Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Oh.” Ternyata sama sekali tidak seperti dugaanku. Tapi tentu saja masuk akal bila Alice mengawasi masa depan Jasper. Jasper belahan jiwanya, pasangan sejatinya, walaupun mereka tidak seflamboyan Rosalie dan Emmett dalam berhubungan. “Kenapa kau rak menceritakannya padaku sebelumnya?”

“Aku tidak sadar kau ternyata memerhatikan,” dalih Edward. “Bagaimanapun, mungkin itu tidak penting.”

Menyedihkan, bagaimana imajinasiku begitu tak terkendali. Siang yang normal-normal saja kubuat sedemikian rupa sehingga terlihat seolah-olah Edward mencoba menyembunyikan sesuatu dariku. Aku butuh terapi.

Kami turun ke bawah untuk mengerjakan PR, berjagajaga siapa tahu Charlie pulang lebih cepat. Dalam beberapa menit Edward berhasil menyelesaikan PR-nya; aku susah payah berkutat dengan Kalkulus-ku sampai tiba waktunya memasak makan malam untuk Charlie. Edward membantu, sesekali mengernyit melihat bahan-bahan mentah – makanan manusia sedikit menjijikkan baginya. Aku membuat stroganoff dengan resep Grandma Swan, karena aku ingin cari muka. Meski bukan termasuk makanan kesukaanku, tapi itu akan membuat Charlie senang.

Suasana hati Charlie kelihatannya sedang bagus ketika ia sampai di rumah. Sikapnya bahkan tidak kasar kepada Edward. Seperti biasa, Edward tidak ikut makan dengan kami. Suara siaran berita malam terdengar dari ruang depan, tapi aku ragu Edward benar-benar menonton.

Setelah makan sampai tambah tiga kali, Charlie mengangkat kedua kaki dan menumpangkannya ke kursi kosong, lalu melipat tangan dengan sikap puas di perutnya yang membuncit.

“Enak sekali, Bells.”

“Aku senang Dad menyukainya. Bagaimana pekerjaan Dad?” Tadi ia begitu asyik makan sehingga tidak sempat ngobrol denganku.

“Agak sepi. Well, sepi sekali, malah. Aku lebih sering menghabiskan waktu bermain kartu bersama Mark,” Charlie mengaku sambil nyengir. “Aku menang, sembilan belas lawan tujuh. Kemudian aku mengobrol di telepon sebentar dengan Billy.”

Aku berusaha menunjukkan ekspresi yang sama. “Bagaimana keadaannya?”

“Baik, baik. Persendiannya agak kaku.”

“Oh. Sayang sekali.”

“Yeah. Dia mengundang kita ke rumahnya akhir pekan nanti. Katanya dia juga ingin mengundang keluarga Clearwater dan Uley. Yah, kumpul-kumpul sambil nonton pertandingan babak playoff…”

“Hah,” adalah respons geniusku. Habis, mau bilang apa lagi? Aku tahu aku tidak bakal diizinkan menghadiri pesta yang juga dihadiri werewolf, walaupun ada orangtua yang mengawasi. Aku jadi penasaran apakah Edward keberatan Charlie pergi ke La Push. Atau apakah ia akan merasa bahwa, berhubung Charlie lebih banyak nongkrong dengan Billy, yang manusia biasa, maka ayahku tidak bakal terancam bahaya?

Aku bangkit dan menumpuk piring-piring kotor tanpa memandang Charlie. Kuletakkan semua piring itu ke bak cuci, lalu mulai menyalakan air. Edward muncul tanpa suara dan menyambar lap piring.

Charlie mendesah dan menyerah untuk sementara ini, walaupun aku yakin ia akan mengungkit lagi topik itu saat kami hanya berdua. Ia bangkit dengan susah payah lalu beranjak menuju televisi, seperti kebiasaannya setiap malam.

“Charlie,” panggil Edward dengan nada mengajak mengobrol.

Charlie berhenti di tengah-tengah dapurnya yang kecil. “Yeah?”

“Apakah Bella pernah bercerita orangtuaku memberinya tiket pesawat pada hari ulang tahunnya yang terakhir, agar dia bisa mengunjungi Renee?”

Piring yang sedang kugosok langsung lepas dari pegangan.

Benda itu mental ke konter dan jatuh ke lantai dengan suara berdentang. Piring itu tidak pecah, tapi air bersabun memercik ke seluruh ruangan, menciprati kami bertiga. Charlie bahkan seolah-olah tidak menyadarinya.

“Bella?” tanyanya tercengang.

Mataku tetap tertuju ke piring saat aku memungutnya.

“Yeah, benar.”

