Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Kurasa aku sudah sangat memahaminya,” jawab Edward dengan nada enteng dan ringan. “Jacob membayangkannya dengan sangat jelas. Aku merasa tidak enak pada teman-teman sekawanannya, nyaris seperti aku merasa tidak enak pada diriku sendiri. Seth yang malang bahkan sampai mual. Tapi Sam menyuruh Jacob memfokuskan diri sekarang.”

Aku memejamkan mata dan menggeleng-geleng sedih. Serat-serat nilon lantai tenda yang tajam menggesek kulitku.

“Kau hanya manusia biasa,” bisik Edward, membelai rambutku lagi.

“Itu pembelaan paling menyedihkan yang pernah kudengar.”

“Tapi kau memang manusia biasa, Bella. Dan, walaupun aku berharap sebaliknya, demikian juga dia… ada lubanglubang dalam hidupmu yang tidak bisa kuisi. Aku mengerti itu.”

“Tapi itu tidak benar. Justru karena itulah ini buruk sekali. Tidak ada lubang apa pun.”

“Kau mencintainya,” bisik Edward lembut.

Setiap sel dalam tubuhku benar-benar ingin menyangkalnya.

“Aku lebih mencintaimu,” kataku. Hanya itu yang bisa kukatakan.

“Ya, aku juga tahu itu. Tapi…waktu aku meninggalkanmu Bella, aku meninggalkanmu berdarahdarah. Jacoblah yang menjahit lukamu dan memulihkannya. Itu pasti akan meninggalkan bekas, di diri kalian berdua. Aku tidak yakin bekas jahitan semacam itu bisa hilang sendiri. Aku tidak bisa menyalahkan salah satu dari kalian untuk sesuatu yang kulakukan sendiri. Mungkin aku sudah dimaafkan, tapi aku tidak berarti aku bisa lepas dari segala konsekuensinya.

“Seharusnya aku tahu kau pasti akan menyalahkan dirimu sendiri. Kumohon, hentikan. Aku tidak tahan mendengarnya.”

“Memangnya kau ingin aku bilang apa?”

“Aku ingin kau memaki-makiku sepuas hatimu, dalam setiap bahasa yang kau tahu. Aku ingin kau mengatakan kepadaku kau jijik padaku dan kau akan meninggalkan aku sehingga aku bisa memohon-mohon dan menyembahnyembah, memintamu tidak pergi.”

“Maafkan aku,” Edward menghela napas. “Aku tidak bisa berbuat begitu.”

“Setidaknya berhentilah berusaha menghiburku. Biarkan aku menderita. Aku pantas kok menerimanya.”

“Tidak,” gumam Edward.

Aku mengangguk lambat-lambat. “Kau benar, teruslah bersikap kelewat pengertian. Mungkin itu malah lebih buruk.”

Edward terdiam sejenak, aku merasakan perubahan suasana, hal mendesak yang baru.

“Sudah semakin mendekat,” kataku.

“Ya, tinggal beberapa menit lagi. Cukup waktu untuk menyampaikan satu hal lagi..”

Aku menunggu. Waktu akhirnya Edward berbicara lagi, ia berbisik. “Aku bisa bersikap mulia Bella. Aku tidak akan memintamu memilih di antara kami. Berbahagialah, dan aku bisa memiliki bagian apa saja dariku yang kau inginkan, atau tidak sama sekali, kalau itu memang lebih baik. Jangan biarkan utang budi apa pun yang menurutmu kau rasakan terhadapku, mempengaruhi keputusanmu.”

Aku mengangkat tubuhku dari lantai, menyentakkan diriku hingga berlutut.

“Brengsek, hentikan!” teriakku.

Mata Edward membelalak kaget. “Tidak, kau tidak mengerti. Aku tidak sekadar ingin menghibur perasaanmu, Bella. Tapi aku sungguh-sungguh.”

“Aku tahu kau sungguh-sungguh,” erangku.”Tapi kenapa sih kau tidak mau melawan! Jangan sok mengorbankan diri sekarang! Lawan!”

“Bagaimana caranya?” tanya Edward, matanya sarat kesedihan.

Aku cepat-cepat naik ke pangkuannya, memeluk lehernya.

“Aku tidak peduli di sini dingin. Aku tidak peduli tubuhku bau anjing sekarang. Buat aku lupa betapa jahatnya aku. Buat aku lupa padanya. Buat aku lupa namaku sendiri. Lawan!”

Aku tidak menunggunya memutuskan, atau memiliki kesempatan untuk mengatakan kepadaku ia tidak tertarik pada monster keji yang tidak setia seperti aku. Aku mendekatkan tubuhku ke tubuhnya dan melumatkan bibirku ke bibirnya yang sedingin salju.

