Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Serigala besar itu menatap mata Edward yang sedih selama satu detik yang panjang, kemudian meluruskan tubuhnya dan melesat memasuki pepohonan, lenyap seperti hantu.

Edward mendekapku erat-erat di dadanya, kemudian kami juga meleset menembus hutan yang dipenuhi bayangbayang mengambil jalan yang berbeda dengan si serigala.

“Edward.” Susah payah kukeluarkan suara dari tenggorokanku yang tercekat. “Apa yang terjadi Edward? Apa yang terjadi pada Sam? Kita mau ke mana? apa yang terjadi?”

“Kita harus kembali ke lapangan,” jawab Edward dengan suara pelan. “Kami sudah tahu besar kemungkinan ini bakal terjadi. Pagi-pagi sekali tadi, Alice melihatnya dan menyampaikannya melalui Sam kepada Seth. Keluarga Volturi memutuskan sekaranglah waktunya untuk turun tangan.”

Keluarga Volturi.

Terlalu banyak. Pikiranku menolak mencerna keterangan itu, pura-pura tidak bisa mengerti.

Pohon-pohon melesat melewati kami. Begitu cepatnya Edward berlari menuruni bukit hingga rasanya seolah-olah kami terjun bebas, jatuh tak terkendali.

“Jangan panik. Mereka bukan datang untuk mencari kita. Hanya kontingen normal yang terdiri atas para pengawal yang biasa membersihkan kekacauan seperti ini. Bukan sesuatu di luar kewajaran, mereka hanya melaksanakan tugas. Tentu saja, sepertinya mereka begitu cermat memilih waktu kedatangan. Dan itu membuatku yakin bahwa tak seorang pun di Italia akan berduka cita bila para vampire baru itu berhasil mengurangi jumlah keluarga Cullen.” Kata-kata itu meluncur dari sela-sela rahang Edward yang terkatup rapat, keras dan muram. “Aku akan mengetahui secara persis apa yang mereka pikirkan kalau mereka sudah sampai di lapangan nanti.”

“Karena itukah kita kembali?” bisikku. Sanggupkah aku menghadapi hal ini? Bayangan jubah hitam berkibar-kibar merayap masuk ke otakku yang tak ingin mengingat mereka, dan aku tersentak, menepis pikiran itu jauh-jauh. Pertahanan diriku nyaris jebol.

“Itu sebagian alasannya. Kebanyakan, akan lebih aman jika kita bersatu menyambut kedatangan mereka saat ini. Mereka tidak punya alasan untuk mengusik kita, tapi…ada Jane bersama mereka. Kalau dia tahu kita sendirian di suatu tempat, jauh dari yang lain, bisa-bisa itu akan membuatnya tergoda. Seperti Victoria, Jane mungkin bisa menebak aku pasti bersamamu. Demetri, tentu saja, pasti bersamanya. Kalau Jane memintanya.”

Aku tak ingin memikirkan nama itu. Aku tidak mengingat wajah polos kekanakan yang rupawan itu dibenakku. Suara aneh keluar dan kerongkonganku.

“Ssstt, Bella. ssstt. Semua akan baik-baik saja. Alice bisa melihat kalau semua akan baik-baik saja.”

Alice bisa melihatnya? “Tapi… kalau begitu di mana serigala-serigala? Di mana kawanan itu?”

“Kawanan?”

“Mereka harus buru-buru menyingkir. Keluarga Volturi tidak suka bila kita melakukan gencatan senjata dengan werewolf.”

Bisa kudengar napasku memburu semakin cepat. tapi aku tak kuasa mengendalikannya. Aku mulai terengahengah.

“Aku bersumpah, mereka akan baik-baik saja.” Edward berjanji. “Keluarga Volturi tidak akan mengenali baunya, mereka tidak akan menyadari tadi ada serigala di sini, mereka tidak familier dengan spesies ini. Mereka akan baikbaik saja.”

Aku tidak bisa memproses penjelasannya. Konsentrasiku tercabik-cabik perasaan takut. Kita akan baik-baik saja. begitu katanya tadi… dan Serth, melolong sedih… Edward menghindari pertanyaan pertamaku, mengalihkan perhatianku ke keluarga Volturi…

Aku sudah dekat sekali dengan tepian tebing, hanya mencengkeram dengan ujung-ujung jemariku.

Pohon-pohon melesat lewat begitu cepat dan kabur hingga Edward tampak seperti dikelilingi air berwarna hijau zambrud.

“Apa yang terjadi?” Bisikku lagi. “Sebelumnya. Waktu Seth melolong? Waktu kau kesakitan?”

Edward ragu-ragu.

“Edward! Ceritakan padaku!”

