Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Aku harus bisa mengatasi perasaan tidak rasional bahwa Jacob harus ada dalam hidupku. Ia tak mungkin menjadi milikku, tidak bisa menjadi Jacob-ku, karena aku milik orang lain.

Sambil menyeret kaki, aku berjalan lambat-lambat kembali ke lapangan kecil itu. Begitu aku muncul di tempat terbuka, mengerjap-ngerjap menahan cahaya matahari yang menyilaukan, aku melirik Seth sekilas – ia belum beranjak dari tempatnya meringkuk di gundukan daun-daun cemara

– kemudian membuang muka, menghindari matanya.

Bisa kurasakan rambutku awut-awutan, berantakan tidak karuan seperti rambut ular Medusa. Aku menyusupkan Jari-jariku ke rambut dan mencoba merapikannya, tapi langsung menyerah. Lagi pula,siapa yang peduli bagaimana penampilanku?

Aku menyambar termos yang tergantung di samping pintu tenda dan mengguncangnya. Terdengar bunyi air berkecipak di dalamnya, jadi aku pun membuka tutup termos dan minum seteguk, membilas mulutku dengan air dingin. Di sekitar sini ada makanan, tapi aku tidak terlalu lapar sehingga ingin mencarinya. Aku mulai mondarmandir di ruang terbuka kecil yang terang itu, merasakan mata Seth mengikuti setiap gerakanku. Karena aku tidak mau memandanginya, dalam benakku ia kembali menjadi anak laki-laki, bukannya serigala raksasa. Mirip sekali dengan Jacob masih lebih muda.

Aku ingin meminta Seth menggonggong atau memberi semacam isyarat apakah Jacob akan kembali, tapi aku mengurungkan niatku itu. Tidak penting apakah Jacob kembali. Justru lebih mudah jika ia tak kembali. Kalau saja aku bisa memanggil Edward.

Saat itulah Seth melenguh, kemudian berdiri.

“Ada apa?” tanyaku bodoh

Seth mengabaikanku, berlari-lari kecil ke pinggiran hutan dan mengarahkan hidungnya ke barat. Ia mulai mendengking-dengking.

“Apakah ini tentang yang lain-lain, Seth?” desakku. “Di lapangan?”

Seth menoleh padaku dan menggonggong pelan satu kali, kemudian kembali mengarahkan hidungnya dengan sikap waspada ke arah barat. Telinganya terlipat ke belakang dan ia mendengking lagi.

Kenapa aku begitu tolol? Apa sih yang merasuk pikiranku hingga aku membiarkan Edward pergi?

Bagaimana aku bisa mengetahui apa yang terjadi? aku kan tidak bisa berbahasa serigala.

Keringat dingin mulai membasahi punggungku. Bagaimana kalau ternyata mereka kehabisan waktu? bagaimana kalau ternyata Jacob dan Edward berada terlalu dekat dengan medan pertempuran? Bagaimana kalau Edward memutuskan bergabung?

Perasaan takut mengaduk-aduk isi perutku. Bagaimana kalau kegelisahan Seth tak ada hubungannya dengan kejadian di lapangan, dan gonggongannya tadi merupakan penyangkalan? Bagaimana kalau Jacob dan Edward berkelahi, nun jauh di hutan sana? Mereka tidak mungkin berbuat, begitu?

Dengan perasaan yakin yang mendadak muncul dan membuat sekujur tubuhku dingin karena ngeri, aku menyadari mereka mungkin saja berbuat begitu – kalau ada yang salah bicara. Ingatanku melayang ke ketegangan di tenda pagi tadi, dan dalam hati aku penasaran apakah aku terlalu meremehkan betapa nyarisnya peristiwa tadi menjurus kepada perkelahian.

Mungkin aku memang pantas kehilangan mereka berdua. Es itu mencengkeram jantungku.

Sebelum aku ambruk karena perasaan takut, Seth menggeram pelan, jauh di dalam dadanya, kemudian berpaling dari tempatnya berdiri mengawasi dan melenggang kembali ke tempat istirahatnya. Tindakannya itu membuatku tenang, sekaligus jengkel. Memangnya ia tidak bisa menggoreskan pesan di tanah atau semacamnya, ya?

Berjalan mondar-mandir mulai membuatku berkeringat di balik semua lapisan baju tebal ini. Kulempar jaketku ke

tenda kemudian berjalan kembali menyusuri Jalan setapak menuju celah sempit disela-sela pepohonan.