Charlie meneguk ludah dengan suara nyaring, kemudian matanya menyipit saat memandang Edward kembali. “Tidak, dia belum pernah cerita.”

“Hmm,” gumam Edward.

“Ada alasan kenapa kau mengungkitnya?” tanya Charlie, suaranya lantang.

Edward mengangkat bahu. “Tiket-tiket itu sudah hampir kedaluwarsa. Kurasa Esme akan sakit hati kalau Bella tidak memanfaatkan hadiahnya. Walaupun dia tidak akan mengatakan apa-apa.”

Kutatap Edward dengan raut tak percaya.

Charlie berpikir sebentar, “Mungkin ada bagusnya juga kau mengunjungi ibumu, Bella. Renee pasti senang sekali. Tapi heran juga kau tidak pernah menceritakannya padaku.”

“Aku lupa,” aku mengakui.

Kening Charlie berkerut. “Kau lupa ada orang memberimu tiket pesawat?”

“Mmm,” gumamku samar-samar, lalu berbalik menghadapi bak cuci lagi.

“Tadi kaubilang tiket-tiket itu hampir kedaluwarsa, Edward,” sambung Charlie. “Memangnya orangtuamu memberi Bella berapa tiket?”

“Hanya satu untuknya… dan satu untukku.”

Sekali ini piring yang kupegang terlepas dan mendarat di bak cuci, jadi tidak terlalu berisik. Dengan mudah aku bisa mendengar dengus tajam keluar dari mulut ayahku. Darah menyembur deras ke wajahku, dipicu perasaan kesal dan kecewa. Kenapa Edward nekat melakukannya? Dengan garang kupandangi busa sabun dalam bak cuci, panik.

“Tidak boleh!” raung Charlie marah, meneriakkan katakata itu.

“Kenapa tidak boleh?” tanya Edward, suaranya sarat keterkejutan yang lugu. “Kata Anda tadi, ada baiknya Bella mengunjungi ibunya.”

Charlie tak menggubris kata-kata Edward. “Kau tidak boleh pergi ke mana pun dengan dia, young lady!” pekiknya. Aku berbalik secepat kilat dan Charlie menuding-nuding wajahku dengan jarinya.

Otomatis amarahku langsung naik ke ubun-ubun, itu reaksi naluriah mendengar nada suara Charlie.

“Aku bukan anak kecil, Dad. Dan aku sudah tidak dihukum lagi, ingat?”

“Oh ya, kau masih dihukum. Mulai sekarang.”

“Karena apa?!”

“Karena kubilang begitu.”

“Apa perlu kuingatkan bahwa secara hukum aku sudah dewasa Charlie?” .

“Ini rumahku – kau harus ikut peraturanku!”

Tatapan garangku berubah dingin. “Kalau memang itu yang Dad mau. Dad ingin aku angkat kaki malam ini juga? Atau aku mendapat kesempatan beberapa hari untuk berkemas-kemas?”

Wajah Charlie merah padam. Aku langsung merasa tidak enak karena memainkan kartu as “pindah” itu.

Aku menghela napas dalam-dalam dan berusaha terdengar lebih lunak. “Aku menjalankan hukumanku tanpa mengeluh kalau aku memang melakukan kesalahan, Dad, tapi aku tidak mau menolerir prasangka-prasangka Dad.”

Charlie menggerutu tidak jelas.

“Nah, aku tahu Dad tahu aku berhak mengunjungi Mom pada akhir pekan. Dad pasti tidak keberatan dengan rencana itu kalau aku pergi bersama Alice atau Angela.”

“Perempuan,” geramnya, sambil mengangguk.

“Apakah Dad keberatan kalau aku mengajak Jacob?”

Aku sengaja menyebut nama itu karena tahu ayahku menyukai Jacob, tapi dengan segera aku menyesalinya; rahang Edward terkatup rapat dengan suara nyaring.

Ayahku berusaha keras mengendalikan emosinya sebelum menjawab. “Ya;’ sahutnya, nadanya tidak meyakinkan. “Aku pasti keberatan.”

“Kau tidak pintar berbohong, Dad.”

“Bella…”

“Aku bukan mau ke Vegas untuk menjadi artis panggung atau semacamnya. Aku mau mengunjungi Mom,” aku mengingatkannya. “Mom juga punya otoritas sebagai orangtua, sama seperti Dad.”

Charlie melayangkan pandangan merendahkan.

“Jadi maksud Dad, Mom tidak mampu menjagaku, begitu?”

Charlie tersentak mendengar ancaman implisit dalam pertanyaanku.

“Dad berdoa saja aku tidak mengadukannya pada Mom,” sergahku.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.