Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Victoria akan menghentikan jantungku. Mungkin dengan cara menyurukkan tangan ke dadaku, meremukkan jantungku. Semacam itu.

Jantungku berdebar semakin kencang,nyaris seolah-olah membuat targetnya semakin nyata.

Nun jauh di sana,dari tengah hutan yang hitam di ujung sana, lolongan serigala bergema di udara yang diam tak bergerak. Karena Seth sudah pergi, tak ada yang bisa menerjemahkan arti suara itu.

Si cowok pirang memandangi Victoria dari sudut matanya, menunggu perintah.

Ia sangat mdua. Dugaanku, menilik iris matanya yang merah tua, ia pasti belum lama menjadi vampire. Ia pasti kuat, tapi masih hijau. Edward pasti bisa menghadapinya. Edward pasti selamat.

Victoria menyentakkan dagunya ke arah Edward, tanpa suara memerintahkan cowok pirang itu untuk maju.

“Riley,” kata Edward dengan suara lembut bernada memohon.

Si cowok pirang membeku, matanya yang merah membelalak.

“Dia membohongimu, Riley,” kata Edward. “Dengarkan aku. Dia membohongimu seperti dia membohongi teman-temanmu yang lain, yang sekarang sekarat di lapangan sana. Kau tahu dia membohongi mereka. karena dia menyuruhmu membohongi mereka, bahwa kalian berdua tidak akan membantu mereka. Tidak sulit kan untuk mempercayai dia membohongimu juga?”

Kebingungan menyapu wajah Riley.

Edward beranjak beberapa sentimeter ke samping, dan Riley otomatis menyesuaikan diri.

“Dia tidak mencintaimu, Riley,” suara lembut Edward terdengar meyakinkan, nyaris menghipnotis. “Dia tidak pernah mencintaimu. Dia mencintai seseorang bernama James, dan kau tak lebih dari sekadar alat baginya.”

Begitu Edward menyebut nama James, sudut-sudut mulut Victoria terangkat, menyeringai memamerkan giginya. Matanya tetap terpaku padaku.

Riley melayangkan pandangan panik ke arah Vicroria.

“Riley?” panggil Edward.

Pandangan Riley kembali terfokus kepada Edward.

“Dia tahu aku akan membunuhmu, Riley. Dia memang ingin kau mati supaya dia tidak perlu berpura-pura lagi. Ya.., kau sudah melihatnya sendiri, kan? Kau sudah membaca keengganan itu di matanya, mencurigai nada palsu dalam janjinya. Kau benar. Dia memang tidak pernah menginginkanmu. Setiap ciuman, setiap sentuhannya hanya dusta.”

Edward bergerak lagi, maju beberapa sentimeter menghampiri bocah itu, beberapa sentimeter menjauhiku.

Tatapan Victoria langsung tertuju pada celah di antara kami. Dibutuhkan waktu kurang dari satu detik untuk membunuhku, ia hanya membutuhkan margin kesempatan yang paling kecil. Lebih lambat kali ini, Riley mengubah kembali posisinya.

“Kau tidak perlu mati,” janji Edward, matanya terus tertuju kepada pemuda itu. “Ada cara-cara lain untuk hidup selain daripada cara yang dia tunjukkan padamu. Tidak semuanya dusta dan darah Riley. Kau bisa meninggalkannya sekarang juga. Kau tidak perlu mati demi dusta-dustanya.”

Edward menggeser kakinya ke depan dan ke samping. Sekarang di antara kami menganga celah selebar kurang dari setengah meter. Riley mengitari terlalu jauh, kali ini kelewat mengulur-ulur waktu. Victoria mencondongkan tubuh ke depan dengan bertumpu pada tumitnya.

“Kesempatan terakhir Riley,” Bisik Edward.

Wajah Riley begitu putus asa saat ia memandang Victoria, meminta jawaban.

“Dialah pembohongnya Riley,” tukas Victoria, dan mulutku ternganga lebar mendengar suaranya. “Aku sudah pernah bercerita padamu tentang permainan pikiran yang mereka lakukan. Kau tahu aku hanya mencintaimu.”

Suaranya tidak seperti geraman liar dan garang seperti dugaanku bila melihat wajah dan pembawaannya yang buas. Suaranya justru lembut, tinggi, seperti suara anak kecil, tinggi melengking. Suara yang cocok bagi bocah berambut pirang ikal yang mengunyah permen karet merah jambu. Sungguh tidak masuk akal suara itu datang dari gigi yang berkilau menyeringai.