Mendadak Seth melompat berdiri, bulu-bulu ditekuknya berdiri kaku. Aku memandang berkeliling, tapi tidak melihat apa-apa. Kalau Seth tidak berhenti bertingkah seperti itu, bisa-bisa kulempar ia dengan buah cemara.

Seth menggeram, rendah dan bernada memperingatkan, menyelinap kembali ke arah lingkaran barat, dan aku berpikir ulang tentang ketidaksabaranku.

“Ini hanya kami, Seth,” seru Jacob dari kejauhan.

Aku mencoba menjelaskan kepada diriku sendiri kenapa jantungku mendadak berlari kencang begitu mendengar suaranya. Karena takut memikirkan apa yang harus kulakukan sekarang, itu saja. Aku tidak boleh membiarkan diriku lega karena ia kembali. Itu justru tidak akan membantu.

Edward yang lebih dulu muncul, wajahnya kosong dan datar. Begitu ia melangkah keluar dari bayang-bayang, matahari berkilauan di kulitnya bagaikan di atas permukaan salju. Seth berlari menyongsongnya, menatap matanya lekat-lekat. Edward mengangguk lamban, dan kekhawatiran membuat keningnya berkerut.

“Ya, hanya itu yang kita butuhkan,” gumamnya pada diri sendiri sebelum berbicara kepada serigala besar itu. “Kurasa tidak seharusnya kita terkejut. Tapi waktunya akan sangat dekat. Tolong suruh Sam meminta Alice agar berusaha memprediksikan waktunya dengan lebih tepat.”

Seth menundukkan kepala satu kali, dan aku berharap kalau saja aku bisa menggeram. Sekarang ia baru mengangguk. Aku memalingkan kepala, jengkel, dan menyadari Jacob berdiri di sana.

Jacob berdiri memunggungiku, menghadap ke arah datangnya tadi. Dengan kecut aku menunggunya berbalik.

“Bella,” bisik Edward, tiba-tiba berdiri di sebelahku. ia menunduk menatapku dengan sorot prihatin terpancar dari matanya. Ia sangat berbesar hati. Aku tidak pantas mendapatkan orang sebaik dia.

“Ada sedikit masalah,” ia memberitahuku, dengan sangat hati-hati berusaha memperdengarkan nada tenang. “Aku akan membawa Seth pergi sebentar dan berusaha membereskannya. Aku tidak akan pergi jauh, tapi aku juga tidak akan mendengarkan. Aku tahu kau tidak mau ada yang menonton, tak peduli jalan mana yang ingin kau ambil.”

Hanya di bagian terakhir terdengar secercah nada pedih dalam suaranya.

Aku tidak boleh melukai hatinya lagi. Itu misiku dalam hidup ini. Jangan pernah lagi aku menjadi penyebab munculnya sorot kepedihan itu di matanya.

Aku kelewat kalut bahkan untuk bertanya, masalah baru apa yang ia maksud. Aku tidak membutuhkan apa-apa lagi sekarang.

“Cepatlah kembali,” bisikku.

Edward mengecup bibirku sekilas, kemudian lenyap di balik hutan bersama Seth di sampingnya.

Jacob masih berada di bawah bayang-bayang pepohonan,aku tidak bisa melihat ekspresinya dengan jelas.

“Aku sedang terburu-buru, Bella,” kata Jacob, suaranya muram. “Bagaimana kalau langsung saja kau utarakan maksudmu.”

Aku menelan ludah, tenggorokanku mendadak kering hingga aku tak yakin suaraku bakal keluar.

“Sampaikan saja maksudmu, dan segera tuntaskan masalah ini.”

Aku menarik napas dalam-dalam.

“Aku minta maaf karena aku jahat sekali,” bisikku. “Maafkan aku karena sikapku sangat egois. Kalau saja aku tidak pernah berjumpa denganmu, sehingga aku tidak bisa menyakiti hatimu seperti yang telah kulakukan. Aku tidak akan melakukannya lagi,aku janji. Aku akan pergi sejauh mungkin darimu. Aku akan pindah ke luar negara bagian. Kau tidak akan pernah melihatku lagi.”

“Itu bukan permintaan maaf,” sergah Jacob pahit.

Aku tak mampu membuat suaraku terdengar lebih keras daripada bisikan. “Katakan padaku bagaimana bisa memperbaikinya.”

“Bagaimana kalau aku tidak ingin kau pergi? Bagaimana kalau aku lebih suka kau tetap di sini, egois atau tidak? apakah aku tidak berhak dimintai pendapat, kalau kau memang berusaha memperbaiki keadaan denganku?”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.