Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Ia melengkung tubuh dan menerjang.

Sesuatu yang kecil dan putih mendesing dan menabraknya di udara. Benturan yang terjadi seperti ledakan, membuat Victoria kembali menabrak pohon, pohon yang ini langsung patah menjadi dua. Ia kembali mendarat dalam posisi berdiri, merunduk dan siaga, tapi Edward sudah siap menghadapinya. Kelegaan membuncah dalam dadaku waktu melihat Edward berdiri tegak dengan sempurna.

Victoria menendang sesuatu dengan kaki telanjang, misil yang melumpuhkan serangannya. “Benda itu berguling ke arahku, dan aku menyadari benda apa itu.

Perutku serta-merta mual.

Jari-jarinya masih bergerak, mencengkeram batangbatang rumput, lengan Riley mulai bergerak ke sana ke mari tanpa arah.

Seth mengitari Riley lagi, dan sekarang Riley mundur. Ia mundur menjauhi serigala yang menghampirinya, wajahnya kaku menahan sakit. Ia mengangkat sebelah lengannya dengan sikap defensif.

Seth mempercepat gerakannya memburu Riley, dan si vampire jelas-jelas kehilangan keseimbangan. Aku melihat Seth membenamkan giginya ke bahu Riley dan mencabiknya, melompat turun kembali.

Diiringi jeritan melengking yang memekakkan telinga, Riley kehilangan sebelah lengannya lagi.

Seth menyentakkan kepala, melontarkan lengan itu ke hutan. Suara mendesis yang terlontar dari Sela-sela gigi Seth terdengar seperti tawa mengejek. Riley menyerukan teriakan minta tolong yang memilukan.

“Victoria!”

Victoria bahkan tak terusik sedikit pun mendengar namanya dipanggil. Matanya sama sekali tidak melirik pasangannya.

Seth menerjang maju dengan kekuatan setara bola beton yang biasa digunakan untuk menghancurkan gedung. Daya sodoknya melontarkan Seth dan Riley ke pepohonan, tempat bunyi cabikan nyaring terdengar seirama dengan jeritan Riley. Jeritan-jeritan itu mendadak terputus, sementara bunyi batu dicabik-cabik terus terdengar.

Meskipun tidak menyempatkan diri melirik Riley untuk terakhir kalinya, Victoria sepertinya sadar ia sekarang sendirian. Ia mulai mundur menjauhi Edward, sorot kekecewaan yang amat sangat terpancar liar dari matanya. Ia melayangkan pandangan singkat penuh damba bercampur sakit hati, kemudian mulai mundur lebih cepat.

“Tidak.” bujuk Edward, suaranya merayu. “Tinggallah sedikit lebih lama lagi.”

Victoria berbalik dengan cepat dan terbang menuju tempat aman di hutan, bagai anak panah dilepaskan dari busurnya.

Tapi Edward lebih cepat – bagai anak panah yang melesat dari busurnya.

Edward menangkap punggung Victoria yang tidak terlindung di pinggir hutan, dan dengan satu langkah simpel terakhir, tarian pun berakhir.

Mulut Edward menyapu leher Victoria,seperti membelainya. Teriakan-teriakan melengking yang berasal dari usaha Seth menutupi setiap suara lain, jadi tidak ada suara yang jelas untuk menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi. Bisa saja orang mengira Edward sedang mencium Victoria.

Kemudian rambut Jingga menyala itu tidak lagi terhubung dengan badannya. Gelombang jingga berpendarpendar itu terjatuh ke tanah, dan memantul satu kali sebelum berguling ke arah pepohonan.

 

25. CERMIN

KUPAKSA mataku yang membeku dalam keadaan membelalak saking syoknya – bergerak, sehingga aku tak lagi bisa melihat benda oval yang terbungkus balutan rambut berwarna terang itu menggeletar.

Edward kembali bergerak. Dengan gerakan cepat dan tenang, ia memisah-misahkan mayat tanpa kepala itu.

Aku tak sanggup mendekatinya – aku tak mampu membuat kakiku bergerak; keduanya terpaku ke batu di bawahnya. Tapi aku mengawasi setiap tindakannya dengan saksama, mencari bukti apakah ia terluka. Debar jantungku melambat ke irama yang lebih normal setelah tidak menemukan tanda-tanda cedera sedikit pun. Ia tetap setangkas dan seanggun biasanya. Aku bahkan tidak melihat robekan sedikit pun di bajunya.

