Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Jacob membisikkan tawa. “Aku lebih suka tidak bergerak sekarang, kalau kau tidak keberatan.”

Edward mulai berdendang sendiri, lebih nyaring daripada biasanya, berusaha menenggelamkan pikiranpikiran Jacob, asumsiku. Tapi ternyata ia mendendangkan lagu ninaboboku, dan, meskipun aku semakin tidak nyaman dengan mimpi yang penuh bisikan ini, aku terbenam semakin dalam ke ketidaksadaran… masuk ke mimpi-mimpi lain yang lebih masuk akal…

“Yeah,” Jacob mendesah. “Tapi…” tiba-tiba Jacob berbisik cepat sekali sehingga kata-katanya saling tumpang tindih. “Beri aku waktu satu tahun, Edward. Aku sangat yakin bisa membuatnya bahagia. Dia memang keras kepala, aku tahu benar itu, tapi dia punya kemampuan untuk pulih. Kemarin pun sebenarnya dia pasti bakal pulih. Dan dia bisa menjadi manusia,bersama Charlie dan Renee, dan dia bisa menjadi dewasa, punya anak dan.. menjadi Bella.”

“Kau mencintainya cukup besar hingga kau pasti bisa melihat kelebihan rencana itu. Dia menganggapmu sangat tidak egois… tapi apakah itu benar? bisakah kau mempertimbangkan kemungkinan bahwa mungkin saja aku lebih baik baginya daripada dirimu?”

“Aku sudah mempertimbangkannya,” Jawab Edward dengan suara tenang. “Dalam beberapa hal kau lebih cocok dengannya daripada manusia lain. Bella harus dijaga, dan kau cukup kuat sehingga mampu melindunginya dari dirinya sendiri, dan dari segala sesuatu yang berkonspirasi melawannya. Kau sudah melakukan hal itu, dan aku berhutang budi padamu selama aku hidup, selamanya…

“Aku bahkan sudah bertanya kepada Alice apakah dia bisa melihat hal itu, melihat apakah Bella akan hidup lebih baik jika bersamamu. Dia tidak bisa melihatnya, tentu saja. Dia tidak bisa melihatnya, dan sudah pasti Bella juga tidak akan tidak terlihat.”

“Tapi aku tidak cukup bodoh sampai melakukan kesalahan yang sama seperti yang kubuat sebelumnya, Jacob. Aku tidak akan berusaha memaksanya menerima opsi pertama lagi. Selama ia menginginkanku, aku akan tetap di sini.”

“Tapi bagaimana kalau dia memutuskan menginginkanku,” tantang Jacob. “Oke, kemungkinannya memang kecil. Aku tahu itu.”

“Aku akan melepaskannya.”

“Begitu saja?”

“Dalam arti aku tidak akan pernah menunjukkan betapa beratnya itu bagiku, ya. Tapi aku akan tetap mengawasi.

Kau tahu, Jacob. Mungkin saja kau akan meninggalkan dia suatu saat nanti. Seperti Sam dan Emily, kau tidak akan punya pilihan. Aku akan selalu menunggu di dekat kalian. Berharap itu terjadi.”

Jacob mendengus. “Well, ternyata kau jauh lebih jujur daripada yang berhak kuharapkan… Edward. Terima kasih karena telah mengizinkanku mengetahui isi kepalamu.”

“Seperti kataku tadi, anehnya aku justru bersyukur atas kehadiranmu dalam hidupnya malam ini. Jadi hanya ini yang bisa kulakukan untukmu… Kau tahu, Jacob, seandainya bukan karena fakta bahwa kita musuh bebuyutan, juga karena kau berusaha merebut inti eksistensiku, mungkin sebenarnya aku bisa menyukaimu.”

“Mungkin… seandainya kau bukan vampir menjijikkan yang berniat mengisap darah gadis yang kucintai sampai mati… well, tidak, bahkan itu pun tidak mungkin.”

Edward terkekeh.

“Bolehkah aku bertanya?” tanya Edward sejurus kemudian.

“Kenapa harus bertanya?”

“Aku hanya bisa mendengar kalau kau memikirkannya Mengenai sebuah kisah yang Bella seperti enggan menceritakannya padaku waktu itu. Cerita tentang istri ketiga…”

“Memangnya kenapa?”

Edward tidak menjawab, mendengarkan cerita di kepala Jacob. Aku mendengar desisan pelannya dalam gelap.

 

23. MONSTER

BEGITU aku terbangun paginya, cuaca sangat cerah, bahkan di dalam tenda, cahaya matahari menyakiti mataku. Dan tubuhku berkeringat, seperti telah diprediksi Jacob. Jacob sendiri mendengkur pelan di telingaku, kedua lengannya masih memelukku.

