Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Ketika kepedihan dan ketakutan itu mereda, aku menemukan kembali ke tubuhku. Kelopak mataku mengeletar.

“Oh, Bella,” Edward mendesah lega, dan bibirnya menyentuh bibirku.

“Edward.” bisikku.

“Ya, aku di sini.”

Aku membuka kelopak mataku, dan menatap sepasang bola emas yang hangat.

“Jacob tidak apa-apa?”tanyaku.

“Ya.” Janjinya.

Kupandangi matanya lekat-lekat untuk mencari tandatanda bahwa ia hanya berusaha menenangkanku. Tapi tak menemukan apa-apa.

“Aku sendiri yang memeriksanya.” kata Carlisle kemudian, aku memalingkan kepala mencari wajahnya, hanya beberapa meter jauhnya. Ekspresi Carlisle serius sekaligus meyakinkan mustahil meragukannya. “Nyawanya tidak dalam bahaya. Dia pulih dengan kecepatan luar biasa, walaupun cedera yang dialaminya cukup parah sehingga dibutuhkan beberapa hari baru dia bisa kembali normal, walaupun pemulihannya tetap secepat sekarang. Sam sedang berusaha membuatnya mengubah diri lagi menjadi manusia. Dengan begitu akan lebih mudah mengobatinya.”

Carlisle tersenyum kecil. “Aku kan tidak pernah masuk fakultas kedokteran hewan.”

“Apa yang terjadi padanya?” bisikku. “Seberapa parah luka-lukanya?”

Wajah Carlisle kembali serius “Serigala lain menghadapi masalah..”

“Leah….” desahku.

“Benar. Jacob berhasil menyingkirkan Leah, tapi tidak sempat membela dirinya. Vampire baru itu memitingnya sebagian besar tulang di sisi kanan tubuhnya remuk.”

“Sam dan Paul sampai di sana tepat waktu. Jacob sudah mulai pulih kembali waktu mereka membawanya kembah ke La Push.”

“Dia akan normal kembali?” tanyaku.

“Ya Bella, dia tidak akan mengalami cacat permanen.”

Aku menghela napas dalam-dalam.

“Tiga menit!” seru Alice pelan.

Aku bangkit dengan susah payah, berusaha berdiri. Edward mengerti maksudku dan membantuku berdiri.

Kutatap pemandangan di depanku.

Keluarga Cullen berdiri membentuk setengah lingkaran mengelilingi api unggun. Hampir tak ada lagi nyala api yang terlihat, hanya kepulan asap hitam keunguan yang tebal, menggelayut seperti penyakit di rumput yang cemerlang. Jasper berdiri paling dekat dengan asap yang terkesan padat itu, di bawah bayang-bayang sehingga kulitnya tidak berkilau gemerlapan di bawah terik matahari seperti anggota keluarganya yang lain. Ia berdiri memunggungiku, pundaknya tegang, kedua lengan sedikit terulur. Terasa ada sesuatu yang tidak biasa di sana, pada bayangannya. Ia seperti membungkuk dengan sikap waswas…

Aku terlalu kebas untuk merasakan lebih dari syok ringan waktu menyadari masalahnya.

Ternyata ada delapan vampir di lapangan itu. Gadis itu duduk meringkuk di sebelah api unggun, kedua lengannya memeluk kaki. Ia masih sangat muda. Lebih muda dariku – mungkin usianya lima belas tahun, berambut gelap, dan kurus. Matanya tertuju padaku, dan iris matanya, sungguh mengagetkan, berwarna merah cemerlang. Lebih cemerlang daripada mata Riley, nyaris berkilauan. Mata itu jelalatan ke mana-mana, tak terkendali.

Edward melihat ekspresiku yang kebingungan.

“Dia menyerah,” Edward menjelaskan dengan suara pelan. “Yang seperti itu belum pernah kulihat sebelumnya. Hanya Carlisle yang terpikir untuk menawarinya. Jasper sebenarnya tidak setuju.”

Aku tak sanggup mengalihkan mataku dari pemandangan di sebelah api unggun. Tampak Jasper mengusap-usap lengan kirinya dengan sikap tak peduli.

“Jasper baik-baik saja?” bisikku.

“Dia tidak apa-apa. Racunnya pedih.”

“Dia digigit?” tanyaku, ngeri.

“Dia berusaha menangani semuanya pada saat bersamaan. Berusaha memastikan Alice tidak melakukan apa-apa, sebenarnya,” Edward menggeleng-gelengkan kepala. “Padahal Alice tidak butuh bantuan siapa-siapa.”

Alice meringis ke arah cinta sejatinya. “Si bodoh yang kelewat protektif.”

Si wanita muda itu tiba-tiba mengedikkan kepalanya. Seperti binatang dan meraung dengan suara melengking.

