Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Kenapa?”

Sebelum Edward bisa menjawab,kesunyian di luar tenda terkoyak oleh lolongan pedih yang memekakkan telinga. Suara itu memantul di permukaan tebing gunung yang telanjang dan memenuhi udara hingga terasa seakan-akan lolongan itu datang dari segala arah.

Lolongan itu mengoyak pikiranku seperti tornado, terdengar aneh sekaligus familier. Aneh karena belum pernah mendengar lengkingan tersiksa sedahsyat itu. Familier karena aku langsung mengenali suara itu, aku mengenali suara itu memahami artinya, sama sempurnanya seperti kalau aku sendiri yang mengucapkannya. Tidak ada bedanya jika Jacob tidak sedang dalam wujud manusia saat melolongkannya. Aku tidak membutuhkan terjemahan.

Jacob berada di dekat sini. Jacob mendengar setiap kata yang kami ucapkan. Jacob sangat menderita.

Lolongan itu terputus dan berubah jadi isak tertahan dan sejurus kemudian sunyi lagi.

Aku tidak mendengar kepergiannya yang sunyi, tapi bisa merasakannya,aku bisa merasakan kesunyian yang kukira sudah kurasakan tadi, ruang kosong yang ia tinggalkan.

“Karena pemanas ruanganmu sudah tidak tahan lagi.” Edward menjawab pelan. “Gencatan senjata berakhir,” imbuhnya, begitu pelan hingga aku tak bisa meyakini apa yang sesungguhnya ia katakan.

“Jacob mendengarkan pembicaraan kita tadi,” bisikku. Itu bukan pertanyaan.

“Benar.”

“Kau sudah tahu.”

“Ya.”

Kupandangi dia, mataku nanar.

“Aku tidak pernah berjanji akan bertarung secara adil,” Edward mengingatkanku dengan suara pelan. “Dan dia berhak tahu.”

Kepalaku terkulai ke tangan.

“Kau marah padaku?” tanyanya.

“Bukan padamu,” bisikku. “Aku muak Pada diriku

sediri.”

“Jangan siksa dirimu,” Edward memohon.

“Ya,” aku membenarkan dengan getir. “Seharusnya aku

menyimpan energiku untuk semakin menyiksa Jacob. Jangan sampai ada bagian dirinya yang tidak tersakiti.”

“Dia tahu risikonya melakukan hal itu.”

“Memangnya kaupikir itu penting?” Aku mengerjapngerjapkan mata, menahan agar air mataku tidak tumpah walaupun mudah mendengarnya dalam suaraku. “apakah kaupikir aku peduli adil atau tidak jika Jacob sudah mendapat cukup peringatan?Aku menyakiti dia. Apa pun yang kulakukan, aku menyakitinya lagi.” Suaraku semakin keras,semakin histeris.

“Jahat sekali aku ini. ”

Edward memelukku erat-erat. “Tidak, kau tidak jahat.”

“Iya, aku jahat! Apa yang salah denganku?”Aku memberontak dalam pelukannya, dan Edward mengendurkan pelukannya. “Aku harus pergi mencarinya.”

“Bella, dia sudah berkilo-kilometer jauhnya dari sini, dan hawa dingin sekali.”

“Aku tidak peduli. Aku tidak bisa hanya duduk-duduk saja di sini.” Aku mengguncangkan bahu, melepaskan jaket Jacob yang menyelubungiku, menjejalkan kaki ke dalam sepatu bot, lalu merangkak kaku ke pintu; kakiku kebas. “Aku harus… aku harus…” Aku tidak tahu bagaimana menyudahi kalimat itu, tidak tahu harus melakukan apa, tapi aku tetap membuka ritsleting pintu, lalu melangkah ke luar, ke pagi yang cemerlang dan dingin.

Tidak seperti perkiraanku, ternyata salju tidak terlalu banyak walaupun badai mengamuk begitu hebat semalam. Mungkin itu karena salju tersapu angin, bukannya meleleh karena cahaya matahari yang sekarang bersinar rendah di sebelah tenggara, memantulkan cahayanya di salju yang masih bertaban dan menyilaukan mataku yang belum terbiasa. Udara masih dingin menggigit, tapi diam tak bergerak, dan perlahan-lahan mulai terasa lebih hangat seiring dengan semakin tingginya matahari.

Seth Clearwater meringkuk di atas onggokan daun cemara kering, di bawah naungan pohon cemara berdaun lebar. Bulunya yang cokelat tanah nyaris tak terlihat di atas gundukan daun-daun kering, tapi aku bisa melihat salju yang cemerlang memantul di matanya yang terbuka. Seth memandangiku dengan sikap yang dalam bayanganku merupakan ekspresi menuduh.

