Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Saat itulah tinju RIley mengenai panggul Seth, dan pekikan pelan terlontar dari tenggorokan Seth. Seth mundur, pundaknya berkedut-kedut sementara ia berusaha mengenyahkan perasaan sakit itu dari tubuhnya.

Kumohon, aku ingin memohon kepada Riley, tapi tidak bisa menggerakkan otot-otot mulutku, menarik udara keluar dari paru-paruku. Kumohon, dia masih kanak-kanak!

Mengapa tadi Seth tidak kabur saja. Mengapa dia tidak lari sekarang?

Riley kembali memperkecil jarak di antara mereka, mendesak Seth ke muka tebing di sebelahku. Victoria tibatiba tertarik pada nasib pasangannya. Aku bisa melihatnya, dari sudut mataku, mengira-ngira jarak antara Riley dan aku. Seth menyerang Riley, memaksanya mundur, dan Victoria mendesis.

Seth tidak lagi terpincang-pincang. Saat berjalan mengitari musuhnya, ia hanya beberapa sentimeter di sebelah Edward, ekornya menerpa punggung Edward, dan mata Victoria melotot.

“Tidak, dia tidak akan menyerangku,” sergah Edward, menjawab pertanyaan dalam benak Victoria. Ia memanfaatkan kelengahan Victoria untuk beringsut lebih dekat. “Kau menjadikan dirimu musuh bersama. Karena kau, kami jadi bersekutu.”

Victoria mengatupkan giginya rapat-rapat,berusaha memfokuskan diri hanya kepada Edward.

“Lihatlah lebih seksama Victoria,” gumam Edward, berusaha membuyarkan konsentrasinya. “Apakah dia benar-benar mirip monster yang dibuntuti James melintasi Siberia?”

Mata Victoria melotot lebar, kemudian mulai melirik Edward, Seth, dan aku bergantian, bolak balik.

“Tidak sama?” geramnya dengan suara melengkingnya yang mirip anak kecil. “Mustahil!”

“Tidak ada yang mustahil,” gumam Edward, suara beledunya lembut sementara ia beringsut lebih dekat kepada Victoria. “Kecuali menyangkut yang kau inginkan. Kau takkan pernah menyentuh Bella.”

Victoria menggeleng cepat dan mengentak, melawan upaya Edward mengalihkan perhatiannya, dan berusaha menerobos pertahanan Edward, tapi Edward sudah menghalanginya. Wajah Edward mengernyit frustrasi, kemudian ia merunduk lebih rendah, kembali berubah menjadi singa betina, dan bergerak maju dengan langkahlangkah mantap.

Victoria bukan vampire baru yang tidak berpengalaman dan hanya digerakkan insting. Ia mematikan. Bahkan aku pun tahu perbedaan antara dirinya dengan Riley dan aku tahu Seth takkan bisa bertahan selama itu bila bertarung melawan vampire ini.

Edward ikut bergerak, keduanya saling menghampiri, singa melawan singa betina.

Tarian itu semakin cepat temponya.

Seperti Alice dan Jasper di padang rumput, gerakan berpusar-pusar yang kabur, hanya saja tarian yang satu ini tidak dikoreografi sesempurna itu. Suara berderak dan patah yang tajam memantul di permukaan tebing setiap kali ada yang terpeleset dalam formasi. Tapi gerakan mereka terlalu cepat sehingga aku tak bisa melihat siapa yang melakukan kesalahan…

Konsentrasi Riley terpecah tarian maut itu, matanya jelalatan cemas ingin mengetahui nasib pasangannya. Seth menyerang, mencabik sebagian kecil lagi tubuh si vampire. Riley meraung, lalu melayangkan backhand yang sangat keras, menghantam dada Seth yang lebar. Tubuh besar Seth melayang setinggi tiga meter, lalu membentur dinding batu di atas kepalaku dengan kekuatan yang seolah-olah menggetarkan seluruh puncak tebing. Aku mendengar udara keluar dari paru-parunya, lalu merunduk menghindarinya saat tubuh seth terpantul dari dinding batu dan mendarat di tanah, beberapa meter di depanku.

Dengkingan pelan terlontar dari sela-sela gigi Seth.

Kepingan-kepingan batu tajam batu kelabu menghujani kepalaku, menggores kulitku yang terbuka. Sebongkah batu berpinggiran tajam bergulingan menuruni lengan kananku dan secara refleks aku menangkapnya. Jari-jariku menggenggam pinggirannya yang tajam sementara naluri menyelamatkan diri muncul dalam diriku, karena tidak ada peluang lari menyelamatkan diri, tubuhku, tak peduli betapa pun tidak efektifnya tindakan itu, bersiap-siap melawan.