“Hati-hati, Sayang.” gumamnya saat aku menciumnya dengan ganas.

“Tidak,” geramku.

Dengan lembut Edward mendorong wajahku beberapa sentimeter dari wajahnya. “Kau tidak perlu membuktikan apa pun padaku.”

“Aku tidak berusaha membuktikan apa pun. Kau tadi bilang aku bisa memiliki bagian apa saja darimu yang kuinginkan. Bagian inilah yang kuinginkan. Aku menginginkan semuanya.” Aku mengalungkan kedua lenganku di lehernya dan berusaha keras menjangkau bibirnya. Edward menunduk membalas ciumanku. tapi bibirnya yang dingin ragu-ragu sementara ketidaksabaranku semakin menjadi-jadi. Tubuhku menunjukkan maksudku dengan jelas, membeberkan semuanya. Tak terelakkan, tangan Edward bergerak untuk menahanku.

“Mungkin ini bukan saat yang tepat untuk itu,” ia menyarankan, begitu tenangnya hingga membuatku marah.

“Kenapa tidak,” gerutuku. Tak ada gunanya melawan kalau Edward sudah memutuskan bersikap rasional, jadi kujatuhkan kedua lenganku.

“Pertama-tama, karena hawa memang dingin.” Edward mengulurkan tangan untuk menarik kantong tidur dari lantai; ia menyelubungkannya ke tubuhku.

“Salah,” sergahku. “Pertama, karena kau sangat bermoral untuk ukuran vampire.”

Edward terkekeh. “Baiklah, terserah kalau memang begitu menurutmu. Dingin adalah alasan kedua. Dan ketiga… well, kau memang benar-benar bau, Sayang.”

Edward mengernyitkan hidung.

Aku menghela napas.

“Keempat,” gumamnya, menundukkan wajahnya supaya ia bisa berbisik di telingaku. “Kita akan mencoba, Bella. Aku akan menepati janjiku. Tapi aku lebih suka kalau itu bukan sebagai reaksi terhadap Jacob Black.”

Aku mengernyit dan membenamkan wajahku di bahunya.

“dan kelima..”

“Panjang sekali daftarnya.” gerutuku.

Edward tertawa. “ya, tapi kau mau mendengarkan jalannya pertempuran atau tidak?”

Saat ia berbicara, Seth melolong tinggi di luar tenda.

Tubuhku serta-merta mengejang mendengarnya. Aku tidak sadar tangan kiriku mengepal. Kuku-kuku menusuk telapak tanganku yang diperban, sampai Edward dengan lembut meraih tanganku dan membuka jari-jariku.

“Semua akan baik-baik saja, Bella.” janjinya.”Pihak kita memiliki kelebihan dalam hal keahlian, latihan dan unsur kejutan. Sebentar lagi pertempuran akan selesai. Kalau aku benar-benar percaya, aku pasti sudah berada di sana sekarang, dan kau akan kutinggal di sini, dirantai pohon atau semacamnya.”

“Alice itu mungil sekali.” erangku.

Edward terkekeh.” mungkin itu akan menjadi masalah… kalau orang bisa menangkapnya.”

Seth mulai mendengking-dengking.

“Ada apa?” tuturku.

“Dia hanya marah karena terjebak di sini bersama kita. Dia tahu kawanan menyuruhnya tinggal di sini untuk melindunginya. Padahal dia ngiler ingin bergabung dengan mereka.”

Aku memberengut ke arah Seth.

“Para vampir baru sudah sampai ke ujung jejak, tipuan kita berhasil memancing mereka, Jasper memang genius dan karena mereka juga mencium bau yang lain di padang rumput, mereka memecah diri menjadi dua kelompok sekarang, tepat seperti yang dikatakan Alice,” bisik Edward, matanya menerawang jauh. “Sam membawa kita berputar untuk menghadapi kelompok penyerang itu.” ia begitu tekun mendengarkan hingga menggunakan kata ganti orang ketiga jamak untuk kawanan serigala.

Tiba-tiba ia menunduk menatapku. “Bernapaslah Bella.”

Susah payah aku berusaha melakukan perintahnya. Terdengar olehku napas berat Seth tepat di luar dinding tenda dan aku berusaha memperlambat laju paru-paruku, mengikuti tarikan napas Seth,agar tidak kehabisan napas.

“Kelompok pertama sekarang berada di lapangan. Kita bisa mendengar pertempurannya.”

Gigiku terkatup rapat.

Edward tertawa. “Kita bisa mendengar Emmet, dia sangat menikmati pertarungan ini.”

Aku menarik napas lagi, bersama Seth.

“Kelompok kedua sedang bersiap-siap, mereka tidak memperhatikan, mereka belum mendengar kita.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.