Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Edward menggeram.

“Apa?” aku terkesiap kaget.

“Mereka membicarakanmu.” Giginya terkatup rapat. “tugas mereka seharusnya adalah memastikan kau tak bisa lolos… Bagus sekali Leah! Mmm, lumayan tangkas juga dia,” gumam Edward kagum. “Salah satu Vampire baru itu mencium bau kita, dan Leah menerjangnya sebelum dia bahkan sempat berbalik. Sam membantu menghabisi vampire itu. Paul dan Jacob melumpuhkan vampire lain, tapi vampire baru lainnya sekarang bersikap defensif. Mereka tidak tahu harus bagaimana menghadapi pihak kita. Kedua pihak ragu-ragu… Tidak, biarkan Sam memimpin. Jangan halangi.” gumamnya. “Pisahkan mereka, jangan biarkan mereka saling melindungi.”

Seth mendengking.

“Begitu lebih baik, desak mereka ke arah lapangan.” Edward setuju. Tubuhnya bergerak-gerak tanpa sadar sambil terus menonton, mengejang ketika melihat gerakangerakan yang akan ia lakukan seandainya ia ikut dalam pertempuran itu. Tangannya masih menggenggam tanganku, kuremas jari-jarinya setidaknya ia tidak ada di sana.

Suara yang mendadak hilang adalah satu-satunya peringatan.

Embusan napas Seth yang berat mendadak lenyap, dan karena aku menyamakan tarikan napasku dengannya – aku langsung menyadarinya.

Aku ikut-ikutan berhenti bernapas, bahkan terlalu ngeri untuk membuat paru-paruku bekerja begitu aku sadar Edward telah membeku bagai balok es di sampingku.

Oh. tidak. Tidak. Tidak..

Siapa yang terbunuh? Mereka atau kita? Milikku, semuanya milikku. Aku kehilangan siapa?

Begitu cepatnya hingga aku tak tahu persis bagaimana kejadiannya, tahu-tahu aku sudah berdiri dan tenda mendadak lenyap serta tercabik-cabik di sekelilingku. Apakah Edward merobeknya supaya kami bisa keluar? Mengapa?

Aku mengerjap-ngerjapkan mata, syok, silau karena cahaya matahari yang cemerlang. Yang bisa kulihat hanya Seth, tepat di samping kami, wajahnya hanya berjarak lima belas sentimeter dari wajah Edward. Mereka saling menatap dengan konsentrasi penuh selama satu detik yang terasa lama sekali.

Sinar matahari pecah berderai begitu menerpa kulit Edward dan kilauannya berhamburan, menari-nari di bulu Seth.

Kemudian Edward berbisik dengan nada mendesak. “Pergi Seth!”

Serigala besar itu berbalik dan lenyap memasuki bayangbayang hutan.

Benarkah semuanya hanya berlangsung dua detik? Rasanya seperti berjam-jam. Aku sangat ketakutan sampai perutku mual begitu mengetahui sesuatu yang mengerikan sedang terjadi di lapangan sana. Kubuka mulutku untuk memaksa Edward membawaku ke sana, dan melakukan sekarang. Mereka membutuhkan dia, dan mereka membutuhkan aku. Kalau aku harus berdarah-darah untuk menyelamatkan mereka, aku akan melakukannya. Aku rela mati untuk melakukannya,seperti istri ketiga. Walaupun tidak memegang pisau perak di tanganku, aku pasti bisa menemukan suatu cara…

Belum sempat melontarkan sepatah kata pun, aku merasa seolah-olah dilempar tinggi ke udara. Tapi tangan Edward tidak pernah melepaskanku, aku hanya dipindahkan, begitu cepatnya hingga sensasinya terasa seperti jatuh dalam posisi menyamping.

Aku mendapati diriku berdiri menempel erat di punggung tebing yang tinggi. Edward berdiri di depanku, dalam postur siaga yang langsung kufahami artinya.

Kelegaan menyapu pikiranku namun pada saat bersamaan, perutku seperti melesak ke telapak kaki.

Ternyata aku salah mengerti.

Lega, karena tidak terjadi apa-apa di lapangan sana.

Ngeri, karena krisis itu justru terjadi di sini.

Edward berjaga-jaga dengan sikap defensif, separuh merunduk, kedua lengan sedikit terulur, yang kukenali dengan keyakinan menakutkan. Tebing di belakang punggungku bagaikan dinding bata kuno di lorong sempit Italia saat ia berdiri di antara aku dan para pengawal keluarga Volturi yang berjubah hitam.

“Siapa?” bisikku.