Jasper menggeram padanya dan ia mengkeret, tapi jarijarinya menusuk ke dalam tanah seperti cakar dan kepalanya bergoyang-goyang ke depan dan ke belakang dengan sikap menderita. Jasper maju selangkah menghampirinya, membungkuk semakin dalam. Edward maju dengan sikap sok tenang, membalikkan tubuh kami sehingga ia sekarang berada di antara gadis itu dan aku. Aku mengintip dari balik lengan Edward untuk melihat Jasper dan gadis yang mencakar-cakar itu.

Dalam sekejap Carlisle sudah berada di samping Jasper. Ia meletakkan tangan di bahu putranya, menahannya.

“Kau berubah pikiran, anak muda?” tanya Carlisle, tetap setenang biasanya. “kami tidak ingin menghabisimu, tapi kami akan melakukannya kalau kau tak bisa mengendalikan diri.”

“Bagaimana kalian bisa tahan?” erang gadis itu dengan suara jernih melengking. “aku menginginkan dia.” matanya yang merah cemerlang terfokus kepada Edward, melewatinya, memandang ke balik tubuhnya padaku, dan kuku-kuku gadis itu kembali mencakar-cakar tanah yang keras lagi.

“kau harus bisa tahan.” tukas Carlisle, suaranya berat. “kau harus bisa mengendalikan diri. Itu bisa dilakukan, dan hanya itu yang bisa menyelamatkanmu sekarang.”

Gadis itu mencengkeram tangannya yang berlumuran tanah ke kepalanya, melolong pelan.

“Tidakkah sebaiknya kita menjauh darinya?” aku berbisik, menarik-narik lengan Edward. Gadis itu menyeringai, memamerkan gigi-giginya begitu mendengar suaraku, ekspresinya tersiksa.

“Kita harus tetap di sini.” gumam Edward. “Mereka sudah sampai di ujung utara lapangan sekarang.”

Jantungku langsung berpacu liar saat aku menyapukan pandanganku ke seantero lapangan, tapi aku tidak bisa melihat hal lain selain kepulan asap tebal.

Sedetik setelah pencarianku yang tidak membuahkan hasil mataku kembali melirik vampire perempuan muda itu. Ia masih terus menatapku, matanya setengah sinting.

Kubalas tatapan gadis itu beberapa saat. Rambut gelap sedagu membingkai wajahnya yang pucat pasi seperti mayat. Sulit menilai apakah ia cantik, karena wajahnya berkerut-kerut menahan amarah dan dahaga. Mata merahnya yang buas mendominasi, sulit mengalihkan pandangan darinya. Ia memelototiku dengan buas, menggeletar, dan terus menggeliat-geliat.

Kupandangi dia, takjub. bertanya-tanya dalam hati apakah aku sedang melihat bayangan diriku sendiri di cermin pada masa yang akan datang.

Kemudian Carlisle dan Jasper mulai mundur menghampiri kami. Emmett, Rosalie, dan Esme buru-buru berkumpul mengelilingi tempat Edward berdiri bersama aku dan Alice. Bersatu padu, seperti kata Edward tadi, dan berada di tengah-tengahnya, adalah tempat teraman bagiku.

Aku mengalihkan pandangan dari gadis buas itu untuk melihat kedatangan para monster.

Tidak terlihat apa-apa. Kulirik Edward, tapi matanya terpancang lurus ke depan. Aku mencoba mengikuti Pandangannya, tapi yang ada hanya asap, kepulan asap pekat berminyak yang meliuk-liuk rendah di tanah, membumbung pelan, ombak-ombak di rerumputan.

Asap itu menggelembung ke depan, berwarna lebih gelap di bagian tengah.

“Hmm.” sebuah suara menyeramkan bergumam dari balik kabut. Aku langsung mengenali nada apatis dalam suara itu.

“Selamat datang, Jane.” Nada Edward sopan namun dingin.

Bentuk-bentuk gelap itu semakin mendekat, memisahkan diri dan kabut asap, semaki n memadat. Aku tahu pasti Jane yang berada paling depan, jubah yang paling gelap, nyaris hitam, dan sosok yang paling kecil, setengah meter lebih pendek dibanding yang lain-lain. Aku nyaris bisa melihat garis-garis wajah Jane yang seperti malaikat di balik bayangan jubah.

Rasanya aku juga mengenali empat sosok berselubung jubah abu-abu yang melangkah garang di belakangnya. Aku yakin aku mengenali sosok yang paling besar, dan selagi aku menatap, berusaha mengonfirmasi kecurigaan ku, Felix menengadah. Ia membiarkan tudungnya tersingkap sedikit hingga bisa kulihat ia mengedip padaku dan tersenyum. Edward berdiri di sampingku, berusaha keras mengendalikan diri.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.