“Semuanya sudah berakhir,” bisik Edward. Aku nyaris tak bisa mendengar suaranya karena desir angin yang diakibatkan larinya yang begitu cepat. “serigala-serigala itu tidak menghitung jumlah musuh mereka…mereka menyangka semua sudah dihabisi. Tentu saja, Alice tak bisa melihat..”

“Apa yang terjadi?”

“Salah satu vampire baru ada yang bersembunyi… Leah menemukannya.. dia melakukan tindakan bodoh, berlagak bisa, ingin membuktikan sesuatu. Dia menghadapi vampire itu sendirian..”

“Leah,” ulangku, dan aku kelewat lemah untuk merasa malu atas perasaan lega yang membanjiriku. “Apakah dia akan baik-baik saja?”

“Leah tidak terluka,” gumam Edward.

Kupandangi dia selama satu detik yang panjang.

Sam… bantu dia…Edward tadi terkesiap. Dia laki-laki, bukan perempuan.

“Kita sudah hampir sampai,” kata Edward, matanya menatap lurus ke satu titik di langit.

Otomatis, mataku mengikutinya. Tampak gumpalan awan ungu menggelayut rendah di atas pepohonan. Awan? Padahal, di luar kebiasaan, hari ini justru terik sekali… Tidak, bukan awan, aku mengenali kepulan asap tebal, persis seperti yang ada di perkemahan tadi.

“Edward,” kataku, suaraku nyaris tak terdengar. “Edward, ada yang terluka.”

Soalnya aku mendengar nada pilu dalam lolongan Seth, melihat kengerian yang terpancar dari wajah Edward.

“Ya” bisiknya.

“Siapa?” tanyaku walaupun tentu saja, aku sudah tahu jawabannya.

Tentu saja aku tahu. Tentu saja.

Pohon-pohon melambat di sekeliling kami ketika kami sampai ke tujuan.

Lama sekali baru Edward menjawab pertanyaanku.

“Jacob,” jawabnya.

Aku masih mampu mengangguk satu kaki.

“Tentu saja,” bisikku.

Kemudian pegangan tanganku terlepas dari bibir tebing dalam benakku.

Semuanya berubah gelap gulita.

Pertama-tama aku sadar ada tangan-tangan dingin yang menyentuhku. Lebih dari satu pasang. Lengan-lengan memelukku, telapak tangan merengkuh pipiku, jari-jari membelai keningku, dan jari-jari lagi menekan pelan pergelangan tanganku.

Berikutnya aku mendengar suara-suara. Awalnya hanya berupa gumaman, kemudian volumenya semakin keras dan jelas, seperti orang yang menyalakan radio.

“Carlisle… sudah lima menit.” Suara Edward, nadanya cemas.

“Dia akan siuman kalau sudah siap, Edward.” Suara Carlisle, selalu tenang dan yakin. “Terlalu banyak yang dialaminya hari ini. Biarkan pikirannya melindungi dirinya sendiri.”

Tapi pikiranku tidak terlindungi. Pikiranku terperangkap dalam pengetahuan yang tidak meninggalkanku, bahkan dalam ketidaksadaran sekalipun… kepedihan yang merupakan bagian dari ketidaksadaran.

Aku merasa seperti tidak terhubung dengan ragaku. Seakan-akan terperangkap di sudut kecil dalam kepalaku,tak lagi bisa mengendalikan apa pun. Tapi aku tak bisa melakukan apa-apa untuk mencegahnya. Aku tidak bisa berpikir. Kepedihan itu terlalu kuat hingga aku tidak bisa berpikir. Aku tidak bisa meloloskan diri darinya.

Jacob.

Jacob.

Tidak,tidak,tidak,tidak,tidak…

“Alice, berapa lama waktu yang kita punya?” tanya Edward, suaranya masih tegang, kata-kata Carlisle yang bernada menenangkan ternyata tidak membantu.

Dari tempat yang agak jauh, terdengar suara Alice. Nadanya riang gembira. “Lima menit lagi. Dan Bella akan membuka matanya tiga puluh tujuh detik lagi. Aku bahkan yakin dia bisa mendengar kita sekarang.”

“Bella Sayang?” Itu suara Esme yang lembut dan menenteramkan. “Kau bisa mendengar suaraku? Kau aman sekarang sayang.”

Ya, aku memang aman. Apakah itu benar-benar berarti?

Kemudian bibir yang dingin menempel di telingaku, dan Edward mengizinkanku keluar dari siksaan yang mengurung ku dalam benakku sendiri.

“Dia akan selamat Bella, saat ini Jacob Black memulihkan diri dari luka-lukanya. Dia akan baik-baik saja.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.