Baca Novel Online

The Twilight Saga: Eclipse – Stephenie Meyer

Aku menghabiskan hampir seumur hidupku menjaga Renee, dengan sabar membimbingnya menjauhi rencanarencana tergilanya, dan dengan tabah menerima rencanarencana lain yang tak bisa kucegah. Sejak dulu aku selalu sangat sabar menghadapi ibuku, geli melihat tingkahnya, bahkan sedikit meremehkan. Aku melihat kesalahankesalahannya yang begitu banyak dan diam-diam menertawakannya. Dasar Renee si otak udang.

Aku sangat berbeda dengan ibuku. Aku orang yang memikirkan segala sesuatu dengan cermat dan hati-hati. Sosok yang bertanggung jawab, dewasa. Begitulah aku memandang diriku sendiri. Begitulah dulu aku mengenal diriku.

Dengan darah masih berdesir keras di kepalaku setelah berciuman dengan Edward, terlintas dalam benakku kesalahan ibuku yang paling mengubah jalan hidupnya. Tolol dan romantis, ia langsung menikah begitu lulus SMA dengan laki-laki yang tidak begitu dikenalnya, lalu melahirkan aku setahun kemudian. Ia selalu berusaha meyakinkanku bahwa ia tak pernah menyesali keputusannya, bahwa aku anugerah terindah dalam hidupnya. Meski begitu ia tak henti-hentinya mencekokiku dengan nasihat bahwa orang pintar tidak menganggap pernikahan sebagai hal yang sepele. Orang-orang yang matang akan kuliah dan meniti karier dulu sebelum terlibat terlalu jauh dalam sebuah hubungan. Ibuku tahu aku takkan pernah sesembrono, seceroboh, dan sekonyol dia dulu …

Kugertakkan gigiku dan berusaha berkonsentrasi saat membalas e-mail-nya.

Lalu aku sampai pada kalimat penghabisan di e-mail Renee dan teringat lagi kenapa aku menunda-nunda membalas email-nya.

Sudah lama kau tidak pernah cerita tentang Jacob, tulis Renee. Apa saja kegiatannya belakangan ini?

Pasti disuruh Charlie, aku yakin.

Aku mendesah dan mengetik dengan cepat, menyisipkan jawaban di antara dua paragraf yang tidak begitu sensitif.

Jacob baik-baik saja. Sepertinya. Aku jarang bertemu dengannya: belakangan dia lebih sering main dengan temantemannya sendiri di La Push.

Tersenyum-senyum kecut sendiri, aku menambahkan salam dari Edward, lalu mengklik tombol send.

Aku tidak menyadari kehadiran Edward yang berdiri diam di belakangku sampai aku mematikan komputer dan mendorong kursiku menjauhi meja. Aku baru mau menegurnya karena diam-diam membaca suratku waktu aku menyadari ternyata ia tidak sedang memerhatikanku. Ia sedang mengamati kotak hitam dengan kabel melingkarlingkar mencuat dari kotak utama yang kentara sekali tampak rusak. Sedetik kemudian baru aku mengenali benda itu sebagai stereo mobil yang dihadiahkan Emmett, Rosalie, dan Jasper pada ulang tahun terakhirku dulu. Aku sudah lupa sama sekali hadiah ulang tahun yang tersembunyi di balik tumpukan debu yang semakin menggunung di dasar lemari itu.

“Kauapakan benda ini?” tanya Edward ngeri.

“Habis tidak mau dilepas dari dasbor.”

“Jadi kau merasa perlu menyiksanya?”

“Aku kan tidak pandai menggunakan peralatan. Aku “Aku kan tidak pandai menggunakan peralatan. Aku tidak sengaja melukainya.”

Edward menggeleng, berlagak sedih seolah-olah menyaksikan tragedi. “Kau membunuhnya.” Aku mengangkat bahu. “Oh, well.”

“Mereka pasti sakit hati kalau melihat ini,” kata Edward. “Kurasa ada baiknya selama ini kau dihukum tidak boleh keluar rumah. Aku harus memasang stereo lain sebelum mereka menyadarinya.”

“Trims, tapi aku tidak butuh stereo canggih.”

“Aku menggantinya bukan demi kau.”

Aku mendesah.

“Ternyata kau tidak banyak memanfaatkan hadiahhadiah ulang tahunmu tahun lalu,” kata Edward kesal. Tiba-tiba ia mengipasi dirinya dengan kertas persegi kaku.

Aku tidak menyahut, takut suaraku bakal gemetar. Ulang tahun kedelapan belas yang menimbulkan malapetaka – dengan segala konsekuensinya – bukanlah peristiwa yang ingin kuingat-ingat, dan aku kaget Edward menyinggungnya. Padahal ia bahkan lebih sensitif mengenainya dibanding aku.

