Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

“Itu sebenarnya tidak perlu,” gerutunya.”Dan itu ide paling jelek yang pernah kudengar,” serunya lagi dengan suara lebih keras.

“Lebih baik daripada idemu,” balas Jacob, suara manusianya membuatku kaget. “Kenapa tidak pergi mengambilkan alat pemanas,” gerutunya. “Aku bukan St.Nennard.”

Aku mendengar suara ritsleting pintu tenda ditarik ke bawah.

Jacob menyusup masuk lewat bukaan terkecil yang bisa diusahakannya, sementara hawa dingin berembus masuk, beberapa keping salju berjatuhan di lantai tenda. Tubuhku gemetar begitu dahsyat hingga seperti kejang-kejang.

“Aku tidak suka ini,” desis Edward saat Jake menutup kembali ristleting pintu tenda. “Cepat berikan saja mantelmu dan segera keluar dari sini.”

Mataku sudah bisa menyesuaikan diri dengan kegelapan sehingga aku bisa melihat bentuk-bentuk, bentuk Jacob menenteng jaketnya yang tadi digantung di pohon di sebelah tenda.

Aku mencoba bertanya apa yang mereka bicarakan. Tapi yang keluar dari mulutku hanyalah, “A-a-a-a-a.” Karena tubuhku berguncang hebat membuatku gagap tak terkendali.

“Jaketnya untuk besok – dia terlalu kedinginan sehingga akan bisa memanaskannya. Jaket ini membeku. Jacob menjatuhkannya di dekat pintu. “Kaubilang tadi dia butuh pemanas, jadi inilah aku,” jawab Jacob membentangkan kedua lengannya selebar yang bisa dilakukannya di tenda sempit itu. Seperti biasa, kalau ia habis berlari-lari sebagai serigala, ia hanya berpakaian seperlunya saja – celana panjang, tanpa baju, tanpa sepatu.

“J-J-J-J-Jake, kau akan m_m_m_membe-be-be-k-k-ku,” aku berusaha protes.

“Aku tidak,” bantahnya riang. “Belakangan ini suhu tubuhku bisa mencapai 42 derajar Celcius lebih. Dalam sekejap aku pasti bisa membuatmu berkeringat.”

Edward menggeram, tapi Jacob bahkan tidak meliriknya sedikit pun. Ia malah merangkak mendekatiku dan mulai membuka ritsleting kantong tidurku.

Tangan Edward tiba-tiba mendarat keras di bahu Jacob,

menahannya, seputih salju di kulit Jacob yang gelap. Dagu Jacob langsung mengeras, cuping hidungnya kembang kempis. Tubuhnya mengejang karena sentuhan dingin itu.

“Jangan sentuh aku,” geramnya dan sela-sela gigi yang terkatup rapat.

“Jangan sentuh dia,” balas Edward, sama garangnya.

“J-j-j-jangan b-b-b-bertengkar.” aku memohon Sekujur tubuhku kembali berguncang hebat. Sepertinya gigiku bakal rontok. karena bergemeletuk begitu kuat.

“Aku yakin dia akan berterima kasih padamu kalau nanti jari-jari kakinya berubah warna jadi hitam dan putus,” bentak Jacob.

Edward ragu-ragu, lalu menurunkan tangannya dan kembali bergeser ke posisinya di pojok tenda.

Suara Edward datar dan mengerikan. “Jangan macammacam.”

Jacob terkekeh.

“Minggirlah sedikit Bella,” perintah Jacob, membuka ristleting kantong tidur lebih lebar.

Kupandangi dia dengan marah. Pantas saja Edward bereaksi begitu.

“T-t-tidak.” aku berusaha memprotes.

“Jangan bodoh,” tukas Jacob,gemas. “Kau tidak suka ya jari kakimu tetap lengkap sepuluh?”

Jacob menjejalkan tubuh ke ruang sisa yang sebenarnya tak ada,memaksa menaikkan ritsleting sendiri.

Aku tak bisa menolak lagi, karena memang tidak mau menolak. Tubuhnya hangat sekali. Kedua lengannya memelukku, mendekapku dengan erat-erat di dadanya yang telanjang. Panas tubuhnya sangat nyaman,bagai udara setelah terlalu lama berada di bawah air. Ia meringis waktu aku menempelkan jari-jariku sedingin es dengan penuh semangat di kulitnya.”

“Ya ampun, kau membeku Bella.” protesnya.

“m-m-maaf,” ucapku terbata-bata.

“Cobalah untuk rileks,” Jacob menyarankan saat tubuhku kembali bergetar hebat. “Sebentar lagi kau akan merasa hangat. Tentu saja kau akan lebih cepat hangat kalau membuka bajumu.”

Edward menggeram tajam.

“Memang faktanya begitu kok,” Jacob membela diri. “Ada di panduan keselamatan.”