Edward tidak menatapku, di tempat aku berdiri kaku di dinding tebing, ngeri, sementara ia menumpuk potongan kaki dan badan yang masih menggeletar dan berkedut-kedut itu, kemudian menutupinya dengan daun-daun pinus kering.

Ia masih tidak mau membalas tatapanku yang syok sementara ia berlari memasuki hutan menyusul Seth.

Aku belum pulih sepenuhnya dari keterkejutan saat ia dan Seth kembali, Edward membawa Riley dalam dekapannya. Seth membawa potongan yang besar – badan Riley – dengan mulut. Mereka menaruh bawaan mereka ke onggokan yang sudah ada, dan Edward mengeluarkan benda segi empat perak dari saku bajunya. Dibukanya tutup korek butan itu dan disulutnya sebarang ranting kering. Api langsung menyala, lidah apinya yang berwarna jingga dengan cepat menjilat onggokan.

“Ambil semua potongan,” kata Edward dengan suara pelan kepada Seth.

Bersama-sama, vampir dan werewolf menyusuri kawasan perkemahan, sesekali melempar onggokan kecil batu putih ke kobaran api. Seth membawa potongan-potongan itu dengan moncongnya. Otakku tidak bekerja cukup baik untuk memahami mengapa ia tidak mengubah diri untuk membawa potongan-potongan itu dengan tangannya.

Edward tetap berkonsentrasi pada pekerjaannya.

Kemudian selesailah semuanya, dan api yang berkobar mengirimkan asap ungu menyesakkan ke langit. Asap tebal bergulung-gulung lambat, tampak lebih padat daripada seharusnya; baunya seperti dupa yang terbakar, dan aromanya sangat tidak enak. Berat, terlalu menyengat.

Seth mengeluarkan suara seperti tertawa mengejek lagi, jauh di dalam dadanya.

Senyum berkelebat di wajah Edward yang tegang.

Edward mengulurkan tangan – telapak tangannya mengepal. Seth menyeringai, memamerkan sederet gigi

panjang-panjang dan tajam, lalu menyundulkan hidungnya ke tangan Edward.

“Kerja tim yang bagus,” gumam Edward.

Seth menggonggong tertawa.

Kemudian Edward menghela napas dalam-dalam, dan berbalik perlahan-lahan untuk menghadapku.

Aku tidak memahami ekspresinya. Sorot matanya sinis seolah-olah aku musuh lain, lebih dari sinis; takut. Padahal ia tadi tidak menunjukkan ketakutan sama sekali saat menghadapi Victoria dan Riley… Pikiranku buntu, terperangah dan tak berdaya, seperti tubuhku. Kupandangi dia, bingung.

“Bella sayang,” ujarnya dengan nada paling lembut berjalan menghampiriku dengan kelambanan dilebihlebihkan. Kedua tangan terangkat, telapak tangan menghadap ke depan Meski bingung, sikap Edward itu anehnya membuatku teringat tersangka yang mendekati polisi, menunjukkan dirinya tidak bersenjata…

“Bella, bisa tolong jatuhkan batu itu, please? Hati-hati. Jangan lukai dirimu sendiri.”

Aku sudah lupa sama sekali pada senjataku, walaupun sekarang aku sadar telah menggenggamnya kuat sekali sampai-sampai buku jariku menjerit protes. Apakah buku jariku patah lagi, Carlisle jelas akan menggipsku kali ini.

Beberapa meter dariku, Edward ragu-ragu, kedua tangannya masih terangkat, matanya masih memancarkan sorot takut.

Baru beberapa detik kemudian aku ingat bagaimana caranya menggerakkan jari-jariku. Kemudian batu itu jatuh

berkeletak ke tanah, sementara tanganku tetap membeku dalam posisi yang sama.

Edward sedikit lebih rileks setelah tanganku kosong, tapi tak juga mendekat.

“Kau tidak perlu takut, Bella,” bisik Edward. “Kau aman. Aku tidak akan menyakitimu.”

Janji membingungkan itu malah semakin membuatku bingung. Kupandangi ia seperti anak imbesil, berusaha memahami.

“Semua baik-baik saja Bella. Aku tahu sekarang kau ketakutan,tapi semua sudah berakhir. Tidak ada yang akan menyakitimu. Aku takkan menyentuhmu. Aku tidak akan menyakitimu,” ucapnya lagi.

Mataku mengerjap-ngerjap hebat, dan akhirnya aku bisa bicara juga. “Kenapa kau bicara begitu terus?”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.