Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Itukan idemu,” tukas Edward impasif.

Jacob meringkuk, matanya sudah terpejam. Ia menguap. “Aku tidak bilang itu bukan malam terbaik yang pernah kurasakan. Hanya saja, aku kurang tidur. Kusangka Bella tidak bakal berhenti mengoceh.”

Aku meringis, bertanya-tanya dalam hati, apa kira-kira yang keluar dari mulutku sementara tertidur.

Kemungkinannya mengerikan.

“Aku senang kau menikmatinya,” gumam Edward.

Mata Jacob yang gelap menggeletar terbuka.

“Memangnya kau tidak?” tanyanya, nadanya puas.

“Itu bukan malam terburuk yang pernah kualami seumur hidupku.”

“Apakah masuk dalam sepuluh besar?” tanya Jacob

dengan perasaan senang bernada menantang.

“Mungkin.”

Jacob tersenyum dan memejamkan mata.

“Tapi,” sambung Edward, “seandainya aku bisa berada dalam posisimu semalam, itu tidak akan masuk sepuluh besar malam terbaik yang pernah kurasakan seumur hidupku. Mimpikan itu.”

Mata Jacob terbuka dengan garang. Ia duduk dengan kaku, bahunya mengejang.

“Tahukah kau? Kurasa di dalam sini terlalu sesak.”

“Aku setuju sekali.”

Kusikut Edward, bisa-bisa sikuku memar gara-gara itu.

“Nanti saja kulanjutkan tidurku, kalau begitu,” Jacob mengernyit. “Aku toh memang harus bicara dengan Sam.”

Jacob berguling untuk berlutut dan menyambar ritsleting pintu.

Perasaan sedih menjalari tubuhku dan diam di daerah perut saat aku mendadak menyadari bisa jadi inilah kali terakhir aku bisa melihatnya. Ia akan kembali kepada Sam, kembali bertempur melawan segerombolan vampir baru yang haus darah.

“Jake, tunggu..!” Aku mengulurkan tangan menggapainya, tanganku meluncur menuruni lengannya.

Jake menyentakkan lengannya sebelum jari-jariku sempat memegangnya.

“Kumohon Jake? maukah kau tetap tinggal di sini?”

“Tidak!”

Kata itu keras dan dingin. Aku tahu wajahku memancarkan kesedihan, karena Jacob menghembuskan napas dan senyum separuh melembutkan ekspresinya.

“Jangan khawatirkan aku Bells. Aku akan baik-baik saja, seperti biasa,” Ia memaksa dirinya tertawa. “lagi pula, kau kira aku akan membiarkan Seth pergi dan menggantikan tempatku, menikmati segala keasyikan di sana dan mencuri semua pujian? yang benar saja,” Jacob mendengus.

“Berhati-hatilah..”

Jacob merangsek ke luar tenda sebelum aku bisa menyelesaikan kata-kataku.

“Tenanglah Bella,” aku mendengar gumamannya saat mengancingkan kembali ristleting tenda.

Aku mencoba mendengarkan suara langkah-langkah kakinya menjauh,namun suasana tetap sunyi. Tak da ada lagi angin. Aku bisa mendengar nyanyian burung pagi nun

jauh di gunung sana,tapi selain itu,tidak ada suara apa-apa. Jacob sekarang bisa bergerak tanpa suara.

Aku meringkuk di dalam mantelku,dan bersandar di bahu Edward. Kami berdiam diri beberapa saat.

“Berapa lama lagi?” tanyaku.

“Kata Alice kepada Sam, kira-kira satu jam lagi,” jawab Edward, lirih dan muram.

“Kita tetap bersama. Apa pun yang terjadi.”

“Apa pun yang terjadi,” Edward sependapat, matanya kaku.

“Aku tahu,” ujarku “Aku juga takut memikirkan mereka.”

“Mereka tahu bagaimana harus menjaga diri.” Edward meyakinkan aku,sengaja membuat nada suaranya terdengar enteng. “Aku hanya tidak suka tidak bisa ikut dalam keasyikan.”

Lagi-lagi kata asyik. Cuping hidungku kembang kempis.

Edward memeluk bahuku. “Jangan khawatir,” ia

menyemangati, kemudian mengecup keningku.

Seolah-olah aku bisa tidak khawatir. “Tentu, tentu.”

“Kau mau aku mengalihkan perhatianmu?” Edward

mengembuskan napas, melarikan jari-jarinya yang dingin di sepanjang tulang pipiku.

Aku bergidik tanpa sengaja; pagi masih dingin membeku.

“Mungkin tidak sekarang,” Edward menjawab pertanyaannya sendiri, menarik kembali tangannya.

“Banyak cara lain yang bisa mengalihkan perhatianku.”

“Apa yang kauinginkan?”

“Kau bisa menceritakan padaku sepuluh malam terbaikmu,” aku mengusulkan. “Aku ingin tahu.”

