Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Itu tidak akan berpengaruh apa-apa Jake. Keliru kalau aku tetap bersamamu padahal kita menginginkan hal berbeda. Keadaan tidak akan menjadi semakin baik. Aku hanya akan terus menerus menyakitimu. Aku tidak mau menyakitimu lagi. Aku tidak suka.” Suaraku pecah.

Jacob mendesah, “Hentikan. Kau tidak perlu berkata apa-apa lagi. Aku mengerti.”

Aku ingin mengatakan padanya betapa aku sangat merindukannya, tapi kuurungkan niatku. Itu juga tidak akan berpengaruh apa-apa.

Jacob berdiri diam sesaat, memandangi tanah, dan dengan susah payah aku melawan dorongan untuk mendekat dan memeluknya. Menghiburnya.

Kemudian Jacob mengangkat kepala.

“Well, bukan kau satu-satunya yang mampu mengorbankan diri sendiri,” katanya, suaranya lebih tegar. “Permainan ini bisa dimainkan dua orang.”

“Apa?”

“Aku sendiri juga sudah bertingkah buruk. Aku membuat keadaan jadi jauh lebih sulit daripada seharusnya. Seharusnya aku bisa menyerah dengan penuh wibawa sejak awal. Tapi aku menyakiti hatimu juga.”

“Ini salahku.”

“Aku tidak akan membiarkanmu menanggung semua kesalahan, Bella. Atau menerima semua pujian. Aku tahu bagaimana caranya menebus kesalahanku sendiri.”

“Apa maksudmu?” tuntutku. Kilatan matanya yang tibatiba berkelebat membuatku ngeri.

Jacob menengadah ke matahari kemudian tersenyum padaku. “Sebentar lagi akan terjadi pertarungan sengit di sana. Kurasa tidak akan sulit mengenyahkan diriku dari gambar keseluruhan.”

Kata-katanya memasuki otakku, perlahan-lahan, satu demi satu, dan aku tak bisa bernapas. Meskipun aku memang sudah berniat mengenyahkan Jacob sepenuhnya dari hidupku, aku tidak menyadari hingga detik itu, berapa dalamnya pisau itu akan menusuk untuk bisa melakukannya.

“Oh, tidak, Jake! Tidak, tidak, tidak, tidak,” aku tercekat penuh kengerian. “Tidak, Jake, tidak. Kumohon, jangan.” Lututku mulai gemetar.

“Apa bedanya, Bella? Ini hanya akan membuat keadaan jadi lebih menyenangkan bagi semua orang. Kau bahkan tidak perlu pindah.”

“Tidak!” Suaraku semakin keras. “Tidak, Jacob! Aku tidak akan membiarkanmu melakukannya!”

“Bagaimana kau akan menghentikan aku?” ejeknya enteng, tersenyum untuk memperhalus nada mengejek dalam suaranya tadi.

“Jacob, kumohon, tinggallah bersamaku,” Kalau saja aku bisa bergerak, aku pasti sudah berlutut saat itu juga.

“Selama lima belas menit sementara aku melewatkan pertempuran yang seru? supaya kemudian kau bisa melarikan diri dariku begitu kau merasa aku sudah aman lagi? kau pasti bercanda.”

“Aku tidak akan pergi. Aku berubah pikiran. Kita akan mencari jalan lain Jacob. Selalu ada yang bisa dikompromikan. Jangan pergi!”

“Kau bohong.”

“Tidak. Kau tahu aku tidak pandai berbohong. Tatap mataku. Aku akan tinggal kalau kau juga tinggal.”

Wajah Jacob mengeras. “Dan aku bisa menjadi bestmanmu saat kau menikah nanti?”

Baru beberapa saat kemudian aku bisa bicara,tapi yang bisa kuucapkan hanyalah. “kumohon.”

“Sudah kukira,” ucap Jacob, wajahnya tenang kembali, kecuali sorot berapi-api di matanya.

“Aku mencintaimu Bella,” bisiknya. “Aku mencintaimu Jacob,” bisikku parau. Jacob tersenyum. “Aku lebih tahu itu daripada kau.” Ia berbalik dan berjalan menjauh. “Apa saja,” seruku memanggilnya, suaraku tercekik.

“Apa pun yang kau inginkan Jacob. Tapi jangan lakukan ini!”

Jacob berhenti,perlahan-lahan berbalik.

“Aku tidak yakin kau bersungguh-sungguh dengan perkataanmu itu.”

“Jangan pergi,” aku memohon.

Jacob menggeleng. “Tidak aku akan tetap pergi.” Ia terdiam sejenak, seolah-olah memutuskan sesuatu. “Tapi aku bisa menyerahkan kepada takdir.”

“Apa maksudmu?” tanyaku dengan suara tercekat.

