Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

Sesaat aku sempat kecewa. Apa? Tidak ada visi ajaib, bakat menyerang yang mengagumkan seperti, oh, menembakkan sinar kilat dari mataku atau sebangsanya? Tidak ada bakat yang berguna atau benar-benar bebat?

Kemudian sadarlah aku apa artinya itu, bahwa “kemampuan superku” tak lebih dari pengendalian diri yang luar biasa.

Pertama, setidaknya aku punya bakat. Soalnya bisa saja aku tidak punya apa-apa, api jauh lebih penting daripada itu, kalau Edward benar, itu berarti aku bisa langsung melewati bagian yang paling kutakutkan.

Bagaimana kalau aku tidak perlu menjadi vampir baru? Dalam arti bukan vampir gila yang ibarat mesin pembunuh. Bagaimana kalau aku bisa langsung menyesuaikan diri dengan keluarga Cullen sejak hari pertamaku? Bagaimana kalau kami tidak perlu bersembunyi di suatu tempat terpencil selama satu rahun, menungguku “matang”?

Bagaimana kalau, seperti Carlisle, aku tak pernah membunuh satu manusia pun?

Bagaimana kalau aku bisa langsung menjadi vampir baik?

Aku bisa bertemu Charlie.

Aku mengembuskan napas begitu realita menyela harapan itu. Aku tidak bisa langsung menemui Charlie. Karena mata, suara, wajahku yang disempurnakan. Apa yang bisa kukatakan padanya; bagaimana aku bahkan bisa memulainya? Diam-diam aku senang memiliki alasan untuk menunda sementara pertemuan itu; walaupun aku sangat ingin mencari cara untuk mempertahankan Charlie dalam hidupku, aku takut sekali menantikan pertemuan pertama itu. Melihat matanya membelalak saat ia melihat wajah baruku, kulit baruku. Tahu bahwa ia takut. Penasaran penjelasan mengerikan apa yang bakal terbentuk dalam pikirannya.

Aku cukup pengecut untuk menunggu satu tahun sementara warna mataku memudar. Padahal selama ini kukira aku takkan merasa takut lagi kalau nanti aku sudah menjadi makhluk yang tak bisa dihancurkan,

“Pernahkah kau melihat hal seperti pengendalian diri sebagai suatu bakat?” Edward bertanya kepada Carlisle. “Kau benar-benar menganggap ini bakat, atau hanya hasil dari semua persiapan Bella?”

Carlisle mengangkat bahu. “Memang agak mirip dengan apa yang selama ini bisa dilakukan Siobhan, walaupun dia tidak menganggap itu bakat.”

“Siobhan, temanmu di kelompok Irlandia itu?” tanya Rosalie. “Aku malah tidak tahu dia punya kemampuan khusus. Kusangka justru Maggie yang berbakat dalam kelompok itu.”

“Ya, Siobhan juga merasakan hal yang sama. Tapi dia memiliki ciri khas dalam menetapkan target-targetnya dan kemudian nyaris… mewujudkannya menjadi kenyataan. Dia menganggapnya perencanaan yang baik, tapi aku penasaran apakah itu lebih dari sekadar perencanaan. Waktu dia memasukkan Maggie ke kelompoknya, misalnya. Liam sangat teritorial, tapi Siobhan ingin itu berhasil, maka itu pun berhasil.”

Edward, Carlisle, dan Rosalie duduk di kursi sambil melanjutkan diskusi mereka. Jacob duduk di sebelah Seth dengan sikap protektif, terlihat bosan. Menilik kelopak matanya yang berat, aku yakin ia akan tidur selama beberapa saat.

Aku ikut mendengarkan, tapi perhatianku terbagi. Renesmee masih “menceritakan” harinya padaku. Aku mendekapnya di dekar jendela, kedua lenganku otomatis mene-puknepuknya sementara kami bertatapan.

Sadarlah aku yang lain tak punya alasan untuk duduk. Aku merasa nyaman-nyaman saja berdiri terus. Sama nyamannya dengan tidur berselonjor di tempat tidur. Aku tahu aku akan sanggup berdiri terus seperti ini selama satu minggu tanpa bergerak dan akan tetap merasa serileks hari pertama pada akhir hari ketujuh nanti.

Mereka duduk hanya karena terbiasa. Karena manusia pasti akan merasa ada yang aneh bila melihat seseorang berdiri berjam-jam tanpa menggerakkan badan dan memindahkan tumpuan pada kaki yang lain. Bahkan sekarang, kulihat Rosalie mengusapkan jari-jarinya ke rambut dan Carlisle menyilangkan kakinya. Gerakan-gerakan kecil agar tidak terlihat terlalu diam, terlalu vampir. Aku harus mencermati apa yang mereka lakukan dan mulai berlatih.

