Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Menurutmu, hatinya tidak akan terluka bila itu terjadi?”

Jacob ragu-ragu sejenak, kemudian mengembuskan napas.

“Yeah, kau benar. Aku tahu itu benar. Tapi terkadang..”

“Terkadang ide itu sangat menggoda.”

Jacob menempelkan wajahnya ke kantong tidur untuk meredam tawanya. “Tepat sekali.” akhirnya ia sependapat.

Betapa anehnya mimpi ini. Aku penasaran apakah penyebabnya adalah angin yang tak henti-hentinya bertiup hingga membuatku membayangkan bisikan-bisikan itu. Tapi angin justru menjerit-jerit, bukannya berbisik-bisik…

“Bagaimana rasanya? Kehilangan dia?” tanya Jacob setelah terdiam sesaat, tak terdengar sedikit pun nada bergurau dalam suaranya yang mendadak parau. “Waktu kau mengira telah kehilangan dia selama-lamanya?

Bagaimana kau bisa…bertahan?”

“Sulit sekali bagiku membicarakan hal itu.”

Jacob menunggu.

“Ada dua masa yang berbeda, ketika aku berpikir

kehilangan dia.” Edward mengucapkan setiap kata sedikit lebih lambat daripada biasanya. “Pertama kali, waktu aku mengira aku bisa meninggalkannya… waktu itu… aku nyaris bisa menahannya. Karena kupikir dia akan melupakan aku hingga seolah-olah aku tidak pernah menyentuh hidupnya. Selama lebih dari enam bulan aku bisa menjauh darinya, menepati janjiku untuk tidak akan ikut campur lagi. Sudah hampir bisa, aku berjuang, tapi tahu aku tidak akan menang, aku harus kembali… hanya untuk mengecek keadaannya. Setidaknya, itulah alasan yang kupakai untuk membenarkan tindakanku. Dan seandainya aku menemukannya bahagia… pikirku, aku pasti bisa pergi lagi.”

“Tapi ternyata dia tidak bahagia. Dan aku pasti akan tinggal bersamanya. Begitulah caranya meyakinkanku untuk tinggal di sini bersamanya besok, tentu saja. Kau sendiri penasaran mengenai hal itu, apa kira-kira yang memotivasiku.. rasa bersalah apa yang tidak perlu dia rasakan. Dia mengingatkanku apa akibatnya jika aku meninggalkannya. Dia merasa tidak enak hati telah mengungkit masalah itu, tapi dia benar. Aku tidak akan pernah bisa memperbaiki kesalahan dulu, tapi bagaimanapun juga, aku tidak pernah berhenti mencoba.”

Sesaat Jacob tidak merespons, entah mendengarkan badai atau mencerna apa yang barusan didengarnya. Aku tidak tahu yang mana.

“Dan waktu itu, ketika kau mengira dia sudah mati?” bisik Jacob pelan.

“Ya.” Edward menjawab pertanyaan berbeda. “Mungkin akan terasa seperti itu bagimu,ya? mengingat cara pandangmu terhadap kaum kami, kau mungkin tidak akan bisa melihatnya sebagai Bella lagi. Tapi dia akan tetap menjadi Bella.”

“Bukan itu yang kutanyakan.”

Edward menjawabnya dengan cepat dan keras. “Aku tidak bisa menceritakan bagaimana rasanya. Tidak ada kata-kata yang bisa mengungkapkannya.”

Lengan Jacob yang memelukku mengejang.

“Tapi kau pergi karena kau tidak mau membuatnya menjadi penghisap darah. Kau ingin dia tetap menjadi manusia.”

Edward berbicara lambat-lambat. “Jacob, sejak detik pertama aku sadar bahwa aku mencintainya, aku sudah tahu hanya akan ada empat kemungkinan. Alternatif pertama, yang terbaik bagi Bella, adalah kalau cintanya padaku tidak terlalu besar, kalau dia bisa melupakan aku dan melanjutkan hidupnya. Aku akan menerimanya, walaupun itu takkan pernah merubah perasaan. Kau menganggapku… batu hidup, keras dan dingin. Memang benar. Kami memang begini adanya, dan sangat jarang kami mengalami perubahan yang sesungguhnya. Jika itu terjadi, seperti ketika Bella memasuki duniaku, perubahan itu bersifat permanen. Tak ada jalan kembali…

“Alternatif kedua, yang tadinya kupilih, adalah tetap bersamanya seumur hidup manusianya. Memang bukan pilihan yang bagus baginya, menyia-nyiakan hidup untuk seseorang yang tak bisa menjadi manusia bersamanya, tapi itu altematif yang paling bisa kuterima. Sejak awal aku mengetahui bahwa, jika dia meninggal nanti, aku akan mencari jalan untuk mati juga. Enam puluh, tujuh puluh tahun, akan terasa amat sangat singkat bagiku.. Tapi kemudian terbukti bahwa terlalu berbahaya bagi Bella jika hidup terlalu dekat dengan duniaku. Sepertinya semua kacau. Atau semuanya menunggu waktu untuk menjadi…kacau. Aku takut tidak akan mendapatkan enam puluh tahun itu jika aku berada di dekatnya dan dia tetap menjadi manusia.