“Sadarkah kau, sebentar lagi masa berlakunya akan habis?” tanyanya, menyodorkan kertas itu kepadaku. Ternyata itu hadiah lain – voucher tiket pesawat yang dihadiahkan Esme dan Carlisle untukku agar aku bisa mengunjungi Renee di Florida.

Aku menghela napas dalam-dalam dan menjawab datar, “Tidak. Sebenarnya aku malah lupa sama sekali.”

Ekspresi Edward tampak ceria dan positif tak ada secercah pun jejak emosi dalam suaranya saat ia melanjutkan kata-katanya. “Well, kita masih punya sedikit waktu. Hukumanmu sudah dicabut… dan kita tidak punya rencana apa-apa akhir minggu ini, karena kau menolak pergi ke prom bersamaku.” Edward tersenyum. “Kenapa tidak kira rayakan saja kebebasanmu dengan cara ini?”

Aku terkesiap. “Dengan pergi ke Florida?”

“Katamu tadi, asal masih dalam batas-batas negara Amerika Serikat, kau dibolehkan.”

Kupelototi dia, curiga, berusaha memahami dari mana ide ini berasal.

“Well?” desak Edward. “Kita akan pergi menemui Renee atau tidak?”

“Charlie pasti tidak bakal mengizinkan.”

“Charlie tidak bisa melarangmu mengunjungi ibumu. Ibumu kan masih memiliki hak asuh utama.”

“Tidak ada yang memiliki hak asuh atasku. Aku sudah dewasa.”

Edward menyunggingkan senyum ceria. “Tepat sekali.” Aku memikirkannya sesaat sebelum memutuskan perjalanan itu tidak sebanding dengan keributan yang akan ditimbulkan. Charlie pasti bakal sangat marah – bukan karena aku akan mengunjungi Renee, tapi karena aku pergi bersama Edward. Bisa-bisa Charlie akan mendiamkan aku berbulan-bulan, dan mungkin aku bakal dihukum lagi. Jauh lebih bijaksana untuk tidak mengungkitnya sama sekali. Mungkin beberapa minggu lagi, sebagai hadiah kelulusan atau semacamnya.

Tapi bayangan bertemu ibuku sekarang, bukan beberapa minggu dari sekarang, sungguh menggiurkan. Sudah lama sekali aku tidak bertemu Renee. Dan lebih lama lagi aku tidak bertemu dengannya dalam suasana menyenangkan. Terakhir kali aku bertemu dia di Phoenix, aku terkapar di ranjang rumah sakit. Terakhir kali ia datang ke sini, bisa dibilang aku seperti mayat hidup. Benar-benar bukan kenangan menyenangkan.

Dan mungkin, kalau Renee melihat betapa bahagianya aku bersama Edward, ia akan menyuruh Charlie rileks sedikit.

Edward mengamati wajahku sementara aku menimbangnimbang.

Aku mendesah. “Jangan akhir minggu ini.”

“Memangnya kenapa?”

“Aku tidak mau bertengkar dengan Charlie. Padahal dia baru saja memaafkan aku.”

Alis Edward bertaut, “Menurutku akhir minggu ini justru pas sekali.”

Aku menggeleng. “Lain kali saja.”

“Bukan kau satu-satunya yang terperangkap di rumah ini, tahu,” Edward mengerutkan keningnya padaku.

Kecurigaanku kembali muncul. Tidak biasanya Edward bersikap seperti ini. Selama ini ia sangat tidak egois; aku tahu itu membuatku manja.

“Kau bisa pergi ke mana pun kau mau.” Tandasku.

“Dunia luar tidak menarik bagiku kalau tanpa kau.”

Aku memutar bola mata mendengar pernyataannya yang hiperbolis.

“Aku serius,” sergah Edward.

“Pelan-pelan saja dulu, oke? Misalnya, kita mulai dengan nonton film dulu di Port Angeles…”

Edward mengerang. “Sudahlah. Nanti saja kita bicarakan lagi.”

“Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.”

Edward mengangkat bahu.

“Oke, kalau begitu, topik baru,” tukasku. Aku sudah hampir melupakan kekhawatiranku siang tadi – itukah sebabnya Edward ngotot ingin kami pergi? “Apa yang dilihat Alice saat makan siang tadi?”

Ekspresi Edward tetap tenang; mata topaz-nya hanya sedikit mengeras. “Beberapa kali dia melihat Jasper di tempat aneh, di daerah barat daya sana, kalau tidak salah menurut Alice, dekat tempat mantan… keluarganya. Tapi Jasper sendiri tidak berniat kembali ke sana.” Edward mendesah. “Itu membuat Alice khawatir

Categories:   Fantasi

Comments

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.