Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Aku maju selangkah menghampirinya, tapi Edward malah menjauhiku.

“Ada apa?” bisikku. “Apa maksudmu?”

“Apa kau…” Mata keemasan Edward tiba-tiba sama bingungnya dengan aku. “apa kau tidak takut padaku?”

“Takut padamu? Kenapa?”

Aku maju selangkah lagi dengan kaki goyah, kemudian tersandung sesuatu, mungkin kakiku sendiri. Edward menangkap tubuhku, dan aku menyembunyikan wajahku di dadanya lalu mulai tersedu.

“Bella, Bella, maafkan aku. Semua sudah berakhir, sudah berakhir.”

“Aku baik-baik saja,” aku terkesiap. “Aku tidak apa-apa. Aku hanya. Kalut. Beri aku waktu sebentar.”

Kedua lengan Edward memelukku erat. “Aku benarbenar minta maaf,” gumamnya berkali-kali.

Aku terus memeluknya sampai akhirnya bisa bernapas, kemudian aku menciumnya, dadanya, bahunya, lehernya, setiap bagian dirinya yang bisa kuraih. Perlahan-lahan, otakku mulai bekerja lagi.

“Kau baik-baik saja?” tanyaku di sela-sela ciumanku. “Apakah dia melukaimu?”

“Aku benar-benar tidak apa-apa,” Edward meyakinkanku, membenamkan wajahnya di rambutku.

“Seth?”

Edward terkekeh. “Lebih dari baik-baik saja. Sangat bangga pada dirinya sendiri bahkan.”

“Yang lain-lain? Alice. Esme? Serigala-serigala?”

“Semuanya baik-baik saja. Di sana juga sudah selesai. Semua berjalan lancar seperti yang kujanjikan. Bagian terburuk justru terjadi di sini.”

Sesaat aku membiarkan diriku mencerna keterangan itu, membiarkan otakku menyerapnya hingga berdiam di kepalaku.

Keluarga dan teman-temanku aman. Victoria takkan pernah memburuku lagi. Semua telah berakhir.

Kami semua akan baik-baik saja.

Tapi aku tak sepenuhnya mampu menyerap kabar baik itu saat sedang bingung seperti ini.

“Katakan padaku kenapa,” desakku. “Kenapa kau kira aku akan takut padamu!’

“Maafkan aku,” kata Edward, lagi-lagi meminta maaf – untuk apa? Aku tidak mengerti. “Maafkan aku. Aku tidak mau kau melihat itu tadi. Melihatku dalam keadaan seperti tadi. Aku tahu aku pasti membuatmu takut.”

Aku harus memikirkan perkataannya itu sebentar, bagaimana ia tadi ragu-ragu mendekatiku, kedua tangan terangkat. Seolah-olah aku bakal lari bila ia bergerak terlalu cepat…

“Kau serius?” tanyaku akhirnya. “Kau… apa? Kaukira kau membuatku takut sehingga aku bakal lari?” dengusku. Mendengus itu bagus; suara tidak bisa bergetar atau pecah saat mendengus. Kedengarannya lumayan tak peduli.

Edward memegang daguku dan mengangkat kepalaku untuk membaca ekspresiku.

“Bella, aku hanya.” Edward ragu-ragu, kemudian memaksakan perkataan itu keluar dari mulutnya. “aku baru saja memenggal dan mencabik-cabik tubuh makhluk hidup hanya dalam jarak delapan belas meter darimu. Itu tidak membuatmu merasa terganggu?”

Edward mengerutkan kening padaku.

Aku mengangkat bahu. Mengangkat bahu juga bagus. Sangat bosan kelihatannya. “Tidak juga. Aku hanya takut kau dan Seth bakal terluka. Aku ingin membantu, tapi tidak banyak yang bisa kulakukan..”

Ekspresi Edward yang tiba-tiba marah membuat suaraku menghilang.

“Ya.” sergahnya, nadanya ketus. “Aksimu dengan batu itu. Kau tahu kau nyaris membuatku terkena serangan jantung? Padahal bagiku bukan perkara mudah untuk terkena serangan jantung.”

Tatapan Edward membuatku sulit menjawabnya.

”Aku ingin membantu… Seth terluka..”

“Seth hanya pura-pura terluka Bella. Itu tipuan. Tapi lalu kau..!” Ia menggeleng-gelengkan kepala, tak mampu menyelesaikan kalimatnya. “Seth tidak bisa melihat apa yang kau lakukan. Jadi aku harus turun tangan. Seth agak kesal karena tidak bisa mengklaim kemenangan ini sebagai usahanya sendiri.”

“Jadi Seth hanya… pura-pura?”

Edward mengangguk dengan tegas.

“Oh.”

Kami memandangi Seth,yang mengabaikan kami dan memandangi kobaran api. Perasaan puas terpancar dari setiap helai bulunya.

