Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Jacob mengangkat bahu. “Ternyata rambutku juga berguna malam ini, jadi tidak usah pikirkan masalah itu lagi.”

Aku tidak tahu harus bilang apa lagi. Saat kesunyian semakin panjang, kelopak mataku terasa berat dan akhirnya tertutup, tarikan napasku semakin lambat dan teratur.

“Ya benar, Sayang, tidurlah,” bisik Jacob.

Aku mengembuskan napas, merasa senang, sudah separuh tidak sadar.

“Seth sudah datang,” gumam Edward kepada Jacob, dan tiba-tiba aku menyadari maksud lolongannya.

“Sempurna. Sekarang kau bisa memperhatikan hal-hal lain, sementara aku menjaga pacarmu untukmu.”

Edward tidak menyahut, tapi aku mengerang dengan lemah. “Hentikan.” omelku.

Suasana akhirnya sunyi, setidaknya di dalam tenda. Di luar, angin memekik-mekik mengerikan di sela-sela pepohonan. Tenda yang bergoyang-goyang membuatku sulit tidur. Tali pasak bisa tiba-tiba tersentak dan bergetar, menyentakkanku kembali dari tepian ketidaksadaran sebelum sempat benar-benar tenggelam. Aku merasa sangat tidak enak memikirkan si serigala, si anak lelaki yang harus berada di tengah badai salju.

Pikiranku berkelana saat aku menunggu diriku tertidur. Ruangan kecil hangat ini membuat ingatanku melayang ke hari-hari awal persahabatanku dengan Jacob, dan aku mengenang bagaimana dulu saat ia menjadi matahari penggantiku, kehangatan yang membuat hidupku yang hampa jadi bermakna lagi. Sejak dulu aku menganggap Jake seperti itu, dan sekarang itu terulang lagi, Jacob menghangatkan aku lagi.

“Please!” desis Edward. “Kau keberatan tidak?”

“Apa!” Jacob balas berbisik, nadanya terkejut.

“Menurutmu, bisa tidak kau berusaha mengontrol pikiranmu!” Edward berbisik pelan dengan nada marah.

“Siapa suruh mendengarkan,” gerutu Jacob, menantang namun tetap merasa malu. “Enyahlah dari kepalaku.”

“Kalau saja aku bisa. Kau tidak tahu berapa lantangnya fantasi-fantasimu itu terdengar olehku. Seolah-olah kau meneriakkannya padaku.”

“Aku akan berusaha memelankannya,” bisik Jacob sinis.

Sejenak suasana sunyi.

“Benar,” Edward menjawab pikiran Jacob yang tidak disuarakan dalam bisikan sangat pelan hingga aku nyaris tak bisa mendengarnya. “Aku juga cemburu pada hal itu.”

“Sudah kukira memang seperti itu,” bisik Jacob dengan nada menang. “Agak menyamakan posisi, kan?”

Edward terkekeh. “Bermimpilah terus.”

“Kau tahu, dia masih tetap bisa berubah pikiran,” Jacob mengejek Edward. “Apalagi kalau mengingat semua hal yang bisa kulakukan untuknya yang kau tidak bisa. Setidaknya tanpa membunuhnya, begitulah.”

“Tidurlah Jacob,” gumam Edward. “Kau mulai membuatku jengkel.”

“Kurasa aku memang akan tidur. Aku benar-benar merasa nyaman.”

Edward tidak menanggapi.

Aku sudah begitu dalam terhanyut dalam tidur hingga tak bisa meminta mereka berhenti membicarakanku seolaholah aku tidak ada di sana. Pembicaraan mereka sudah terasa seperti mimpi bagiku, dan aku tidak yakin apakah aku benar-benar terbangun.

“Mungkin aku bisa melakukannya,” kata Edward beberapa saat kemudian, menjawab pertanyaan yang tidak kudengar.

“Tapi apakah kau akan jujur?”

“Tanya dan lihat saja sendiri.” Nada Edward membuatku bertanya-tanya apakah ada lelucon yang terlewat.

“Well, kau kan bisa melihat isi kepalaku, biarkan aku melihat isi kepalamu malam ini, itu baru adil namanya,” kata Jacob

“Kepalamu penuh pertanyaan. Kau ingin aku menjawab yang mana?”

“Kecemburuan… itu pasti membuatku sangat tersiksa. Berarti sebenarnya kau tidak terlalu yakin pada diri sendiri seperti yang selama ini kau tunjukkan. Kecuali kau memang tidak punya emosi sama sekali.”

“Tentu saja menyiksa,” Edward sependapat, tak lagi terdengar geli. “Sekarang ini, kecemburuan itu begitu hebatnya hingga aku nyaris tak bisa mengendalikan suaraku. Tentu saja lebih parah lagi kalau dia jauh dariku, bersamamu, dan aku tidak bisa melihatnya.”