Edward tertawa. “Coba tebak.”

Aku menggeleng. “Ada terlalu banyak malam yang tidak kuketahui. Satu abad penuh.”

“Akan kupersempit untukmu. pokoknya, semua malam terbaikku sejak bertemu denganmu.”

“Sungguh?”

“Ya, sungguh, dan marginnya pun cukup lebar.”

Aku berpikir sebentar. “Aku hanya bisa berpikir tentang malam-malam terbaikku.” Aku mengakui.

“Bisa jadi sama,” Edward menyemangati.

“Well, mungkin saat malam pertama itu. Pertama kalinya kau menginap di rumahku.”

“Ya, itu juga salah satu malam terbaikku. Tentu saja,bagian favoritku adalah saat kau tertidur.”

“Ya benar,” aku mengingat-ingat. “Malam itu juga aku berbicara dalam tidurku.”

“Ya.” Edward membenarkan.

Wajahku memanas saat aku bertanya-tanya dalam hati, apa saja yang kuocehkan saat tertidur dalam pelukan Jacob semalam. Aku tidak ingat bermimpi tentang apa semalam, atau apakah aku bermimpi, jadi tidak ada yang bisa membantu sama sekali.

“Aku ngomong apa saja semalam?” bisikku, lebih pelan daripada sebelumnya.

Bukannya menjawab,Edward malah mengangkat bahu dan aku meringis.

“Separah itukah?” “Tidak ada yang terlalu parah.” Edward mendesah. “Ayolah ceritakan padaku.” “Kebanyakan kau hanya menyebut namaku, seperti

biasa.”

“Itu kan tidak terlalu parah,” aku setuju dengan sikap hati-hati.

“Tapi lama-lama kau mulai bergumam tidak jelas tentang “Jacob, Jacobku.” Aku bisa mendengar nada terluka dalam suara Edward, bahkan saat ia berbisik. “Jacobmu girang bukan main mendengarnya.”

Kujulurkan leherku, berusaha menempelkan bibirku ke tepi rahangnya. Aku tidak bisa menatap matanya. Edward menengadah menatap langit-langit tenda.

“Maaf,” gumamku.”Itu hanya caraku membuat

perbedaan.”

“Membuat perbedaan?”

“Antara Dr.Jekyll dan Mr.Hyde. Antara Jacob yang

kusukai dan yang membuatku jengkel setengah mati,” aku menjelaskan.

“Masuk akal,” Kesedihan Edward terdengar sedikit mereda.

“Apa lagi malam terbaikmu?”

“Terbang pulang dari Italia.”

Kening Edward berkerut.

“Memangnya itu tidak termasuk malam terbaikmu?”

“Tidak, sebenarnya itu memang termasuk salah satu malam terbaikku, tapi aku heran itu ada dalam daftarmu.

Bukankah saat itu kau mengira aku hanya bersikap seperti itu karena merasa bersalah padamu, dan bahwa aku akan kabur begitu pintu pesawat dibuka?”

“Benar,” aku tersenyum. “Tapi, bagaimanapun, kau ada di sana.”

Edward mengecup rambutku. “Kau mencintaiku lebih dari yang pantas kuterima.”

Aku tertawa mendengar pernyataannya yang konyol itu.

“Berikutnya, adalah malam setelah kepulangan kita dari Italia,” aku melanjutkan.

“Ya, itu juga masuk dalam daftarku. Kau lucu sekali waktu itu.”

“Lucu?” sergahku.

“Aku tidak sadar mimpimu benar-benar nyata. Butuh waktu lama sekali bagiku untuk meyakinkanmu bahwa kau sudah bangun.”

“Aku masih belum yakin,” gumamku. “Sejak dulu kau memang lebih menyerupai mimpi ketimbang kenyataan. Sekarang ceritakan padaku salah satu malam terbaikmu. Apa yang sudah kusebutkan tadi salah satunya menduduki tempat pertama?”

“Tidak, yang menduduki tempat pertama adalah pada malam lalu, waktu kau akhirnya setuju menikah denganku.”

Aku mengernyit.

“Itu tidak masuk daftarmu?”

Aku mengenang lagi bagaimana Edward menciumku, konsesi yang kuperoleh, dan berubah pikiran. “Ya… masuk. Tapi dengan beberapa syarat. Aku tidak mengerti kenapa itu sangat penting bagimu. Kau toh sudah memilikiku selamanya.”

“Seratus tahun dari sekarang, kalau cara berpikirmu sudah lebih matang sehingga bisa menghargai jawabannya, aku akan menjelaskannya padamu.”

“Aku akan mengingatkanmu untuk menjelaskan, seratus tahun lagi.”

“Apakah kau sudah merasa cukup hangat?” Edward tibatiba bertanya.

“Aku baik-baik saja,” jawabku meyakinkan Edward.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.