“Well, aku kan tidak tahu.” tukasku,merasa kesal sekarang. “Lagi pula, tidak mudah menjadi satu-satunya pihak yang tidak berdaya di sini. Tunggu saja sampai aku menjadi vampire nanti! Aku tidak akan duduk-duduk bengong lagi lain kali.”

Emosi campur aduk melintas di wajah Edward sebelum akhirnya menunjukkan sikap geli. “Lain kali? memangnya kau mengantisipasi perang lagi?”

“Dengan kesialanku? Siapa tahu?”

Edward memutar bola matanya. tapi bisa kulihat ia gembira, kelegaan membuat kepala kami ringan. Semua sudah berakhir.

Atau… benarkah begitu?

“Tunggu dulu. Bukankah kau mengatakan sesuatu sebelumnya..?” Aku tersentak. teringat persis bagaimana kejadiannya tadi, apa yang akan kukatakan pada Jacob nanti? Hatiku yang terpecah berdenyut-denyut sakit. Sulit dipercaya, nyaris mustahil, tapi bagian terberat hari ini belum berakhir bagiku, kemudian aku menguatkan diri. “Tentang masalah tadi. Dan Alice, yang harus memberikan perkiraan waktu yang tepat kepada Sam. Katamu waktunya bakal berdekatan. Apanya yang berdekatan?”

Mata Edward kembali melirik Seth, dan mereka berpandangan.

“Well?” tanyaku.

“Tidak ada apa-apa, sungguh.” Edward buru-buru menjawab. “Tapi kita benar-benar harus segera berangkat…..”

Ia mulai menarik untuk menaikkanku ke punggungnya, tapi aku mengejang dan menolak.

“Jelaskan maksudmu.”

Edward merengkuh wajahku dengan kedua tangannya.

“Waktu kita sangat sedikit, jadi jangan panik, oke? Sudah ku bilang tak ada alasan untuk takut. Percayalah padaku, please?”

Aku mengangguk, berusaha menyembunyikan kengerian yang mendadak muncul, sebanyak apa lagi yang bisa kutanggung tanpa membuat ku pingsan? “Tidak ada alasan untuk takut. Baiklah.”

Edward mengerucutkan bibir sejenak, memutuskan apa yang harus disampaikan. Kemudian ia melirik Seth sekilas, seolah-olah serigala itu memanggilnya.

“Apa yang dia lakukan?” tanya Edward.

Seth mendengking; nadanya gugup dan cemas. Membuat bulu kudukku meremang.

Semuanya sunyi selama sedetik yang terasa sangat panjang.

Kemudian Edward terkesiap. “Tidak!”dan sebelah tangannya melayang seolah ingin menyambar sesuatu yang tidak bisa kulihat. “Jangan…!”

Entakan mengguncang tubuh Seth, dan lolongan panjang yang memilukan mengoyak paru-parunya.

Pada saat bersamaan Edward jatuh berlutut, mencengkeram kedua sisi kepala dengan dua tangan, wajahnya mengernyit sakit.

Aku menjerit, hatiku disergap perasaan takut,lalu jatuh berlutut di sampingnya. Bodohnya, aku berusaha menarik tangan Edward yang menutupi wajah, telapak tanganku yang basah oleh keringat, menggelincir di kulitnya yang licin bagaikan marmer.

“Edward! Edward!”

Mata Edward terfokus padaku, setelah mengerahkan segenap daya, akhirnya ia juga bisa membuka mulut.

“Tidak apa-apa. Kita akan baik-baik saja. Itu..” Ia terdiam dan kembali meringis.

“Apa yang terjadi?” pekikku saat Seth melolong karena penderitaan yang dalam.

“Semua beres. Kita akan baik-baik saja,” sergah Edward.

“Sam.. bantu dia..”

Dan detik itulah aku menyadari, ketika Edward menyebut nama Sam, bahwa bukan ia atau Seth yang dimaksudkannya. Tak ada kekuatan tak kasatmata yang menyerang mereka. Kali ini krisis itu tidak terjadi di sini.

Ia menggunakan kata ganti orang ketiga jamak untuk menyebut kawanan serigala itu.

Adrenalinku sudah terkuras habis. Tak ada lagi yang tersisa. Aku merosot lemas, dan Edward menangkapku sebelum tubuhku membentur bebatuan. Ia melesat berdiri, aku berada dalam dekapannya.

“Seth!” teriak Edward.

Seth masih membungkuk, tubuhnya masih mengejang sedih, terlihat seperti hendak menerjang masuk ke hutan.

“Tidak!” Edward memerintahkan. “kau harus langsung pulang. Sekarang. Secepat kau bisa!”

Seth mendengking-dengking, menggelengkan kepalanya yang besar.

“Seth, percayalah padaku.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.