ya. Dia hanya membawa satu lagi bersamanya. Pemuda itu tidak semuda gadis ini, tapi hanya lebih tua kira-kira setahun.”

“Dua puluh.” Jane menghembuskan napas. “Siapa yang membereskan penciptanya?”

“Aku,” jawab Edward.

Mata Jane menyipit, lalu memalingkan wajahnya kepada gadis di sebelah api unggun.

“Hei kau.” panggilnya, suaranya yang kaku terdengar lebih kasar daripada sebelumnya. “namamu.”

Si vampir baru malah melayangkan pandangan garang ke arah Jane, bibirnya terkatup rapat.

Jane tersenyum bak malaikat.

Jeritan si vampir baru memekakkan telinga; tubuhnya melengkung kaku dalam posisi aneh yang tidak natural. Aku membuang muka, melawan dorongan untuk menutup telinga. Kukertakkan gigiku, berharap bisa mengendalikan perutku. Jeritan itu semakin menjadi-jadi. Aku mencoba berkonsentrasi pada wajah Edward yang tenang dan tanpa emosi, tapi itu malah membuatku teringat saat Edward berada di bawah ratapan Jane yang menyiksa, dan aku merasa semakin mual. Akhirnya aku memandang Alice dan Esme di sebelahnya. Wajah mereka juga sama datarnya dengan wajah Edward.

Akhirnya, semua tenang kembali.

“Namamu.” tukas Jane lagi, tak ada perubahan dalam suaranya.

“Bree,” si gadis terkesiap.

Jane tersenyum, dan gadis itu menjerit lagi. Aku menahan napas sampai jerit kesakitannya berhenti.

“Dia akan menceritakan apa saja yang ingin kauketahui,” sergah Edward, menahan gemas. “Kau tak perlu berbuat begitu.”

Jane mendongak, tampak sorot geli di matanya yang biasanya terkesan mati itu. “Oh, aku tahu.” katanya, nyengir kepada Edward sebelum berpaling lagi kepada si Vampir muda, Bree.

“Bree,” ucap Jane, suaranya kembali dingin. “Apakah cerita itu benar? Benarkah jumlah kalian dua puluh?”

Gadis itu terbaring dengan napas terengah-engah, Satu sisi wajahnya menempel ke tanah. Ia berbicara dengan cepat. “Sembilan belas atau dua puluh, mungkin lebih, aku tidak tahu!” Ia mengkeret. takut ketidaktahuannya akan mendatangkan siksaan lagi baginya. “Sara dan si satu lagi yang aku tidak tahu namanya berkelahi dalam perjalanan ke sini..”

“Dan si Victoria ini.. dia yang menciptakanmu?”

“Aku tidak tahu.” jawabnya, mengkeret lagi. “Riley tidak pernah menyebut namanya. Aku tidak sempat melihatnya malam itu… soalnya gelap sekali, dan sangat menyakitkan..”

Bree bergidik “Riley tidak mau kami bisa memikirkan wanita itu. Kata Riley, pikiran kami tidak aman…”

Mata Jane melirik Edward, kemudian kembali pada gadis itu.

Victoria sudah merencanakan hal ini dengan matang. Seandainya ia tidak mengikuti Edward, tidak akan ada yang tahu pasti ia terlibat…

“Ceritakan tentang Riley.” kata Jane. “Kenapa dia membawamu kemari.”

“Riley berkata kami harus menghabisi makhluk-makhluk aneh bermata kuning di sini.” Bree mengoceh dengan cepat dan tanpa paksaan. “Katanya, itu mudah saja dilakukan. Katanya. kota ini milik mereka, dan mereka akan datang untuk menghabisi kami. Katanya, kalau mereka sudah dihabisi semua darah akan jadi milik kami. Dia memberi kami bau gadis itu.” Bree mengangkat satu tangan dan menudingkan jarinya ke arahku. “Menurut dia, kami akan tahu kami telah menemukan kelompok yang tepat, karena gadis itu ada bersama mereka. Menurut Riley, siapa pun yang pertama berhasil mendapatkan dia, bisa memilikinya.”

Aku mendengar rahang Edward mengejang di sampingku.

“Kelihatannya Riley keliru soal hal yang mudah itu,” Jane berkomentar.

Bree mengangguk, tampak lega karena tidak disiksa lagi. Dengan hati-hati ia duduk. “Aku tidak tahu apa yang terjadi. kami berpencar, tapi yang lain-lain tak pernah kembali. Riley meninggalkan kami, dan dia tidak datang membantu kami seperti yang sudah dijanjikan. Kemudian semuanya sangat membingungkan, dan tahu-tahu semua orang sudah bercerai berai.” Lagi-lagi ia bergidik. “Aku takut. Aku ingin kabur, orang itu,”dipandanginya Carlisle. “bilang mereka tidak akan menyakiti aku kalau aku berhenti menyerang.”

“Ah tapi bukan haknya menawarkan hal itu, anak muda,” Gumam Jane, nadanya lembut dan ganjil. “Melanggar aturan menuntut konsekuensi.”

Bree menatap Jane, tidak mengerti.

Jane berpaling kepada Carlisle. “kau yakin semua sudah kau bereskan? Bagaimana dengan sebagian yang berpencar itu?”

Wajah Carlisle tampak sangat tenang ketika mengangguk.

“kami juga berpencar.”

Jane separuh tersenyum. “Tak bisa kusangkal aku terkesan.” Bayang-bayang besar di belakangnya menggumam setuju. “Belum pernah aku melihat ada kelompok yang bisa selamat seluruhnya dari pelanggaran aturan dengan skala besar ini. Kalian tahu masalah apa yang melatarbelakanginya? sepertinya ini perilaku ekstrem, bila mengingat gaya hidup kalian di sini. Dan kenapa gadis itu yang menjadi kunci?” Sekilas matanya menatapku tidak suka.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.