Aku beralih menumpukan berat badanku pada kaki kiri. Rasanya konyol.

Mungkin mereka hanya berusaha memberiku kesempatan berduaan saja dengan bayiku—sendiri tapi tetap aman.

Renesmee menceritakan setiap menit yang terjadi dalam hidupnya padaku, dan menilik maksud yang ia tekankan pada setiap cerita-cerita kecilnya, aku mendapat kesan ia ingin aku mengenalnya hingga ke hal-hal terkecil, sama seperti aku ingin ia tahu hal-hal terkecil mengenai diriku. Ia khawatir karena aku melewatkan banyak hal—seperti misalnya, burung-burung gagak yang melompat semakin dekat ketika Jacob menggendongnya, mereka berdua duduk diam tak bergerak di samping pohon cemara besar; burung-burung itu tidak mau mendekati Rosalie. Atau tentang benda putih yang sangat menjijikkan—susu formula bayi—yang dimasukkan Carlisle ke cangkir; baunya seperti tanah masam. Atau lagu yang didendangkan Edward dengan begitu sempurna untuknya sampai-sampai Renesmee memutarkan adegan itu untukku dua kali; aku terkejut karena aku berada di latar belakang dalam kenangan itu, diam tak bergerak tapi tidak tampak terlalu berantakan. Aku bergidik, mengingar waktu itu dari sudut pandangku sendiri. Api yang menyiksa…

Setelah hampir satu jam—yang [ain masih asyik dengan diskusi mereka. Seth dan Jacob mendengkur berirama di sofa—cerita-cerita kenangan Renesmee mulai melambat. Gambar-gambar itu mulai mengabur di bagian pinggir dan kehilangan fokus sebelum sampai pada bagian kesimpulan. Aku baru hendak menginterupsi Edward dengan panik— apakah ada yang tidak beres dengan Renesmee?—waktu kelopak mata Renesmee menggeletar kemudian menutup. Ia menguap, bibir pinknya yang montok membentuk huruf O, dan matanya tidak terbuka lagi.

Tangannya terkulai dari wajahku saat ia terhanyut dalam tidur—bagian belakang kelopak matanya berwarna keunguan pucat, seperti warna awan-awan tipis sebelum matahari terbit. Berhati-hati agar tidak mengusiknya, aku mengangkat tangannya dan menempelkannya lagi ke kulitku dengan sikap ingin tahu. Mulanya tak ada apa-apa, kemudian, beberapa menit kemudian, sekelebat warna bagaikan sekelompok kupu-kupu beterbangan dari pikirannya,

Tersihir, aku menonton mimpi-mimpinya. Tak ada yang masuk akal. Hanya warnawarna, bentuk-bentuk dan wajah-wajah. Aku senang melihat betapa seringnya wajahku— kedua wajahku, sebagai manusia yang jelek dan makhluk abadi yang memesona—muncul dalam pikiran bawah sadarnya. Lebih daripada Edward atau Rosalie. Jumlahnya hampir sama banyak dengan Jacob; aku berusaha untuk tidak membiarkan itu mengusik perasaanku.

Untuk pertama kali aku mengerti bagaimana Edward sanggup menontonku tidur setiap malam, padahal menurutku itu membosankan, hanya untuk mendengarku bicara dalam tidurku. Aku juga sanggup menonton Renesmee bermimpi selamanya.

Perubahan pada nada suara Edward menarik perhatianku waktu ia berkata, “Akhirnya,” dan berpaling untuk memandang ke luar jendela. Di luar malam hitam pekar, tapi aku bisa melihat sejauh sebelumnya. Tak ada yang tersembunyi dalam kegelapan; segala sesuatu hanya berubah warna.

Leah, masih merengut, bangkit dan menyelinap ke semak-semak begitu Alice muncul dari sisi seberang sungai. Alice berayun dari satu cabang ke cabang lain seperti pemain sirkus, jari kaki menyentuh tangan, sebelum melontarkan tubuhnya ke seberang sungai dalam gerakan berjumpalitan anggun. Esme melompat secara tradisional, sementara Emmett mener-j.uig permukaan air, mencipratkan air hingga jauh mengenai jendelajendela rumah bagian belakang. Yang mengejutkan, J.isper menyusul tak lama kemudian, lompatannya yang efisien umpak biasa-biasa saja, bahkan halus, dibandingkan yang lain-lain.

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.