Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Sambil terkesiap Jacob mendaratkan kembali bibirnya ke bibirku, jari-jarinya meremas pinggangku dengan ganas.

Sentakan amarah membuat pengendalian diriku yang memang rapuh jadi kehilangan keseimbangan, respon Jacob yang kegirangan dan tidak terduga-duga membuat kendaliku lenyap entah kemana. Seandainya ia hanya menunjukkan respon penuh kemenangan, mungkin aku bisa menolaknya. Tapi justru kepolosan kegembiraannya yang meluap-luaplah yang meremukkan tekadku, melumpuhkannya. Otakku tak lagi terhubung dengan tubuhku, dan aku membalas ciumannya. Bertentangan dengan semua akal sehat, bibirku bergerak bersama bibirnya dengan cara-cara yang aneh dan membingungkan, yang belum pernah terjadi sebelumnya, karena aku tak perlu berhati-hati dengan Jacob, dan ia jelas tidak perlu berhatihati denganku.

Jari-jariku semakin erat mencengkeram rambutnya, tapi aku justru menariknya lebih dekat sekarang.

Jacob merajalela. Cahaya matahari yang menyilaukan mengubah kelopak mataku menjadi merah,dan warna itu cocok,benar-benar pas dengan gairah. Gairah ada di manamana. Aku tidak bisa melihat, mendengar atau merasakan hal lain yang bukan Jacob.

Sebagian kecil otakku yang masih waras meneriakkan berbagai pertanyaan padaku.

Mengapa aku tidak menghentikannya? Lebih parahnya lagi, mengapa aku bahkan tidak bisa menemukan dalam diriku keinginan untuk berhenti? Apa itu berarti aku tidak mau dia berhenti? Bahwa saat kedua tanganku mencengkeram bahunya, aku senang merasakan dada Jacob yang begitu bidang dan kokoh? Bahwa saat kedua tangannya menarikku terlalu erat dengan tubuhnya, aku tetap merasa itu belum cukup erat bagiku?

Pertanyaan-pertanyaan tolol, karena kau tahu jawabannya, selama ini aku membohongi diriku sendiri.

Jacob benar. Ternyata selama ini dia benar. Ia lebih dari sekedar teman biasa. Itulah sebabnya sungguh mustahil bagiku berpisah dengannya, karena ternyata aku mencintainya juga. Aku mencintainya, jauh lebih besar daripada seharusnya, meski masih belum mendekati cukup. Aku mencintainya, tapi itu tidak cukup mengubah apa pun, itu hanya cukup untuk semakin melukai hati kami berdua. Melukai hatinya lebih parah daripada yang pernah kulakukan.

Aku tidak peduli pada hal lain selain itu, selain kepedihan hati Jacob. Aku lebih pantas menerima kepedihan apa pun yang ditimbulkan perbuatan ini. Aku berharap, kepedihan itu dahsyat. Aku berharap aku akan benar-benar menderita.

Saat ini, rasanya seolah-olah kami satu tubuh. Kepedihan hati Jacob sejak dulu dan akan selalu menjadi kepedihan hatiku, jadi sekarang, kebahagiannya adalah kebahagiaanku juga. Aku juga merasa bahagia,meski kebahagiannya sekaligus juga merupakan kepedihan. Nyaris nyata, perasaan itu membakar kulitku seperti asam, siksaan perlahan-lahan.

Selama satu detik yang singkat namun seolah tak pernah berakhir, masa depan baru yang sepenuhnya berbeda membentang di balik kelopak mataku yang basah oleh air mata. Seakan-akan melihat melalui saringan ke dalam pikiran-pikiran Jacob,aku bisa melihat dengan tepat apa saja yang akan kutinggalkan, kehilangan apa yang takkan bisa diselamatkan pengetahuan baru ini. Aku bisa melihat Charlie dan Renee melebur dalam potongan-potongan gambar yang disusun menjadi satu bersama Billy, Sam dan LA push. Aku bisa melihat tahun-tahun berlalu dan memiliki arti seiring dengan berlalunya waktu, mengubahku. Aku bisa melihat serigala coklat merah besar yang kucintai, selalu menjadi perlindunganku setiap kali aku membutuhkannya. Sekilas, dalam satu detik yang singkat itu, aku melihat kepala dua anak kecil berambut hitam, berlari menjauhiku memasuki hutan yang familiar. Ketika mereka lenyap, mereka membawa seluruh penglihatan itu bersama mereka.

Dan kemudian,dengan sangat jelas, aku merasakan retakan di hatiku saat sebagian kecil darinya memaksa melepaskan diri.