Kuangkat kepalaku dari dadanya yang panas seperti orang demam dan langsung merasakan sengatan hawa dingin pagi di pipiku yang lembab. Jacob mendesah lama tidurnya, kedua lengannya tanpa sadar memeluk lebih erat.

Aku menggeliat, tak mampu mengendurkan pelukannya, susah payah mengangkat kepala sampai bisa melihat…

Edward membalas tatapanku dengan datar. Ekspresinya tenang, namun kepedihan di matanya tak bisa disembunyikan.

“Sudah lebih hangat di luar sana?” bisikku.

“Ya. Menurutku pemanas ruangan tidak dibutuhkan lagi.”

Aku menarik resleting, tapi tidak bisa membebaskan lenganku. Kukerahkan segenap tenaga mendorong tubuh Jacob yang berat karena tertidur. Jacob menggumam, masih tidur, kedua lengannya menarik lagi.

“Bisa membantu?” tanyaku pelan.

Edward tersenyum. “Kau mau aku menarik kedua lengannya sampai terlepas dari tubuhnya sekalian?”

“Tidak, terima kasih. Lepaskan saja aku. Bisa-bisa aku kena sengatan hawa panas nanti.”

Edward membuka ritsleting kantong tidur hanya dengan sekali sentak. Jacob terjatuh ke luar. punggungnya yang telanjang membentur lantai tenda yang dingin.

“Hei!” protesnya. matanya langsung terbuka. Secara insting ia mengangkat tubuh menghindari dingin, dan berguling menindihku. Aku terkesiap saat berat tubuhnya membuatku tak bisa bernapas.

Lalu tubuhnya tak lagi menindihku. Aku merasakan efeknya saat tubuh Jacob terbang dan menghantam salah satu tiang tenda hingga tenda berguncang keras.

Geraman meledak dari sekelilingku. Edward merunduk di hadapanku. dan aku tak bisa melihat wajahnya, namun geraman buas menyeruak dari dalam dadanya. Jacob juga separo merunduk, sekujur tubuhnya bergetar, sementara geraman bergemuruh dari sela-sela giginya yang terkatup rapat. Di luar tenda, geraman buas Seth Clearwater bergema, memantul di bebatuan.

“Hentikan. hentikan!” teriakku, cepat-cepat bangkit dan dengan canggung berdiri di antara mereka. Ruang yang tersisa begitu sempit hingga aku tak perlu mengulurkan tangan jauh-jauh untuk bisa menyentuh dada mereka. Edward memeluk pinggangku, siap menyentakkan tubuhku menjauh.

“Hentikan, sekarang.” kuperingatkan dia.

Setelah aku menyentuhnya, Jacob mulai tenang. Guncangan tubuhnya melambat, tapi ia masih memamerkan giginya dan sorot matanya yang marah tertuju kepada Edward. Seth tetap menggeram, lolongan panjang tanpa henti menjadi latar belakang menyeramkan bagi keheningan mendadak di dalam tenda.

“Jacob?” tanyaku, menunggu sampai akhirnya menurunkan pandangan garangnya dan memandangku. “Kau terluka?”

“Tentu saja tidak,” desisnya.

Aku menoleh kepada Edward. Ia menatapku, ekspresinya keras dan marah. “Itu tadi tidak baik. Seharusnya kau meminta maaf.”

Mata Edward melebar jijik. “Kau pasti bercanda, dia menindihmu tadi.”

“Itu karena kau menjatuhkannya ke lantai. Dia tidak sengaja melakukannya, dan dia tidak mencederaiku.”

Edward mengerang, sebal. Pelan-pelan ia menengadah dan menatap Jacob dengan sorot mata marah. “Aku minta maaf, anjing.”

“Kau tidak mencederaiku,” balas Jacob, nadanya sedikit menghina.

Hawa masih dingin, walaupun tidak sedingin sebelumnya. Kudekap tubuhku sedikit erat.

“Ini,” kata Edward, kembali tenang. Ia mengambil jaket yang tergeletak di lantai, lalu menyelubungkannya di atas mantelku.

“Itu punya Jacob,” tolakku.

“Jacob kan punya mantel bulu,” tukas Edward dengan nada menyindir.

“Aku akan masuk lagi ke kantong tidur, kalau kau tidak keberatan,” tanpa memedulikan Edward, Jacob berjalan mengitari kami, lalu menyusup masuk ke kantong tidur. “Aku belum kepingin bangun. Semalam aku tidak bisa tidur nyenyak.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.