Adrenalin menderas dalam pembuluh darahku. Aku tahu pinggiran batu yang tajam mengiris telapak tanganku. Aku tahu buku jariku yang retak menjerit protes. Aku tahu itu, tapi aku tidak bisa merasakan nyeri itu.

Di belakang Riley, yang bisa kulihat hanyalah jilatan lidah api yang merupakan rambut Victoria serta sekelebat warna putih. Suara yang menyerupai bunyi logam patah semakin terdengar, begitu juga air mata, desis terkesiap dan syok, menunjukkan tarian itu berubah menjadi tarian mematikan bagi salah satu seorang di antara mereka.

Tapi siapa?

Riley menerjang ke arahku, mata merahnya menyalanyala oleh amarah. Ia memelototi onggokan bulu cokelat tanah yang tergeletak lemas di antara kami, dan tangannya

– tangannya yang patah dan tercabik-cabik – melengkung membentuk cakar. Mulutnya terbuka, melebar, giginya berkilau, saat ia bersiap-siap mengoyak-ngoyak leher Seth.

Hormon adrenalin kembali berpacu dalam pembuluh darahku bagaikan sengatan listrik, dan tiba-tiba semuanya menjadi sangat jelas.

Kedua pertempuran itu sudah terlalu ketat. Seth nyaris kalah dan aku tidak tahu Edward menang atau kalah. Mereka membutuhkan bantuan. Sesuatu yang bisa mengalihkan perhatian musuh. Sesuatu yang akan membuat mereka kalang kabut.

Tanganku begitu kuat mencengkeram bongkahan batu tajam itu sampai-sampai salah satu tali penyangga tanganku putus.

Cukup kuatkah aku? Cukup beranikah? Sekeras apa aku harus menusukkan batu tajam itu Ke tubuhku? Bisakah tindakanku ini memberi Seth cukup waktu untuk bangkit lagi. Mungkinkah ia bisa segera pulih hingga pengorbananku baginya tidak sia-sia?

Aku menggoreskan ujung batu yang tajam di lenganku, menyentakkan lengan sweterku yang tebal sehingga kulitku terbuka, kemudian menekankan ujung yang tajam itu ke lipatan sikuku. Di sana sudah ada bekas luka panjang yang kudapat pada hari ulang tahunku yang terakhir. Malam itu darahku yang mengalir cukup menarik perhatian setiap vampire, membuat mereka langsung membeku di tempat masing-masing. Aku berdoa semoga kali ini darahku akan menghasilkan efek yang sama. Aku menabahkan diri dan menghela napas dalam-dalam.

Konsentrasi Victoria buyar begitu ia mendengarku terkesiap. Matanya tajam selama sedetik, memandangiku. Kemarahan dan keingintahuan berbaur aneh dalam ekspresinya.

Entah bagaimana aku bisa mendengar suara pelan itu padahal di sekelilingku ribut oleh suara-suara lain yang bergema di dinding tebing dan bertalu-talu dalam pikiranku. Bunyi debar jantungku saja seharusnya sudah cukup untuk menenggelamkannya. Namun, pada detik yang sama saat aku menatap mata Victoria, sepertinya aku mendengar desahan putus asa yang familier itu.

Pada detik sama yang berlangsung singkat, tarian itu mendadak bubar. Kejadiannya begitu cepat hingga sudah berakhir sebelum aku bisa mengikuti urutan peristiwanya. Aku berusaha mengikutinya dalam benakku.

Victoria melesat meninggalkan formasi kabur itu dan menubruk dedaunan di sebarang pohon tinggi. Ia mendarat di rerimbunan pohon yang tinggi. Lalu ia mendarat lagi ke tanah dalam posisi merunduk, siap menerjang.

Pada saat bersamaan, Edward, yang sama sekali tidak terlihat karena gerakannya sangat cepat memutar ke belakang dan menyambar lengan Riley yang tidak menduganya sama sekali. Kelihatannya Edward menumpukkan kakinya di punggung Riley dan menarik..

Lapangan kecil itu dipenuhi jerit kesakitan Riley.

Pada waktu bersamaan Seth melompat berdiri, menghalangi sebagian besar pandanganku.

Tapi aku masih bisa melihat Victoria. Dan, walaupun ia tampak aneh, seperti tidak bisa melihat senyumnya, seperti yang selama ini kulihat menghiasi wajah buasnya dalam mimpiku.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.