Bibir Jacob sudah berhenti sebelum bibirku berhenti. Aku membuka mata dan Jacob menatapku dengan takjub dan senang.

“Aku harus pergi.”bisiknya.

“Jangan.”

Jacob tersenyum senang mendengar responku. “Aku tidak akan lama.” janjinya. “Tapi satu hal dulu..”

Ia membungkuk untuk menciumku lagi, dan tidak ada alasan bagiku untuk menolaknya. Apa gunanya? Ciuman kali ini berbeda. Tangan Jacob terasa halus di wajahku dan bibirnya yang hangat dan lembut agak raguragu. Singkat, namun sangat,sangat manis.

Kedua lengannya melingkariku, dan ia memelukku eraterat sambil berbisik di telingaku.

“Seharusnya itu menjadi ciuman pertama kita. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.”

Di dadanya, tempat ia tak bisa melihat, air mataku menggenang dan tumpah.

 

24. KEPUTUSAN KILAT

AKU berbaring telungkup di kantong tidur, menunggu keadilan menemukanku. Mungkin salju bakal longsor dan menimbunku di sini. Kalau saja benar begitu. Aku takkan pernah mau memandang wajahku lagi di cermin.

Tak ada suara yang memperingatkan aku. Tiba-tiba tangan Edward yang dingin sudah membelai-belai rambutku yang kusut. Aku bergidik penuh rasa bersalah saat ia menyentuhku.

“Kau baik-baik saja?” bisiknya, suaranya cemas.

“Tidak. Aku kepingin mati.”

“Itu takkan pernah terjadi. Aku takkan mengizinkannya.”

Aku mengerang dan berbisik, “Mungkin nanti kau akan berubah pikiran.”

“Mana Jacob?”

“Dia pergi bertempur,” gumamku sambil menunduk.

Jacob meninggalkan kemah dengan riang gembira, sambil menyerukan “Sebentar lagi aku kembali” berlari cepat menuju lapangan, sekujur tubuhnya sudah bergetar saat ia bersiap-siap berubah wujud.

Sekarang seluruh kawanan pasti sudah mengetahui semuanya. Seth Clearwater berjalan mondar-mandir di luar tenda, merupakan saksi intim kejatuhanku.

Edward terdiam lama sekali. “Oh,” ujarnya akhirnya.

Nadanya membuatku khawatir, longsoran saljuku tidak datang cukup cepat. Aku diam-diam meliriknya, dan benar saja, mata Edward nanar saat ia mendengarkan sesuatu yang aku lebih suka mati saja daripada itu didengar olehnya. Aku menundukkan wajahku kembali ke lantai.

Aku terperangah ketika Edward tertawa enggan.

“Padahal kupikir akulah yang bersaing secara kotor,” katanya dengan enggan menyatakan kekagumannya. “Dia membuatku terlihat seperti orang suci.” Tangannya membelai bagian pipiku yang terlihat. “Aku tidak marah padamu, sayang. Ternyata Jacob lebih cerdik daripada yang selama ini kukira. Meskipun aku berharap kau tidak melakukannya.”

“Edward,” aku berbisik ke bahan nilon yang kasar. “Aku..Aku..Aku..”

“Ssstt,” Edward mendiamkan, jari-jarinya menenangkan di pipiku. “Bukan itu maksudku. Dia toh tetap menciummu, walaupun kau tak terpedaya olehnya, dan sekarang aku tak punya alasan untuk meremukkan wajahnya. Padahal aku pasti akan sangat menikmatinya.”

“Terpedaya?” gumamku, nyaris tak bisa dimengerti.

“Bella, apakah kau benar-benar yakin dia semulia itu? bahwa dengan berbesar hati dia akan menyingkir untuk memberi kesempatan padaku?”

Perlahan-lahan aku mengangkat kepala untuk menatap matanya yang sabar. Ekspresinya lembut, sorot matanya penuh pengertian, bukan jijik seperti yang pantas kulihat.

“Ya, aku benar-benar mempercayainya,” bisiku, kemudian membuang muka. Tapi aku sama sekali tidak merasa amarah kepada Jacob karena memperdaya aku. Tak ada lagi ruang dalam diriku untuk menyimpan hal lain selain kebencian yang kurasakan terhadap diriku sendiri.

Lagi-lagi Edward tertawa lirih. “Kau benar-benar tidak pandai berbohong, jadi kau akan mempercayai orang yang paling tidak pandai berbohong sekalipun.”

“Kenapa kau tidak marah padaku?” bisikku. “Kenapa kau tidak membenci aku? Atau mungkin kau belum mendengar seluruh ceritanya?”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.