Dagu Riley mengeras, dan ia menegakkan bahunya. Sorot matanya kosong,tak ada lagi kebingungan, tak ada lagi kecurigaan. Tak ada pikiran sama sekali. Ia menegakkan tubuh, siap menyerang.

Tubuh Victoria sepertinya bergetar, ia sangat tegang, jarijarinya melengkung sepeti cakar, menunggu Edward bergerak satu sentimeter saja menjauhiku.

Geraman itu tidak berasal dari salah seorang di antara mereka.

Sosok raksasa berwarna cokelat terbang menerobos bagian tengah celah, menubruk Riley hingga terpelanting ke tanah.

“Tidak!” pekik Victoria, suara bayinya melengking tak percaya.

Satu setengah meter di depanku, serigala raksasa Itu mengoyak dan mencabik-cabik Si vampir pirang di bawahnya. Sesuatu yang berwarna putih dan keras terlempar ke bebatuan dekat kakiku. Aku buru-buru menyingkir menjauhi benda itu.

Victoria sama sekali tidak melirik Riley, padahal ia baru saja mengungkapkan cintanya pada cowok itu. Matanya tetap tertuju padaku, dipenuhi sorot kecewa yang begitu berapi-api hingga membuatnya terlihat seperti orang sakit jiwa.

“Tidak,” serunya lagi, dengan rahang terkatup rapat, sementara Edward mulai bergerak menghampirinya, menghalangi langkahnya mendekatiku.

Riley kembali berdiri, tercabik dan kepayahan, tapi masih bisa melayangkan tendangan keras ke pundak Seth. Kudengar bunyi tulang berderak patah. Seth mundur dan mulai mengitarinya, terpincang-pincang. Riley mengulurkan kedua tangan, bersiap-siap, walaupun kelihatannya ia kehilangan sebagian tangannya…

Hanya beberapa meter dan perkelahian itu, Edward dan Victoria menari.

Tidak bisa dibilang berputar-putar, karena Edward tidak mengizinkan Victoria memposisikan diri lebih dekat kepadaku.

Victoria melenggang mundur, bergerak ke kanan dan ke kiri, berusaha menemukan celah dalam pertahanan Edward. Edward mengikuti gerakannya dengan luwes, membuntutinya dengan konsentrasi sempurna. Ia mulai bergerak tidak sampai sedetik sebelum Victoria bergerak, membaca maksudnya lewat pikirannya.

Seth menerjang Riley dari samping, dan sesuatu tercabik dengan bunyi robekan mengerikan. Lagi-lagi potongan badan putih keras melayang ke hutan dan jatuh dengan suara berdebum. Riley meraung marah, dan Seth meleset mundur, kegesitannya sungguh menakjubkan, menilik ukuran tubuhnya yang besar, sementara Riley menyapukan tangannya yang tercabik-cabik kepada Seth.

Victoria menyelinap-nyelinap di antara batang-batang pohon di ujung terjauh lapangan kecil ini. Ia menghadapi dilema, kakinya bergerak menuju tempat yang aman namun matanya dipenuhi dahaga terhadapku. Bisa kulihat keinginan membunuhnya berkobar-kobar,berperang dengan insting menyelamatkan diri dalam dirinya.

Edward juga bisa melihatnya.

“Jangan pergi Victoria,” gumamnya dengan nada menghipnotis seperti tadi. “Kau tak akan pernah mendapat kesempatan seperti ini lagi.”

Victoria memamerkan gigi-giginya dan mendesis kepada Edward, tapi ia sepertinya tak sanggup menjauh dari ku.

“Kau selalu bisa kabur nanti,” rayu Edward. “Masih banyak waktu untuk itu. Memang itu kelebihanmu, bukan? Itulah sebabnya James mempertahankannya. Berguna kalau menyukai permainan-permainan mematikan. Pasangan dengan insting melarikan diri yang luar biasa. Seharusnya dia tidak meninggalkanmu, sebenarnya dia bisa memanfaatkan keahlianmu ketika kami menangkapnya di Phoenix dulu.”

Geraman buas terlontar dari sela-sela bibi Victoria.

“Memang hanya sampai sejauh itu arti dirimu baginya. Tolol benar, menyia-nyikan begitu banyak energi membalaskan dendam orang yang hanya menyayangi kuda tunggangannya. Kau hanya dimanfaatkan olehnya. Aku tahu benar itu.”

Sudut-sudut bibir Edward terangkat ke Satu sisi sambil tangannya mengetuk-ngetuk pelipis.

Dengan pekikan tertahan Victoria meleset keluar lagi ke balik pepohonan, melakukan gerakan tipuan ke arah samping. Edward merespons, dan tarian itu dimulai lagi.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.