“Maka aku pun memilih opsi ketiga. Yang ternyata menjadi kesalahan terburuk dalam hidupku yang sangat panjang ini, seperti sudah kauketahui. Aku memilih keluar dari dunianya, berharap bisa memaksanya memilih opsi pertama. Itu tidak berhasil, dan malah nyaris membunuh kami berdua.”

“Pilihan apa lagi yang kumiliki selain Opsi keempat. Itulah yang dia inginkan, setidaknya,dia mengira begitu. Selama ini aku berusaha mengulur-ulur waktu, memberinya waktu agar bisa menemukan alasan untuk berubah pikiran, tapi dia sangat.. keras kepala. Kau tahu itu. Aku sangat beruntung kalau bisa menundanya hingga beberapa bulan lagi. Dia sangat takut menjadi tua, sementara ulang tahunnya bulan September..”

“Aku suka opsi pertama,” gerutu Jacob.

Edward diam saja.

“Kau tahu persis betapa bencinya aku menerima ini,” Jacob berbisik lambat-lambat, “tapi bisa kulihat kau benarbenar mencintainya… dengan caramu sendiri. Aku tidak bisa mendebat hal itu lagi.

“Mempertimbangkan hal itu, kupikir kau tak seharusnya melupakan alternatif pertama, belum. Menurutku, besar kemungkinan dia akan baik-baik saja. Setelah beberapa waktu. Kau tahu, seandainya dia tidak terjun dari tebing bulan Maret lalu… dan seandainya kau menunggu enam bulan lagi untuk datang mengeceknya… Well, bisa jadi kau akan menemukannya dalam keadaan sangat bahagia. Aku sudah punya rencana.”

Edward terkekeh. “Mungkin saja itu akan berhasil. Rencanamu telah dipikirkan masak-masak.”

“Apa?” desak Jacob lagi.

“Tentu saja,” Edward marah sekali. “tentu saja! aku lebih suka tetuamu menyimpan saja cerita itu dan tidak mengungkapkannya, Jacob.”

“Kau tidak senang para lintah digambarkan sebagai penjahat?” ejek Jacob. “Kau tahu memang begitulah kenyataannya. Dulu maupun sekarang.”

“Masa bodoh dengan bagian yang itu. Masa kau tidak bisa menebak Bella akan mengidentifikasikan dirinya dengan karakter siapa?”

Jacob berpikir sebentar. “Oh,Ugh. Si istri ketiga. Oke, aku mengerti maksudmu.”

“Dia ingin berada di sana di lapangan. Istilahnya membantu semampunya,” Edward mendesah. “Itu alasan kedua aku akan menemaninya besok. Dia sangat inventif jika menginginkan sesuatu.”

“Kau tahu, kakakmu yang tentara itu memberinya ide untuk melakukannya, bukan hanya gara-gara kisah itu.”

“Dua-duanya tidak bermaksud buruk,” bisik Edward, mengajak berdamai.

“Dan kapan gencatan senjata kecil ini berakhir?” tanya Jacob. “Begitu hari terang? atau kita harus menunggu sampai sesudah pertempuran?”

“Begitu hari terang,” Keduanya sama-sama berbisik, kemudian tertawa pelan.

“Tidurlah yang nyenyak Jacob,” Bisik Edward. “Nikmati momen ini.”

Suasana kembali sunyi, dan tenda diam tak bergerak selama beberapa menit. Angin tampaknya telah memutuskan untuk tidak menghancurkan kami, dan berhenti menyerang.

Edward mengerang pelan. “Maksudku, tidak sampai seperti itu.”

“Maaf,”bisik Jacob. “Kau bisa pergi tahu, memberi kami sedikit privasi.”

“Kau mau aku membantumu tidur, Jacob?” Edward menawarkan.

“Bisa saja kaucoba.” Jawab Jacob, tak peduli. “Pasti menarik untuk melihat siapa yang tidak tahan dan pergi, kan?”

“Jangan kelewatan menggodaku, serigala. Kesabaranku tidak sesempurna itu.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.