“Sudahlah Jake,” sergahku marah, walaupun tubuhku menolak untuk bahkan menjauhkan diri darinya.”T-t-t-tidak

ada o-o-o-orang y-y-y-yang benar-benar memb-u-tuhkan s-ss-sepuluh jari kaki.”

“Jangan pedulikan Si pengisap darah itu,” Jacob menyarankan, nadanya penuh kemenangan. “Dia hanya cemburu.”

“Tentu saja aku cemburu,” suara Edward kembali selembut beledu, terkendali, bagai bisikan merdu di kegelapan. “Kau tidak tahu sama sekali betapa aku berharap bisa melakukan apa yang sekarang kaulakukan untuknya, anjing.”

“Itulah untungnya,” tukas Jacob enteng, tapi kemudian nadanya berubah masam. “Setidaknya kau tahu dia berharap aku ini kau.”

“Benar,” Edward sependapat.

Guncangan tubuhku mulai berkurang, sedikit tertahankan sementara mereka cekcok terus.

“Nah,” kata Jacob, senang. “Sudah merasa lebih enak?”

Akhirnya aku bisa juga berbicara dengan lancar. “Ya.”

“Bibimu masih biru.” Jacob mengamati. “Mau kuhangatkan sekalian? Kau tinggal minta.”

Edward mengembuskan napas berat.

“Jaga sikapmu,” bisikku, menempelkan wajahku ke bahunya. Jacob terlonjak lagi waktu kulitku yang dingin menyentuh kulitnya, dan aku tersenyum dengan sedikit perasaan puas karena berhasil memberinya pelajaran.

Bagian dalam kantong tidur kini sudah hangat dan nyaman. Panas tubuh Jacob seakan terpancar dari setiap sisi tubuhnya, mungkin itu karena tubuhnya sangat besar. Kutendang sepatu botku hingga terlepas, dan kuselipkan jari-jari kakiku ke kakinya. Jacob terlonjak sedikit, tapi kemudian merunduk dan menempelkan pipinya yang panas ke telingaku yang kebas.

Kusadari kulit Jacob memancarkan aroma seperti kayu, sangat cocok dengan suasana alam sekitarnya,di tengah hutan sini. Aku jadi penasaran apakah keluarga Cullen dan para anggota suku Quileute hanya membesar-besarkan masalah bau itu karena masing-masing menyimpan prasangka terhadap yang lain. Sebab bau mereka baik-baik saja menurutku.

Badai mengamuk seperti lengkingan binatang menyerang tenda, tapi itu tak lagi membuatku khawatir. Jacob tidak lagi berada di luar di hawa yang dingin,begitu pula aku. Tambahan lagi, aku terlalu lelah untuk khawatir tentang hal-hal lain, capek karena sudah selarut ini belum juga tidur,dan sekujur tubuhku sakit-sakit karena otot-ototku kejang. Tubuhku lambat laun menjadi rileks saat kebekuanku mulai mencair, sedikit demi sedikit, kemudian berubah lemas.

“Jake?” gumamku dengan suara mengantuk. “Bolehkah aku menanyakan sesuatu? Bukan maksudku ikut campur atau bagaimana, aku benar-benar ingin tahu,” kata-kataku persis sama seperti yang dikatakan Jacob di dapurku… berapa lama berselang?

“Tentu,” Jawab Jacob terkekeh, teringat.

“Mengapa bulumu jauh lebih lebat daripada temantemanmu? kau tidak perlu menjawab kalau pertanyaanku itu kau rasa terlalu usil. “Aku tidak tahu bagaimana aturan etiket dalam dunia werewolf.”

“Karena rambutku lebih panjang.” jawab Jacob, setidaknya pertanyaanku tidak membuatnya tersinggung. Ia menggertakkan kepalanya sehingga rambutnya yang awutawutan, sekarang sudah sedagu, menggelitik pipiku.

“Oh,” Aku terkejut, tapi jawabannya masuk akal. Jadi karena itulah mereka semua memotong rambut pendek mereka pada awalnya,begitu bergabung dengan kawanan. “Kalau begitu kenapa kau tidak memotongnya? kau suka berambut gondrong?”

Kali ini Jacob tidak langsung menjawab pertanyaanku, dan Edward tertawa pelan.

“Maaf,” ucapku, berhenti sebentar untuk menguap. “Aku tidak bermaksud usil. Kau tidak perlu menjawab pertanyaanku.”

Jacob mengeluarkan suara bernada kesal. “Oh, dia toh akan tetap menceritakannya padamu, jadi lebih baik aku sendiri yang mengatakannya… aku memanjangkan rambutku karena… sepertinya kau lebih suka kalau rambutku panjang.”

“Oh,” Aku merasa kikuk. “Aku, eh, suka dua-duanya, Jake. Kau tidak perlu… repot-repot menyesuaikannya dengan keinginanku.”

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.