Kata-kata itu terlontar dari sela-sela gigi Edward dalam bentuk geraman yang lebih keras daripada yang kuharapkan. Terlalu keras. Itu berarti sekarang sudah sangat terlambat untuk bersembunyi. Kami terperangkap, dan tidak penting lagi siapa yang mendengar jawabannya.

“Victoria,” jawab Edward, menyemburkan kata itu, membuatnya jadi kutukan. “Dia tidak sendirian. Dia mencium bauku, mengikuti para vampir baru untuk mengamati, dia memang tak pernah berniat bertarung bersama mereka. Dia membuat keputusan mendadak untuk mencariku, menebak pasti kau berada di tempat yang sama denganku. Dia benar. Kau benar. Ternyata memang Victoria.”

Victoria pasti sudah berada cukup dekat sehingga Edward bisa mendengar pikiran-pikirannya.

Lagi-lagi aku merasa lega. Kalau yang datang itu keluarga Volturi, kami berdua pasti bakal tewas. Tapi kalau Victoria, tidak harus dua-duanya. Edward pasti bisa selamat. Ia petarung hebat, sama hebatnya seperti Jasper. Kalau Victoria tidak membawa terlalu banyak pengikut, Edward pasti bisa mengalahkannya, lalu kembali ke keluarganya. Edward lebih cepat dibandingkan siapa pun. Ia pasti bisa selamat.

Aku sangat senang ia tadi menyuruh Seth pergi. Tentu saja, Seth tak bisa meminta bantuan siapa pun. Victoria mengambil keputusan pada waktu yang sangat tepat. Tapi setidaknya Seth aman; aku tak bisa membayangkan serigala besar berbulu cokelat pasir saat memikirkan namanya, yang terbayang hanya sesosok remaja lima belas tahun bertubuh besar.

Tubuh Edward bergerak, gerakan yang sangat kecil, tapi dari sana aku tahu harus melihat ke arah mana. Kutatap bayang-bayang hutan yang hitam.

Rasanya bagaikan didatangi mimpi buruk.

Dua vampire beringsut-ingsut maju memasuki lapangan kecil tempat kami berkemah, mata mereka menatap tajam, tak luput memerhatikan hal sekecil apa pun. Kulit mereka berkilauan bagaikan berlian tertimpa cahaya matahari.

Aku nyaris tak bisa melihat cowok pirang itu, ya, dia memang masih kanak-kanak, meskipun tubuhnya berotot dan tinggi, mungkin sesuai denganku waktu ia berubah. Matanya lebih merah terang daripada yang pernah kulihat sebelumnya. Walaupun ia berada lebih dekat dengan Edward, bahaya yang paling dekat, tapi aku bisa memandanginya.

Karena, beberapa meter agak menyamping ke belakang Victoria menatapku.

Rambut jingganya lebih cemerlang daripada yang kuingat, semakin menyerupai lidah api. Tak ada angin di sini, tapi api yang mengelilingi wajahnya seperti berpendarpendar, seolah-olah hidup.

Matanya hitam oleh dahaga. Ia tidak tersenyum, seperti yang selalu terjadi bila ia muncul dalam mimpi burukku, bibirnya terkatup rapat membentuk garis kaku. Caranya meliukkan tubuhnya tampak begitu garang, seperti singa betina menunggu kesempatan yang tepat untuk menerjang. Tatapannya yang liar dan berapi-api menyapu Edward dan aku berganti-ganti. tapi tidak pernah menatap Edward lebih dari setengah detik. Ia tak mampu mengalihkan tatapannya dariku, sama seperti aku tak mampu mengalihkan mataku darinya.

Ketegangan terpancar darinya, nyaris terlihat di udara. Aku bisa merasakan kegairahan dan nafsu berkobar-kobar dalam dirinya yang membuatnya nekat. Hampir seolah-olah aku bisa mendengar pikiran-pikirannya juga. Aku tahu apa yang ada dalam pikirannya.

Victoria sudah hampir mendapatkan apa yang ia inginkan, tujuan utama seluruh eksistensinya selama lebih dari satu tahun sekarang sudah sangat dekat.

Kematianku.

Rencananya sangat jelas dan praktis. Si cowok pirang itu akan menyerang Edward. Begitu perhatian Edward teralihkan, Victoria akan menghabisiku.

Itu akan dilakukan dengan sangat cepat, tak ada waktu untuk main-main di sini, tapi tuntas. Sesuatu yang tidak mungkin bisa dipulihkan. Sesuatu yang bahkan takkan bisa diperbaiki oleh racun vampire sekalipun.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.