Baca Novel Online

The Twilight Saga: Breaking Dawn – Stephenie Meyer

“Kita membutuhkan data pengukuran selama beberapa hari untuk mengetahui trennya, Jacob. Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa.”

“Kemarin dia tumbuh lima senti. Hari ini kurang dari itu.”

“Perbedaannya sepertiga puluh dua inci, kalau pengukuranku sempurna,” kata Carlisle pelan.

“Ukur yang sempurna, Dok,” sergah Jacob, kata-katanya nyaris terdengar mengancam. Rosalie mengejang.

“Kau tahu aku akan berusaha semampuku,” Carlisle meyakinkan dia.

Jacob menghela napas. “Kurasa hanya itu yang bisa kuminta”

Lagi-lagi aku merasa jengkel, seolah-olah Jacob mengatakan hal-hal yang seharusnya kukatakan, dan menyampaikannya dengan cara yang salah.

Renesmee juga terlihat jengkel. Ia mulai menggeliat-geliat dan mengulurkan tangan dengan sikap angkuh pada Rosalie. Rosalie mencondongkan badan agar Renesmee bisa menyentuh wajahnya. Sedetik kemudian Rose mendesah.

“Apa yang dia inginkan?” tuntut Jacob, mencuri kata-kataku lagi.

“Bella, tentu saja,” Rosalie menjawab pertanyaan Jacob, dan kata-katanya membuat hatiku sedikit hangat. Lalu ia berpaling padaku. “Bagaimana perasaanmu?”

“Khawatir,” aku mengakui, dan Edward meremasku.

“Kami semua khawatir. Tapi bukan itu yang kumaksud.”

“Aku bisa mengendalikan diri,” janjiku. Dahaga berada dalam urutan terakhir dalam daftarku sekarang. Selain itu, bau Renesmee sangat menyenangkan, bukan dalam konotasi sebagai makanan.

Jacob menggigit bibir tapi tidak berusaha menghentikan Rosalie sementara ia menyodorkan Renesmee padaku. Jasper dan Edward berdiri tak jauh dariku tapi membiarkannya. Bisa kulihat betapa tegangnya Rose, dan aku penasaran bagaimana Jasper merasakan suasana ruangan ini. Atau ia terlalu keras memfokuskan pikiran padaku sehingga tak bisa merasakan perasaan yang lain-lain?

Renesmee menggapaiku sementara aku mengulurkan tangan untuk meraihnya, senyum cemerlang menyinari wajahnya. Ia pas benar dalam gendonganku, seolah-olah lenganku dibentuk khusus untuknya. Langsung saja ia menempelkan tangan kecilnya yang panas ke pipiku.

Walaupun sudah siap, tetap saja aku tersentak melihat kenangan seperti visi dalam kepalaku. Begitu terang dan berwarna tapi sekaligus transparan.

Ia mengingat aku menyerang Jacob di halaman depan, mengingat Seth yang menerjang di antara kami. Ia melihat dan mendengar semuanya dengan kejelasan sempurna. Makhluk itu tidak tetlihat seperti aku, predator anggun yang menerkam mangsanya seperti panah melesat dari busur. Itu pasti orang lain. Itu membuatku merasa sedikit tidak bersalah pada Jacob yang berdiri di sana tanpa membela diri sedikit pun, kedua tangan terangkat di depannya. Kedua tangannya tidak bergetar.

Edward terkekeh, melihat pikiran-pikiran Renesmee bersamaku. Kemudian kami sama-sama meringis waktu mendengar tulang-tulang Seth berderak patah.

Renesmee menyunggingkan senyum briliannya, dan mata ingatannya sama sekali tak luput menatap Jacob selama kekacauan yang berlangsung kemudian. Aku merasakan rasa baru dalam ingatan itu—bukan_protektif, tapi lebih condong posesif—saat ia mengamati Jacob. Samar-samar aku mendapat kesan ia senang Seth menghalangi terjanganku. Renesmee tak ingin Jacob terluka. Jacob miliknya*

“Oh, hebat,” erangku. “Sempurna.”

“Itu hanya karena rasa Jacob lebih enak daripada kita yang lain,” Edward meyakinkanku, suaranya kaku karena kesal.

“Sudah kubilang, dia juga suka padaku,” goda Jacob dari seberang ruangan, matanya tertuju pada Renesmee. Candanya setengah hati; kerutan alisnya yang tegang tak kunjung mengendur.

Renesmee menepuk-nepuk wajahku dengan sikap tak sabar, menuntut perhatianku. Kenangan lain: Rosalie menyisir rambut ikalnya dengan lembut. Rasanya menyenangkan.

Carlisle dan pita pengukurnya, tahu ia harus menegakkan badan dan tidak boleh bergerak- gerak. Itu tidak menarik baginya.

“Kelihatannya dia akan melaporkan semua yang terlewatkan olehmu,” Edward berkomentar di telingaku.