“Aku tidak harus melakukannya secara sengaja, aku akan tetap melakukan yang terbaik bagi kawananku dan membiarkan apa yang terjadi,terjadi.” Jacob mengangkat bahu. “Kalau kau bisa meyakinkan aku, kau benar-benar ingin aku kembali, lebih daripada kau ingin melakukan hal

yang tidak egois.”

“Bagaimana caranya?” tanyaku.

“Kau bisa memintaku,” ia mengusulkan.

“Kembalilah,” bisikku. Bagaimana mungkin ia bisa

meragukan bahwa aku bersungguh-sungguh?

Jacob menggeleng. kembali tersenyum. “Bukan begitu maksudku.”

Baru sedetik kemudian aku menangkap maksudnya, dan selama itu Jacob menatapku dengan ekspresi menang, begitu yakin akan reaksiku. Meski demikian, begitu kesadaran itu menghantamku, aku langsung mengucapkan kata-kata itu tanpa sempat memikirkan akibatnya.

“Maukah kau menciumku, Jacob?”

Matanya membelalak kaget, lalu menyipit curiga. “Kau hanya menggertak.”

“Cium aku, Jacob. Cium aku, lalu kembalilah.”

Jacob ragu-ragu di bawah bayangan, berperang dengan dirinya sendiri. Ia separo berbalik ke arah barat, tubuhnya berbalik menjauhiku sementara kakinya tetap terpaku di tempatnya berdiri. Sambil masih memandang ke arah lain, ia maju selangkah dengan sikap ragu-ragu, lalu satu lagi. Ia menggerakkan wajahnya untuk memandangku, sorot matanya ragu.

Aku balas menatapnya. Entah bagaimana ekspresi wajahku saat itu.

Jacob bertumpu pada tumitnya dan bergoyang maju mundur, lalu menerjang maju, menghampiriku hanya dalam tiga langkah panjang-panjang.

Aku tahu ia pasti akan mengambil kesempatan dari situasi ini. Sudah kuduga. Aku berdiam tak bergerak, mataku tertutup, jari-jariku menekuk dan membentuk kepalan di kedua sisi tubuhku, sementara kedua tangan Jacob merengkuh wajahku dan bibirnya menyentuh bibirku dengan semangat yang tak jauh dari kasar.

Bisa kurasakan kemarahannya saat bibirnya mendapatkan penolakan pasifku. Satu tangannya meraih tengkukku lalu meremas rambutku. Tangan yang lain menyambar pundakku dengan kasar, mengguncang tubuhku, lalu menarikku kepadanya. Tangannya terus meluncur menuruni lenganku, sampai ke pinggang. Lalu melingkarkan tanganku ke lehernya. Kubiarkan tanganku di sana, masih mengepal erat, tak yakin sampai sejauh mana aku bisa bertindak supaya ia tetap hidup. Sementara itu bibirnya, yang lembut dan hangat, berusaha memaksakan respons dariku.

Begitu Jacob yakin aku takkan menurunkan tanganku, ia membebaskan pergelangan tanganku, tangannya turun ke pinggangku. Tangannya yang panas membara menyentuh punggungku, dan ia menarikku lebih dekat.

Sejenak bibirnya berhenti menciumku, tapi aku tahu ia belum selesai. Bibirnya menelusuri garis rahangku, kemudian kedua lengannya menjelajahi leherku. Ia menggeraikan rambutku, meraih tanganku yang lain untuk dikalungkan ke lehernya seperti tadi.

Kemudian kedua lengannya melingkari pinggangku, dan bibirnya menempel di telingaku.

“Kau bisa melakukannya lebih baik dari ini, Bella,” bisiknya parau. “Kau terlalu banyak berpikir.”

Aku gemetar saat merasakan giginya menyapu daun telingaku.

“Ya, begitu.” bisiknya. “Sekali ini, biarkan dirimu merasakan apa yang sebenarnya kurasakan.”

Aku menggeleng seperti robot sampai sebelah tangan Jacob kembali menyusup ke rambutnya dan menghentikanku.

Suaranya berubah masam. “Kau yakin ingin aku kembali? atau kau benar-benar ingin aku mati?

Amarah mengguncang tubuhku seperti cambuk setelah pukulan yang dahsyat. Sungguh keterlaluan, ia tidak bertarung dengan adil.

Karena lenganku masih melingkari lehernya,aku pun menjambak rambutnya dengan kedua tangan, tak memedulikan nyeri hebat yang kurasakan di tangan kananku, dan memberontak, berusaha menarik wajahku dari wajahnya.

Tapi Jacob salah mengerti.

Ia terlalu kuat menyadari kedua tanganku,yang berusaha menjambak rambutnya dari akar-akarnya, dimaksudkan untuk menyakitinya. Alih-alih marah, ia malah mengira itu karena aku bergairah. Dikiranya aku akhirnya memberi respon.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.