Aku tahu Edward mengikutiku ketika aku berjalan tersaruk-tersaruk menuju pepohonan. Aku tidak bisa mendengarnya, tapi cahaya matahari terpantul di kulitnya dalam warna-warna pelangi berkilauan yang menari-nari di depanku. Edward tidak menyusulku sampai aku beberapa langkah memasuki bayang-bayang hutan.

Tangannya menangkap pergelangan tangan kiriku. Ia tak menggubris waktu aku memberontak, mencoba melepaskan tanganku dari pegangannya.

“Kau tidak bisa menyusulnya. Tidak hari ini. Sekarang saatnya hampir tiba. Kau hanya akan menyusahkan semua orang kalau tersesat.”

Aku memuntir tanganku,menariknya tanpa hasil.

“Maafkan aku Bella,” Bisik Edward. “Aku menyesal telah melakukan hal itu tadi.”

“Kau tidak melakukan apa-apa. Itu salahku. Akulah yang melakukannya. Aku selalu saja salah melakukan apa pun. Seharusnya aku bisa… waktu dia… seharusnya aku tidak… aku… aku..,” aku tersedu-sedu.

“Bella, Bella.”

Edward memelukku, dan air mataku membasahi kemejanya.

“seharusnya aku… mengatakan padanya… aku seharusnya mengatakan… apa? Apa yang bisa kulakukan untuk memperbaiki keadaan? Seharusnya dia tidak…mengetahuinya dengan cara seperti ini.”

“Kau mau aku berusaha membawanya kembali, supaya kau bisa berbicara dengannya? masih ada sedikit waktu,” gumam Edward, memendam kesedihan dalam suaranya.

Aku mengangguk di dadanya, takut melihat wajahnya.

“Tunggulah dekat tenda. Sebentar lagi aku kembali.”

Kedua lengan Edward memelukku lenyap. Ia pergi begitu cepat, saking cepatnya hingga waktu aku mendongak melihatnya,ia sudah tidak ada. Aku sendirian.

Tangisan baru menyeruak dari dadaku. Aku melukai hati semua orang hari ini. Adakah yang kusentuh tidak rusak?

Entah mengapa aku baru merasa terpukul sekarang. Padahal aku sudah tahu suatu saat ini pasti akan terjadi. Tapi Jacob belum pernah bereaksi sehebat itu,kehilangan kepercayaan dirinya dan menunjukkan betapa dalam kepedihan hatinya. Suara lolongan pedihnya masih menyayat hatiku,jauh di dalam dadaku. Tepat di sisi kepedihan lain. Kepedihan karena merasakan kesedihan Jacob. Kepedihan karena melukai hati Edward juga. Karena tidak mampu melihat Jacob pergi dengan tegar, tahu itulah hal yang benar,satu-satunya jalan.

Aku egois,aku suka menyakiti. Aku melukai hati orang yang kucintai.

Aku seperti Cathy, seperti Wuthering Heights, hanya saja pilihan-pilihanku jauh lebih baik daripadanya, tak ada yang jahat,tak ada yang lemah. Tapi aku malah menangisi, tidak melakukan hal yang produktif untuk memperbaiki keadaan. Persis seperti Cathy.

Aku tak boleh lagi membiarkan apa yang melukai hatiku mempengaruhi keputusanku lagi. Memang sepele,dan sudah sangat terlambat, tapi aku harus melakukan hal yang besar sekarang. Mungkin segalanya memang telah berakhir bagiku. Mungkin Edward tidak bisa membawanya kembali. Kalau benar begitu,aku harus menerimanya dan melanjutkan hidupku. Edward takkan pernah melihatku meneteskan air mata lagi untuk Jacob Black. Tidak akan ada lagi air mata. Kuseka sisa- sisa air mataku yang terakhir dengan Jari-Jari yang dingin.

Tapi kalau Edward benar-benar kembali bersama Jacob, inilah saatnya. Aku harus memintanya pergi dan jangan kembali lagi.

Kenapa sulit sekali mengatakannya? Jauh lebih sulit dari pada mengucapkan selamat tinggal kepada teman-temanku yang lain, kepada Angela, kepada Mike? Kenapa itu terasa menyakitkan? Ini tidak benar. Seharusnya itu tidak membuatku sedih. Aku telah memiliki apa yang kuinginkan. Aku tidak bisa memiliki kedua-duanya, karena Jacob tidak mau hanya menjadi temanku. Sekarang saatnya berhenti mengharapkannya. Berapa manusia bisa menjadi sangat serakah!

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.