Hidungku mengernyit ketika Renesmee memasukkan kenangan lain dalam benakku. Bau yang berasal dari cangkir logam aneh—cukup keras sehingga tidak gampang digigit— membuat kerongkonganku langsung terbakar saking hausnya. Aduh.

Lalu Renesmee lenyap dari gendonganku, dan kedua lenganku dipiting ke belakang. Aku tidak memberontak dari Jasper; aku hanya memandangi wajah Edward yang ketakutan.

“Memangnya apa yang kulakukan tadi?”

Edward memandang Jasper di belakangku, lalu padaku lagi.

“Tapi Bella mengingat saat dia merasa haus,” gumam Edward, keningnya berkerutkerut. “Dia mengingat bagaimana rasanya darah manusia.”

Jasper memiting lenganku semakin erat. Sebagian otakku menyadari tindakannya itu tidak terlalu membuatku merasa tidak nyaman, apalagi kesakitan, seperti saat aku masih menjadi manusia. Hanya menjengkelkan. Aku yakin sanggup mematahkan piringannya, tapi aku sengaja tak mau melawan. “Ya,” aku membenarkan. “Dan?”

Edward mengerutkan kening padaku, lalu ekspresinya melunak. Ia tertawa. “Dan tidak apa-apa, sepertinya. Kali ini aku yang bereaksi terlalu berlebihan. Jazz, lepaskan dia.”

Tangan yang memitingku lenyap. Aku langsung mengulurkan tanganku lagi pada Renesmee. Edward menyerahkannya padaku tanpa ragu.

“Aku tidak mengerti,” kata Jasper. “Aku tak sanggup lagi.”

Efengan kaget kulihat Jasper menghambur keluar dari pintu belakang. Leah beranjak menjauhinya waktu Jasper mondar-mandir di tepi sungai lalu melompat ke seberang hanya dalam sekali lompatan.

Renesmee menyentuh leherku, langsung memutar kembali adegan kepergian Jasper tadi, seperti instant replay. Aku bisa merasakan pertanyaan dalam pikirannya, menggemakan pikiranku sendiri.

Belum-belum aku sudah shock berat melihat bakat Renesmee yang aneh ini. Tampaknya seperti bagian yang sangat natural, nyaris seperti sudah bisa diduga. Mungkin karena sekarang aku sendiri sudah menjadi bagian dari sesuatu yang supranatural itu, aku takkan pernah lagi merasa skeptis.

Tapi Jasper tadi kenapa?

“Nanti juga dia kembali,” kata Edward, entah padaku atau Renesmee, aku tak yakin. “E)/a hanya butuh sendirian untuk menyesuaikan kembali perspektirhya tentang hidup.” Tampak sudut-sudut mulut Edward sedikit bergetar, seperti menahan seringaian.

Lagi-lagi kenangan manusia—Edward mengatakan kepadaku Jasper akan lebih bisa menerima diri sendiri kalau aku “mengalami kesulitan menyesuaikan diri” sebagai vampir.

Itu ia katakan saat kami sedang mendiskusikan kemungkinan berapa banyak orang yang

akan kubunuh pada tahun pertamaku sebagai vampir baru.

“Dia marah padaku?” tanyaku pelan.

Mata Edward membelalak. “Tidak. Mengapa mesti marah?”

“Kalau begitu dia kenapa?”

“Dia kesal pada dirinya sendiri, bukan padamu, Bella. Dia khawatir tentang… nubuat yang digenapi sendiri, kurasa bisa dikatakan begitu.”

“Bagaimana bisa begitu?” tanya Carlisle sebelum aku sempat bertanya.

“Dia penasaran apakah kegilaan vampir baru itu benar-benar sesulit yang kita kira selama ini, atau apakah, dengan fokus dan sikap yang benar, siapa pun bisa bersikap setenang Bella. Bahkan sekarang—mungkin Jasper merasa itu sulit karena dia yakin kegilaan itu alami dan tak bisa dihindari. Mungkin kalau dia mengharapkan yang lebih dari dirinya, dia akan bisa memenuhi harapan itu. Kau membuatnya mempertanyakan banyak asumsi yang sudah berurat akar selama ini, Bella.”

“Tapi itu kan tidak adil,” sergah Carlisle. “Semua orang berbeda; semua punya tantangannya masing-masing. Mungkin yang Bella lakukan melebihi yang alami. Mungkin ini kelebihannya, begitulah,”

Aku membeku kaget. Renesmee merasakan perubahan itu, dan menyentuhku. Ia mengingat detik terakhir dan ingin tahu mengapa.

“Itu teori yang menarik, dan cukup masuk akal” kata Edward,

Categories:   Fantasi

Comments

  • Posted: June 14, 2018 12:31

    Nurlaely D

    Dikasih mobil bgus kok gak seneng...klo aku c seneng bgt hahahaha

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.