“Kau memikirkan hal itu setiap saat?” bisik Jacob. “Sulitkah bagimu berkonsentrasi jika dia tidak sedang bersamamu?”

“Ya dan tidak,” kata Edward, sepertinya bertekad menjawab sejujur-jujurnya. “Cara berpikirku tidak sama dengan cara berpikirmu. Aku bisa memikirkan banyak hal sekaligus. Tentu saja, itu berarti aku selalu bisa memikirkanmu, selalu bisa bertanya-tanya apakah pikirannya sedang tertuju kepadamu, bila dia sedang berdiam diri dan berpikir.”

Mereka terdiam cukup lama.

“Ya, aku menduga dia pasti sering memikirkanmu,” gumam Edward, merespon pikiran Jacob. “Lebih sering daripada yang kuinginkan. Dia khawatir kau tidak bahagia. Bukannya kau tidak tahu itu. Bukannya kau tidak memanfaatkan hal itu.”

“Aku harus memanfaatkan apa saja yang bisa kumanfaatkan,” tukas Jacob. “Kau punya beberapa keuntungan yang tidak kumiliki, misalnya dia tahu bahwa dia mencintaimu.”

“Itu memang membantu,” Edward menyepakati dengan nada lunak.

Jacob menantang.” Dia juga mencintaiku tahu.”

Edward tidak menanggapi.

Jacob mendesah. “Tapi dia tidak menyadarinya.”

“Aku tidak bisa mengatakan kau benar.”

“Apakah itu membuatmu merasa terganggu? Apakah kau berharap bisa melihat apa yang dia pikirkan?”

“Ya… dan tidak, lagi-lagi. Dia lebih suka keadaannya seperti ini, dan walaupun kadang-kadang itu membuatku gila, aku lebih suka dia bahagia.”

Angin menjerit-jerit di sekeliling tenda, mengguncangnya seperti gempa bumi. Lengan Jacob memelukku lebih erat lagi dengan sikap protektif.

“Terima kasih,” bisik Edward. “walaupun kedengarannya aneh, kurasa aku senang kau ada di sini, Jacob.”

“Maksudmu, walaupun aku sangat ingin membunuhmu. Aku sangat senang dia hangat, benar begitu kan?”

“Gencatan senjata yang tidak nyaman, bukan?”

Bisikan Jacob mendadak terdengar puas. “Aku sudah mengira kau sama pencemburunya dengan aku.”

“Aku tidak cukup bodoh hingga mengumbarnya seperti kau. Itu tidak akan membantu, kau tahu.”

“Ternyata kau lebih sabar daripada aku.”

“Seharusnya begitu. Aku punya waktu seratus tahun untuk bisa mencapai tahap ini. Seratus tahun menunggu dia.”

“Jadi… pada titik apa kau memutuskan untuk memainkan peran sebagai lelaki penyabar?”

“Waktu aku melihat betapa sakitnya dia bila dia disuruh memilih. Biasanya tidak sesulit ini mengendalikan perasaanku. Biasanya aku bisa meredam… perasaanperasaan tidak beradab yang kurasakan terhadapmu jauh lebih mudah daripada sekarang. Kadang-kadang aku merasa dia bisa membaca pikiranku, tapi aku tak yakin.”

“Kurasa kau hanya khawatir, kalau kau benar-benar memaksanya memilih, dia mungkin tidak akan memilihmu.”

Edward tidak langsung menjawab. “Sebagian.” Edward akhirnya mengakui. “Tapi hanya sebagian kecil. Keraguan itu sewaktu-waktu memang muncul. Kebanyakan aku khawatir dia akan celaka saat diam-diam menemuimu. Setelah aku bisa menerima kenyataan bahwa dia kurang lebih akan aman bersamamu, seaman yang mungkin bisa dialami Bella, sepertinya pilihan terbaik adalah berhenti memaksanya.”

Jacob mendesah. “Kalau kuceritakan semua ini padanya, dia pasti tidak akan percaya.”

“Aku tahu,” Kedengarannya Edward tersenyum.

“Kaukira kau tahu segalanya,” gerutu Jacob.

“Aku tidak tahu masa depan,” bantah Edward. Suaranya mendadak terdengar tidak yakin.

Suasana sunyi cukup lama.

“Apa yang akan kaulakukan seandainya dia berubah pikiran?” tanya Jacob.

“Aku juga tidak tahu jawabannya.”

Jacob terkekeh pelan. “Apakah kau akan mencoba membunuhku?” Sikapnya kembali sarkastis, seolah-olah meragukan kemampuan Edward untuk melakukan hal itu.

“Tidak.”

“Kenapa tidak?” Nada Jacob masih mengejek.

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.